Sasirangan, Warisan Kebanggaan Banua

sasirangan-1

Kini setiap orang merasa bangga memakai sasirangan, tidak hanya yang tua tetapi juga yang muda. Gaung busana khas Kalimantan Selatan ini semakin ‘naik daun’ ketika salah seorang putra daerah Banjar yang go nasional, Dr. Denny Indrayana (sekarang menjabat Wakil Menteri Hukum dan HAM) kerap terlihat mengenakan sasirangan pada acara-acara formal kenegaraan. Artis Olla Ramlan waktu menjadi host acara musik di salah satu stasiun TV swasta, sempat pula terlihat pernah mengenakan busana khas kain sasirangan ini.

Sebagai salah satu hasil kebudayaan masyarakat Kalimantan Selatan, kain sasirangan diwariskan secara turun temurun. Kain ini oleh masyarakat Banjar digunakan untuk membuat pakaian adat, yaitu pakaian yang digunakan orang-orang Banjar baik oleh kalangan rakyat biasa maupun keturunan para bangsawan.

Mengutip situs pintunet.com, sasirangan merupakan kain sakral warisan abad XII saat Lambung Mangkurat menjadi patih Negara Dipa. Awalnya sasirangan dikenal sebagai kain untuk “batatamba” atau  penyembuhan orang sakit yang harus dipesan khusus terlebih dahulu (pamintaan) sehingga pembuatan kain sasirangan seringkali mengikuti kehendak pemesannya.

Oleh karena itu, Urang Banjar seringkali menyebut sasirangan kain pamintaan yang artinya ‘permintaan’. Selain untuk kesembuhan orang yang tertimpa penyakit, kain ini juga merupakan kain sakral, yang biasa dipakai pada upacara-upacara adat.

Perkembangan zaman telah merubah fungsi kain sasirangan di kalangan masyarakat Kalimantan Selatan. Nilai-nilai sakral yang terkandung di dalamnya seolah-olah ikut memudar tergerus arus globalisasi mode. Globalisasi menjadikan kain ini telah mengalami proses desakralisasi. Saat ini, kain sasirangan peruntukannya tidak lagi untuk kegiatan ritual, tetapi sudah menjadi pakaian untuk kegiatan sehari-hari, dan merupakan ciri khas sandang dari Tanah Banjar.

Belakangan, sasirangan terus berkembang menyebar ke berbagai daerah seiring dengan perkembangan dunia mode yang sering mengadaptasi pakaian-pakaian adat tradisional. Bahkan saya pernah baca di suatu artikel, sasirangan ternyata juga mulai go internasional. Orang-orang di Australia juga senang mengenakan kain ini. Untuk melindungi salah satu warisan budaya, sasirangan telah diakui oleh pemerintah melalui Dirjen HAKI Departemen Hukum dan HAM RI.

Sasirangan sendiri berasal dari kata menyirang yang berarti menjelujur, karena dikerjakan dengan cara menjelujur kemudian diikat dengan tali raffia dan selanjutnya dicelupkan ke air hangat yang sudah diberi pewarna. Pembuatan batik Sasirangan ini pun ternyata cukup sederhana tanpa memerlukan peralatan khusus. Semua masih dilakukan dengan cara manual. Cukup dengan tangan untuk mendapatkan motif dan corak tertentu.

Pewarna yang digunakan pun biasanya berasal dari bahan pewarna alam seperti kulit kayu ulin, jahe, air kulit pisang dan daun pandan. Kalau kita perhatikan sepintas kain Sasirangan ini mirip sekali dengan kain motif jumput dari Yogyakarta. Hanya saja warna-warnanya nampak alami dan lebih cerah.

Dilihat dari jenis motifnya, kain Sasirangan memiliki belasan motif yang cukup terkenal di antaranya sebagai berikut : motif Iris Pudak, motif Kambang Raja, motif Bayam Raja, motif Kulit Kurikit, motif Ombak Sinapur Karang, motif Bintang Bahambur, motif Sari Gading, motif Kulit Kayu, motif Naga Balimbur, motif Jajumputan, motif Turun Dayang, motif Kambang Tampuk, motif Manggis, motif Daun Jaruju, motif Kangkung Kaombakan, motif Sisik Tanggiling, dan motif Kambang Tanjung (sumber : Wikipedia).

Proses Pembuatan

Secara singkat, proses pembuatan kain sasirangan dapat digambarkan. Pertama menyirang kain. Kain dipotong secukupnya disesuaikan untuk keperluan pakaian wanita atau pria. Kemudian kain digambar dengan motif-motif adat, lantas disirang atau dijahit dengan tangan agak renggang mengikuti motif. Kain yang telah dijahit, ditarik benang jahitannya dengan tujuan untuk mengencangkan jahitannya, sehingga kain mengerut dengan rapat dan kain sudah siap untuk masuk proses selanjutnya.

Kedua penyiapan zat warna. Zat warna yang digunakan adalah zat warna untuk membatik. Semua zat warna yang untuk membatik dapat digunakan untuk pewarnaan kain sasirangan. Tapi zat warna yang sering  digunakan saat ini adalah zat warna naphtol dengan garamnya. Bahan lainnya sebagai pembantu adalah soda api (NaOH), TRO/Sepritus, air panas yang mendidih. Mula-mula zat warna diambil secukupnya, kemudian diencerkan/dibuat pasta dengan menambahkan TRO/Spirtus, lantas diaduk sampai semua larut.

Setelah zat melarut semua, kemudian ditambahkan beberapa tetes soda api dan terakhir ditambahkan dengan air panas dan air dingin sesuai dengan keperluan. Larutan harus bening/jernih. Untuk melarutkan zat warna naphtol sudah dianggap selesai dan sudah dapat dipergunakan untuk mewarnai kain sasirangan.

Untuk membuat warna yang dikehendaki, maka zat warna naphtol harus ditimbulkan/dipeksasi dengan garamnya. Untuk melarutkan garamnya, diambil sesuai dengan keperluan kemudian ditambahkan air panas sedikit demi sedikit sambil diaduk-aduk kuat-kuat sehingga zat melarut semua dan didapatkan larutan yang bening. Banyaknya larutan disesuaikan dengan keperluan.

Kedua larutan yaitu naphtol dan garam sudah dapat dipergunakan untuk mewarnai kain sasirangan, yaitu dengan cara pertama-tama mengoleskan/menyapukan zat warna naphtol pada kain yang telah disirang yang kemudian disapukan lagi/dioleskan larutan garamnya sehingga akan timbul warna pada kain sasirangan yang sudah diolesi sesuai dengan warna yang diinginkan. Setelah seluruh kain diberi warna, kain dicuci bersih-bersih sampai air cucian tidak berwarna lagi.

Kain yang sudah bersih, kemudian dilepaskan jahitannya sehingga terlihat motif-motif bekas jahitan di antara warna-warna yang ada pada kain tersebut. Sampai di sini proses pembuatan kain sasirangan telah selesai dan dijemur selanjutnya disetrika dan siap untuk dipasarkan.

Seiring perkembangan zaman, sasirangan tidak hanya digunakan pada selembar kain untuk pakaian saja, tetapi sasirangan berkembang ke berbagai kerajinan lain, seperti sepatu, tas, topi, aneka pernik yang menggunakan motif dan corak sasirangan sebagai hiasannya.

Kini, baju sasirangan menjadi pakaian yang sering dipakai, bukan hanya sebagai wujud kebanggaan terhadap warisan budaya, tetapi juga karena sasirangan memiliki nilai seni yang tinggi. Hampir semua lembaga pemerintah atau swasta di Kalimantan Selatan mewajibkan pegawainya untuk memakai sasirangan setiap pada hari-hari tertentu (Kamis atau Jum’at). Begitupun banyak sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan yang juga menjadi sasirangan sebagai busana seragam.

Sekedar Harapan

Sasirangan, selembar kain ini telah melewati sebuah proses sejarah yang panjang sehingga penggunaan kain adat ini bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari tanpa mengurangi nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Sasirangan tetap mencerminkan hasil budaya yang tinggi dari Kalimantan Selatan. Dan, sudah selayaknya kita mengapresiasi keberadaan kain yang unik sekaligus indah ini.

Sasirangan telah tumbuh bersama tumbuhnya banua Banjar menuju beradaban yang baru. Sasirangan sebagai salah satu warisan budaya nenek moyang berhasil tumbuh berkembang beriringan dengan arus globalisasi mode dunia. Bahkan sasirangan mampu menjadi trend berbusana, setidaknya untuk masyarakat lokal.

Ketika semua orang merasa bangga dengan budaya dan kearifan lokalnya maka warisan budaya itu akan selalu hidup di tengah-tengahnya. Kita harus mampu belajar dari sasirangan, jika sasirangan sebagai warisan budaya masih tetap eksis dan diakui sebagai warisan budaya, mengapa kearifan lokal tidak bisa? Tentunya bisa, kearifan lokal tinggalan dari nenek moyang kita yang sarat akan nilai-nilai dan budaya seperti halnya gotong royong, ramah tamah, saling menghargai dan membantu. Masih ada banyak warisan budaya adiluhung yang perlu dijaga kelestariannya sebagai jati diri dan identitas bangsa Indonesia. Semua itu perlu kita wariskan kepada anak cucu sepertinya halnya sasirangan.

Kini, produk-produk bernuansakan motif sasirangan cukup mudah ditemui di Tanah Banjar dan sekitarnya. Motif khas sasirangan pun tidak hanya sekadar selembar kain. Keberadaan kain lokal ini mampu menciptakan kekhasan sendiri bagi Provinsi Kalimantan Selatan, termasuk pula Indonesia dalam lingkup yang lebih luas sehingga apabila dikelola dengan baik saya percaya sasirangan akan bisa dicintai seperti halnya dengan keberadaan baju Batik. Sayang sekali apabila ada negara lain yang mengklaim kain tradisional yang elok ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: