Merajut Profesionalitas dan Integritas Kementerian Agama (Refleksi HAB Kemenag RI ke-67)

hab kemenag 67

Kementerian Agama (Kemenag) pada tahun 2013 telah memasuki usia yang ke -67 sejak lahir pada tanggal 3 Januari 1946. Pada prinsipnya kementerian ini mempunyai tugas penting yang membawahi semua problematika keagamaan di tanah air ini. Tugas pokok tersebut sebagaimana tercantum dalam Keppres No. 45 tahun 1974 lampiran 14, Bab I Pasal 2 adalah menyelenggarakan sebagian tugas umum pemerintah dan pembangunan di bidang agama.

Tugas ini diperkuat lagi dalam GBHN 1993 bahwa asas pembangunan nasional di antaranya adalah agama (keimanan dan ketakwaan); artinya dalam konteks keindonesiaan agama merupakan aspek yang menyatu dalam semua lapis aktivitas setiap warga bangsa untuk mencapai tujuan pembangunan nasional.

Tugas ini juga merupakan bentuk konkret pengamalan Pancasila; Sila pertama yaitu, ”Ketuhanan Yang Maha Esa” dan pengamalan UUD 1945 Bab XI Pasal 29 ayat l “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa” dan ayat 2 “Negaraa menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”.

Kemenag mempunyai banyak tugas di antaranya; pelayanan haji, zakat dan wakaf, nikah, talak dan rujuk, pelayanan dakwah (penyuluh agama), pendidikan agama dan keagamaan (madrasah dan pesantren), pembinaan ormas keagamaan, dan peradilan agama. Tugas tersebut merupakan tantangan Kemenag yang sangat berat manakala di tubuh pejabat internal Kemenag sendiri tidak mampu melaksanakan tugas secara profesional dan penuh integritas.

Terlebih memasuki era globalisasi dan westernisasi sekarang ini. Banyak munculnya aliran sesat, sempalan agama serta beberapa masalah yang berkaitan dengan umat menunjukkan belum efektifnya pembangunan spiritual bangsa, menuntut jawaban Kemenag harus profesional dengan landasan utama adalah mengamalkan doktrinitas agama. Maraknya tayangan dan media yang bernuansa sensasional dan pornografi menuntut kepekaan Kemenag dalam memelihara nilai serta norma agama.

Di antara kementerian yang lain mungkin Kementerian Agama merupakan kementerian yang sangat sensitif. Dikatakan sensitif karena di samping terisi orang-orang yang notabene “bermoral” juga membawa nama “agama”, sehingga orang memandang sebagai lembaga yang suci, tanpa noda atau “dosa”.

Tidak disangsikan jika ada kasus korupsi sekecil apa pun di lembaga ini akan terekspos secara besar-besaran di media massa. Sebaliknya sebesar apa pun prestasi lembaga ini justru tidak akan terdengar oleh masyarakat.

Tantangan Kemenag lainnya adalah masalah pendidikan di madrasah dan pembinaan keagamaan pada umumnya. Pendidikan keagamaan yang berada dalam naungan Kemenag secara formal memang telah mengalami kemajuan yang cukup signifikan dengan adanya SKB tiga menteri, nomor 6 tahun 1975, nomor 037/U/1975, dan nomor 36 tahun 1975 yang memuat; a). Ijazah madrasah dapat mempunyai nilai yang sama dengan ijazah sekolah umurn, b). Lulusan madrasah dapat melanjutkan ke sekolah umum setingkat lebih atas, c). Siswa Madrasah dapat berpindah ke sekolah umum yang setingkat (Kebijakan Depag Dari Masa Ke Masa; 1996: 47).

Namun di sisi lain, pemberdayaan materi pelajaran agama dan kualitas madrasah masih jauh dari harapan. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor antara lain; 1). Materi agama dalam proses pembelajaran hanya dalam bentuk teoritik, 2). Adanya standar kemajuan pembangunan nasional yang didasarkan pada kuantitas, bukan kualitas sehingga berdirinya banyak madrasah sudah dianggap bentuk keberhasilan, 3). lnput siswa madrasah yang tidak terseleksi, 4). Banyaknya guru madrasah yang tidak sesuai dengan faknya, 5). Kurang intensifnya pemerintah (Kemenag) dalam mengontrol madrasah secara langsung ke lapangan, 6). Lemahnya obyektivitas Kemenag dalam penilaian akreditasi, 7). Adanya asumsi publik bahwa lulusan rnadrasah sulit mencari pekerjaan.

Ini semua merupakan tantangan Kemenag yang sangat berat pada masa sekarang dan mendatang. Karena bagaimanapun pendidikan -termasuk madrasah- merupakan tolok ukur kemajuan kebudayaan dan peradaban suatu bangsa. Imbas dari tantangan ini apabila tidak dapat ditanggulangi Kemenag maka akan mempengaruhi semua aspek kehidupan bernegara.

Karenanya dalam hipotesa dapat dirumuskan bahwa pendidikan agama di madrasah mempunyai pengaruh terhadap karakter bangsa Indonesia yang penuh dengan kejujuran serta ikhlas dalam beramal. Hipotesa ini benar apabila Kementerian Agama berusaha secara profesional dan maksimal dalam meningkatkan mutu serta proses pembelajaran agama di madrasah maupun lembaga-lembaga pendidikan Islam lainnya. Kemenag dituntut mampu menjadikan pendidikan agama sebagai basis pembentuk karakter dan peradaban anak bangsa.

Kinerja Kemenag

Sebagaimana simbol Kementerian Agama “Ikhlas Beramal”, Kemenag harus menjadi, garda depan dalam mereformasi semua bentuk penyimpangan dan kejahatan di negeri ini.

Lembaga ini mempunyai posisi yang strategis di samping posisi yang dilematis. Posisi strategis, karena negara Indonesia negara theis (beragama) yang mayoritas beragama Islam. Dalam doktrinitas Islam, negara dan agama merupakan hubungan simbiotik, saling memengaruhi dan tidak bisa terpisahkan.

Adanya doktrinitas agama tersebut merupakan modal utama dalam membangun mentalitas dan moralitas bangsa Indonesia. Sedangkan posisi dilematis, karena Kemenag mengemban amanat secara vertikal dan horizontal.

Amanat vertikal Kemenag harus mampu menjadi teladan dan membina moralitas bangsa Indonesia. Amanat horizontal Kemenag harus mampu menjadi contoh dan membina interaksi sosial bangsa Indonesia dalam menjalankan roda pemerintahan yang meliputi beberapa aspek, politik, ekonomi, hukum, pendidikan, sosial budaya dan pertahanan keamanan yang bernuansa agamis

Posisi dilematis ini menuntut jajaran Kementerian Agama harus benar-benar punya integritas, berperilaku sesuai dengan konsepsi simbol “Ikhlas Beramal” dalam setiap amal baktinya.

Konsepsi Ikhlas Beramal pada prinsipnya menuntut adanya unsur ilmu dan amal.Artinya ilmu adalah sebagai benih, amal sebagai penanam penih dan ikhlas adalah airnya. Dalam kata lain dengan air tersebut benih yang ditanam bisa hidup dan tumbuh subur. Inilah hakikat makna ikhlas yang berimplikasi pada tumbuh suburnya kehidupan umat jauh dari perilaku penyimpangan dan kejahatan yang berskala nasional.

Dengan konsepsi ini jajaran Kementerian Agama -terutama para pejabatnya- harus benar-benar orang yang berpengetahuan agama, menghayati ajaran agama dan sekaligus mengamalkannya serta ditransformasikan pada orang lain yang akhirnya pembangunan nasional berupa agama -keimanan dan ketakwaan- dapat tercapai.

Dimensi Ikhlas Beramal memberikan pondasi yang kuat untuk membangun integritas moral yang kokoh bagi seluruh jajaran Kemenag. Profil integritas yang dinaungi oleh misalnya, sikap kejujuran, kesederhanaan, dan sikap yang mengacu pada etika kebenaran serta niatan mulia untuk memanggul amanah (jujur dan dan tidak mau menyelewengkan posisi dan jabatan demi segenggam berlian).

Dimensi inilah yang pertama harus sedemikian menghujam di hati seluruh jajaran Kemenag. Sebab tanpa sikap moral yang amanah, bersih dan jujur, bagaimana mungkin kita bisa merajut institusi (lembaga) yang penuh kemuliaan? Tanpa etika moralitas yang kuat, dunia kita niscaya akan selalu terpelanting dalam kenistaan. Tanpa sikap amanah yang sarat dengan keikhlasan, dunia kita akan senantiasa tenggelam dalam duka yang memilukan.

Dimensi integritas ini semestinya mampu dijadikan driving force yang kuat untuk menancapkan motivasi dan etos kerja yang selalu mengacu pada prestasi terbaik. Dalam konteks ini mestinya ada kesadaran kuat untuk menjalankan “teologi kerja (job theology)” atau sebuah niatan suci untuk selalu menganggap pekerjaan dan pengabdian kita sebagai sebuah ibadah dan bentuk pengabdian kita pada Yang Maha Agung.

lnilah hakikat makna slogan lkhlas Beramal. Apabila seluruh jajaran Kementerian Agama dapat melaksanakannya dengan baik maka bangsa Indonesia akan mudah keluar dari multi penyakit yang muaranya adalah krisis moral. Bagaimanapun keberadaan Kemenag merupakan simbol baik buruknya moralitas suatu bangsa dan negara. Keutamaan ini hendaknya dijadikan dasar Kemenag dalam mendukung kinerja pemerintahan ke arah perubahan perbaikan pada semua sektor kehidupan bernegara.

Perjalanan membangun Kementerian Agama yang profesional, penuh integritas dan sarat dengan nilai-nilai kemuliaan adalah sebuah pekerjaan marathon, bukan sprint. Disana dibutuhkan ketekunan, kegigihan dan sikap istiqamah untuk terus menggedor nurani diri dengan kesadaran bahwa “hidup ini hanyalah merupakan pengabdian tanpa henti pada Yang Menciptakan Hidup”. Dibutuhkan sejenis ketegaran yang terus melengking: menyuarakan kesadaran untuk terus menancapkan etos “Ikhlas Beramal” dalam dunia kerja sehari-hari.

Dengan memperingati Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama yang ke-67 tahun 2013, kita berharap lembaga ini akan semakin profesional dan penuh integritas. Kehadirannya berada di garda terdepan dalam melakukan restorasi di negeri ini. Semoga.

4 Comments »

  1. Info yang menarik mas, terima kasih atas sharing ilmunya. Sangat bermanfaat, keep posting dan salam kenal, ditunggu kunjungan baliknya mas…

  2. Assalamulaikum pak taufik, Alhamdulillah masih aktif pian di blog lah.
    wan selalu update nih, kd kaya ulun bahanu rajin bahanu kada.
    Pas mancari-i komentar di blog ulun bahari rupanya masih aktif ampun pian. ulun baganti ngaran blog wahini. nang dulu kada aktif lagi pa ai.
    mudahan ada waktu pian berkunjung jua.

  3. eh pak, ulun aktifakan haja masih http://noor-ridhwan.blogpost.com nya, andaki akan pang feed nya jua pak

  4. Assalamu’alaikum…
    Asa karindangan Banar lwn guru Lun Nang saikung nih… LAwas kada tatamu sidin. Mudahan Sehatan aja pian…

    salam.
    Muhammad Rifa’i

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: