“Mencipta” Bencana di Tanah Kalimantan

kalimantan2

Kalimantan Selatan diguncang gempa! Demikian bunyi pemberitaan sejumlah media massa banua beberapa waktu lalu. Sekurangnya tiga kabupaten di wilayah ‘banua enam’ (Tanjung, Paringin dan Barabai) diguncang gempa berkekuatan 4,8 skala richter. (Radar Banjarmasin, Rabu 5/12). Getaran gempa juga sempat dirasakan oleh sebagian warga di kota Banjarmasin. Belum diketahui secara pasti penyebab dugaan “gempa” yang menghebohkan masyarakat di ‘pedalaman’ Kalimantan Selatan tersebut.

Meski tak semarak pemberitaan tentang ‘krisis’ listrik di Kalimantan Selatan, peristiwa ‘gempa’ tersebut tak pelak membuat saya kembali merenung. Kala menatap deretan peta Nusantara, seperti ada sesuatu yang rawan menyerang perasaan saya. Bila disadari, deretan kepulauan Nusantara sekilas persis seperti bilah lidi atau korek api yang disusun oleh anak-anak dalam permainan mereka. Dari perenungan sederhana, saya berani berkesimpulan, seandainya pulau Kalimantan rusak atau hancur maka ‘bilah lidi’ kepulauan Nusantara akan patah.

Memang tak ada hubungannya antara kepedihan hati saya ketika melihat hutan-hutan yang rusak, bencana banjir, sungai dan hutan yang tak lagi ‘berfungsi’ seperti dulu. Tapi saya merasa harus mengungkapkannya. Hal itu tidak lain karena pulau Kalimantan tertumpu pada satu pegunungan Muller. Pegunungan besar yang kakinya berada di empat propinsi di Kalimantan dan Malaysia. Kalimantan Selatan memang agak jauh, tapi berada di sekitar pegunungan Meratus yang juga merupakan rentetan kecil dari kaki pegunungan Muller yang besar.

Daratan Kalimantan atau lebih dikenal dengan Borneo, merupakan pulau terbesar ketiga di dunia setelah Greenland dan seluruh Pulau Irian. Luasan ini merupakan 28 % seluruh daratan Indonesia. Bagian utara Kalimantan meliputi negara bagian Malaysia yaitu Serawak dan Sabah, dan Kesultanan Brunei Darusalam. Kalimantan sendiri meliputi 73 persen massa daratan Borneo.

Membentang hijau nan luas tepat dilalui garis khatulistiwa yang membelah daratan besar Borneo, Kalimantan merupakan pulau dengan sumberdaya alam dan kekayaan hutan tropis terbesar di wilayah Asia Tenggara. Wilayah pulau Kalimantan berada di wilayah selatan Republik Indonesia, terletak di antara 40 24` LU – 40 10` LS dan antara 1080 30` BT – 1190 00` BT dengan luas wilayah + 535.834 km2.

Pulau Kalimantan memiliki sumberdaya alam yang sangat kaya mulai dari sumberdaya alam hutan, tambang, perairan danau, sungai, perairan pantai dan kelautan memiliki peranan penting dalam pengembangan ekonomi di Indonesia dan merupakan salah satu pulau terbesar yang menghasilkan devisa negara. Bahan-bahan mentah sebagai kekayaan sumberdaya alam Kalimantan sangat mempengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, budaya, hukum dan politik di tanah air.

Pada era 1990-an berbagai perusahaan kayu dan tambang bermunculan di Kalimantan, baik berskala besar maupun kecil. Seiring dengan itu pula kebutuhan kayu semakin meningkat baik dalam negeri maupun komoditi ekspor. Hal ini membuat perdagangan kayu semakin mudah dan mendukung semakin maraknya kegiatan penebangan liar (ilegal logging).

Kebijakan pengelolaan sumberdaya alam pulau Kalimantan dimulai dari sebuah produk politik kebijakan nasional untuk memberikan jalan investasi modal dalam ekspolitasi sumber-sumber daya alam, dimulai dari pengusahaan hutan, hutan tanaman industri dan pertambangan (emas, batu bara, minyak dan gas, nikel, biji besi) dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi negara. Kebijakan pengelolaan sumberdaya alam yang sangat eksploitatif, menyumbang dampak terbesar terhadap kerusakan lingkungan hidup dan sumber-sumber aset produksi rakyat di Pulau Kalimantan.

Begitu kompleks dan dahsyatnya perusakan hutan, maka kawasan hutan di Kalimantan semakin menyempit mengakibatkan lahan kritis semakin luas. Menurut data Walhi, di Kalsel saja, luas lahan kritis sekitar 560.283 hektare. Laju degradasi hutan ini akan terus bertambah selama kebakaran hutan, penambangan liar dan pembukaan lahan hutan terutama di Pegunungan Meratus, masih terus terjadi.

Semakin luasnya lahan kritis dan hutan yang rusak mengakibatkan alam tidak stabil. Fungsi hutan sebagai pengatur tata air menjadi terganggu dan tidak dapat berfungsi secara optimal, seperti halnya yang terjadi dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Di beberapa daerah di Kalimantan mengalami kekeringan di musim kemarau dan kebanjiran di musim penghujan. Bahkan pada 2005 lalu, banjir yang terjadi di berbagai daerah di Kalimantan sangat parah seperti di Pontianak, Balikpapan, Kab. Banjar, HSU, HST, Tabalong, Tumbang Nusa, Barito Utara dan beberapa daerah lainnya.

Banjir di Kabupaten Tabalong merupakan terbesar selama 15 tahun terakhir. Di Kabupaten Barito Utara merupakan yang terbesar dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, sedangkan di Tumbang Nusa banjir terjadi setiap tahun dan memutus jalur Trans Kalimantan.

Memang sekarang tidak ada akibat paling parah yang terjadi kecuali banjir dan longsor yang menimpa beberapa daerah. Tapi saya berani mengatakan akibat kerusakan yang menimpa semakin hari akan semakin meningkat, apabila kerakusan manusia dan perusahaan-perusahaan atas nama eksploitasi hutan dan kandungan bumi tidak dikendalikan dengan baik dan bijaksana. Selain hutan yang gundul, ekosistem yang rusak, lubang bekas galian yang semakin banyak. Lambat laun kita hanya akan menanti kehancuran.

Peristiwa tsunami di Aceh tahun 2006, betul-betul ‘mengejutkan’ kita dalam kesedihan yang mendalam. Tak ada satu pun yang bisa menolaknya, secanggih apa pun teknologi dan pengetahuan manusia. Kalau ada yang mengaku bisa mencegah terjadinya gempa dan gelombang tsunami, tidak lain hanya karena kesombongan manusia dan ketidaksadaran terhadap fenomena hidup yang sebenarnya sederhana.

Dalam hidup, secara umum segalanya terbagi pada dua bagian utama. Satu bagian adalah posisi di mana manusia tak punya pilihan, dan satu bagian lagi adalah di mana manusia memiliki pilihan. Bagian pertama sudah tergambar secara sederhana dengan kelahiran manusia itu sendiri. Siapa di antara kita yang bisa memilih untuk dilahirkan. Apakah orang tua kita bisa memilih untuk melahirkan kita. Seandainya pilihan itu ada, tentu kita tak akan pernah menerima kecuali menjadi anak orang kaya, anak bangsawan, dan anak raja.

Musibah yang seringkali kita sebut “bencana alam” adalah bentuk di mana kita juga tidak memiliki pilihan. Tak ada satu pun manusia di dunia yang bisa memilih untuk terjadi banjir, gempa atau tanah longsor, topan ataupun badai. Dan seandainya ada pilihan, tentu kita tidak akan memilih segala bencana itu.

Namun sayang, kebanyakan dari kita lupa pada bagian hidup kita yang kedua, di mana kita diberikan tempat untuk memilih. Seringkali pada bagian ini kebanyakan manusia memilih dengan semena-mena dan angkuh bahkan culas. Padahal mereka tahu sendiri, pilihan mereka akan sirna dan seketika tidak akan ada artinya ketika ‘tidak bisa memilih’ datang menjemput. Bentuk paling sederhana yang pasti menimpa semua manusia adalah kematian. Tak ada satu pun dari kita yang mampu memilih untuk ‘tidak mati’.

Kalau demikian halnya, kenapa kesempatan memilih kita sia-siakan dan diberlakukan dengan angkuh dan culas. Korupsi, kolusi, dan nepotisme adalah pilihan yang culas. Pembabatan hutan, eksploitasi tambang, membunuh, mencuri, dan segala macamnya adalah pilihan yang angkuh dan culas.

Banjir, gempa dan tanah longsor adalah bencana dan tak ada satu pun yang bisa memilih untuk tidak terjadi. Tapi kita punya pilihan untuk melestarikan hutan kita, melestarikan alam dan lingkungan kita. Sekalipun bencana yang ‘tak ada pilihan’ buat kita itu terjadi, setidaknya dengan bagian di mana kita punya ‘pilihan’, kita bisa meminimalisir, mengantisipasi dan mengurangi jumlah korban dan kerugian.

Sekarang, menurut salah satu data, seluruh kepulauan Nusantara adalah daerah rawan bencana kecuali pulau Kalimantan. Bagaimana kalau Kalimantan sendiri sekarang sudah mulai rusak dan bencana “kecil-kecilan” sudah nampak di depan mata. Kita masih punya pilihan untuk menanggulangi, mengantisipasi, dan meminimalisir bagian yang kita tak punya pilihan. Selanjutnya terserah kita semua.

1 Comment »

  1. Saya hanya seorang pendatang di Banua, tapi sejak pertama datang hingga saat ini saya makin mencintai pulau ini. Sayangnya, hutan di kalimantan harus rusak oleh tangan2 tak bertanggung jawab. Dan hampir setiap tahun selalu diselimuti kabut asap. Semoga Kalimantan akan tetap asri dan tetap dapat menjadi paru2 dunia.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: