Spirit Qur’ani untuk Kejayaan Banua

Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) Nasional XXI digelar di Kota Banjarmasin dari tanggal 4 – 11 Juni 2011. Sebuah kehormatan sekaligus berkah yang besar untuk menjadi tuan rumah ajang STQ Nasional. Segenap warga Banua Banjar patut berbangga karena daerahnya dipercaya menjadi tuan rumah pelaksanaan kegiatan tersebut.

Untuk kesekian kalinya event ini diadakan. Ajang Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) maupun Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dari tahun ke tahun, senantiasa disambut hangat oleh masyarakat dari seluruh penjuru banua.

Meriahnya sambutan masyarakat dan selalu besarnya minat para peserta dalam setiap kali penyelenggaraan STQ/ MTQ, tentu sangat membesarkan hati, karena merefleksikan betapa cintanya masyarakat Kalsel terhadap kitab suci Alquran.

Bagi umat Islam khususnya, STQ/ MTQ tidak hanya menjadi cermin kesalehan spiritual, tetapi lebih dari itu amat kental dengan gambaran aktivitas sosial keagamaan. Ini tergambar saat hampir seluruh komponen umat terlibat dalam kegiatan secara tulus dan memfungsikannya sebagai wahana syiar Islam yang diracik dengan aroma kebudayaan lokal yang Islami.

Membaca Semesta

Berbagai kemeriahan dalam perhelatan STQ maupun MTQ sungguh membahagiakan kita. Gairah umat Islam untuk menyenandungkan bacaan dan hafalan kitab sucinya adalah nikmat yang harus disyukuri, karena berarti Al-Qur’an tetap diakrabi. Harapannya tentu, ini menjadi indikasi kualitas moral bangsa yang terpelihara keluhurannya.

Namun di samping itu, sesungguhnya kita berharap bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca ataupun dihafal, memiliki pengaruh lebih daripada sebuah atribut formal ataupun statuta spiritual belaka. Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam diturunkan Allah Swt. sebagai pemandu kehidupan manusia. Pelita penerang dari jalan yang harus ditempuh selama menyusuri alam dunia. Maka keakraban terhadap Al-Qur’an sejatinya paralel dengan elan kesuksesan hidup, juga etos berprestasi dunia-akhirat.

Dalam Al-Qur’an semesta terbentang. Membaca Al-Qur’an, sejatinya adalah membaca semesta. Sebagai salah satu mu’jizat Nabi Muhammad saw., petunjuk Allah swt. kepada manusia lengkap di dalamnya. Mulai dari aspek privat sampai publik, mulai sektor ekonomi hingga teknologi tinggi. Dengan mengakrabi Al-Qur’an seyogyanya manusia tidak akan mendapati hal-hal yang tidak jelas dalam hidupnya.

Etos Prestasi Qur’ani

Ayat-ayat Allah dalam Al-Qur’an sarat dengan energi positif. Motivasi yang Allah pancangkan bagi kehidupan kita untuk meraih ultimate success, perspektif positif yang Allah ajarkan dalam menyusuri kehidupan, juga value positif yang Allah nisbatkan bagi berbagai potensi semesta. Subhanallah. Tak ada hal sia-sia dalam keseluruhan fakta kehidupan kita.

Demikianlah seorang muslim, seorang shahibul Qur’an, dihasung untuk hidup prestatif. Bahkan ayat-ayat yang mengabarkan siksa neraka senantiasa disertai kabar indah nuansa surga. Agar jelas pilihan yang dibuat: menjadi manusia prestatif, atau tidak sama sekali.

Dengan mengacu pada semangat Al-Qur’an seyogyanya seorang muslim mampu menebarkan energi positif itu ke lingkungannya. Menularkan etos prestatif, menggalang semangat sukses. Berbagai kisah umat terdahulu yang dibinasakan, jelas Allah kabarkan sebagai cermin, agar kita tidak terperosok pada lubang kesalahan yang sama. Juga kisah-kisah prestatif Allah kabarkan dalam Al-Qur’an agar kita serap nilai positifnya. Bersama kita bisa, karena kita berlimpah karunia. Begitu kira-kira. Jadi sesungguhnya, seorang shahibul Qur’an adalah seorang agen pemberdaya: seorang motivator, seorang penyambung kasih, seorang fasilitator prestasi, bahkan seorang pemimpin perubahan menuju kesejahteraan.

Spirit Qur’ani

Ketika seseorang sudah tercerahkan oleh semangat Al-Qur’an, dan mampu berperan sebagai agen pemberdaya, maka pada tataran masyarakat tak terelakkan lagi gelombang semangat untuk berprestasi akan menggelora. Di sinilah kita harapkan kisah nestapa banua tercinta akan kita akhiri. Keterpurukan kita hingga titik nadir hari ini, membutuhkan elan kebangkitan yang laten.

Al-Qur’an mendorong hadirnya bangsa yang kuat dan penuh prestasi, sebagaimana kualitas masyarakatnya yang bercita-cita besar hingga ke surga, melampaui hambatan-hambatan yang kasat mata. Bangsa yang tak rela hidup miskin, terlilit hutang dan kebodohan. Bangsa yang senantiasa mendidik diri untuk menjadi yang terpandai dan dihormati. Memang butuh waktu panjang, tapi bangsa yang memiliki etos “haram manyarah waja sampai kaputing” takkan mau menakar kesuksesan untuk jangka pendek belaka. Bukan keuntungan sesaat, bukan kemewahan pribadi dan instan yang menjadi prioritas. Bangsa dengan elan prestatif menghitung keberhasilannya pada generasi sesudahnya, dan bekerja untuk kejayaan masa depan.

Cukuplah sudah berbagai gelar memalukan disandang oleh Ibu Pertiwi. Negara terkorup se-Asia Tenggara, Indeks Pembangunan Manusia di bawah Palestina yang diduduki penjajah, angka kemiskinan yang mencolok mata, instansi penegak hukum terkontaminasi tikus-tikus berdasi yang menjarah uang rakyat, dan berbagai kepiluan lainnya.

Dengan STQ kali ini kita berharap keakraban kita dengan Al-Qur’an adalah keakraban nilai, menjadi pribadi prestatif dengan elan kesuksesan sejati, yang bekerja keras menggerakkan masyarakat untuk memancangkan cita-cita tinggi. Bila para peserta dari masing-masing kafilah yang ada sepakat merealisasi spirit prestatif ini, optimisme kita untuk kejayaan banua dan Ibu Pertiwi tak diragukan lagi. Semoga.

Wallahu a’lam bishawwab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: