Dandaman Banua, Bukan Rindu Biasa

dandaman

Layaknya induk elang yang kembali sebelum senja setelah pagi meninggalkan sarang karena rindu kepada sang anak, begitupun pada manusia, rindu akan kampung halaman setelah lama merantau adalah suatu keniscayaan.

Rasa dandaman (rindu) terhadap banua (kampung halaman) akan semakin besar ketika berpadu dengan rasa ingin tahu terhadap perubahan apa saja yang sudah terjadi di daerah asal yang ditinggalkan. Dandaman banua tempat kita dibesarkan adalah tanda kecintaan kita yang mendalam.

Merupakan sifat alami pada manusia memiliki kerinduan terhadap tanah kelahiran. Terlebih bagi para perantau, menaruh kerinduan terhadap hiruk pikuk kampung halaman, rindu sawah yang hijau, lapangan sepak bola tempat bermain waktu kecil, rindu suasana sekolah, serta rindu adik kakak dan orang tua merupakan hal yang sangat manusiawi.

“Aku rindu padamu”. Begitu ungkapan seseorang ketika lama tidak berjumpa. Mengungkapkan rasa rindu juga merupakan hal yang wajar saja. Apalagi jika sudah bertahun-tahun lamanya meninggalkan kampung untuk mengadu nasib atau madam ke negeri orang demi mengejar cita-cita, maka tidak heran bila suatu saat kata rindu terucap dari mulut kita.

Pertanyaannya adalah dengan adanya rasa rindu itu apakah kita harus segera pulang untuk melepaskan kerinduan atau berusaha meredamnya? Keinginan bertemu dengan tanah kelahiran mau tidak mau harus kita redam ketika kepentingan mencari nafkah atau mengejar cita-cita menjadi prioritas paling atas.

Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk sedikit mengurangi kerinduan yang semakin menebal seiring merayapnya waktu. Aktif di organisasi kampus bagi mahasiswa, atau kerja sampingan bisa menjadi alter natif untuk mengisi waktu luang agar hari-hari yang dilalui tidak dirasa berjalan lambat.

Raga di kota namun pikiran di kampung, tidak sedikit dan tidak jarang para perantau atau mahasiswa daerah mengalami hal seperti ini saat mengingat kampung yang ditinggal. Namun, sekali lagi ketika urusan “perut” atau cita-cita menjadi urutan pertama yang harus diraih, semua perasaan itu harus bisa ditepis.

Sebaliknya, sebagai insan yang bijak, harus mampu mengoptimalkan “energi” rindu tersebut menjadi kekuatan yang luar biasa. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kerinduan terhadap kampung halaman adalah energi potensial yang bisa dimanfaatkan menjadi motivasi untuk bekerja dan mengejar cita-cita.

Sudah selayaknya, sebagai perantau atau mahasiswa daerah berpikir lebih jauh dan lebih kritis dalam memaknai hakikat rindu yang sebenarnya. Rindu membangun kampung halaman, rindu untuk menjadi orang yang bisa membawa perubahan bagi kampung halaman, rindu memberikan hal-hal baru bagi tanah kelahiran, inilah hakikat rindu yang hendaknya tertanam di dalam dada para perantau atau mahasiswa yang rela menyeberang pulau untuk mencari ilmu demi membawa perubahan.

Tidak sedikit munculnya perubahan-perubahan besar lahir dari mimpi-mimpi kecil. Tentu kita masih ingat kisah wright bersaudara (Orville dan Wilbur) 1871-1912, mereka bercita-cita maenjadi manusia pertama yang bisa terbang. Mimpi yang menurut sebagian orang pada saat itu tidak mungkin terwujud. Namun, berkat tekad dan sifat pantang menyerah, akhirnya mereka membuktikan.

Saat ini, berkat penemuan mereka yang terus dikembangkan, terbang menggunakan pesawat terbang bukanlah hal yang luar biasa. Maka, jangan berhenti untuk mencetuskan ide-ide baru sekalipun itu dianggap mungkin sulit diwujudkan termasuk memiliki mimpi menjadi orang yang membawa perubahan bagi bangsa yang dimulai dari membangun banua masing-masing.

Kita tentu menyadari realita yang terjadi saat ini, pembangunan di daerah dan di perkotaan tidaklah merata. Tidak meratanya pembangunan di segala sektor di setiap daerah harusnya manjadi tantangan tersendiri bagi seorang perantau atau mahasiswa yang peduli terhadap daerah asalnya. Ketika tekad sudah bulat, tidak ada keraguan melangkahkan kaki saat meninggalkan tanah kelahiran ke negeri orang untuk mencari penghidupan dan meraih cita-cita, sudah selayaknya diimbangi dengan tekad yang luar biasa juga .Tekad yang ditanamkan yaitu tekad suatu saat akan kembali untuk membawa perubahan yang berarti.

Sadar atau tidak disadari, banua yang ditinggalkan selalu merindukan kita, mereka merindukan putra-putra terbaiknya untuk membangun dan membawa perubahan. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita juga menyimpan kerinduan untuk mencerdaskan kampung halaman, rindu menyetarakan pembangunan di daerah dengan di perkotaan.

Terlebih saat ini, sistem otonomi daerah memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya kepada daerah untuk mengolah dan mengembangkan potensi yang ada. Tentunya dalam hal ini arah pembangunan di daerah sangat bergantung pada putra-putri daerah, dengan kata lain nasib daerah ke depan berada di pundak putra-putri terbaik daerah masing-masing.

Sudah sepatutnya, sebagai perantau atau mahasiswa memiliki pandangan yang sama dan memaknai rasa rindu yang sebenarnya serta mampu mengolahnya menjadi energi yang luar biasa. Para perantau dan mahasiswa harus mampu mengolah rasa rindu menjadi kekuatan dan semangat untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berkembang.

Para perantau dan mahasiswa juga harus mampu meredam kerinduan terhadap kampung halaman demi cita-cita mulia untuk membangun bangsa yang dimulai dari daerah masing-masing. Jika tekad ini dimiliki oleh setiap perantau atau mahasiswa, secara tidak langsung persaingan yang sehat akan terjadi dan akan membawa perubahan yang berarti.

Dengan adanya tekad rindu bersaing membangun daerah masing-masing, yang kemudian diwujudkan menjadi tindakan konkrit, dengan sendirinya akan terjadi pemerataan pembangunan di segala sektor.

Inilah rindu yang sepatutnya diungkapkan oleh para perantau, sebab rindu itu bukan rindu biasa. Rindu itu adalah rindu untuk mencerdaskan banua, rindu membawa perubahan, dandaman membangun tanah kelahiran.

1 Comment »

  1. NR said

    subhanallah…. antik dn trliht bg pengbdi dn pendidik.semoga banyk pengajar spt anda.amin

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: