Mengaji; Ikhtiar Meneguhkan Kearifan Lokal Banjar

Mengaji

Beberapa waktu terakhir, kita menyaksikan semangat umat Islam di Tanah Banjar yang luar biasa dalam membangun tempat peribadahan. Masjid dan langgar hadir di mana-mana. Tidak sulit bagi seorang musafir setiap kali ingin melaksanakan shalat fardhu ketika tiba waktunya.

Konsekuensi logis secara kasat mata, banua kita Kalimantan Selatan disebut sebagai bumi seribu masjid. Hingga tahun 2009 lalu, jumlah tempat ibadah umat muslim di daerah ini mencapai 2.368 buah. Itu data yang terdaftar di Kementrian Agama Kalsel. Sedangkan tempat ibadah seperti langgar dan mushala, jumlahnya sudah tak terhitung lagi, berlipat-lipat kali dari jumlah masjid.

Tetapi, pertanyaan mendasar yang kemudian menyeruak di hadapan saya, dan mungkin Sampeyan semua adalah: seberapa jauh, masjid (dan langgar) itu berfungsi secara maksimal bagi masyarakat sekitarnya? Pertanyaan ini menjadi penting dikemukakan, karena ada gejala penyempitan dan pendangkalan makna dan fungsi masjid yang genuine bagi kehidupan masyarakat banua.

Nestapa Tradisionalisme

Dahulu, zaman saya masih remaja, banyak anak-anak kecil berduyun-duyun datang untuk belajar membaca Al-Qur’an (mengaji) di masjid pada sore hari, sehabis Magrib atau sesudah Isya. Sembari diantar orang tua, anak-anak itu mendekap al-Quran di dadanya berjalan beriringan menuju masjid. Shalawat dan do’a pengantar sebelum aktivitas mengaji terdengar menggema. Para ustadz pun telah siap mengajar. Proses mengaji pada waktu itu tak sekedar transfer pengetahuan (knowledge), tapi nilai (ethics), sikap (attiitude) begitu kental dan mewarnai. Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan implementasi dari sabda Nabi SAW, ”sebaik-baik di antara kamu adalah orang yang belajar Al-Quran dan yang mengajarkannya”.

Tapi kini, hal itu tinggal cerita masa lalu. Kisah klasik yang hanya indah untuk dikenang. Sulit untuk dihadirkan kembali dalam potret kekinian. Anak-anak zaman sekarang lebih asyik nongkrong di pinggir jalan sambil membawa gitar. Atau duduk nyaman di depan televisi sambil memainkan joystick playstation.

Paradigma orang tua pun turut terbawa arus sekuler. Orang tua memandang mengaji di masjid, terlebih pada waktu maghrib sebagai hal remeh-temeh. Karena banyak alat teknologi yang menggantikan peran ustadz. Cukup dengan remote control, maka orang tua bebas memainkan pitch control memilih nama surah dan qari yang diinginkan. Kalau sudah demikian adanya. Maka tak ayal, mengaji di masjid sebagai bagian dari tradisi dan warisan budaya luhur kian termarginalkan.

Saya menengarai fenomena sosial ini sebagai nestapa tradisionalisme. Pun saat ini banyak masjid berdiri dengan megah dan indah, namun di balik kemegahan itu, tak sebanding dengan ramainya jamaah dan minimnya aktivitas. Demikian juga ada banyak masjid di perkotaan terlihat begitu megah tapi –ironis- tidak bertuan.

Kita boleh saja bangga banyaknya jumlah masjid dan kemewahannya. Tapi, lebih penting dari itu, jumlah dan kualitas jamaah masjid tetap harus diperhatikan. Apalah artinya masjid mewah jika jumlah jamaahnya bisa dihitung dengan jari dan kualitas sistem sosial di sekitarnya jauh dari nilai-nilai substansi Islam.

Masjid, secara umum, seringkali diidentikkan dengan tempat shalat saja. Di luar itu, seolah-olah masjid tidak memiliki fungsi lain. Fungsi masjid jauh dari kegiatan-kegiatan pendidikan, sosial, ekonomi, politik atau budaya. Akibatnya mudah ditebak: peningkatan jumlah masjid tidak berbanding lurus dengan penurunan angka keterbelakangan, kemiskinan ataupun tensi konflik sosial yang dihadapi masyarakat di sekitarnya.

Mengaji; Wujud Kearifan Lokal

Kehadiran masjid mestinya dapat memberikan inspirasi yang tidak sederhana. Peran-peran strategis ini sangat memungkinkan untuk direalisasikan dalam kehidupan masa kini. Karena, masjid tidak pernah mengenal kelas-kelas sosial dan primordialisme kehidupan. Hal tersebut tentunya bercermin dari apa yang telah diperjuangkan Rasulullah di masa lalu.

Dalam situasi apa pun, masjid dapat dijadikan sebagai pusat kegiatan masyarakat untuk mewujudkan tatanan sosial yang lebih baik. Ahmad Yani (1999) menuturkan masjid selain difungsikan sebagai tempat pelaksanaan ibadah, pusat ilmu pengetahuan, pusat informasi, masjid juga digunakan sebagai pusat kebudayaan.

Mengaji di masjid pada waktu maghrib adalah langkah stategis dan efektif untuk membendung budaya kosmopolit yang cenderung permisif. Mengaji di masjid adalah langkah strategis menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal yang selama ini dilupakan.

Secara definitif, kearifan lokal merupakan pengetahuan yang eksplisit yang muncul dari periode panjang yang berevolusi bersama-sama masyarakat dan lingkungannya dalam sistem lokal yang sudah dialami bersama-sama (Tiezzi, et al, 1992). Proses evolusi yang begitu panjang dan melekat dalam masyarakat dapat menjadikan kearifan lokal sebagai sumber energi potensial dari sistem pengetahuan kolektif masyarakat untuk hidup bersama dan dinamis.

Gemar mengaji juga sebentuk upaya mengembalikan identitas folklore masyarakat muslim yang kian pudar dan luntur di gerus zaman. Mengaji, tak sebatas proses pembelajaran huruf hijaiyah ansich. Lebih dari itu, aktivitas mengaji adalah upaya hibridasi untuk mencintai dan melestarikan tradisi dan kultur dalam konteks keislaman dan keindonesiaan.

Ala kulli hal, Gerakan gemar mengaji, tentu tak dibatasi mesti di masjid. Tapi kalau itu dilakukan tentu ideal. Bukankah mengajarkan anak untuk datang dan mengenal masjid sejak dini adalah bagian dari pendidikan Islam. Pendidikan yang tak hanya berorientasi pada transfer ilmu pengetahuan, tapi juga membangun karakter, nilai, sikap untuk mampu menghargai dan meresapi kearifan lokal Tanah Banjar.

Wallahu’alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: