Pendidikan Karakter di Era Digital

Maraknya kasus penyebaran video asusila yang melibatkan kalangan selebriti melalui jaringan internet dan penyalahgunaan jejaring sosial seperti facebook menghinggapi kalangan anak-anak, remaja, sampai orang dewasa. Tak kurang Depkominfo pun bereaksi dengan rencana membuat aturan yang membatasi kebebasan para pengguna media digital tersebut. Protes dari publik pun tak terhindarkan.

Tak ada teknologi apalagi aturan yang mampu membendung derasnya arus informasi di era digital ini. Setiap temuan baru selalu mengandung sisi terang (manfaat dan kemudahan) sekaligus sisi gelap (kejahatan). Mulai dari yang paling primitif ketika manusia menemukan api, banyak hal bisa dimanfaatkan dari energi yang dikandung oleh api, tetapi peperangan juga menggunakan api untuk memusnahkan. Demikian juga dengan teknologi digital yang makin canggih, tentu di situ pun terkandung hal-hal negatif yang bisa disalahgunakan (cyber crime).

Bagaimana anak-anak bisa survive di era digital ini? Karena tidak mungkin menghapus sisi gelap yang dibawa oleh teknologi informasi sekarang ini. Anak-anak lahir ketika dunia sudah dikuasai oleh teknologi digital sehingga mereka biasa disebut ”penduduk asli” dalam masyarakat digital sekarang ini (digital native), sedangkan kita (orang dewasa) justru sebagai ”penduduk pendatang” (digital immigrant) karena kita lahir sebelum dunia dibentuk oleh teknologi digital.

Sekarang ini justru orang dewasa masih tergagap-gagap untuk beradaptasi dengan dunia baru ini. Anak-anak sekarang sambil naik motor pun bisa ber-SMS-an, sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya oleh generasi orangtuanya yang menulis dengan mesin ketik pun belum tentu setiap orang mampu. Menurut teori belajar sosial (Bandura, Vygotsky), sikap dan perilaku anak dibentuk melalui proses mengamati (observasi) dan meniru (imitasi).

Dengan demikian, sikap dan perilaku anak-anak yang hidup dan tumbuh dalam dunia digital tentu sangat berbeda dengan orangtuanya yang tumbuh dalam lingkungan sosial yang masih tradisional. Di sini lah muncul kesenjangan besar dalam hal cara berpikir dan cara memandang dunia ini antara anak-anak yang lahir di era digital dengan orangtuanya, dan tak terhindarkan terjadinya konflik dan ketegangan di antaranya.

Pertanyaannya, apakah pendidikan sudah dirancang untuk menjawab persoalan tersebut? Lebih tajam lagi, karena pendidikan itu hasil rekayasa orang dewasa, apakah kondisi riil anak-anak sebagai ”penduduk asli” dunia digital ini ikut diperhitungkan? Ataukah hanya dari sudut pandang dan kepentingan orang dewasa saja?

Pendidikan Karakter Pendidikan dalam bahasa Inggris education, berasal dari bahasa Latin educare yang merupakan gabungan kata ”e” yang berarti: ”keluar” dan ”ducere” berarti ”pemimpin” atau ”menarik”. Oleh sebab itu pendidikan bisa diartikan sebagai upaya untuk menarik atau membimbing anak agar seluruh potensi diri bisa keluar atau terealisasi. Tentu saja proses pendidikan terjadi dalam interaksi dengan lingkungan sekitar sebagai konteksnya.

Setiap zaman punya tantangan sendiri, dan manusia diberi kemampuan untuk beradaptadi bahkan ikut menentukan arah perubahan itu sendiri. Mengoptimalkan potensi diri berarti juga membangun karakter, bukan sekadar memberi pengetahuan atau ketrampilan, apalagi hanya sekadar gelar dan ijasah. Hanya pribadi-pribadi yang memiliki karakter kuat yang akan mampu menjadi pemenang dan memimpin dunia ini. Karakter yang dibutuhkan meliputi terbangunnya nilai-nilai seperti etos kerja (gigih, ulet, tidak mudah menyerah), disiplin, jujur, tanggung jawab, dan memiliki cita-cita dan idealisme. Apakah nilai-nilai ini secara sadar dan sengaja sudah disemaikan melalui pendidikan?

Di segala zaman, yang dibutuhkan adalah karakter karena apakah ilmu pengetahuan dan teknologi itu akan berguna bagi kehidupan atau justru merusak sangat tergantung pada karakter manusianya. Di dalam karakter juga terkandung etika atau moralitas di mana orang bisa memiliki mana yang baik dan buruk secara bebas dan sadar, bukan karena aturan atau takut sanksi hukuman.

Siswa yang berkarakter tidak akan menyontek sewaktu ujian entah ada penjaga atau tidak karena ia tak mau merendahkan martabatnya sendiri oleh tindak ketidakjujuran. Siswa yang berkarakter menjadikan kedisiplinan sebagai kebiasaan bukan keterpaksaan. Siswa yang berkarakter juga memiliki cita-cita yang jelas dan pantas untuk diperjuangkan mati-matian, bukan sekadar ikut-ikutan atau sekadar menyenangkan kemauan orangtua.

Andaikata pendidikan kita lebih berorientasi pada pembentukan karakter, tak perlu kita takut menghadapi zaman digital ini. Anak-anak dengan kemampuannya sendiri akan mampu mengatasi segala masalah yang dihadapinya.

3 Comments »

  1. Restu Fajar Perdana said

    salam kenal Pak…
    saya senang membaca artikel bapak.
    bagus…bagus..

  2. ira said

    luar biasa artikelnya keren…
    salam kenal ya pak.. trimakasih

  3. Sulis said

    Salam kenal juga, artikelnya sgt bermanfaat.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: