Kado Untuk Gubernur Baru-ku

Bumi Lambung Mangkurat telah memilih pemimpinnya yang baru. Pasangan H. Rudy Arifin dan H. Rudy Resnawan telah dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Selatan periode 2010-2015. Pada hari Minggu (8/08/2010), Gedung Mahligai Pancasila menjadi saksi untuk kedua kalinya ‘menyaksikan’ Rudy Ariffin dilantik sebagai gubernur Kalsel.

Sejumlah menteri dan tamu VIP lain hadir, satu di antaranya Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie. Juga ada Ketua KPU Abdul Hafidz Ansyary, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto, dan Staf Khusus Presiden/ Sekretaris Satgas Mafia Hukum Denny Indrayana yang merupakan putra kelahiran banua.

Pesta telah usai. Sebuah perhelatan dengan menghabiskan dana ratusan juta rupiah dari pasangan calon yang ikut dalam suksesi dan dana negara. Rakyat diberi suguhan sebentuk pesta. Namanya, pesta demokrasi. Beberapa minggu terakhir saja, kita tak lagi melihat baliho-baliho kampanye di setiap sudut kota.

Pasangan Dua Rudy (Rudy Arifin dan Rudy Resnawan) terpilih sekali putaran saja. Inilah pilihan rakyat. Hasil pesta demokrasi yang harus dihormati, walau dengan tingkat partisipasi yang masih dipertanyakan.

Pasca Pelantikan

Lumrah. Euforia kemenangan masih terasa hingga detik-detik pelantikan. Namun, sudah selayaknya rakyat yang telah maupun tidak memilih pasangan Dua Rudy menagih janji-janji kampanye kemarin. Mulai dari pembangunan dan perbaikan fisik, pengentasan kemiskinan hingga peningkatan mutu pendidikan. Menjadikan Kalsel berkembang, sehingga lebih  maju, unggul, sejahtera dan damai, dengan melanjutkan pembangunan yang ada, agar masyarakat lebih sejahtera lagi diharapkan bukan sekedar visi-misi dalam kampanye semata, melainkan dapat terwujud di kepemimpinan 5 tahun ke depan.

Dalam memenuhi visi-misi tentu seorang gubernur tidak bisa bekerja sendiri. Ada wakil gubernur dan dibantu oleh birokrat-birokrat mumpuni di lingkup Pemerintahan Provinsi. Tidak seperti presiden yang menteri-menterinya bisa diambil dari politisi, pengusaha maupun pejabat karir. Mereka yang membantu gubernur nanti bukan orang dari partai politik, melainkan pejabat karir di dunia pamong.

Kemampuan manajerial seorang gubernur akan disorot dalam penempatan birokrat-birokrat di pemerintahan. Kemampuan manajerial dalam hal ini, penempatan pembantu-pembantu gubernur bukan berdasarkan kedekatan atau balas budi, melainkan the right man on the right place. Sekaligus melihat proporsionalitas maupun profesionalitas orang-orang yang dipercayai nanti.

Tak Sekedar 100 Hari

Ada pro-kontra di kalangan civil society. Perlukah program 100 hari ? Bukankah sistem pemerintahan demokrasi berlangsung 5 tahun ? Apa yang bisa dicapai pemerintah dalam waktu 3 bulan ? Yah, bagi yang mengambil posisi menentang keberadaan program 100 hari akan mempertanyakan efektivitas dan tingkat keberhasilan program 100 hari. Namun program yang dipopulerkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sejak 2004 lalu seharusnya tak sekedar program 100 hari.

Program tersebut dimaksudkan bukan untuk melaksanakan sebuah program yang muluk-muluk, bukan pula program yang minimalis karena harus selesai dalam jangka 100 hari, melainkan program yang akan menjadi fondasi pelaksanaan program-program ambisius 5 tahun ke depan. Waktu 100 hari juga bisa dipergunakan untuk melihat integritas dan etos kerja para pembantu gubernur, bukan hal yang haram bila dalam perjalanan 100 hari akan ada birokrat di Pemprop Kalsel yang dicopot dari jabatannya akibat etos kerja yang rendah.

Selama 100 hari, gubernur yang baru harus mampu meyakinkan kembali rakyat, bahwa Dia lah “the real governor”, gubernur sejati yang diharapkan selama ini. Gubernur yang akan menjalankan amanah rakyat selama 5 tahun kedepan. Agenda-agenda seperti Reformasi Birokrasi, Pelayanan Publik, dan Pemberantasan Korupsi sudah barang tentu akan diapresiasi dengan baik oleh masyarakat.

Seperti contoh, mereformasi birokrasi tidak bisa hanya lips service saja, hanya di bibir tanpa tindakan nyata. Dibutuhkan perubahan mindset (pola pikir, pola sikap, dan pola tindak) dan cultur reset (mengubah budaya yang buruk) serta pengembangan etos kerja. Reformasi Birokrasi bisa diarahkan pada upaya-upaya mempercepat pemberantasan korupsi, secara berkelanjutan, dalam menciptakan tata pemerintahan yang baik, bersih, berwibawa, dan bebas KKN.

Sedangkan peningkatan kualitas pelayanan publik dituntut mengarah pada pelayanan publik yang prima. Ditandai tiga hal : apa syaratnya, berapa biayanya, dan kapan selesainya pelayanan ? Diharapkan pelayanan kepada masyarakat bisa mempermudah persyaratan dan memangkas biaya serta waktu. Begitu pula pemberantasan korupsi, dimulai dari diri sendiri dan hindari perbuatan tindak pidana korupsi. Apalagi korupsi terjadi karena ada niat dan kesempatan, karena itu hilangkan niat dan kesempatan melakukan tindak pidana korupsi.

Bukan Gubernur Biasa ?

Akhirnya, untuk menjadi gubernur tidak cukup hanya menjadi gubernur yang biasa-biasa saja, apalagi niatnya masih setengah-setengah dalam membangun daerah. Rakyat kini butuh lebih dari sekedar gubernur. Gubernur tetap manusia biasa, Walaupun demikian juga tidak salah bila rakyat dalam hal ini masyarakat di Tanah Banjar menaruh harapan besar pada gubernur baru mereka.

Adalah gubernur yang bukan hanya melaksanakan rutinitas seorang kepala pemerintahan, seperti memimpin rapat, membuka acara seremonial, menjadi pembina upacara, kunjungan kerja atau sekedar membubuhkan tandatangan. Tetapi juga memiliki sensitifitas-sensitifitas, yaitu sense of crisis, sense of belonging, dan sense of humor.

Sense of crisis, mau tidak mau, sensitifitas dalam keadaan krisis harus dimiliki oleh seorang gubernur. Terlebih sikap mau mendengar keluhan rakyat yang kian hari kian terhimpit oleh tuntutan untuk tetap hidup. Krisis BBM, krisis listrik, krisis sembako, bahkan krisis keuangan yang melanda negeri pun turut membebani masyarakat bahkan mengurangi kualitas hidup mereka.

Sense of belonging, bukan dalam arti negatif, dimana karena merasa menjadi pemegang anggaran tertinggi di provinsi seolah-olah uang negara menjadi uang kita, dan bebas menggunakannya seenak perut sendiri. Melainkan rasa memiliki kekayaan daerah harus digunakan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan rakyat. Uang dari rakyat harus dikembalikan kepada rakyat lagi.

Sense of humor, tertawalah ! Semoga dengan memiliki rasa humoris (baca: tertawa) dapat meringankan beban gubernur dalam bekerja, hidup sehat dan tidak mudah tersinggung. Apalagi menurut penelitian dari negeri seberang, bahwa tertawa sebanyak 1 menit sama dengan 45  menit berolahraga yang berkeringat. Usai tertawa tekanan darah akan normal kembali, hormon stress berkurang dan kekebalan tubuh meningkat.

Teringat dengan sebuah pepatah jawa; Ing Ngarso Sing Tulodo, seorang pemimpin harus selalu berada di depan untuk memberi contoh. Ing Madyo Bangun Karso, pemimpin itu harus tetap berada ditengah-tengah rakyat,agar dapat merasakan apa yang dirasakan rakyatnya. Tut Wuri Handayani, pemimpin yang berada di belakang harus mampu memotivasi orang-orang untuk terus maju dan berkarya.

Apa yang akan dilakukan pemimpin Kalsel yang baru ? Semoga seperti yang diharapkan masyarakat yang telah bersusah-susah mendukung saat dulu berkampanye, yaitu pemimpin yang faham betul kondisi banua ini, apa yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan oleh rakyatnya. Bukan pemimpin untuk “hanya” memahami orang-orang dekat atau keluarga. Juga pemimpin yang mengutamakan moralitas dan hati nurani ketimbang meng-iya-kan kepentingan dunia (politik dan golongan).

Pemimpin yang berhasil dan diakui, dikenang sepanjang hayatnya, adalah pemimpin yang bekerja keras dan cerdas. Di hati masyarakat punya monumen kepemimpinan yang selalu diingat. Hati rakyat sudah terbiasa luka, berdarah, kecewa, tapi mereka tak kan pernah bisa didustai dua kali. Kita tunggu kiprah pemimpin baru.

Kiprah gubernur baru merupakan harapan besar, apalagi mengingat jargon, Perubahan Untuk Kalsel Lebih Baik. Semoga janji itu ditepati dan nyata. Tidak semu dan bisu. Kita tunggu!

Akhir kata, selamat dan sukses kepada Bapak Gubernur – Wakil Gubernur yang baru, Rudy Arifin dan Rudy Resnawan. Rakyat sekarang menanti terobosan-terobosan baru dalam pembangunan di Bumi Lambung Mangkurat.

Wallahu a’lam bishshawab.

1 Comment »

  1. Yanto said

    Mohon maaf tapi tulisan Anda ini mirip sekali dengan yang ditulis oleh JB Martien di infojambi.com. pada tanggal 1 Agustus 2010. Apakah kalian memiliki telepati?

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: