Archive for July, 2008

Isra Mi’raj dan Perjalanan Menuju Kesempurnaan

“Peringatan Isra’ Mi’raj menguji keteguhan umat Islam, apakah wahyu masih membimbing akal kita, apakah justru kita telah menafikan wahyu lantas keterlaluan asyik dengan logika dalam kehidupan beragama.”

Kuasa Allah nyata tak terbatas. Tinggal mengucap “kun” saja, maka terjadilah apa yang menjadi ketentuan-Nya. Apapun yang tak mungkin dalam pandangan manusia, mungkin dan mudah dalam pandangan Allah SWT. Sebagaimana begitu mudahnya Dia memperjalankan Rasulullah SAW dari Makkah ke Baitul Maqdis, dari bumi yang fana ini menuju hadirat-Nya : Sidratul Muntaha. Singkat saja waktu perjalanan yang ditempuh oleh Baginda Nabi. Cuma satu malam. Sampai-sampai hanya Abu Bakar As-Siddiq saja yang betul-betul penuh mempercayai tuturan pengalaman beliau.

Penduduk kota Mekkah yang rata-rata belum menganut Islam malah menertawakan kabar di-mi’raj-kannya Rasulullah SAW. Sebelum Rasulullah SAW di-mi’raj-kan Jibril a.s. “membedah” dada beliau, untuk membersihkan jiwa Baginda Nabi dari ‘debu-debu’ dunia. Kedalam hatinya kemudian didedahkan “iman” dan “hikmah”.

Read the rest of this entry »

Comments (4)

Isra Mi’raj dan Pemberantasan Korupsi

Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad merupakan tonggak lahirnya peradaban Islam berbasis keimanan yang kukuh. Perintah shalat adalah asas peradaban Nabi yang akan menegakkan keadilan sesuai nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Spirit lahirnya keadilan berbasis ketuhanan dan kemanusiaan menjadi tonggak keteladanan yang harus diserap dalam kesadaran umat Islam.

Itulah yang oleh Sheikh Muhammad al-Ghazali dalam Fiqh al-Sirah dikatakan, Isra Mi’raj menjadi tonggak lahirnya Islam sebagai agama fitrah. Semua ajaran ibadah yang diwajibkan kepada umat Islam merupakan fondasi yang wajib dilaksanakan untuk menemukan sari pati dan esensi agama.

Read the rest of this entry »

Comments (2)

Muhammad Nafis Al-Banjari (Ulama Sufi Penyebar Islam dari Banjar)

Pernah dimuat pada harian Mata Banua/ Selasa, 29 Juli 2008

Dalam deretan ulama Banjar, nama Muhammad Nafis al-Banjari tak kalah masyhur dibanding Muhammad Arsyad al-Banjari. Kalau Muhammad Arsyad dikenal sebagai ahli syariat, maka Muhammad Nafis dikenal sebagai pakar ilmu kalam dan tasawuf. Dengan keilmuannya, ia berhasil menorehkan prestasi sebagai salah seorang ulama terkemuka Nusantara.

Dialah pengarang “Durr Al-Nafis”, kitab berbahasa Jawi yang dicetak berulang-ulang di Timur Tengah dan Nusantara, yang masih dibaca sampai sekarang. Dia berada dalam urutan kedua setelah Muhammad Arsyad Al-Banjari dari segi pengaruhnya atas kaum muslimin di Kalimantan. Apa yang yang harus dilakukan kaum muslimin agar memperoleh kemajuan dalam hidup? Mengapa Belanda melarang kitabnya beredar di Indonesia?

Syeikh Muhammad Nafis Al-Banjari bin Idris bin Husien, lahir sekitar tahun 1148 H./1735 M.,di Kota Martapura Kalimantan Selatan, dari keluarga bangsawan atau kesultanan Banjar, silsilah dan keturunanya bersambung hingga Sultan Suriansyah (1527-1545 M.) Raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam sebelumnya bernama Pangeran Samudera.

Read the rest of this entry »

Comments (24)

Menggali Khazanah Kuliner Tradisional Kalsel (Katupat Kandangan, Gangan Humbut Sampai Garih Batanak)

Pernah dimuat pada harian Radar Banjarmasin/ Kamis, 31 Juli 2008 dan harian Mata Banua/ Kamis-Jum’at, 31 Juli – 1 Agustus 2008

Wisata kuliner akhir-akhir ini semakin populer. Bukan hanya karena dipopulerkan oleh berbagai acara yang diproduksi oleh hampir semua stasiun televisi swasta. Kisah-kisah dan liputan cerita seputar kudapan dan santap menyantap, juga semarak mewarnai konten layar kaca. Beragam menu makanan, terutama menu khas daerah, menjadi primadona. Bahkan menu yang sebelumnya jarang atau bahkan tak pernah dikenal, mendadak menjadi menu makanan yang dicari banyak orang.

Sebenarnya, soal berburu makanan khas daerah bukan baru-baru ini saja. Jauh sebelum bung Bondan Winarno berkeliling Nusantara mengucapkan “mak nyuus!”, masyarakat kita pada umumnya memang paling senang berburu santapan menu khas daerah, terutama bila sedang berkunjung ke suatu tempat.

Coba lihat, bagaimana orang berebut mengacungkan uang untuk mendapatkan beberapa bungkus nasi goreng atau mie ayam di Jalan Kuripan. Atau sabar berdiri menunggu meja kosong di Soto Bang Amat dan Soto Bawah Jembatan, atau berdesakan menunggu pesanan di warung ketupat Parincahan. Atau bahkan sikut-sikutan berebut memadati meja pesanan bakso Batuah, Martapura. Hal itu sudah menjadi pemandangan lumrah, terutama pada saat hari libur, sejak bertahun-tahun lamanya.

Kini, dengan penyebaran informasi yang begitu dahsyat, perburuan kuliner memang menjadi semakin seru. Semakin piawai ekspresi raut muka bung Bondan kala menyeruput sendok berisi kuah sedap, semakin sulit rasanya menahan air liur ini untuk –maaf- tidak menetes. Dan, kitapun menjadi semakin bernafsu untuk benar-benar mencicipinya tatkala kita berada dalam radius jangkauan jejak langkah kita dengan menu idaman tersebut.

Read the rest of this entry »

Comments (20)

Asa di Tengah Nestapa Hari Anak Nasional

Tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional sebumi Indonesia Raya. Terus besoknya yaitu pada tanggal 24 Juli adalah peringatan diratifikasinya Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women) menjadi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984.

Konon, istilah hak asasi anak maupun hak asasi perempuan lahir untuk menjawab bahwa pada kenyataannya cara pandang yang menyama-ratakan laki-laki-perempuan, dewasa-anak, adalah kurang tepat.

Sejatinya fakta menunjukkan bagaimana anak-anak di bumi Indonesia Raya ini mengalami kelaparan, kekerasan, ditelantarkan, putus sekolah tidak punya biaya, anak jalanan berserakan di stasiun dan pelosok kota, dan lain-lain dan seterusnya. Demikian pula perempuan mengalami diskriminasi, baik dalam keluarga, komunitas, maupun kehidupan bernegara.

Negara punya tanggung jawab dan kewajiban untuk mengayomi itu semua, justeru penyelenggara negara yang diberi kepercayaan oleh rakyatnya, sibuk mengurusi urusan golongannya masing-masing, sampai skandal (selingkuh) pun menjadi kesibukan khusus bagi mereka.

Read the rest of this entry »

Comments (2)

Kekerasan (Politik) dan Agenda Pendidikan Kita

Pendidikan adalah sahutan paling ujung yang masih sempat dipercaya, ketika kecemasan terbit dan kita nyaris kehilangan kepercayaan kepada semua hal. Kita tercemas oleh sejumlah anomali dan kontradiksi yang sesehari datang menerpa layar kesadaran kita. Ketika frekuensi terpaan itu semakin meningkat, dan di lain pihak institusi-institusi sosial-politik dan pranata-pranata lainnya terasa “lembek” maka kecemasan itu pun kian menjadi. Dalam cemas itulah kita menengok, dan sekaligus mendamba, akan peranan pendidikan.

Celakanya, tindakan kekerasan sedang menghinggapi kehidupan perpolitikan nasional. Masih hangat dalam ingatan kita, betapa aspek kekerasan begitu mengemuka ketika menjelang Pemilu 2004 lalu, beberapa anggota dan simpatisan partai politik tertentu melakukan cap jempol darah, sebagai perlambang kesetiaan dan kesiapan untuk “berjuang” agar calon presiden mereka dikukuhkan oleh MPR. Pemilu 2004 juga diwarnai bentrok antarmassa pendukung partai politik. Di Buleleng, Bali, bentrok antara massa PDI Perjuangan dengan Partai Golkar bahkan menewaskan dua kader Beringin. Kekerasan politik tersebut praktis menaikkan tensi politik menjelang Pemilu 2004.

Suasana makin panas, karena elite kedua partai politik mengeluarkan komentar yang saling menegasikan. Ketua Umum DPP Partai Golkar Akbar Tandjung mengatakan bahwa terbunuhnya dua kader Golkar di Buleleng tidak bisa ditoleransi. Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Soetjipto membela diri bahwa banteng-banteng PDIP tidak akan mengamuk kalau tidak diganggu.

Read the rest of this entry »

Comments (4)

Anak Jalanan Juga Manusia (Sub-Kultur Masyarakat Kota Banjarmasin Yang Terlupakan)

Pola kehidupan masyarakat Kota Banjarmasin dewasa ini agaknya tidak dapat dilepaskan dengan pola kehidupan anak jalanan. Artinya kehidupan anak jalanan sudah menjadi bagian dari keseluruhan kehidupan masyarakat Kota Banjarmasin. Kultur masyarakat secara keseluruhan merupakan perilaku mapan yang didasarkan pada rasa, cipta, dan karsa masyarakat dalam menyikapi kehidupan itu sendiri. Di dalam kultur ada bagian-bagian yang disebut subkultur.

Sub-kultur dari sebuah kehidupan masyarakat dapat hadir kapan dan di mana saja. Walaupun demikian subkultur itu bukanlah satu gejala yang lahir begitu saja, tetapi berkaitan erat dengan berbagai peristiwa lain yang menjadi konteksnya. Bila diperhatikan secara seksama, maka kehidupan anak jalanan di Kota Banjarmasin merupakan subkultur masyarakat Banjarmasin itu sendiri, karena kehidupan anak jalanan tersebut sudah menjadi bagian dari kultur masyarakat Kota Banjarmasin. Sebagai sebuah subkultur, kehidupan anak jalanan ini bukanlah sebuah hal yang kebetulan, tetapi memiliki cerita yang panjang dari sisi budaya, sosial, politik, bahkan reliji.

Anak jalanan pada umumnya adalah kaum muda yang sebenarnya adalah aset negara yang berharga. Sebagai modal kekuatan bangsa kaum muda ini harus disiapkan sedini mungkin dan ini menjadi tugas orang dewasa. Penyiapan-penyiapan yang terpenting adalah usaha agar mereka bisa melalui masa transisinya menuju dewasa. Di sinilah terlihat adanya perbedaan yang jelas antara penyiapan masa muda dengan masa dewasa. Pada hakikatnya masyarakat telah menempatkan anak-anak sepenuhnya di bawah kontrol orang tua. Para orang tuapun memiliki kekhawatiran jika masa transisi anak-anak mereka menjadi masa yang kritis sehingga berakibat kurang baik. Kekhawatiran itulah yang kini tidak hanya sebagai sebuah ketakutan tetapi sudah menjadi bukti dalam kehidupan masyarakat ketika ini dan di antaranya adalah kehidupan anak jalanan.
Read the rest of this entry »

Comments (3)

Older Posts »