Pilpres, Antara Warna dan Makna (Sebuah Catatan Untuk Supremasi Moral)

pilpres 2014

Demam Pemilihan Presiden (Pilpres) agaknya sudah merambah berbagai lapisan masyarakat di seluruh pelosok Indonesia, dari Aceh hingga Papua.

Pilpres kali ini harus diakui lebih menarik dan lebih seru dibanding pilpres terdahulu. Figur-figur yang berta­rung dalam kompetisi pilpres sangat mendongkrak kegairahan masyarakat, karena memang masyarakat Indonesia hanya dihadapkan pada dua pilihan calon presiden-calon wakil presiden. Obrolan di berbagai ruang publik lebih banyak berkisar soal dua ca­pres itu dan bisa berkembang menjadi diskusi panas.

“Keberpihakan” beberapa pe­milik media massa terhadap sa­lah satu pasangan capres mengakibatkan arah pemberitaan dan informasi tidak berimbang, baik terkait pilpres maupun terkait isu-isu penting lain. Per­tarungan opini lebih menonjol ke­timbang pertarungan ide dan ga­gasan.

Read the rest of this entry »

Leave a Comment

Dandaman Banua, Bukan Rindu Biasa

dandaman

Layaknya induk elang yang kembali sebelum senja setelah pagi meninggalkan sarang karena rindu kepada sang anak, begitupun pada manusia, rindu akan kampung halaman setelah lama merantau adalah suatu keniscayaan.

Rasa dandaman (rindu) terhadap banua (kampung halaman) akan semakin besar ketika berpadu dengan rasa ingin tahu terhadap perubahan apa saja yang sudah terjadi di daerah asal yang ditinggalkan. Dandaman banua tempat kita dibesarkan adalah tanda kecintaan kita yang mendalam.

Merupakan sifat alami pada manusia memiliki kerinduan terhadap tanah kelahiran. Terlebih bagi para perantau, menaruh kerinduan terhadap hiruk pikuk kampung halaman, rindu sawah yang hijau, lapangan sepak bola tempat bermain waktu kecil, rindu suasana sekolah, serta rindu adik kakak dan orang tua merupakan hal yang sangat manusiawi.

“Aku rindu padamu”. Begitu ungkapan seseorang ketika lama tidak berjumpa. Mengungkapkan rasa rindu juga merupakan hal yang wajar saja. Apalagi jika sudah bertahun-tahun lamanya meninggalkan kampung untuk mengadu nasib atau madam ke negeri orang demi mengejar cita-cita, maka tidak heran bila suatu saat kata rindu terucap dari mulut kita.

Read the rest of this entry »

Comments (1)

Jalan Terjal Penulis Buku (Lokal)

royalti buku

Meski ditilik dari segi idealisme, penulis buku diibaratkan pengikat ilmu, penguri-uri pengetahuan dan pengabadi kisah sejati, ternyata problem finansial masih menjadi wacana hangat. Meski bukan masalah penulis lokal saja, juga penulis-penulis besar (nasional maupun luar negeri) yang terus berusaha menjaga idealismenya di hampir seluruh hidup mereka. Kalaupun ada satu dua orang yang sukses (secara ekonomi) –seperti J.K. Rowling dengan Harry Potter-nya– itu tidak menjadi alasan yang memadai untuk menyimpulkan profesi penulis buku sebagai profesi yang menjanjikan.

Betapa tidak, royalti yang diterima para penulis buku di Indonesia rata-rata belum pantas, masih jauh dari “menyejahterakan”. Padahal, seorang penulis buku tak ubahnya manusia biasa yang ingin hidup layak dengan profesi itu.

Seorang teman pernah mengeluh lantaran buku karyanya tentang budaya lokal tidak dihargai dengan pantas oleh pihak penerbit. Jumlah royalti yang diterima teman saya itu hampir sama dengan honor artikel satu kali muat di media massa lokal. Berbagai alasan dikemukakan penerbit. Mulai buku yang kurang laku, biaya cetak yang mahal, potongan untuk distributor, hingga lain-lain.

Read the rest of this entry »

Leave a Comment

Try Out dan Bimbel, So What Next?

tryout-un

Sebentar lagi siswa-siswi tingkat terakhir dalam suatu jenjang pendidikan, mulai dari kelas VI SD, kelas IX SMP, dan kelas XII SMA/K, sederajat akan mengikuti Ujian Nasional (UN) yang seyogianya akan dilaksanakan pada bulan April tahun ini. Hiruk pikuknya pun sudah terasa. Tinggal ‘menghitung hari’, UN akan segera berlangsung. Berbagai macam persiapan pun dilakukan. Mulai dari kegiatan Try Out, Simulasi UN hingga Bimbingan Belajar (Bimbel).

Laris manis bak kacang goreng, kegiatan Try Out dan Bimbel dilaksanakan di sekolah-sekolah, mulai di kota kecil maupun di kota-kota besar, baik oleh sekolah, lembaga bimbingan belajar, atau pun LSM pendidikan. Dan intensitasnya belakangan ini semakin dimasifkan. Hal ini dilakukan tentunya agar siswa-siswi yang akan mengikuti Ujian Nasional lebih ‘siap tempur’ dalam mengikuti UN.

Try Out atau sering disebut TO bukanlah hal yang baru bagi siswa, guru atau pun orang tua. TO yang awalnya diadakan oleh lembaga Bimbel, sekarang sudah merambah ke sekolah-sekolah, bahkan pemerintah sendiri ikut serta memprogramkan kegiatan ini, yang biasanya dijadwalkan dua sampai tiga kali sebelum pelaksanaan UN.

Tidak bisa dipungkiri bahwa pengaruh TO ini cukup besar karena siswa dilatih dan dikondisikan untuk mengerjakan soal dalam suasana seperti UN, baik dalam hal soal, waktu, lembar jawaban (LJK) sampai denah posisi duduk pun sudah ‘disetting’ seperti pelaksanaan UN sesungguhnya, sehingga siswa tidak panik ketika waktu UN tiba. Suasana UN sudah terkondisikan sejak awal.

Memang itulah yang diperlukan oleh siswa selain kesiapan dalam menjawab soal. Selain menguasai kisi-kisi soal (SKL) yang akan diujikan, siswa juga harus dipersiapkan  mental dan spiritualnya untuk menghadapi UN. Ketidaklulusan dalam UN bukan hanya disebabkan siswa tidak bisa menjawab soal atau tidak belajar, tetapi bisa jadi karena panik, perlengkapan yang harus dibawanya ketinggalan atau hal-hal teknis lainnya sehingga konsentrasi siswa terganggu dan tidak fokus dalam mengerjakan soal-soal UN.

Read the rest of this entry »

Leave a Comment

Menata Banua dengan Cinta

LOVE Banjar

Banjarmasin, banua kita tercinta masih diselimuti segudang permasalahan dan pekerjaan rumah yang datang silih berganti. Mulai dari masalah tata kota, kemacetan, pengelolaan sampah, hingga masalah banjir, dan lain sebagainya.

Selain itu, Banjarmasin juga diakui masih menghadapi berbagai persoalan dalam ruang lingkup pembangunan kota. Masalah-masalah penyelenggaraan pemerintahan meliputi masalah pokok bidang ekonomi, sosial dan budaya, fisik, prasarana, serta birokrasi/ kelembagaan.

Berdasarkan kondisi aktual di atas, proses ‘pembangunanisasi’ perlu melibatkan semua elemen, partisipasi masyarakat, dan stakeholder lainnya. Walikota Banjarmasin harus menjalankan visi dan misi yang dibuat sebelum terpilih menjadi walikota, bercermin pada pelaksanaan pembangunan sebelumnya. Walikota Banjarmasin harus mengambil langkah-langkah konkret dalam penanggulangan masalah-masalah perkotaan yang saat ini membelit banua tercinta.

Read the rest of this entry »

Leave a Comment

Merajut Profesionalitas dan Integritas Kementerian Agama (Refleksi HAB Kemenag RI ke-67)

hab kemenag 67

Kementerian Agama (Kemenag) pada tahun 2013 telah memasuki usia yang ke -67 sejak lahir pada tanggal 3 Januari 1946. Pada prinsipnya kementerian ini mempunyai tugas penting yang membawahi semua problematika keagamaan di tanah air ini. Tugas pokok tersebut sebagaimana tercantum dalam Keppres No. 45 tahun 1974 lampiran 14, Bab I Pasal 2 adalah menyelenggarakan sebagian tugas umum pemerintah dan pembangunan di bidang agama.

Tugas ini diperkuat lagi dalam GBHN 1993 bahwa asas pembangunan nasional di antaranya adalah agama (keimanan dan ketakwaan); artinya dalam konteks keindonesiaan agama merupakan aspek yang menyatu dalam semua lapis aktivitas setiap warga bangsa untuk mencapai tujuan pembangunan nasional.

Tugas ini juga merupakan bentuk konkret pengamalan Pancasila; Sila pertama yaitu, ”Ketuhanan Yang Maha Esa” dan pengamalan UUD 1945 Bab XI Pasal 29 ayat l “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa” dan ayat 2 “Negaraa menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”.

Kemenag mempunyai banyak tugas di antaranya; pelayanan haji, zakat dan wakaf, nikah, talak dan rujuk, pelayanan dakwah (penyuluh agama), pendidikan agama dan keagamaan (madrasah dan pesantren), pembinaan ormas keagamaan, dan peradilan agama. Tugas tersebut merupakan tantangan Kemenag yang sangat berat manakala di tubuh pejabat internal Kemenag sendiri tidak mampu melaksanakan tugas secara profesional dan penuh integritas.

Read the rest of this entry »

Comments (4)

Wisata Religi, Alternatif Liburan Warga Banua

mesjid-mtp

Kebudayaan Indonesia diilhami oleh  banyak hal, di antaranya adalah nilai-nilai agama. Bersatunya nilai agama dalam kebudayaan melahirkan tradisi keagamaan yang salah satunya berwujud “ziarah”. Ziarah memiliki tradisi panjang dalam sejarah perkembangan agama Islam. Dalam perjalanannya, perilaku keagamaan ini sempat dikecam karena dianggap sebagai praktek syirik.

Tradisi ziarah ini tidak hanya monopoli umat Islam. Umat agama lain juga memiliki tempat-tempat ziarah suci. Antusiasme masyarakat mengunjungi tempat-tempat “sakral” menjadikan ziarah tidak hanya urusan ritual keagamaan, tetapi lebih mirip wisata. Sudah ada unsur ekonomi, sosial dan budaya. Kegiatan ini populer disebut dengan “wisata religi” atau wisata rohani. Kegiatan ini bagi masyarakat tertentu sudah dilakukan turun-temurun.

Indonesia adalah salah satu negara yang kaya dengan peninggalan sejarah dalam berbagai bidang, tak terkecuali peninggalan di bidang keagamaan yang meliputi semua agama yang ada di Indonesia. Peninggalan atau situs-situs tersebut termanifestasikan dalam berbagai bentuk, seperti makam (yang memiliki nilai tersendiri dalam masyarakat), bangunan-bangunan seperti masjid, gereja atau candi yang semuanya menjadi saksi kebesaran sejarah bangsa Indonesia.

Kalimantan Selatan sendiri memiliki beragam destinasi wisata religi yang menarik dan sarat nilai sejarah. Mesjid Raya Sabilal Muhtadin, Mesjid Agung Al-Karomah Martapura, Makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kelampaian), Makam KH. Zaini Ghani (Guru Sekumpul) Martapura, Mesjid dan Makam Sultan Suriansyah, Makam Datu Sanggul, Makam Datu Nuraya di Tatakan Rantau, dan lain-lain yang selalu dikunjungi puluhan ribu peziarah setiap tahunnya. Keberadaan tempat-tempat tersebut jelas merupakan sebuah potensi wisata religi di Tanah Banjar dan bisa menjadi alternatif untuk mengisi liburan akhir pekan, libur sekolah atau tahun baru.

Menikmati wisata religi di Kalimantan Selatan, tidak lengkap tanpa mengunjungi Mesjid Sultan Suriansyah. Mesjid bersejarah yang merupakan mesjid tertua di Kalimantan Selatan. Mesjid ini dibangun di masa pemerintahan Sultan Suriansyah (1526-1550), raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Mesjid ini terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.

Read the rest of this entry »

Leave a Comment

Older Posts »
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 31 other followers