Wisata Religi, Alternatif Liburan Warga Banua

mesjid-mtp

Kebudayaan Indonesia diilhami oleh  banyak hal, di antaranya adalah nilai-nilai agama. Bersatunya nilai agama dalam kebudayaan melahirkan tradisi keagamaan yang salah satunya berwujud “ziarah”. Ziarah memiliki tradisi panjang dalam sejarah perkembangan agama Islam. Dalam perjalanannya, perilaku keagamaan ini sempat dikecam karena dianggap sebagai praktek syirik.

Tradisi ziarah ini tidak hanya monopoli umat Islam. Umat agama lain juga memiliki tempat-tempat ziarah suci. Antusiasme masyarakat mengunjungi tempat-tempat “sakral” menjadikan ziarah tidak hanya urusan ritual keagamaan, tetapi lebih mirip wisata. Sudah ada unsur ekonomi, sosial dan budaya. Kegiatan ini populer disebut dengan “wisata religi” atau wisata rohani. Kegiatan ini bagi masyarakat tertentu sudah dilakukan turun-temurun.

Indonesia adalah salah satu negara yang kaya dengan peninggalan sejarah dalam berbagai bidang, tak terkecuali peninggalan di bidang keagamaan yang meliputi semua agama yang ada di Indonesia. Peninggalan atau situs-situs tersebut termanifestasikan dalam berbagai bentuk, seperti makam (yang memiliki nilai tersendiri dalam masyarakat), bangunan-bangunan seperti masjid, gereja atau candi yang semuanya menjadi saksi kebesaran sejarah bangsa Indonesia.

Kalimantan Selatan sendiri memiliki beragam destinasi wisata religi yang menarik dan sarat nilai sejarah. Mesjid Raya Sabilal Muhtadin, Mesjid Agung Al-Karomah Martapura, Makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kelampaian), Makam KH. Zaini Ghani (Guru Sekumpul) Martapura, Mesjid dan Makam Sultan Suriansyah, Makam Datu Sanggul, Makam Datu Nuraya di Tatakan Rantau, dan lain-lain yang selalu dikunjungi puluhan ribu peziarah setiap tahunnya. Keberadaan tempat-tempat tersebut jelas merupakan sebuah potensi wisata religi di Tanah Banjar dan bisa menjadi alternatif untuk mengisi liburan akhir pekan, libur sekolah atau tahun baru.

Menikmati wisata religi di Kalimantan Selatan, tidak lengkap tanpa mengunjungi Mesjid Sultan Suriansyah. Mesjid bersejarah yang merupakan mesjid tertua di Kalimantan Selatan. Mesjid ini dibangun di masa pemerintahan Sultan Suriansyah (1526-1550), raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Mesjid ini terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.

Sementara itu, Mesjid Raya Sabilal Muhtadin adalah salah satu landmark dan kebanggaan warga Banjarmasin. Mesjid yang tepat berada di jantung kota ini menempati areal seluas 10 hektar lebih dengan menghadap sungai Martapura yang ramai dengan lalu lintas airnya.  Bangunan berarsitektur modern yang dikelilingi oleh 5 menara dan berlantai dua menjulang tinggi serta taman yang luas dan indah, dapat menampung kurang lebih 15.000 jemaah.

Dan jika Anda menyempatkan ziarah di kota martapura, sebaiknya Anda juga menyinggahi Mesjid Agung Al-Karomah, Martapura. Mesjid ini memiliki kubah yang unik dengan warna-warni dipuncaknya, dan juga dilengkapi dengan 1 menara tinggi dengan arsitektur yang tak kalah unik juga.

Meski bergaya modern, empat tiang ulin yang menjadi sokoguru peninggalan bangunan pertama mesjid masih tegak di tengah. Tiang ini dikelilingi puluhan tiang beton yang menyebar di dalam Mesjid. Arsitektur Mesjid Agung Al Karomah ini banyak mengadopsi bentuk Timur Tengah. Seperti atap kubah bawang dan ornamen gaya Belanda.

Selanjutnya, Makam ulama agung Kalimantan, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau lebih dikenal dengan sebutan Datu Kalampaian, merupakan destinasi wisata religius yang banyak dikunjungi orang. Makam beliau terletak di desa Kalampaian Ulu, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar dengan jarak tempuh sekitar 60 km dari kota Banjarmasin, sedangkan dari kota Martapura (ibu kota Kabupaten Banjar) hanya kurang lebih 22 menit waktu perjalanan. Kitab karangan beliau yang terkenal adalah “Sabilal Muhtadin” (sebuah kitab ilmu fiqih yang sangat masyhur) yang kemudian diabadikan sebagai nama mesjid terbesar di Kalimantan Selatan

Kubah makam KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani atau lebih akrab disebut Guru Ijai atau Guru Sekumpul, yang terletak di Sekumpul Martapura, juga tak pernah sepi dari peziarah. Ulama dari Martapura ini semasa hidupnya dikenal merupakan ulama kharismatik dalam berdakwah dan menyebarkan syiar Islam di Tanah Banjar. Guru Sekumpul juga masih zuriat atau keturunan dari ulama besar Banjar, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kelampaian.

Selanjutnya, Makam Datu Nuraya yang merupakan makam panjang bahkan mungkin makam terpanjang di dunia (kurang lebih 60 meter) dan haulannya (peringatan tahunan) adalah pada tanggal 14 Dzulhijjah. Makam ini terletak di Kecamatan Tapin Selatan. Anda juga mesti menyempatkan ziarah ke makam Datu Sanggul terletak di Desa Tatakan Kabupaten Tapin, haulannya diperingati setiap tanggal 21 Dzulhijjah. Perjalanan ziarah dilanjutkan ke makam Datu Suban yang dikenal sebagai guru Datu Sanggul, haulannya setiap bulan Syawal setiap tahun.

Dari Tradisi Menuju Akhlak Islami

Akhir-akhir ini semakin banyak orang yang mengalami stres dan tekanan mental. Tingginya tuntutan hidup dan semakin padatnya aktivitas menjadi salah satu penyebab terjadinya stres, baik ringan maupun berat. Biasanya stres bermula dari kejenuhan pikiran yang kemudian terakumulasi sehingga menjadi akut. Tiap orang memiliki cara tersendiri untuk mengatasi stres atau kejenuhan pikiran tersebut. Bagi sebagian orang, rekreasi atau tamasya merupakan salah satunya.

Biasanya, setelah berwisata kita akan merasa segar dan siap untuk kembali menekuni aktivitas sehari-hari. Namun, sebenarnya kita bisa memperoleh manfaat lebih dengan melakukan rekreasi. Melalui wisata religi, selain menyegarkan pikiran, kita juga bisa menambah wawasan bahkan mempertebal keyakinan kita kepada Sang Pencipta.

Di beberapa kelompok masyarakat, wisata religi ini sering menjadi kegiatan rutin, ada yang mingguan, bulanan, tahunan dan sebagainya. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari pengisi atau refreshing dari rutinitas pengajian-pengajian yang mereka ikuti.

Namun, jangan sampai wisata religi hanya dijadikan rekreasi maupun hanya semata-mata berdimensi ekonomis dan berorientasi profit saja bagi para pelaksana jasa wisata. Sedapat mungkin dihindari, wisata religi hanya mengapresiasi aspek-aspek fisik dan cenderung glamor tanpa memiliki tujuan yang jelas. Sehingga, kurang berdampak bagi penghayatan spiritual. Seharusnya, wisata menjadi media untuk memunculkan kesadaran masyarakat terhadap penghargaan terhadap setiap khasanah budaya dan sejarah, yang sesungguhnya terkandung banyak pesan maupun pelajaran berharga yang bisa memberikan kontribusi dalam upaya mewujudkan hidup yang lebih beradab.

Sebagai bagian dari aktivitas dakwah, wisata religi harus mampu menawarkan daya tarik wisata sekaligus membentuk akhlak mulia. Sehingga, mampu menggugah kesadaran masyarakat akan kemahakuasaan Allah SWT sekaligus kesadaran beragama para pemeluknya.

Alangkah baiknya memasukkan destinasi wisata religi ke dalam daftar tujuan liburan kita. Setelah melakukan perjalanan wisata religi, mudah-mudahan ketika kembali ke aktivitas sehari-hari, kita menjadi individu dengan batin yang lebih kaya dan kecerdasan spiritual yang lebih baik. Amien.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: