Guru, Jangan Kalah Sama Pocong!


Kebanyakan pengguna jejaring sosial Twitter pasti akrab dengan akun @poconggg yang saat ini memiliki 1,5 juta followers mengalahkan akun @presidenSBY yang punya pengikut hanya ribuan. Popularitas @poconggg pun semakin melangit setelah dirilis menjadi sebuah buku yang super laris: Poconggg juga Pocong.

Nama Arif Muhammad mendadak populer usai diketahui bahwa dirinyalah pemilik akun twitter tersebut. Pria kelahiran Batam, 26 Oktober 1990 itu pun tak mengira kicauannya di Twitter itu kini menjelma menjadi buku laris. Ketika diterbitkan pada bulan Juli 2011 oleh penerbit Bukune, Jakarta. Cetakan pertamanya langsung ludes dalam waktu 15 menit.

Melansirkan pemberitaan detikhot.com, pencapaian penjualan Pocongg Juga Pocong ini luar biasa, bahkan mengalahkan buku berjudul “Negeri Lima Menara” yang hanya dipesan 50 buku per hari. Pocong Juga Pocong, menjadi buku best seller di Toko Buku Gramedia hingga beberapa bulan, mengikuti jejak novel Kambing Jantan milik blogger Raditya Dika beberapa waktu sebelumnya.

Sejak dirilis, rata-rata pembeli buku ini mencapai 100 orang per hari. Bahkan untuk membeli buku bergenre komedi ini, para pembaca harus memesan terlebih dahulu. Kesuksesan Pocong tak hanya sampai di situ. Kini rumah produksi Maxima Pictures pun bahkan sudah “menyulap” buku itu menjadi sebuah film dengan judul sama.


Berguru pada “Pocong”

Di samping respons pasar yang besar terhadap buku Pocongg juga Pocong, militansi sang penulis untuk membuat buku dan kemauannya menulis –bahkan untuk menggoreskan sesuatu yang kelihatannya sepele dan nyleneh sekalipun- sangat luar biasa. Secara pribadi, saya salut pada anak-anak muda yang mau melatih otot-otot pantang menyerahnya dalam menulis. Poconggg salah satunya. Sang penulis membuktikan, tak ada orang yang tidak bisa menulis.

Kreativitas dan semangat menulis inilah yang hendaknya terus digelorakan oleh para guru. Kalau mengajar adalah tugas mulia, maka menulis juga tak kalah mulia. Menulis adalah menyebarkan ilmu. Lewat tulisan, guru mengajar orang yang membaca tulisannya dan “abadi” sepanjang masa, selama tulisan itu tak dimusnahkan. Ia pun tak hanya mengajar murid di kelasnya, tapi juga semua pembacanya. Tulisan, baik artikel maupun buku, adalah warisan guru yang paling berharga.

Namun, mengapa tidak banyak guru yang mau menulis? Banyak bukti untuk menerangkan tentang rendahnya budaya menulis di kalangan guru. Kita tidak perlu membuat indikator terlalu banyak. Cobalah amati buku-buku di perpustakaan atau di toko-toko buku. Hitunglah, berapa banyak buku yang ditulis oleh para guru. Kalau kita membaca surat kabar, berapa banyak artikel yang ditulis oleh para guru?

Benarkah guru tidak mampu menulis atau tidak terbiasa menulis? Jawabannya tentu bermacam ragam. Namun dalam realitasnya, memang sangat sedikit guru yang menekuni dunia tulis menulis. Jangan kan untuk menulis di media massa, jurnal atau yang lainnya, untuk membuat karya tulis yang diajukan dalam pengurusan kenaikan pangkat saja, (maaf, maaf) banyak yang belum bisa.

Padahal, kalau guru bisa menulis karya tulis sendiri, aktivitas ini adalah sebuah upaya pengembangan profesionalisme guru dalam mengekspresikan diri. Namun sekali lagi, budaya menulis di kalangan guru itu sangat rendah.

Idealnya, seorang guru harus mau dan pintar menulis. Mengapa demikian? Dilihat dari perspektif guru sebagai subjek, sebagai praktisi pendidikan para guru memiliki potensi menulis yang sangat besar. Ya, guru sebenarnya memiliki segudang bahan berupa pengalaman pribadi tentang sistem, metode dan model pembelajaran yang dijalankan. Guru bisa menulis tentang indahnya menjadi guru, atau bisa juga menuliskan suka duka menjalani profesi sebagai guru. Bisa pula memaparkan tentang realitas sosial yang ada dari kaca mata seorang guru, dan sebagainya.

Di pihak lain, sebagai objek, selama ini banyak orang menjadikan guru sebagai bahan perbincangan. Berbagai sorotan dan kritik dilemparkan orang dalam tulisan mengenai profesi guru yang semakin marginal ini. Berbagai keprihatinan terhadap profesi guru, menjadi sejuta bahan untuk ditulis. Sayangnya, tulisan-tulisan mengenai guru, kebanyakan tidak ditulis oleh para guru sendiri. Padahal, kalau semua itu ditulis oleh guru, maka penulisan itu akan menjadi sebuah proses pembelajaran bagi semua orang.
Betapa banyak hikmah dan keuntungan yang dapat dipetik guru, kalau mereka mau menulis.

Keuntungan-keuntungan itu antara lain; pertama, kegiatan menulis adalah aktivitas yang dapat memberikan motivasi tinggi kepada guru. Ketika sebuah tulisan (karya tulis) dipublikasikan di media, kita biasanya sangat senang (fun) serta terdorong untuk menulis lagi. Kita juga merasa bangga (pride) dengan pemuatan itu.

Kedua, kegiatan menulis bisa membuat guru menjadi manusia pembelajar (istilah yang dipakai Andreas Harefa). Kalau guru mau atau akan menulis, ia pasti harus melakukan aktivitas membaca. Membaca dalam arti riil seperti membaca berbagai referensi atau literatur dan juga membaca realitas sosial. Pada proses ini, sang guru yang suka menulis akan terbiasa dengan aktivitas belajar mengidentifikasi masalah, belajar menganalisisnya serta mengasah kemampuan mencari solusi. Pembelajaran yang demikian bisa membuat guru menjadi sosok pendidik yang kritis dan analitis.

Terus yang ketiga. Percaya atau tidak, menulis bisa memberikan keuntungan popularitas. Para penulis yang sering menulis di media massa, biasanya akan dikenal oleh banyak orang. Apalagi kalau ia mampu menyajikan hal-hal yang menarik atau solusi yang cerdas, pasti para pembaca akan selalu teringat dengan sang penulisnya. Guru juga akan bisa memiliki banyak penggemar di bidang ini. Sekali lagi, kalau guru mau menulis.

Keempat, tak dapat dipungkiri bahwa menulis sebenarnya bisa menambah “income”. Tidak percaya? Coba saja kirim tulisan atau karya tulis ke salah satu media. Bila tulisan dimuat, maka kocek akan bertambah. Bagi guru, menulis bisa mengatasi kesulitan ekonomi yang dihadapi. Andai guru mau aktif menulis di media atau menulis buku, performance guru pasti berubah. Hasil menulis di media, bisa lebih besar dibandingkan gaji guru yang diterima setiap bulannya. Tidak percaya? Silakan coba.

Kelima, ada nilai tambah dari menulis yang bisa dipetik sang guru. Dengan menulis, seorang guru bisa menambah angka kredit. Kredit ini lebih bergengsi dan jumlahnya lebih besar dari mengajar selama satu semester.

Banyak sekali kan keuntungan bagi guru, kalau guru mau melakukan aktivitas menulis. Betapa sayang, kalau guru malas atau tidak bisa menulis. Padahal, kata Dylan Thomas, “Menulislah, karena hanya itu cara untuk membuat dunia tahu apa yang engkau pikirkan.”
Agaknya, memang tidak ada kata terlambat bagi para guru untuk mengembangkan kreativitas menulis. Bukan kah para guru sebenarnya memiliki potensi yang besar dalam menulis. Guru memiliki sejuta masalah yang membutuhkan langkah analisis dan solutif. Merubah paradigma pembelajaran itu lebih cepat terjadi kalau guru banyak membaca dan kemudian mengekspresikan hasil bacaan itu ke dalam sebuah karya tulis, apapun bentuknya.

Berkaca dari fenomena Pocongg juga Pocong, seseorang yang awal mulanya misterius dan biasa-biasa saja, bisa berubah menjadi “luar biasa” dan mampu menyedot perhatian massa, berkat ketekunan dan kreativitasnya dalam menulis.

Alangkah bermakna dan luar biasa-nya kalau para guru mau berlatih, berlatih dan berlatih menulis. Betapa terangkatnya martabat guru, kalau guru bisa dan mau menulis. Kalau guru mau menulis, pasti akan banyak anak didik yang bisa menjadi penulis dan pembelajar seumur hidup. Kiranya tidak ada kata terlambat bagi para guru untuk menulis. Yang ada mari mencoba, membangun kualitas diri dengan menulis. Jangan mau kalah dong sama pocong!

Wallahu a’lam.

2 Comments »

  1. karni said

    semua orang punya pengalaman hidup yang dapat dijadikan sebuah buku. Mungkin dari pengalaman hidup bisa diambil i’tibar bagi semua orang yang membacanya.

  2. karni said

    Menulis perlu asal jangan plagiat.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: