Tanah Banjar: Menanti Intelektualisme Bersinar (Kembali)

intelektualitas banjar

Kegelisahaan utama berbagai kelompok masyarakat di belahan dunia mana pun adalah bagaimana mempertahankan identitas jati dirinya. Bagaimana suatu suku bangsa memelihara dan menjaga kelestarian nilai-nilai adiluhung yang diwariskan sehingga identitas tetap eksis di antara suku bangsa lain.

Persoalan-persoalan seperti itulah yang menantang saya ketika merenungkan kebudayaan Banjar.  Sebagai urang Banjar, kita sebenarnya tak ingin kehilangan jati diri sebagaimana kita tak ingin kehilangan aliran sungai yang selama ini menjadi ikon penghidupan kita. Namun keinginan hanya tinggal keinginan, ketika kita sendiri –sebagai warga banua- tidak berupaya merevitalisasi nilai-nilai adiluhung kebudayaan Banjar, di tengah tantangan yang semakin krusial seiring dengan menguatnya arus global.

Kadang kita sudah merasa cukup bangga dengan segala potensi dan capaian kejayaan banua, dan terus-menerus mengagungkannya tanpa ada ikhtiar memaknai “lebih dalam” segala hal yang “tak nampak” mata. Alih-alih demikian, sebagian dari kita malah kadang melupakannya.

Di balik itu semua, sebenarnya terdapat potensi besar yang dimiliki oleh Tanah Banjar untuk menjadikan banua ini sebagai pusat kegemilangan yang layak dibanggakan. Daerah ini telah melahirkan banyak tokoh andal dan terkenal dengan kiprah serta karyanya yang membuat orang selalu memperhitungkannya di panggung pentas politik, agama, sosial, ekonomi, seni atau budaya.

Tentu juga sangat tidak berlebihan jika dikatakan Kalsel juga banyak melahirkan figur-figur yang dapat mengangkat nama daerah, baik dalam skala regional Kalimantan maupun nasional, dari dulu sampai sekarang.

Persoalannya, bisakah Kalsel tetap menjadi ‘kiblat’ pendidikan dan budaya, paling tidak di wilayah regional Kalimantan, kini?

Menjadikan Tanah Banjar sebagai “basis intelektualisme” yang handal di Kalimantan bukanlah hal yang mustahil. Ada beberapa peluang yang mendukung ke arah itu sekaligus tantangan yang harus disikapi dengan bijak sehingga keinginan itu bisa terus dipupuk dan diwujudkan.

Pertama, dari segi sejarah Tanah Banjar pernah melahirkan para tokoh, ulama, dan cendekiawan yang layak diperhitungkan. Jelas, ini bukan upaya mengenang roman­tisme masa lalu yang penuh dengan cerita kesuksesan tokoh-tokoh Banjar di pentas nasional. Paling tidak, dengan mempelajari sejarah tokoh tersebut, setidaknya dapat menjadi cermin kedudukan masyarakat Kalsel di pentas nasional saat ini. Ini mungkin dimulai dengan pertanyaan, masih adakah tokoh daerah ini yang berkiprah di tingkat nasional?  Sejauh mana kiprah tersebut? Adakah memberi manfaat bagi masyarakat di banua ini?

Namun, tantangannya terletak pada cara pandang segenap warga dan stake holders daerah ini yang kerap cuma membangga-banggakan sejarah masa lalu, tapi lupa mempersiapkan generasi berikutnya menjadi tokoh di pentas nasional. Tentu banyak hal yang harus disiapkan, termasuk kebija­kan di bidang pendidikan, sosial dan budaya di Kalimantan Selatan.

Kedua, sistem sosio-budaya masyarakat Kalsel, khususnya suku Banjar sangat mendukung terwujudnya lingkungan pendidikan yang dinamis dan kondusif. Falsafah kayuh baimbai dan haram manyarah, waja sampai kaputing adalah dasar pengembangan ilmu penge­tahuan dan budaya yang tiada duanya.

Sistem sosio­-budaya suatu bangsa meru­pakan cerminan peradaban masyarakatnya.  Apalagi dalam konteks yang lebih luas, perkem­bangan peradaban masyarakat ini tidak hanya menjadi sumber ilmu pe­ngetahuan, tapi juga untuk pengem­bangan ilmu pengetahuan sesuai dengan zamannya (zeitgeist).  Dan, ini sudah dimiliki oleh masyarakat Tanah Banjar.

Kita mengenal Yogyakarta sebagai kota pendidikan yang ternama di Indonesia. Banyak orang berusaha datang ke sana untuk menuntut ilmu. Namun, yang paling terasa adalah bahwa lingkungan pendidikan di Kota Yogya memang didukung oleh sistem sosio-budaya masyarakatnya yang kondusif. Tentu, kita berharap suatu saat Kalsel yang diwarnai dengan sistem budaya masyarakat Banjar yang berkembang juga menjadi salah satu pusat pen­didikan di Indonesia.

Walaupun begitu, ada juga tantangannya. Semakin lama, se­makin terasa memudarnya sis­tem sosio-budaya masyarakat di daerah Kalsel ini. Seti­daknya ini dapat dilihat dari wajah Kota Banjarmasin yang atmosfirnya tidak lagi “berbudaya.” Padahal orang luar mau berkunjung ke Kalsel, terutama Kota Banjarmasin karena budaya Banjar ini. Coba bandingkan atmosfir kota yang berbudaya seperti Yogyakarta dan Denpasar, adakah juga dimiliki bumi Antasari? Hal yang harus menjadi perhatian serius semua pihak.

Ketiga, Kalimantan Selatan juga dapat menjadi pusat kepakaran (center of excellent) dan intelektualitas, karena memang di daerah ini terdapat pemikir dan ilmuwan yang memiliki ‘nama’ tidak hanya di tingkat regional, tapi juga nasional. Hal ini didukung oleh beberapa perguruan tinggi yang mewadahi kepakaran tersebut seperti Universitas Lambung Mangkurat, Uni­versitas Islam Kalimantan, IAIN Antasari, STAI Al Jami’ dan lainnya.

Namun sayangnya, kepakaran ini masih sebatas ketenaran secara individual dan bukan institusional.  Karenanya, lembaga pendidikan dan perguruan tinggi di Kalsel juga harus mening­katkan kualitasnya sehingga mena­rik perhatian orang dari luar Kalsel untuk sekolah/ kuliah di daerah ini.  Ini perlu diberi perha­tian khusus karena lembaga pendidikan (perguruan tinggi) di Kalsel, dalam banyak hal masih tertinggal di bandingkan dengan perguruan tinggi yang ada di Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan kota besar lainnya.

Jika perguruan tingginya kalah bersaing dengan perguruan tinggi yang ada di luar Kalsel, tentu akan melemahkan semangat orang untuk menuntut ilmu di daerah ini.  Sebenarnya ada cara praktis yang dapat dilakukan untuk mengejar ketertinggalan tersebut. Misalnya dengan memperkuat keunggulan komparatif masing-masing universitas yang tidak dimiliki oleh universitas lain di luar Kalsel. Yang jelas pim­pinan perguruan tinggi di daerah ini lebih memahami apa yang menjadi keunggulan komparatif mereka masing-masing untuk bersaing dengan perguruan tinggi yang ada di luar Kalsel.

Keempat, diperlukan pula komit­men pemerintah daerah yang serius menjadikan daerah Kalsel ini sebagai pusat “intelektualisme”.  Komitmen ini tidak hanya dalam bentuk dukungan moral, tapi juga program pemerintah yang kreatif dan inovatif mengembangkan infra­struktur dan suprastruktur yang memadai untuk mendukung kei­nginan ini.

Saya melihat kebijakan pemerintah daerah masih berkutat pada program ekonomi yang mendorong peningkatan PAD. Namun, masih sedikit belanja modal yang dikucurkan untuk peningkatan mutu pendidikan dan kebudayaan di Kalimantan Selatan. Walaupun efek manfaatnya bisa dirasakan jangka panjang, tapi ini jelas lebih men­janjikan untuk kemajuan daerah kita, Tanah Banjar tercinta.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: