Kontroversi Film “Ayat-ayat Cinta”

film-ayat_ayat_cinta.jpg

Saya mungkin termasuk orang yang tidak mau terjebak dalam histeria massa untuk segera menonton film Ayat-ayat Cinta, yang kini tengah tayang di bioskop-bioskop di tanah air, termasuk di kota Banjarmasin. Konon edisi bajakan film Ayat-ayat Cinta ini telah beredar luas di tengah masyarakat.

Ayat-ayat Cinta (AAC) sudah saya kenal ketika novel ini pertama kali diterbitkan, kira-kira tahun 2004. Novel drama romantis yang ditulis oleh Habiburahman El-Shirazy atau yang biasa dipanggil dengan “Kang Abik” ini booming dikalangan pemuda pemudi islam, baik dari kalangan penggemar sastra maupun umum. Pasalnya walaupun ditulis dengan menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman, akhlaqul karimah serta kehormatan, namun tidak mengurangi sedikit pun rasa dan citra romantis dari novel tersebut. Pada sisi ini saya menaruh apresiasi yang tinggi pada Kang Abik.
Pertengahan Januari lalu AAC (Ayat-ayat Cinta) kembali santer lagi ditelinga saya, tapi kali ini bukan novelnya yang dibicarakan akan tetapi film layar lebarnya. Adalah Hanung Bramantyo, Salman Aristo dan MD Picture kroyokan bikin “Ayat-Ayat Cinta the Movie”, wal hasil bukan dari kalangan akhwat saja yang kali ini histeris tapi para penggemar film romantis dari indonesia sampai malaysia berdecak histeria. Konon film ini launching tanggal 19 Desember 2007 tapi diundur karena ada beberapa kendala.

Lewat gegap gempita dibalik boomingnya novel dan film Ayat-ayat Cinta, tulisan ini cuma catatan kecil saya terhadap fenomena tersebut.

Fenomena Ayat-ayat Cinta

Novel Ayat-ayat Cinta merupakan pelopor karya sastra islam yang diterbitkan pertama kali pada 2004 melalui penerbit Basmala dan Republika. Novel yang menjadi cerita bersambung di Republika itu berisikan 418 halaman dan sukses menjadi salah satu novel fiksi best seller di Indonesia.

Ide yang ditawarkan Habiburrahman El-Shirazy, Sang Penulis AAC, memang mudah dicerna dengan bahasa universal, yakni cinta. Namun, romantisme yang ditawarkan memang berbeda dari karya sastra lainnya yang kebanyakan bertemakan cinta syahwat nan seronok. Kang Abik menawarkan romantisme dalam Islam, cinta kepada sesama yang tak lebih tinggi dari cinta manusia kepada Sang Pemilik Cinta, Allah ‘Azza wa Jalla.

Sedemikian indah dan menarik novel ini diceritakan hingga mengalami cetak ulang beberapa kali sejak digulirkan ke pasar. Efeknya luar biasa, bahkan sebuah suratkabar nasional menyebutkan bahwa AAC merupakan sebuah keajaiban yang ditorehkan oleh seorang penulis Indonesia.

Keajaiban? Benar, kata inilah yang mampu mewakili sebuah karya apik anak negeri. Sekitar tiga tahun peredaran AAC, tak kurang sekitar 400 ribu eksemplar telah laris dijual. Dengan angka ini, Kang Abik berhak mendapatkan royalti sekitar Rp.1,8 Miliar dan tercatat sebagai penulis yang mendapat royalti terbesar sepanjang sejarah kepenulisan Indonesia.

Itu baru materil, belum lagi beberapa penghargaan yang berhasil ditoreh, seperti Pena Award untuk kategori Novel Terpuji Nasional pada tahun 2005. Pada tahun yang sama pula, novel tersebut juga meraih The Most Favourite Books and Writer 2005 mengalahkan serial Harry Potter versi Majalah Muslimah. Kemudian, terpilih sebagai Novel Dewasa Terbaik dalam Islamic Book Fair 2006. Yang teranyar, Kang Abik dianugerahi sebagai Novelis No. 1 Tahun 2007 dari Insani Universitas Diponegoro (Undip) Semarang dan dinobatkan sebagai salah satu Tokoh Perubahan oleh Republika pada 4 Januari 2008.

Dari Novel ke Layar Lebar

Film Ayat-ayat Cinta, bakal disajikan oleh seorang sutradara yang baru menggarap tema-tema Islam, Hanung Bramantyo. Para pemainnya didatangkan dari pusat-pusat infotainment seperti Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Sazkia Mecca, Melanie Putri, Carrisa Putri, Surya Saputra, Oka Antara dan seterusnya. Produsernya datang dari salah satu raksasa dunia hiburan dan sinetron, Manooj Punjabi dengan perusahaannya MD Pictures.

Dengan penduduk Indonesia yang mayoritas Muslim (sekitar 80%), MD Pictures setidaknya menargetkan 1% (sekitar 2 juta orang) saja Muslim yang menonton film ini. Dengan hitungan 20 juta dikali sepuluh ribu maka setidaknya diperoleh pendapatan kotor sekitar Rp. 20 Milyar yang akan dikurangi biaya produksi setidaknya Rp. 10 Milyar. Hasilnya keuntungan bersih sebesar Rp. 10 milyar!

Menurut hemat saya, keputusan Kang Abik untuk menerima tawaran AAC difilmkan bukan hanya pertimbangan materi semata. Ada pertimbangan kemaslahatan dan dakwah, meski banyak kalangan dan para ’penggila’ AAC yang menolak novel itu difilmkan. Mereka khawatir nilai-nilai Islam akan luntur dengan selera pasar para kapitalis untuk mereguk keuntungan.

Seperti pernah diberitakan di media, keuntungan royalti selama ini yang ia peroleh digunakannya untuk membangun sebuah pesantren karya dan wirausaha Basmala yang berlokasi di Semarang. Jadi, bisa kita katakan bahwa keuntungan dari film AAC juga akan digunakannya untuk mengembangkan dakwah. Menurut saya, ini merupakan sebuah langkah jitu untuk merambah dakwah di dunia pertelevisian Indonesia, mengingat masih sedikit film yang bertemakan dakwah.

Buktinya, dari informasi yang beredar banyak aktor dan aktris yang ’terwarnai’ dengan film ini menjadi lebih baik dan sadar akan nilai-nilai Islam sebagaimana pesan moral AAC, termasuk sang sutradara Hanung Bramantyo seperti dikisahkan di blognya. Itu artinya, dakwah Kang Abik melalui karyanya dengan sadar atau tidak telah melintasi relung hati para kru dan pemain, itu minimal, belum lagi para pemirsa AAC nantinya.

Antara Pro dan Kontra

Sebuah hasil pemikiran akan selalu memiliki pihak-pihak yang pro dan kontra. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan dalam pola pikir, sudut pandang, alat analisa, wawasan, ilmu, dan perbedaan pada beragam hal lainnya. Tidak terkecuali hasil pemikiran yang berbentuk karya seni. Termasuk kasus film Ayat-ayat Cinta.

Novel dan film Ayat-ayat Cinta sebagai hasil pemikiran penulisnya pun telah banyak menuai kritik dari para pihak yang kontra sekaligus mendapatkan beragam pujian dari pihak yang pro.

Berbagai hingar bingar komentar dan blog-blog di website membicarakan tentang sikap pro dan kontra pemutaran film AAC

Kritik utama dan paling sering diungkap ke hadapan umum adalah keluarbiasaan Fahri sebagai tokoh utamanya. Menurut para pengkritik, sosok Fahri terlalu sempurna untuk ukuran seorang manusia. Oleh penulisnya, Fahri digambarkan sebagai manusia yang taat beragama, cerdas, ulet, sensitif terhadap masalah sosial, pemberani, tegas, baik hati, setia, dan paham ilmu agama. Fahri menjadi seorang mahasiswa yang selalu mendapatkan gelar “luar biasa” selama dia kuliah. Penggambaran tersebut, dianggap oleh para pengritik sebagai sebuah ketidakmungkinan, atau bisa disebut sebagai khayalan tingkat tinggi.

Bagi masyarakat Indonesia, terutama para pengkritik, mungkin sosok seperti Fahri masih berupa angan-angan saja, karena mereka belum pernah melihat manusia yang memiliki gambaran seperti Fahri. Bagaimana dengan pendapat penulisnya?

“…bagiku, tokoh Fahri itu justru masih kurang sempurna. Harus aku sempurnakan lagi. Dia harus lebih berjiwa malaikat ketimbang yang sudah ada. Kupikir, orang-orang kita bangsa Indonesia ini menilai Fahri terlalu sempurna, karena selama ini mereka tidak pernah disuguhi bacaan dan tontonan dengan kualitas perilaku seperti Fahri …”

itulah pendapat sang penulis terhadap tokoh gambarannya.

Sama halnya pada format buku, film Ayat-ayat Cinta pun mendapatkan pihak-pihak yang pro dan kontra. Kritik dan pujian pun bermunculan.
Kritik-kritik yang muncul lebih kepada ketidaksesuaian film dengan novel. Kritik juga tertuju pada kurang syar’i nya film Ayat-ayat Cinta. Film yang berasal dari novel ini dikritik sebagai film yang lebih mirip sinetron-sinetron religi yang sering ditayangkan di televisi.

Pihak pemberi pujian memiliki keanekaragaman jika dibandingkan dengan pihak pemberi kritik. Para pengkritik didominasi oleh para aktivis dakwah Islam. Mereka adalah orang-orang yang umumnya beraktivitas dan berjuang serta bertujuan untuk menegakkan syari’at Islam di kalangan masyarakat. Umumnya mereka pun termasuk orang-orang yang pernah membaca novel Ayat-ayat Cinta. Terlepas dari apakah mereka termasuk para pengkritik novel atau pemuji novel, yang jelas mereka menganggap bahwa film Ayat-ayat Cinta berbeda dengan novel Ayat-ayat Cinta. Menurut mereka film Ayat-ayat Cinta tidak layak untuk ditonton karena nilai dakwahnya tidak sebanding dengan novel Ayat-ayat Cinta, bahkan ada beberapa bagian yang justru dianggap meruntuhkan image aktivis dakwah Islam yang profan.

Harapan

Terlepas dari pro dan kontra dari penayangan film Ayat-ayat Cinta, satu nilai yang beda yang kita semua harapkan dari film ini. Satu nilai yang terdapat dalam novel karya Kang Abik. Nilai yang tak kan ternilai dengan dollar, emas, mutiara, bahkan berlian. Nilai yang mampu menyadarkan, merubah, dan membangun jiwa. Nilai agama. Nilai tentang aqidah. Nilai yang membuat hidup kita lebih islami, lebih beriman, dan menyelamatkan kita dari krisis multi dimensional yang dialami oleh negara yang memiliki penganut Islam terbesar di dunia ini.

Setidaknya, bagi perkembangan film Indonesia dan dakwah Islam yang damai, toleran dan moderat, film ini perlu diapresiasi dengan tulus.

17 Comments »

  1. taufik79 said

    hai sobat, ditunggu komentarnya ya

  2. asahbana said

    Wah betul Pak Guru taufik, anda bijaksana

  3. everythingisposible said

    Saya salah seorang penggemar karya-karya kang abik
    karya yang luar biasa dan sarat dengan nilai dakwah
    percaya atau tidak,,,
    novel ini memberikan masa depan yang nyata bagi
    seorang hamba Allah yang taat…
    untuk remaja seperti saya…
    novel ini bisa menangkal kenakalan remaja
    yang sering dikaitkan oleh kata cinta ato istilah lainnya “pacaran”
    ….
    maju terus karya anak negri…!!!

  4. indra kh said

    Sayang banyak pesan-pesan dari novel tidak tersampaikan dalam filmnya.

  5. taufik said

    syukran buat sampeyan yang dah comment…
    harap maklum buat yg liat blog saya, msh blank, hanya penuh dgn tulisan2, baru belajar nih mas… klo bersedia, kasih tutorial gmana cara motong tulisan, trus asesoris blog lainnya….
    sampeyan2 yg lain jg ditunggu comment dan saran konstruktifnya…
    oke

  6. german said

    hal yg terbaik buat manusia adalah mengambil hikmah dari sebuah pelajaran hidup, AAC adalah sebuah kolosal unik yg ditorehkan makhluk yg bernama manusia, yg intinya bisa benar dan salah –terkecuali Tuhan dan Baginda Nabi–, yg coba saya isi adalah, ambilah yg baik dan buang yg tidak baik…

  7. Abik said

    Ana pribadi berharap film ini tdak hanya jadi tontonan yang brakhir hanya dgn respon baik dari penontonnya, lbh dri itu smga novel ato film itu mnjdikn para pnggumx snntiasa brusha 4 mmprbaiki dri dgn cra mmpljri agma ini…

  8. gunawan said

    salam kenal juga mas..
    terima kasih atas kunjungannya di blog saya

  9. anginbiru said

    hah,, baru tau,, novelnya udah ada sejak 2004 toh..? aku malah baru ngeh 2007 kemaren.. wkeke.. itupun awalnya ogah2an baca.. tapi akhirnya tertarik coz liat video klip nya rossa.. eh,, habis itu langsung ngebet nunggu filmnya..!! huehe..

  10. sarageni said

    alhamdulillah ulun balum ada kesempatan menonton film-nya. Dari segi isi cerita[dari membaca bukunya] sepertinya lebih menarik cerita “Dibawah lindungan ka’bah” oleh Buya HAMKA, ini pendapat ulun pribadi haja, kada tahu pang pendapat hampian berataan.

  11. diarypuan said

    terus terang nonton pilem ‘mellow’ ginian sangat sangat terpaksa. “Lu harus nonton, Puan ! Penelaahan fakta ! Gue mau tau gimana pendapat lu mengenai A2C”. Masya Allah. Ok, aku pun angkat tangan, pas dapet hibah versi rough A2C… sumpah ! KADA RAMI ! Bukan masalah nggak rame karena gak sama dengan novelnya. Itu mah semua orang tau, filmnya karya Hanung, novelnya karya kang Abik. Jadi, filmnya si Hanung ga rame dong ?! Bener banget. Mending nonton film Children of Heaven deh ! Gak ramenya ? Karena Hanung ngaku itu adalah film Islami, trus trang A2C gak Islami banget nget nget nget !!!!

  12. saya juga penggemar AAC, cuma kalo liat filmnya seperti ada yang hilang begitu. jiwanya ga ada. aneh juga saya rasa tapi tetap kita hargai karya anak bangsa.

  13. dulu ada ayat-ayat setan.
    bisa jadi judul ayat-ayat cinta terinspirasi oleh judul diatas. maklum para penulislah mas !

    seandainya saya jadi pemeran utama dalam ayat-ayat cinta :mrgreen:

  14. gunawan anto said

    saya juga penggemar AAC, menurut saya novel aac sangat bagus karena menunjukan keindahan budaya timur sehingga kita tidak perlu hanya terpengaruh budaya barat

  15. aryu said

    Saya penggemar AAC untuk novelnya sedangkan untuk filmnya saya tidak terlalu suka karena jauh dari cerita aslinya. Ga sesuai ma imajinasi saya.. heheheh..

  16. Alvin said

    Bwt sy AAC adalah cerita Islami, namun sayang sungguh sayang, diperankan atau dimainkan secara tidak Islami. Mungkin mksd penulis AAC bermaksud baik, tp disadari atau tidak pihak2 yg berkepentingan memanfaatkan novel ini cz bs bernilai uang yang sangat banyak

  17. joko said

    Selamat Datang di Website OM AGUS
    Izinkan kami membantu anda
    semua dengan Angka ritual Kami..
    Kami dengan bantuan Supranatural
    Bisa menghasilkan Angka Ritual Yang Sangat
    Mengagumkan…Bisa Menerawang
    Angka Yang Bakal Keluar Untuk Toto Singapore
    Maupun Hongkong…Kami bekerja tiada henti
    Untuk Bisa menembus Angka yang bakal Keluar..
    dengan Jaminan 100% gol / Tembus…!!!!,hb=085-399-278-797
    Tapi Ingat Kami Hanya Memberikan Angka Ritual
    Kami Hanya Kepada Anda Yang Benar-benar
    dengan sangat Membutuhkan
    Angka Ritual Kami .. Kunci Kami Anda Harus
    OPTIMIS Angka Bakal Tembus…Hanya
    dengan Sebuah Optimis Anda bisa Menang…!!!
    Apakah anda Termasuk dalam Kategori Ini
    1. Di Lilit Hutang
    2. Selalu kalah Dalam Bermain Togel
    3. Barang berharga Anda udah Habis Buat Judi Togel
    4. Anda Udah ke mana-mana tapi tidak menghasilkan Solusi yang

    Jangan Anda Putus Asa…Anda udah
    berada Di blog yang sangat Tepat..
    Kami akan membantu anda semua dengan
    Angka Ritual Kami..Anda
    Cukup Mengganti Biaya Ritual Angka Nya
    Saja… Jika anda Membutuhkan Angka Ghoib
    Hasil Ritual Dari=OM AGUS, 2D,3D,4d

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: