Archive for November, 2008

Menulis ala “Sang Guru Menulis”

virsmzikirmforblog menulisberbunga-bungaforblog menulisdengangembira menulismarimenulis nulismudah2 menulismudahblog

Sebagai urang banua, mari kita lanjutkan tradisi hebat yang dibangun Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Di zaman mesin tulis belum populer, apalagi komputer dan internet, beliau telah menulis belasan buku. Ketika etnik-etnik Nusantara lainnya belum menulis, Datuk kita telah mencontohkan bagaimana menulis sangat positif. Buku beliau dipakai di manca negara. Paling populer, Sabilal Muhtadin…” (Ersis Warmansyah Abbas)

Di dalam dunia kepenulisan, nama Ersis Warmansyah Abbas (EWA) tidak asing lagi bagi kita. Beliau adalah salah seorang yang aktif mengajak generasi muda di banua ini untuk membiasakan kegiatan membaca dan menulis. Lewat buku-bukunya kita bisa membaca bagaimana “virus” baca tulis itu ditularkan.

Pada mulanya, saya membaca salah satu buku beliau yang berjudul Menulis Sangat Mudah, terbitan Mata Khatuliswa, Desember 2006 yang pada Januari 2007 dicetak ulang. Kesan saya pertama kali membaca buku itu, bahasanya yang mengalir dan enak dibaca, tidak membuat bosan. Lembar demi lembar sarat dendang menyamankan, memandang enteng menulis, atau sedikit maulu-ulu kesadaran naif diri kita.

Pada intinya beliau mengatakan bahwa menulis itu mudah dan menyenangkan, menulis itu mengasyikkan, menulis itu membebaskan, menulis itu menata pikiran. Dengan kemanfaatan dari aktivitas itu, membuat kita tidak punya alasan lagi untuk tidak menulis.

Read the rest of this entry »

Comments (11)

Mengkaji Kitab Kuning di Zaman Serba Instan (3)

(Catatan untuk Musabaqah Qiraat al-Kutub)

kitab-kuning1

Meski masih terjaga, kitab kuning sebagai aset kekayaan khazanah intelektual umat Islam Indonesia itu kini menjadi sorotan keprihatinan banyak kalangan, terutama kalangan pesantren sendiri. Apa pasal?

Tradisi penggalian dan pengembangan intelektual via kitab kuning di pesantren kian hari kian surut. Hanya beberapa pesantren saja yang masih ajeg menjaga dan melestarikan tradisi ini. Menjaga dan melestarikan dalam konteks ini adalah menjadikan kitab kuning sebagai literatur utama yang wajib dipelajari santri dan menjadi bahan pertimbangan utama kelulusan atau keberhasilan santri.

Kalau dulu, seorang santri berangkat mondok di pesantren niatnya adalah belajar agama dengan berguru kepada kiai dan mendalami kitab kuning. Materi pelajaran yang disampaikan sebagian besar adalah menggunakan bahasa Arab. Karena itu, secara otomatis santri juga diajari ilmu alat (nahwu-sharaf) atau yang biasa disebut gramatikal bahasa Arab, yang bertujuan untuk mempermudah santri dalam memahami, mendalami, dan mengembangkan kandungan kitab kuning.
Read the rest of this entry »

Comments (8)

Mengkaji Kitab Kuning di Zaman Serba Instan (2)

(Catatan untuk Musabaqah Qiraat al-Kutub)

kitab_fil-jadari2

Untuk melihat posisi dan sejauhmana makna penting kitab kuning di kalangan pesantren, setidaknya ada beberapa abstraksi yang perlu dicermati. Pertama, cara pandang masyarakat terhadap pesantren. Pesantren jamaknya dipandang sebagai sebuah ‘subkultur’ yang mengembangkan pola kehidupan yang tidak seperti biasa atau katakanlah unik. Di samping faktor kepemimpinan kiai-ulama, kitab kuning adalah faktor penting yang menjadi karakteristik subkultur itu.

Kitab kuning seakan menjadi kitab pusaka yang mandraguna. Kitab yang terus ‘diwariskan’ turun temurun dari generasi ke generasi, sebagai sumber bacaan utama bagi masyarakat pesantren yang cukup luas. Dengan begitu, ini merupakan bagian dari sebuah proses berlangsungnya pembentukan dan pemeliharaan subkultur yang unik tersebut.

Kedua, kitab kuning juga difungsikan oleh kalangan pesantren sebagai ‘referensi’ nilai universal dalam menyikapi segala tantangan kehidupan. Karena itu, bagaimanapun perubahan dalam tata kehidupan, kitab kuning harus tetap terjaga. Kitab kuning dipahami sebagai mata rantai keilmuan Islam yang dapat bersambung hingga pemahaman keilmuan Islam masa tabiin dan sahabat. Makanya, memutuskan mata rantai kitab kuning, sama artinya membuang sebagian sejarah intelektual umat. Kita mungkin sering mendengar sebuah hadist yang disabdakan oleh Rasulullah saw. “Al-ulama warosatul anbiya”, ulama adalah pewaris para Nabi.

Read the rest of this entry »

Comments (6)

Mengkaji Kitab Kuning di Zaman Serba Instan (1)

(Catatan untuk Musabaqah Qiraat al-Kutub)

kitab-kuning2

Gaungnya mungkin tak sedahsyat Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), yang diselenggarakan dengan penuh semarak, lengkap berbagai atraksi yang terkadang lebih “wah” dibanding dengan ajang lombanya sendiri.

Musabaqah Qira’atul Kutub (MQK). Ajang lomba membaca kitab kuning yang digelar bertujuan untuk mendorong kecintaan santri terhadap kitab rujukan berbahasa Arab serta kemampuan santri melakukan kajian agama Islam dari sumber kitab tersebut. Selain itu, MQK juga bertujuan menjalin silaturahmi antar pondok pesantren di Indonesia, serta meningkatkan peran lembaga pendidikan tersebut sebagai lembaga pendidikan Islam dalam mencetak kader ulama dan tokoh masyarakat masa depan.

Kegiatan lomba Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) tingkat nasional III tahun 2008 berlangsung di Pondok Pesantren Al Falah, Banjarbaru, Kalimantan Selatan tanggal 1-5 Desember 2008 mendatang. Perhelatan musabaqah dua tahunan ini terbilang masih baru. Bahkan secara nasional, baru dua kali digelar.

Berdasarkan catatan, untuk MQK nasional pertama tahun 2004 berlangsung di pondok pesantren Al Falah Bandung, Jawa Barat. Sedangkan yang kedua berlangsung tahun 2006 lalu diadakan di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Tulisan ini sahibar catatan berkait dengan pelaksanaan ajang lomba membaca dan memahami kitab kuning tersebut.

Read the rest of this entry »

Comments (10)

Optimalisasi Blog untuk Pembelajaran

blog

Blog adalah salah satu aplikasi internet content yang sangat digemari saat ini, karena di samping tersedia secara gratis pada masing-masing server-nya, seorang pemilik blog tidak harus menguasai script pemrograman walaupun sedikit. Kesederhanaan, kesimpelan dan kemudahan dalam manajemennya menjadikan blog semakin populer.

Blog juga menjadi fenomena belakangan ini, karena mengingat reportase dan jurnalisme blak-blakan dapat dilakukan lewat blog, sehingga tak jarang para jurnalis dari mainstream publication merasa tersaingi. Mengapa? Sebab, mereka kehilangan monopoli dan kendali atas reportase suatu berita. Ini bukan hanya menyangkut cara reportasenya, tetapi juga dalam memilih apa yang cocok dan disukai oleh publik.

Read the rest of this entry »

Leave a Comment

Siapa Mau Datang Ke Banjarmasin?

banjarmasin

Kota hidup senafas dengan dinamika pelaku-pelakunya, warga dan Pemerintah kotanya. Dinamika itu juga menggambarkan apakah sebuah kota mengalami kemajuan, stagnan atau mengalami kemunduran. Wajah kota sekaligus membawa citra mau dibawa kemana kota itu. Ekspresi-ekspresi itu sekaligus menorehkan catatan-catatan masa lalu, masa kini bahkan rabaan-rabaan bagaimana kota itu dimasa depan.

Belajar dari kemajuan kota Shanghai yang luarbiasa, maka kemajuan bukanlah melesaknya bangunan ultramodern yang menggambarkan kekinian, tetapi warga Shanghai sekaligus menghargai bangunan lama, kawasan lama dan artefak lama sama nilainya dengan yang baru.

Bayangan akan China masa lalu yang pernah porak poranda tidak nampak samasekali, ketika orang melihat Shanghai masa kini. Orangpun bingung membedakan antara kota-kota Eropa, Amerika dengan Shanghai. Tidak hanya bangunan tinggi berlomba menggapai langit, bangunan masa lalupun tampil bersolek genit. Tidak cukup bangunan-cerdas (smart-buildings) memajang diri, jalan-jalan bebas hambatan dengan transportasi mutahir saling rajut untuk menyapa bangunan tua yang berusia ratusan tahun. Shanghai-pun kaya raya dengan bermacam artefak kota.

Read the rest of this entry »

Comments (11)

Guru, Dipuja dan Disia-Sia

guru-sia-sia1

Terpujilah wahai engkau Ibu Bapak guru//Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku//Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku//S’bagai prasasti trima kasihku ‘tuk pengabdianmu//Engkau bagai pelita dalam kegelapan//Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan//Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa//

Bait yang indah dan selalu dikenang, terlebih setiap 25 November dalam rangkaian peringatan Hari Guru Nasional. Tak ada yang menampik bahwa lagu ini memang indah. Sayang, keindahannya tidak berjalan linier dengan nasib mayoritas guru di Indonesia.

28 tahun sudah usia hymne ini. Selama itu pula gelar ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ selalu disandangkan kepada guru. Di satu sisi gelar ini amat menyanjung, namun di sisi yang lain justru kurang menguntungkan bagi profesi guru. Pasalnya, seringkali penghargaan yang mereka terima tak lebih dari sekadar pemanis bibir, sloganistis, dan bernuansa verbalisme.

Akibat verbalisme dan sloganisme inilah dunia pendidikan di Indonesia tak kunjung membaik, bahkan terpuruk. Termasuk di dalamnya adalah keterpurukan nasib mayoritas guru itu sendiri. Guru dikesankan sebagai kelompok masyarakat yang melakukan pekerjaan ”tulus ikhlas” tanpa boleh menuntut hak dan kesejahteraan yang semestinya.

Read the rest of this entry »

Comments (3)

Older Posts »