Jalan Terjal Penulis Buku (Lokal)

royalti buku

Meski ditilik dari segi idealisme, penulis buku diibaratkan pengikat ilmu, penguri-uri pengetahuan dan pengabadi kisah sejati, ternyata problem finansial masih menjadi wacana hangat. Meski bukan masalah penulis lokal saja, juga penulis-penulis besar (nasional maupun luar negeri) yang terus berusaha menjaga idealismenya di hampir seluruh hidup mereka. Kalaupun ada satu dua orang yang sukses (secara ekonomi) –seperti J.K. Rowling dengan Harry Potter-nya– itu tidak menjadi alasan yang memadai untuk menyimpulkan profesi penulis buku sebagai profesi yang menjanjikan.

Betapa tidak, royalti yang diterima para penulis buku di Indonesia rata-rata belum pantas, masih jauh dari “menyejahterakan”. Padahal, seorang penulis buku tak ubahnya manusia biasa yang ingin hidup layak dengan profesi itu.

Seorang teman pernah mengeluh lantaran buku karyanya tentang budaya lokal tidak dihargai dengan pantas oleh pihak penerbit. Jumlah royalti yang diterima teman saya itu hampir sama dengan honor artikel satu kali muat di media massa lokal. Berbagai alasan dikemukakan penerbit. Mulai buku yang kurang laku, biaya cetak yang mahal, potongan untuk distributor, hingga lain-lain.

Alhasil, pengalaman pahit tersebut menjadikan teman saya berpikir ulang saat berencana menulis buku (lagi). Alasan paling konkret, menulis buku tak menguntungkan secara materi. Dia kemudian memilih menjadi penulis opini untuk media massa, yang ternyata malah mampu menghidupinya.

Pada perjalanannya, ada dua tipe penulis buku. Yakni, penulis idealis dan pragmatis. Penulis idealis adalah mereka yang menulis buku dengan tidak terlalu memikirkan royalti. Bagi mereka, menulis adalah berkarya untuk melayani masyarakat dan tak perlu menuntut kompensasi materi berlebih. Mereka juga tak ambil pusing, apakah bukunya nanti diminati pasar atau sebaliknya. Sebab, bagi mereka, naskah bisa diterbitkan saja menjadi suatu kebanggaan tersendiri.

Kedua, penulis pragmatis yang memandang materi di atas segala-galanya. Penulis jenis itu diibaratkan mesin ide yang didesain untuk memenuhi selera pasar perbukuan. Tak menjadi soal apakah buku yang mereka tulis berkualitas atau tidak. Yang penting, karya tersebut bisa ditukar dengan pundi-pundi rupiah. Mereka cenderung menulis buku berdasar pesanan penerbit, yang tentu saja telah disesuaikan dengan perkembangan pasar.

Dua tipe penulis itu kini menjadi persoalan baru perbukuan tanah air. Pada tipe penulis buku pertama, ada faktor yang sedikit banyak membuat lesu dunia perbukuan. Karya-karya yang dipaksa-terbitkan, yang tak didahului survei pasar, akan kurang laku di pasaran. Sementara itu, pada tipe penulis kedua yang semata-mata mengandalkan selera pasar, buku yang dihasilkan cenderung kurang berkualitas.

Solusi atas dua persoalan itulah yang sulit ditemukan. Ditambah, pembajakan merupakan masalah klasik yang sulit dipecahkan jika muncul buku berkualitas sekaligus laris manis di pasaran.

Nah, dengan seabrek problema itu, seyogyanya pihak-pihak yang berkompeten, lebih memberi perhatian kepada “komunitas” yang hampir punah ini. Bagaimanapun peran dan fungsi para penulis sebagai rantai penting dalam menyambung sejarah cukup signifikan. Bagaimana mereka dapat menghasilkan karya yang “tangguh” jika tidak ada jaminan masa depan.

Sekali lagi, mereka bukan pelaku industri sehingga maju pesatnya industri buku dan pers cetak akhir-akhir ini belum tentu bisa memberikan dampak positif kepada mereka. Yang mereka ketahui hanyalah bagaimana menuliskan kegetiran-kegetiran hatinya dalam melihat zamannya.

Jika mereka penulis buku, mereka tidak akan pernah paham jika kadang-kadang (juga sering) royalti buku mereka jika dinominalkan sudah mencapai angka yang cukup fantastis, tetapi mereka tidak cukup memiliki power dan keberanian -tentunya– untuk memperjuangkan haknya. Paling-paling, sikap protesnya ditunjukkan dengan berpindah-pindah penerbit dan mengeluh, tidak lebih dari itu.

Kadang, sempat terlintas dalam benak seandainya para penulis membentuk tim advokasi penulis (buku), yang akan membantu penulis memperjuangkan hak dan nasibnya. Kenapa tidak?

Tapi, realitasnya, seorang penulis menjadi laksana seekor anak ayam yang kehilangan induknya. Padahal, mau tidak mau, suka tidak suka, seorang penulis adalah salah satu pilar utama dalam dunia wacana (selain media cetak dan penerbitan tentunya) yang juga sangat menentukan dalam rekayasa sosial sebuah kelompok atau komunitas masyarakat.

Lalu, siapa yang mau menulis buku? Memang, secara ekonomi, menjadikan menulis sebagai satu-satunya topangan hidup terlampau berisiko. Terutama di Indonesia. Alangkah baiknya kalau idealisme menulis dan urusan finansial bisa saling menunjang. Akan tetapi kerap yang terjadi tidaklah demikian. Karena itu maka mutlak adanya memilih. Sebab menulis juga pada dasarnya adalah pilihan.

Ya, pada titik pilihan ini menulis memang tidak hanya soal urusan kantong, soal perut, soal sandang pangan, tapi juga soal pilihan hidup. Yang mau menjadi penulis di dunia buku seperti ini adalah mereka yang sudah menjatuhkan pilihan pada jalan asketisme. Mereka yang asketis adalah mereka yang sudah angkat sumpah dalam hati untuk tekun setekun-tekunnya membaca, menulis, beraktivitas, dan bersiap hidup miskin.

Bagi seorang asketis, jalan menulis adalah jalan pengabdian diri yang total pada kelanjutan ingatan peradaban bagi generasi berikutnya. Bagaimana pun perlakuan masyarakat terhadap karyanya, entah dianggap picisan, tak bermutu, dan tak ada penerbit yang mau menerbitkan karyanya, ia tak (terlalu) peduli. Ia hanya menulis dan menulis. Ia tunaikan kewajibannya tanpa pamrih kepada siapa pun untuk merekam apa yang terjadi di selingkungannya secara sungguh-sungguh.

Di titik sikap asketis ini kemudian kita baru bisa memahami mengapa Hugh R William menggariskan semacam “standar sukses” seorang penulis. Kata Hugh William, penulis yang sukses ialah yang telah menulis karyanya dan menerbitkannya tanpa mengindahkan soal penjualan dan imbalan secara finansial.

Ah… Berat nian jalan itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: