Menyongsong “Banjarbaru Book Fair” 2013 Yuk, Jadikan Buku Sebagai Menu

banjarbaru-book-fair

Kabar gembira untuk pecinta buku di banua! Pesta pameran buku yang lebih dikenal dengan istilah ”Book Fair” akan digelar di Kalimantan Selatan, tepatnya di Kota Banjarbaru. Pihak Perpustakaan dan Arsip Daerah (Pustarda) Kota Banjarbaru sedang mempersiapkan event bergengsi “Banjarbaru Book Fair 2013”, setelah sebelumnya sukses menggelar kegiatan gerakan “Banjarbaru Membaca” yang menghadirkan Duta Baca Nasional, Andy F Noya dan Novelis Andrea Hirata pada bulan Juli 2012 lalu.

Kepala Pustarda Kota Banjarbaru Dra. Hj. Nurliani M.AP mengatakan, pelaksanaan Banjarbaru Book Fair 2013 yang dihelat di Kota Banjarbaru akan dilaksanakan pada tanggal 30 Maret sampai 7 April 2013 mendatang. (Radar Banjarmasin, Rabu (5/12). Event ini seyogyanya akan mampu mendorong (kembali) bergairahnya dunia perbukuan di Tanah Banjar.

Selama ini kita mungkin hanya mengenal “Indonesia Book Fair” (IBF), sebuah event tahunan yang diselenggarakan oleh Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Pusat Jakarta. Pada tahun 2012, Indonesia Book Fair sudah memasuki tahun ke-32 dalam penyelenggaraannya. Kegiatan akbar yang  didukung oleh Perpustakaan Nasional RI ini telah menjadi agenda tahunan para bibliofil dan menjadi pameran buku international yang paling lengkap, terjangkau, menarik, dan sangat kreatif.

Event yang inspiratif ini selalu diikuti para penerbit dari dalam dan luar negeri, badan-badan perpustakaan daerah se-Indonesia, penyalur dan toko buku, lembaga pendidikan, lembaga pemerintahan, pusat kebudayaan, dan komunitas perbukuan. Selain menghadirkan beragam tema buku, mulai dari buku anak dan remaja, buku umum, buku pelajaran, buku agama, dan lain sebagainya. IBF juga disemarakkan oleh berbagai acara pendukung, mulai dari Wisata Buku, Launching Buku, Seminar, Bedah Buku, Talkshow dan Jumpa Penulis, Lomba Mading, dan lain sebagainya.

Bagi penggila buku, khususnya buku yang bernuansakan Islam, juga tidak akan alpa event pameran buku Islam, “Islamic Book Fair” (IBF). Hingga saat ini, IBF telah 11 kali diselenggarakan di ibu kota Jakarta. Setiap tahun angka pengunjung selalu mengalami peningkatan. Tak sekadar menarik minat pengunjung dalam negeri, pameran buku Islam terbesar dan terlengkap ini juga menyedot perhatian pengunjung luar negeri (Malaysia, Brunei, Singapura dan Thailand).

Yang tak kalah menariknya, pameran buku yang juga diselenggarakan IKAPI yang dikenal sebagai “Jakarta Book Fair” (JBF). Menariknya, event pameran buku ini termasuk salah satu agenda sosial budaya yang telah diakui Pemprov DKI Jakarta sebagai salah satu agenda kegiatan dalam rangka HUT DKI Jakarta setiap tahunnya.

Dan kini, kita patut berbangga dan bersyukur, karena event sekaliber IBF maupun JBF itu sudah digagas dan akan terselenggara di banua tercinta, “Banjarbaru Book Fair” (BBF). Selain ajang pertemuan antar penjual, event “Banjarbaru Book Fair” juga diharapkan sebagai sarana komunikasi antar para penulis buku di banua. Di momen itulah mereka saling berdiskusi dan sharing informasi mengenai perkembangan dunia perbukuan di Tanah Banjar.

Lebih jauh, dengan adanya kegiatan “Banjarbaru Book Fair” tersebut, bisa menjadi inovasi terbaru dalam  menarik minat baca dan membangkitkan semangat baca warga Banjarbaru khususnya dan Kalimantan Selatan pada umumnya. Selain itu, event tersebut juga akan menjadi sarana mengkampanyekan gerakan cinta buku, gemar membaca, menulis dan gemar mengunjungi perpustakaan bagi masyarakat banua.

Dengan bergairahnya dunia perbukuan, daerah dalam lingkup kecil maupun bangsa dalam lingkup besar akan sangat diuntungkan. Mengingat tak ada suatu bangsa yang maju dan  kuat dalam berbagai bidang pengetahuan tanpa dibarengi dengan masyarakatnya yang mencintai buku dan gemar membaca. Suatu bangsa yang cerdas dan tangguh, sudah pasti berbanding lurus dengan warga negaranya yang gemar membaca buku.

Tengok saja Jepang yang mampu menerbitkan buku lebih dari 60.000 judul per tahun, sementara Inggris jauh lebih besar lagi mencapai 110.155 judul buku. Fenomena tersebut baru ditinjau dari sisi judul buku, belum dilihat dari sisi oplah (jumlah tiras buku yang diterbitkan). Seharusnya, penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta, produksi bukunya lebih besar ketimbang negeri tetangga, termasuk Jepang dan Inggris.

Banyak faktor, mengapa produksi dan jumlah buku di Indonesia terbilang rendah. Selain karena daya beli masyarakat, ternyata faktor reading habit (kebiasaan membaca) sangat menentukan. Berdasarkan data, minat baca masyarakat Indonesia untuk kawasan Asia Tenggara saja menduduki peringkat keempat, setelah Malaysia, Thailand, dan Singapura.

Boleh jadi, rendahnya kebiasaan membaca tersebut, erat kaitannya dengan pendapatan per kapita bangsa ini, yang lebih rendah dari keempat negara tetangga. Pendapatan per kapita warga Singapura pada tahun 2002 sebesar 24.000 dolar AS, Thailand 6.900 dolar AS, Malaysia 9.300 dolar AS, sementara Indonesia hanya 3.100 dolar AS.

Tentu, tidak sedikit dari masyarakat kita yang berpenghasilan cukup tinggi. Namun, seiring dengan meningkatnya pendapatan, bermunculan kebutuhan baru yang sifatnya komplementer, sehingga membeli buku menjadi prioritas entah keberapa atau mungkin tidak masuk dalam hitungan.

Dari data tersebut, sekalipun banyak penerbit yang memproduksi buku-buku umum, tetapi dari segi oplah, produksi buku-buku pelajaran jauh lebih besar. Lebih banyaknya jumlah produksi buku-buku pelajaran itu, dipicu karena hampir setiap tahun buku pegangan para siswa selalu berganti. Idiom “ganti tahun ganti buku” sebuah kenyataan yang tidak bisa terbantahkan. Dalam beberapa tahun terakhir ini, tidak dikenal lagi istilah “kakak mewariskan buku pelajaran kepada adiknya.” Jika tradisi itu diubah–karena kerap dikeluhkan para orang tua murid–mungkin produksi buku nasional anjlok.

Kondisi itu sekaligus mencerminkan bahwa buku belum menjadi prioritas. Betapa tidak, produksi buku-buku umum tiap tahun hanya 3 juta buah. Kalau kita pakai perhitungan kasar, dari 143 penerbit hanya sekira 100 penerbit yang aktif menghasilkan buku-buku umum.

Meski begitu, kita tidak menampik bila dikatakan harga buku di Indonesia relatif mahal, karena biaya produksinya juga cukup tinggi. Selain itu, pihak penerbit juga harus memberikan potongan harga kepada toko buku, biaya kirim, dan royalti penulis yang membuat harga buku bisa tiga kali lipat dari harga produksi.

Sudahkah Buku sebagai Menu?

Penulis tak sependapat jika dikatakan rendahnya minat membeli buku akibat rendahnya daya beli. Tak jarang penerbit mengeluarkan buku-buku tipis dengan harga murah, memakai kertas biasa, dan dicetak tidak luks, tetapi sambutan pasar kurang bagus. Malah sebaliknya, buku-buku luks dengan harga sampai puluhan ribu, pemasarannya cukup baik dan mengalami berkali-kali cetak ulang.

Penulis  meyakini apabila buku dikarang oleh penulis berkualitas dan ditangani serius, hasilnya akan baik. Masyarakat sudah tidak memikirkan soal harga apabila melihat buku-buku berkualitas baik apalagi dibuat oleh penulis terkenal. Meski untuk ukuran Indonesia buku dikatakan best seller bila terjual 5000 eksemplar untuk masa setahun.

Oleh karena itu, pihak penerbit harus meningkatkan kreativitasnya terutama dalam “penampakkan” (cover) halaman depan dan perwajahan halaman dalam. Masalah redaksional juga perlu dibenahi agar tidak ada kesalahan-kesalahan penulisan kata atau kalimat.

Meski begitu,  masyarakat Indonesia belum menempatkan buku sebagai kebutuhan setelah pangan, sandang, dan papan. Masyarakat masih dalam budaya melihat bukan budaya baca.

Untuk menyiasati daya beli dan menggenjot minat baca masyarakat, pemerintah baik pusat, provinsi, maupun kabupaten/kota seyogyanya memperbaiki kembali penampilan perpustakaan daerah agar menarik. Pemerintah kabupaten/kota juga bisa menyediakan ruang-ruang publik dengan mengubah taman kota menjadi book village atau “saung baca”. Untuk itu, warga masyarakat mampu juga bisa berpartisipasi dengan mengumpulkan buku atau majalah bekas untuk disumbangkan. Pihak penerbit juga ikut berpartisipasi dalam gerakan itu hingga akan terkumpul puluhan ribu buku untuk disumbangkan kepada perpustakaan daerah dan taman bacaan.

Di samping itu, event-event yang menstimulasi kegairahan dunia perbukuan, budaya membaca dan belajar, apresiasi hasil karya orang lain harus digalakkan secara rutin.

Usaha-usaha keras itu belum tentu membuahkan hasil memuaskan agar dapat “melejitkan” budaya baca di kalangan masyarakat. Rendahnya daya beli buku dan minat baca berkaitan erat dengan budaya bukan melulu soal ekonomi. Jadi, cara menyelesaikannya juga dengan pendekatan budaya.

Karena perubahan book minded itu adalah bertahap dan alami, maka tidak bisa dinikmati dalam waktu dekat ini. Dalam lima tahun ke depan belum tentu minat baca masyarakat naik drastis dan buku menjadi salah satu kebutuhan. Meski terkesan lambat, upaya menumbuhkan minat baca harus terus digalakkan meski hasilnya tidak bisa dinikmati oleh generasi sekarang.

Akankah mutu SDM Indonesia terus terpuruk di peringkat ke-112 dunia di bawah Vietnam yang baru 20 tahun “sembuh” dari perang saudara? Sudah masanya buku kita selipkan sebagai “menu kebutuhan” di antara daftar belanja.

Jika membaca buku sudah menjadi menu, tentu tak akan ada lagi jarak antara kita dengan buku. Eksistensi buku pun sudah dianggap sebagai daily needs. Bukan lagi sekedar hobi, namun sudah menjadi kebutuhan. Efeknya, masyarakat tidak lagi menyikapi buku dengan kening berkerut, karena setiap kalangan, profesi, usia, dan latar belakang lainnya telah mempunyai buku masing-masing. Artinya, buku tidak lagi dipandang secara elitis yang ditulis, diterbitkan, dan dibaca oleh kalangan tertentu namun sudah menjadi milik bersama.

Kita berharap, penyelenggaraan Banjarbaru Book Fair tahun 2013 mendatang, berjalan dengan sukses, mampu menjadi daya tarik warga banua, menjadi barometer dunia perbukuan tanah air, dan akhirnya aktivitas membaca dan belajar menjadi budaya kolektif masyarakat Banjar, baik di pedesaan maupun perkotaan

Dengan demikian, tidak ada salahnya Anda datang ke Banjarbaru Book Fair, dengan mengajak putra-putri Anda, beserta teman, dan handai taulan. Mari jadikan buku sebagai menu!

4 Comments »

  1. Rahmat Sutrisn said

    Kalo boleh tau , tempat pelaksaannya dimana yah ?

  2. m.siddiq said

    kalo ingin ikut jd peserta hub kmn? biayax brp? mhn info scptx, tks.

    • taufik79 said

      Coba sampeyan hub pihak Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Banjarbaru No. telpon / Fax : (0511) 4774523, Email : pustarda@banjarbarukota.go.id, atau kontak FB Kepala Kantor Pustarda: Nurliani Dardie Hj Nunung.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: