Mengenang Seorang Kawan dan Refleksi Tentang Kematian

(In Memoriam Pak Jastan)

Seorang teman telah terlebih dahulu pulang. Teman yang menyenangkan, teman yang selalu meninggalkan kesan baik dihati. Terima kasih jika langkah sempat menemani dan mohon maaf jika mungkin pernah tersakiti. Semoga langkahnya lebih tenang kini. Selamat Jalan Kawan……

Barisan kalimat singkat itulah yang bisa terucap dalam hati, tak ada lukisan kata-kata lagi untuk diungkapkan. Termasuk keberanian untuk menuliskan apa yang menjadi perasaanku. Hari itu Kamis malam Jum’at, 2 Oktober 2008 aku dikejutkan sebuah kabar yang bernada ungkapan duka cita. Seorang kawan yang kami cintai telah meninggal dunia, berpulang menghadap sang penciptanya….JASTAN, salah seorang guru di MAN 2 Banjarmasin.

Sesaat, aku seolah tak percaya. Tapi sekian menit berikutnya aku pun tersadar bahwa dalam hidup ini kita sering disodorkan dengan kenyataan kenyataan yang tak terduga. Apalagi maut itu tidak berbau, siapapun tak ada yang bisa mengendusnya. Meski demikian, masih saja aku diliputi rasa tak percaya.

Nyatanya…. JASTAN memang telah meninggalkan kita semua untuk selama selamanya, menghadap Sang Khalik. Malam itu, episode demi episode tentangnya menggayuti benakku. Tubuhnya yang dulu agak gempal, wajah dan penampilan yang selalu bersahaja, sorot matanya yang teduh, serta senyumnya yang tulus, bagai lekat di pelupuk mataku. Momen momen ketika ngobrol, bercanda, sembari berdiskusi tentang segala hal, bagai ada yang me rewind dari chip memoriku.

Semakin kukenang sosoknya, semakin tak mampu kubendung rasa haru. Akhirnya, butir butir airmata tak sanggup kutahan.

Ia baru berusia 32 tahun, masih bujangan dan berencana mengayuh biduk rumah tangga pasca lebaran, akad nikah telah dilangsungkan. Pak Jastan memang sudah cukup lama tidak terlalu sehat. Kondisinya memburuk beberapa minggu terakhir. Namun dia selalu penuh semangat. Seorang pekerja yang rajin, seorang teman berdiskusi tentang apa pun, seorang yang pandai bergaul, dan aktivis dalam komunitasnya.

Orang yang telah menjalani hidup dengan sepenuh hati. Tidak pernah mengeluh tentang hidup maupun penyakitnya. Tentu ada kala dia bercerita tentang apa yang ia rasakan, tapi menurutku itu masih belum mengeluh (atau meminjam istilah temanku, terkena sindroma orang termalang sedunia). Dia seorang yang kuat, dengan senyum yang senantiasa menghias wajahnya.

Semalaman aku tafakkur, yang ada di kepalaku hanyalah: dia sudah menjalani hidupnya dengan baik. Mungkin lebih baik dari kebanyakan kita. Do’anya mungkin telah terkabul bahwa Allah tidak akan membiarkannya terus dalam kesendirian. Benar, Allah lebih mencintainya daripada kita sehingga Allah mengambilnya lebih cepat dari dugaan kita sebelum ini.

Dan kini kita menyadari bahwa antara hidup dan mati memang sangat tipis jaraknya dan kita tidak pernah tahu kapan kematian itu akan datang menjemput. Kematian adalah sebuah kepastian yang akan menyapa setiap makhluk bernyawa. Dalam QS. Ali Imran: 185 Allah SWT berfirman: “Setiap tubuh yang berjiwa pasti merasakan mati, bahwasanya pahalamu akan disempurnakan (dibayar) di hari kiamat. Barang siapa dihindarkan dari neraka dan diangkat ke sorga, sungguh menanglah dia. Tiadalah kehidupan di dunia ini, kecuali hanya kesenangan palsu yang memperdaya”.

Setiap oarng menyadari bahwa hidup ini ada akhirnya. Hanya saja kapan dan bagaimana kita akan menghadapi kematian, tak seorang pun yang tahu. Firman Allah SWT: “Seseorang tidak tahu pasti apa yang akan diperbuatnya besok pagi, dan tidak pula mengetahui secara pasti di bumi/daerah mana ia akan mati” (QS. Luqman: 34).

Vonis-vonis dokter pun sangat terbatas, hanya pada sedikit kasus dan itupun bukan harga mutlak. Dokter hanya bisa memberi perkiraan -sekitar- berdasarkan keilmuan. Bisa jadi benar, bisa jadi salah. Sebab, sekali lagi hidup dan mati benar-benar menjadi rahasia Allah SWT. Berapa banyak orang yang sehat sentosa tiba-tiba meninggal mendadak. Berapa banyak orang yang selamat dalam kecelakaan-kecelakaan maut. Atau berapa banyak orang yang sembuh dari penyakit kritis yang divonis tak terobati.

Ajal akan datang pada saat yang Allah tetapkan, tanpa ada yang bisa menunda atau mempercepatnya. “… ketika ajal mereka tiba, mereka tiada daya menangguhkannya ataupun menyegerakannya sesaatpun” (QS. Al-A’raf: 34).

Ketentuan ini memberi isyarat bagi kita untuk senantiasa bersiap-siaga menuju kematian. Rahasia kematian mengajarkan produktivitas tinggi pada manusia. Karena tidak tahu kapan akan dipanggilNya, maka manusia diajarkan senantiasa mencetak karya-karya terbaik sepanjang masa. Manusia juga diajarkan untuk senantiasa membina hubungan silaturahim yang baik dengan semua orang di setiap kesempatan.

Alangkah indahnya dunia ini tatkala setiap orang menyadari hakikat kabar kematian yang tersembunyi. Hal terpenting bukanlah tentang kapan dan dengan cara apa kita menutup lembaran kehidupan kita di dunia ini. Tapi bagaimana akhir kisah yang kita ukir dalam lembaran-lembaran itu.

Hal terpenting adalah tak ada penyesalan ketika kita meninggalkan dunia ini. Kematian kita menjadi sebuah kabar duka bagi setiap oarng yang sempat maupun yang tidak sempat mengenal kita, sehingga rangkaian do’a pun mengalir laksana mata air.

Dan pada saatnya di yaumil akhir nanti, kita bisa bertemu Allah SWT dalam sumringah wajah ketaqwaan. Akhirnya, tuntunan kekasih Allah -Rasulullah SAW- benar-benar menjadi rumus pamungkas bagi kita dalam menjalani hidup ini: “Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kau hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah-olah kau akan mati esok hari”.

Pak Jastan meninggal persis di malam Jum’at, sehari setelah hari raya Idul Fithri. Kini, ia di alam sana sudah merdeka, terbebas dari segala ikatan dan kepentingan duniawi. Menghadap Sang Maha Sempurna.

Selamat jalan kawan, semoga engkau bahagia di sisi Nya. Engkau benar-benar menjalani hidup dengan baik.

18 Comments »

  1. sandi said

    mengharukan, menggetarkan.
    turut berduka untuk sahabat anda.

  2. langitjiwa said

    langitjiwa turut berduka cita yg sedalam2nya.
    Selamat jalan,pak Jastan.

  3. Sarah Luna said

    Semoga segala kebikan beliau selalu bisa dikenang…

  4. abu nuwaeri said

    Duhai sahabat ku..
    Kau hiasi warna dunia dengan indahnya ketaqwaan,
    kau sapa teman dengan nasihat nan ramah,
    senyum yang selalu menyejukkan dan keikhlasan yang mencerahkan
    Kini,
    Kau tinggalkan semua
    dengan senyum kemenangan,
    menuju Dzat yang Maha Rahman.
    dengan indahnya kebersahajaan dan ketaatan
    menghadap ilahi yag maha segala..
    Selamat jalan Jastan
    sahabatku ,
    Kuyakin
    kau berada di tempat terbaik
    di sisi-Nya

    (Jastan adalah sosok sahabat, guru, dan teladan kami,”PBA Angk. 98″)

  5. anna said

    turut berduka-walau dah telat-…
    emang, terkadang orang yang baik lebih cepat dipanggil oleh-NYA.. Mungkin bukti kalau DIA menyayanginya

  6. Pak Jastan adalah seorang teman yang sangat baik nyaris tanpa cacat. Namun demikian kita sebagai manusia adalah tempat salah dan dosa, semoga segala kesalahannya diampuni oleh Allah SWT Amien. Sekali lagi Allah membuktikan janjiNya bahwa semua yang hidup akan mati. Semoga ini akan semakin menambah keimanan kita Amien

  7. Qori said

    sayapun pernah mengalami hal seperti anda,kehilangan sahabat yg baik….

  8. kisahdoktermuda said

    Ulun jd teringat waktu pendidikan dlu menghadapi pasien2 sekarat di Rumah sakity Ulin…dari puluhan mungkin hanya ada beberapa orang yang sempat mengucapkan nama Allah, syahadat atau tahlil pada waktu dia sekarat..
    mudah2n almarhum termasuk orang yang khusnul khatimah…
    amien…

  9. kisahdoktermuda said

    ulun meandak blog pian di blogroll ulun..

  10. Gempur said

    Ya Allah, ikut berduka cita pak! orang baik memang sangat cepat diambil Allah SWT. Karena memang Dia mencintainya.

    Mudah-mudahan kenangan bapak akan kebaikan beliau menjadi semangat untuk terus menginspirasi berbuat kebaikan, pun juga saya sebagai pembaca blog bapak.

    Amin Allahumma Amin

  11. fefen dwi ardianto said

    Uhh mendadak blognya jadi berduka

  12. Nazila said

    kenapa orang “baik” sering dipanggil Allah SWT lebih dahulu dari pada orang “tidak baik”. yang pasti jika kita masih hidup dan diberi umur oleh Allah SWT artinya kita masih diberi kesempatan untuk bertaubat dan memperbanyak amal ibadah kita…
    semoga amal ibadah pa jastan diterima Allah SWT, amien …

  13. agung said

    semoga bapa tetap tabah,dan temannya tenang di alam sana

  14. ada hidup ada mati. habis bertemu pasti berpisah. sudah jadi pasangan. seberapa pun sedihnya kita, jangan berhenti buat ikhlas..🙂

    bukan pasrah tapi legawa.

    saya turut berduka cita atas kepergian almarhum. semoga segala amal baik dan ibadahnya diterima.

  15. Turut berduka; semoga amal kebaikannya dilipatkangandakan Allah SWT. Amin.

  16. Putra Pandawa Kandangan said

    Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Begitulah sebuah ungkapan pepatah lama. JASTAN…namanya memang tidak sepopuler artis, selebritis, pebisnis atau politikus nasional.. atau setenar pejabat, birokrat atau konglomerat, namun meninggalkan kesan tersendiri bagi siapapun yang pernah mengenalnya.
    Semoga semua dosa dan kesalahan beliau diampuni oleh Allah SWT dan semoga semua amal kebaikan beliau diterima oleh-Nya…Amin Ya… Rabbal ‘Alamin.
    RasuluLLah SAW pernah mengungkapkan bahwa bahwa, orang yang paling cerdas adalah orang yang selalu ingat mati. Barangkali jika diterjemahkan dengan logika terbalik pesan beliau tersebut menunjukkan bahwa orang paling bodoh adalah orang yang tidak pernah mengingat kematian.
    Setidaknya ada 3 kemungkinan yang menyebabkan yang menyebabkan seseorang takut akan kematian :
    1 Mungkin terlalu terlalu banyak kesenangan nya di dunia yang sangat ia sayangi hingga tidak ingin berpisah dengannya.
    2 Mungkin terlalu terlalu banyak dosanya hingga ia merasa tidak siap mempertanggung jawabkannya.
    3 Mungkin terlalu tidak mengerti atau bahkan tidak tahu apa hakikat kematian tersebut.
    Kematian adalah sebuah pintu yang setiap orang (siapapun tanpa terkecuali)pasti memasukinya, cepat atau lambat hanya soal waktu.
    Semoga semua kematian, baik sobat, sahabat, kerabat atau teman dekat kita menjadi sebuah warning untuk kita selalu berintrospeksi., mengkalkulasi deposito dosa dan pahala kita selama ini.

  17. nAimAh ZuraiDa .. said

    pA jAstan ,,
    sLah sEoRang gRu tErbaIk yG pErnh uLn miLiki ..
    tAk aDa kTa yG biSa m’uNgkapkan tTg sSok bpA jasTan ..
    s’mg bEliaU tEnang n daMai d’sSi Allah . .
    Amiiiin ..

  18. M. GANDA DIPUTERA S.KOM said

    SUKA DUKA KEMBALI KEPADA YANG MENCIPTAKAN SEMUANYA

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: