Membangun Banjar dengan Buku (Sahibar Burinik Anak Banua)

Ada yang menarik dari puncak hajatan Milad Kesultanan Banjar yang digelar 10 Desember 2011 lalu. Lima buku diluncurkan, yang menandai mulai menggeliatnya kerja dan gerakan kebudayaan yang dilakukan Kesultanan Banjar di bawah pimpinan Pangeran H. Khairul Saleh.

Lima buku itu, Berkhidmat untuk Tahta Budaya yang disusun oleh Bambang Edi, Raja Diraja Kerajaan Banjar oleh HM Said, komik Perang Banjar Pimpinan Pangeran Antasari karya Syamsiar Seman, Refleksi Budaya Banjar oleh Ahmad Barjie B., ditambah dengan Jalan Sunyi Kebudayaan karya Randu Alamsyah. Semuanya diterbitkan oleh penerbit dari Tanah Banjar.

Di tengah kegalauan kita sebagai orang Banjar yang dilihat dari sisi literasi masih sangat mengkhawatirkan, momentum peluncuran buku ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Ia seolah menjadi penyemangat bagi kita dan generasi selanjutnya, bahwa Banjar bisa bersejajar dengan propinsi lain yang lebih dulu berbudaya literer.

Agak malu hati juga sebenarnya kalau membicarakan dunia perbukuan di Tanah Banjar. Apalagi hendak membandingkan dengan Yogyakarta, Bandung, atau Jakarta.

Berdasarkan data dokumentasi ala kadarnya, deretan nama penulis Tanah Banjar yang produktif melahirkan buku bisa dihitung dengan jari. Dalam bidang kajian Islam dapat disebutkan nama-nama seperti (alm) KH. Asywadie Syukur, KH. Husein Nafarin, Prof. Alfani Daud, Prof. Dr. Zurkani Yahya, Ahmadi Hasan, M.Hum (sekali lagi, untuk menyebut sekedar nama) dan sederet nama besar lainnya sudah unjuk menulis dan menerbitkan buku ke level nasional

Di kalangan budayawan, Drs. H.M. Syamsiar Seman, seorang budayawan Banjar yang sangat produktif dengan menerbitkan buku-bukunya secara mandiri. Tajuddin Noor Ganie, S.Pd., M.Pd., sastrawan dan budayawan Banjar yang mulai merintis kariernya sebagai sastrawan sejak tahun 1980-an. Sejak itu ia aktif mempublikasikan puisi, cerpen, esai sastra, dan tulisan lepas mengenai folklor Banjar di berbagai koran terbitan Banjarmasin, Surabaya, Yogyakarta, dan Jakarta.

Sosok akademisi H. Abdul Djebar Hapip, guru besar madya FKIP Unlam, juga banyak berkiprah dalam bidang pendidikan dan budaya Banjar. Beliaulah orang pertama yang melakukan penelitian “Bahasa Banjar” dan merupakan salah satu pakar pada bidang Bahasa Banjar, hingga kini. Tahun 1977 terbit Kamus Banjar – Indonesia yang kini telah sampai pada cetakan ke-4.

Lalu ada Mukhtar Sarman, kepala Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Daerah (PK2PD) Unlam Banjarmasin. Mengisi kolom tetap “Wacana” pada harian Radar Banjarmasin. Selanjutnya, figur Taufik Arbain, aktivis LSM Center for Regional Development Studies (CRDS) Kalsel, Sainul Hermawan, staf pengajar bahasa dan sastra Indonesia di FKIP Unlam yang sudah menerbitkan buku. Pun tak ketinggalan, Drs. Wajidi, staf Balitbangda Prop. Kalsel, dr. Pribakti Budinurdjaja, seorang dokter RSUD Ulin sekaligus pengajar Fak. Kedokteran Unlam, dan Mujiburrahman, dosen IAIN Antasari Banjarmasin, yang juga telah melahirkan beberapa karya berupa buku.

Nama Ersis Warmansyah Abbas (EWA) juga produktif menghasilkan buku-buku sastra dan motivasi menulis. Secara tidak langsung, EWA mencoba memperkenalkan (kebudayaan) Tanah Banjar ke berbagai kalangan dan menyumbang pemikiran yang tidak sedikit bagi pembangunan literasi di Tanah Banjar melalui karyanya (baca: buku).

Selebihnya, ada juga Jamal T. Suryanata, Arsyad Indradi,  Ali Syamsudin Arsi, Aliman Syahrani, Harie Insani Putra, Hajriansyah, Sandi Firly, Aliansyah Jumbawuya, Syamsuwal Qomar, Rahayu Suciati, dan Randu Alamsyah dengan corak dan sumbangsih karyanya masing-masing.

Dari buku-buku yang disebut tadi, saya menemukan nama Pustaka Banua, Tahura Media, Grafika Wangi Kalimantan, Radar Banjarmasin Press, Rumah Pustaka Folklor Banjar, Balai Bahasa Banjarmasin, Dewan Kesenian Kota Banjarbaru, PK2PD Unlam Banjarmasin, LK3 Banjarmasin, Antasari Press dan beberapa LSM lain, sebagai penerbit buku di Tanah Banjar. Belakangan ada nama Minggu Raya Press Banjarbaru yang saat ini kerap menerbitkan buku-buku sastra dan budaya di Tanah Banjar.

Penerbit Toko Buku “Sahabat” Kandangan juga kerap menerbitkan buku-buku sejarah ulama dan aulia di Tanah Banjar, tercatat buku-buku antara lain: Manakib Syekh Samman, Manakib Datu Sanggul, Manakib Datu Nuraya, Manakib Datu Suban, Manakib Syekh Muhammad Nafis, 100 Tokoh Kalimantan dan Cerita Datu-datu Terkenal Kalimantan Selatan.

Data ini, boleh jadi, amat jauh dari akurat. Selain saya tidak memiliki buku-buku tersebut, saya juga tidak memiliki akses informasi yang memadai. Tapi, apa pun, tulisan ini sebenarnya hanya semacam ingatan dan/atau untuk mengingatkan saja. Tidak lebih tidak kurang.

Kembali kepada gagasan membangun Tanah Banjar dengan buku, agaknya pikiran ini jauh dari populer. Sepertinya, energi orang Banjar telah terkuras untuk hal-hal yang lebih konkrit dan lebih praktis. Pemilihan kepada daerah (pilkada), misalnya yang lebih jelas kontribusinya untuk kehidupan dan penghidupan bagian sebagian orang. Proyek-proyek fisik yang menelan jutaan bahkan miliaran rupiah tentu lebih nyata juntrungannya. Jangan kata ada momentum pilkada dan pemilu, dalam kondisi normal sekalipun, sedikit sekali yang konsen dengan kerja-kerja budaya dan intelektual.

Namun sekecil apa pun, saya masih berharap ada pihak-pihak yang sedikit peduli dengan kerja-kerja budaya dan intelektual semacam menerbitkan buku.

Pertanyaannya, mengapa harus buku? Soalnya, intelektualitas–tanpa harus mengutip sesiapa pun–sangat lekat dengan pemikiran dalam bidang apa pun (sosial, budaya, ekonomi, politik, sastra dan sebagainya). Pemikiran yang komprehensif, sistematis, dan tentu saja gampang dikutip adalah pemikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Tulisan pendek (sebuah artikel, sebuah puisi, sebuah cerpen), hanyalah sepercik pemikiran dari sebuah gagasan yang luas dari si penulis. Maka, agar pemikiran seorang menjadi utuh, setidaknya berupaya mencapai utuh, dia harus dibukukan.

Membangun Tanah Banjar dengan buku, dengan demikian, sebuah upaya membangun Tanah Banjar dengan pemikiran yang lebih komprehensif, sistematis, dan utuh; yang dilakukan seorang penulis, sastrawan, budayawan, pemikir, intelektual atau cendekiawan. Semua profesi ini dalam tataran yang setara: menulis dan menerbitkan buku.

Bagi kebanyakan orang (biasanya disebut awam) mungkin sama sekali tidak terpikirkan untuk membangun Tanah Banjar dengan buku. Intelektualitas dan buku memang sebuah upaya untuk tidak menjadi awam, menjadi orang kebanyakan. Upaya menulis buku secara kasat mata memang tidak menguntungkan, tetapi Tanah Banjar akan mendapatkan manfaat yang lebih besar dari gagasan-gagasan yang dielaborasi dalam buku. Dalam bahasa yang sekarang populer: menjadi inspirasi (inspiring) bagi pembangunan Tanah Banjar.

Dengan kata lain, tidak ada pilihan lain. Tanah Banjar harus menerbitkan buku, minimal lima puluh buku satu tahun. Tidak boleh putus. Ini serius.

Apresiasi Kesultanan Banjar terhadap budaya literasi bisa dianggap sebagai kabar gembira untuk cendekiawan dan sastrawan Tanah Banjar, sekaligus tantangan yang tidak mudah. Soalnya menerbitkan buku di Tanah Banjar jelas tak untung. Karena itu, pemerintah daerah, penerbit buku, perguruan tinggi, usahawan, sastrawan, dan masyarakat Tanah Banjar harus benar-benar mau menyisihkan waktu, tenaga, dan dana untuk membangun tradisi baru: menulis dan menerbitkan buku di Tanah Banjar!

Upaya membangun dunia perbukuan di Tanah Banjar dan sekaligus juga mendorong kemajuan Tanah Banjar melalui dunia pemikiran (buku) memang tidak mudah. Tapi, bukan hal yang utopis.

Mari memajukan Tanah Banjar dengan buku.

6 Comments »

  1. mas Taufik , dibanua kita kada kakurangan buku , sabujurannya kanapa urang kita kada banyak nang jadi penulis buku , urang kita disini banyak nang pangoler mambaca , kaya apa handak banyak menarbitkan buku , amun kada banyak mambaca , iya kalo. he he ulungin kaya itu jua, salaaaam.kita budayakan bambaca haja dahulu. okey.

  2. karni said

    Dengan menulis buku, bisa juga mengubah mindset orang agar dapat mengikuti apa yang diinginkan oleh penulis.

  3. karni said

    coba simak puisi berikut ini:

    LUDAH YANG KERING
    Lihatlah!
    Masih adakah hati yang berisi?
    Ketika logika sudah berbau terasi
    Ketika nurani kian tererosi…
    Di kilatan hujan pesona yang tidak kunjung basi
    Lihatlah!
    Dendang-an birokrat dan wakil berdasi..
    Penuh kegiatan sinetron mengejar kursi
    Ketika tikus sibuk pesta korupsi
    Kucing justru giat pamer gusi…
    Terbuai di empuknya jok mercy
    Lihatlah!
    Gempita riuhnya demokrasi
    Menumbuhkkan nurani yang semakin membesi
    Saat rakyat butuh nasi…
    Namun justru di kremasi
    Ah, sudahlah!
    Ini bukan demonstrasi..
    Ini juga bukan mosi…
    Ini hanyalah puisi…
    Dari yang hidup namun sesungguhnya mati!
    Kampus UI
    24 Agustus 2007
    Andrianof A Chaniago

  4. arsyad ruzhter said

    assalamualaikum………blog pian bagus banarlah,,,

    bagiakan pank informasinya di email ulun http://www.arsyadruzhteriaalbanjary@yahoo.co.id

    heheheee…..salam badangsanakan kita sebarataanlah….

  5. Supriadi bin Masrawansyah said

    Assalamualaikum….Salam kenal Pak Taufik. Saya sangat mendukung gagasan & gerakan yg sampeyan sampaikan. Untuk kemajuan Tanah Banjar apapun bentuknya harus dilakukan segera oleh kita yg peduli dgn masa depan Tanah Banjar Terima kasih (saya orang Banjar berdomisili di Malang Jawa Timur).

  6. Salam sejahtera untuk kalsel

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: