Selamatkan Moral Generasi Banua

moral remaja

Menarik mencermati pemberitaan media lokal beberapa pekan belakangan ini. “PNS Selingkuh Siang-siang”, demikian bunyi salah satu headline news di harian Radar Banjarmasin (Sabtu, 10/3/2012) dan “Lagi-lagi Mahasiswa Mesum” (Sabtu, 17/3/2012). Belum lagi menengok data-data yang terungkap mengenai prilaku seks bebas di kalangan remaja banua yang disinyalir mengalami kenaikan drastis dibandingkan data tahun sebelumnya. (Opini Radar Banjarmasin, Senin (12/3/2012).

Hal ini tentu tidak bisa dipandang enteng. Miris dan prihatin. Lebih miris ketika menyimpulkan ini sebuah bencana, ketika akibat yang ditimbulkan sudah mencapai skala luas. Lampu kuning untuk banua.

 Semakin seriusnya perilaku tak bermoral yang dilakukan kalangan yang notabene ‘terdidik’ –PNS, mahasiswa dan pelajar- memberi petunjuk akan semakin beratnya tantangan yang dihadapi para orang tua, guru dan pendidik.

Sampeyan dan saya, sebagai warga banua sangat prihatin dengan keadaan generasi penerus atau calon generasi penerus bangsa, yang tinggal, hidup dan dibesarkan di bumi Antasari ini, kini. Data dan fakta yang terungkap, mungkin cuma sebagian kecil saja yang muncul ke permukaan media. Ibarat fenomena gunung es, di bawahnya masih banyak kasus serupa dan bahkan lebih ‘mengenaskan’ yang mewarnai negeri ini.

Memang, sudah banyak yang dilakukan orang tua atau pihak sekolah guna mengerem laju perilaku generasi yang makin liar ini. Namun hasilnya masih belum kelihatan. Makanya kita mesti tahu dulu apa penyebabnya, biar solusinya tepat bin jitu van tokcer. Betul?

Produk Permisifisme Barat

Sejumlah penelitian yang dilakukan terhadap para remaja menunjukkan kecenderungan revolusi perilaku remaja dalam urusan seks. Seperti hasil survei Synovate Research tentang perilaku seksual remaja (15 – 24 tahun) di kota Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan, September 2004 lalu. Hasilnya, 44% responden mengaku mereka sudah pernah punya pengalaman seks di usia 16-18 tahun. Sementara 16% lainnya mengaku pengalaman seks itu sudah mereka dapat antara usia 13-15 tahun. Selain itu, rumah menjadi tempat paling favorit (40%) untuk melakukan hubungan seks. Sisanya, mereka memilih hubungan seks di kos (26%) dan hotel (26%). (penapendidikan.com, 2/4/2008)

Penelitian mutakhir dilakukan oleh Dr. Rita Damayanti saat meraih program doktoralnya di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Ia meneliti 8.941 pelajar dari 119 SMA atau yang sederajat di Jakarta, tahun 2007 lalu. Hasilnya, sekitar 5% pelajar telah melakukan perilaku seks pranikah. (idem)

Salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam perubahan perilaku remaja dalam urusan seks bebas adalah masuknya budaya barat ke negara berkembang seperti Indonesia. Banyaknya media remaja yang getol menyajikan budaya Barat semakin mendekatkan remaja pada kehidupan serba boleh (permissif ) alias bebas berbuat selama tidak menganggu orang lain. Termasuk dalam urusan kelamin (baca: seks).

Karena di beberapa negara Barat, perilaku seks bebas remaja memang tinggi. Pitchkal (2002) melaporkan bahwa di AS, 25% anak perempuan berusia 15 tahun dan 30% anak laki-laki usia 15 tahun telah berhubungan intim. Di Inggris, lebih dari 20% anak perempuan berusia 14 tahun rata-rata telah berhubungan seks dengan tiga laki-laki. Di Spanyol, dalam survei yang dilakukan tahun 2003, 94,1% pria hilang keperjakaannya pada usia 18 tahun dan 93,4% wanita hilang keperawanannya pada usia 19 tahun. (Iwan Januar, ‘Sex Before Married?’, 2007).

Sikap permissif remaja dalam urusan seks juga dikampanyekan oleh film-film remaja produksi luar negeri. Film-film Barat ini dengan gamblang mengupas budaya mesum di kalangan remaja negeri bule itu. Dan sialnya, kampanye budaya mesum secara terselubung juga sering ditemukan dalam tayangan sinetron remaja atau film layar lebar produksi lokal.

Otomatis, remaja pribumi yang imut-imut mulai berani bertingkah amit-amit. Dr Rita Damayanti menyatakan, perilaku permisif remaja dalam masalah seks berawal dari proses pacaran. Masuknya budaya luar lewat hiburan, membuat kaum remaja kian bebas dalam berpacaran. Berdasarkan penelitiannya, perilaku remaja laki-laki menjadi jauh lebih agresif dibandingkan dengan remaja perempuan. Mereka tak hanya terbiasa dengan ciuman, tapi sudah berani melakukan hal-hal yang lebih jauh, mulai dari meraba-raba, hingga akhirnya melakukan seks pranikah.

Makanya, jauh-jauh hari ajaran Islam sudah memerintahkan supaya menjauhi aktivitas pacaran before married yang pastinya mendekati zina. Tapi kita sering ngotot kalau masih bisa ‘jaga diri’. Padahal jelas-jelas Allah SWT mengingatkan kita dalam firman-Nya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-Isra (17): 32)

Selamatkan Remaja Dengan Islam

Agar budaya mesum tidak semakin banyak memakan korban, harus ada penanganan serius dari semua pihak. Karena budaya mesum tidak cuma membuat moral dan masa depan remaja hancur berantakan. Tapi juga turut menyeret remaja dalam perilaku aborsi, penularan penyakit menular seksual, hingga prostitusi. Dan kelihatannya, Islam sebagai landasan hukum yang pasti dan terperinci mesti dipakai masyarakat dan negara untuk menahan laju serangan budaya mesum seks bebas.

Dalam Islam, tentu saja negara harus aktif menertibkan pornografi-pornoaksi dan pelaku seks bebas. Karena kalau dibiarkan apalagi dilokalisasi, sama saja melestarikan budaya mesum. Untuk itu Islam dengan tegas menghukum pelaku zina yang belum menikah (perjaka dan gadis) dengan sanksi jilid (dera) sebanyak 100 kali plus “bonus” pengasingan selama satu tahun. Sabda Nabi SAW, “Perawan dan bujang (yang berzina) didera seratus kali dan dibuang selama setahun.” (HR. Muslim). Sementara kalau pelakunya sudah menikah, hukumannya lebih berat lagi. Dirajam hingga mati.

Masyarakat juga mesti aktif mencegah penyemaian benih-benih budaya mesum. Kalau ada yang pacaran, terus mojok berdua di tempat sunyi, tegur saja. Jangan menunggu sampai hamil dulu. Kalau sudah serius berhubungan, segera saja lanjut ke pelaminan. Kalau cuma main-main, lebih baik katakan “tidak” daripada memanen dosa setiap hari. Bukannya kita mau ikut campur, cuma menjaga lingkungan dari murka Allah swt. Rasul saw bersabda, “Jika zina dan riba telah merajalela pada suatu desa, maka Allah mengizinkan kehancurannya. ” (HR. Abu Ya’la).

Terakhir, kedudukan kita sebagai manusia jauh lebih mulia dibanding cacing tanah dan sejenisnya. So, jangan rendahkan diri kita dengan menganut gaya hidup permissif atau budaya mesum seks bebas yang menuhankan hawa nafsu. Allah SWT berfirman: “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)”. (QS. Al-Furqan [25]: 43-44)

Makanya, selain penerapan ajaran Islam dan kepedulian masyarakat, pembinaan mental dan keimanan remaja juga harus dilakukan guna membentengi remaja dan generasi banua dari budaya mesum dan sikap permissif. Sehingga lahir rasa malu bermaksiat dan takut kepada azab Allah SWT, meski jauh dari pengawasan orang tua atau guru. Jadi, ayo kita selamatkan moral remaja dari jeratan budaya kapitalis sekuler dengan Islam.

Wallahu a’lam bish showab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: