Archive for October, 2008

Pornografi Di Sekitar Kita: Keterbukaan atau Pemberontakan?

Pro kontra seputar pornografi memang tidak akan pernah selesai, terutama di antara tarik menarik argumentasi agama moralitas via a vis argumentasi kebebasan untuk berekspresi dan berkesenian. Di satu sisi, ada kaum agamawan yang berniat mengontrol ruang publik secara ketat, dan mungkin juga kaku. Di sisi lain, ada sekelompok masyarakat yang hendak menempatkan kebebasan berekspresi dan berkesenian di dalam ruang publik secara total, dan seolah-olah tanpa hambatan.

Pada saat tulisan ini dibuat, Undang-Undang Anti Pornografi (UU AP) baru saja di sahkan setelah sebelumnya menjadi perdebatan hangat di kalangan masyarakat. Rancangan UU ini sebenarnya sudah diajukan pemerintah ke DPR RI sejak tahun 2002. Entah mengapa, anggota dewan pada saat itu belum mau mengesahkannya. RUU ini baru dibahas kembali secara serius dan disahkan oleh anggota Komisi VIII DPR RI, hasil pemilu legislatif tahun 2004.

Sejak awal keputusan DPR yang ingin membahas RUU Anti Pornografi untuk kemudian disahkan menjadi UU, pro dan kontra terhadap keberadaan RUU sudah bermunculan. Mereka yang pro menginginkan adanya UU yang tegas yang melarang segala hal yang berbau pornografi dan pornoaksi. Sementara yang kontra, mengaku bukannya tidak kesal dengan maraknya pornografi di negeri ini, tapi mereka menginginkan pengaturan masalah pornografi tidak merugikan sebagian masyarakat yang lain.

Read the rest of this entry »

Advertisements

Comments (3)

Mengenang Seorang Kawan dan Refleksi Tentang Kematian

(In Memoriam Pak Jastan)

Seorang teman telah terlebih dahulu pulang. Teman yang menyenangkan, teman yang selalu meninggalkan kesan baik dihati. Terima kasih jika langkah sempat menemani dan mohon maaf jika mungkin pernah tersakiti. Semoga langkahnya lebih tenang kini. Selamat Jalan Kawan……

Barisan kalimat singkat itulah yang bisa terucap dalam hati, tak ada lukisan kata-kata lagi untuk diungkapkan. Termasuk keberanian untuk menuliskan apa yang menjadi perasaanku. Hari itu Kamis malam Jum’at, 2 Oktober 2008 aku dikejutkan sebuah kabar yang bernada ungkapan duka cita. Seorang kawan yang kami cintai telah meninggal dunia, berpulang menghadap sang penciptanya….JASTAN, salah seorang guru di MAN 2 Banjarmasin.

Sesaat, aku seolah tak percaya. Tapi sekian menit berikutnya aku pun tersadar bahwa dalam hidup ini kita sering disodorkan dengan kenyataan kenyataan yang tak terduga. Apalagi maut itu tidak berbau, siapapun tak ada yang bisa mengendusnya. Meski demikian, masih saja aku diliputi rasa tak percaya.

Read the rest of this entry »

Comments (18)

Perlukah Transformasi Sejarah Lokal Banua Banjar?

SUDAH milyaran rupiah dana yang dihamburkan agar penataran dan pelatihan untuk memantapkan rasa kebangsaan dapat terwujud. Disamping itu media massa, lewat media cetak dan media elektronik, juga diserutkan agar segenap generasi muda dapat memahami arti semangat kepahlawanan dan etos perjuangan bangsa.

Semangat kepahlawanan adalah semangat yang tidak mengenal istilah pantang mundur demi meraih kemerdekaan. Malah nyawa, harta dan keluarga adalah taruhannya. Bagaimanakah semangat generasi muda bangsa kita saat ini? Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, kita dapat mengatakan bahwa rata-rata generasi muda sekarang banyak yang tidak memiliki semangat kepahlawanan.

Andaikata kita pajangkan sederet nama mulai dari nama artis sinetron, olahragawan sampai kepada nama tokoh pahlawan yang telah berjasa banyak bagi bangsa ini. Maka artis dan olahragawan kerapkali sebagai tokoh Idola mereka yang utama, dan para pahlawan sering sekedar idola pelengkap saja. Sebetulnya tidak salah kalau generasi muda termasuk anak didik kita menjadikan para artis dan olahragawan sebagai idola mereka, tidak mengapa bila tokoh-tokoh idola mereka baik luar-dalam. Maksudnya penampilan luarnya sama baik dengan karakter mereka yang sesungguhnya.

Read the rest of this entry »

Comments (6)

Perang Banjar dalam Refleksi Anak Banua

Setiap tanggal 11 Oktober, kita diingatkan tentang peristiwa sejarah wafatnya seorang pejuang banua yang selalu dikenang namanya. Ia, Gusti Inu Kartapati alias Pangeran Antasari bin Pangeran Masohud bin Pangeran Amir, lokomotif dan ikon pecahnya De Bandjermasinsche Krijg atau Perang Banjar (1859-1905).

Siapakah Pangeran Antasari? Kalau kita bertanya hal tersebut, anak muda Banjar pasti menunjuk salah satu nama jalan di kota Banjarmasin . Tapi adakah yang mengenalnya? Sebagai ‘Urang Banjar’ sungguh ironis jika kita tidak mengetahui sejarah perkembangan kerajaan Banjar. Sejarah ini diwarnai dengan peperangan besar menentang penjajah Belanda. Banyak Bangsawan kerajaan Banjar, Ulama dan rakyat yang ikut serta dalam peperangan itu. Demikian pula rakyat di daerah ‘Banua Lima’ serentak mengangkat senjata dibawah pimpinan Pangeran Hidayatullahullah dan Pangeran Antasari.

Read the rest of this entry »

Comments (6)

Memaknai Tradisi Halal bi Halal

Setiap momentum hari raya Idul Fitri tiba, tidak hanya pakaian baru saja yang menjadi ciri untuk menyambut kedatangan “bulan kemenangan” setelah satu bulan berpuasa. Tetapi ada hal yang lebih dari itu. Yaitu tradisi halal bi halal.

Halal bi halal, adalah tradisi yang hanya ada di Indonesia dan merambah ke beberapa negara tetangga dalam rumpun melayu, seperti Malaysia. Yang dicirikan dengan saling bersilaturrahmi dan saling bermaaf-maafan satu sama lain.

Menurut Dr. Quraish Shihab, halal-bihalal merupakan kata majemuk dari dua kata bahasa Arab ‘halal’ yang diapit dengan satu kata penghubung ‘ba’ (dibaca: bi) (Shihab, 1992: 317). Meskipun kata ini berasal dari bahasa Arab, namun masyarakat Arab sendiri tidak akan memahami arti halal-bihalal yang merupakan hasil kreativitas bangsa Melayu. Halal-bihalal, tidak lain, adalah hasil pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat Asia Tenggara.

Kata ‘halal’ memiliki dua makna. Pertama, memiliki arti ‘diperkenankan’. Dalam pengertian pertama ini, kata ‘halal’ adalah lawan dari kata ‘haram’. Kedua, berarti ‘baik’. Dalam pengertian kedua, kata ‘halal’ terkait dengan status kelayakan sebuah makanan. Dalam pengertian terakhir selalu dikaitkan dengan kata thayyib (baik). Akan tetapi, tidak semua yang halal selalu berarti baik. Jadi, dalam hal ini, ukuran halal yang patut dijadikan pedoman, selain makna ‘diperkenankan’, adalah yang baik dan yang menyenangkan.
Read the rest of this entry »

Comments (5)