Bersama Pusaran Sekumpul

guru sekumpul mtp

Menatap sosok teduh di foto itu, saya membayangkan beliau masih berada di antara kita. Di sela ratusan orang yang memadati jamaah pengajian dan maulid yang rutin diadakan, di komplek Sekumpul, Martapura Kalimantan Selatan. Tapi hari itu lain. Ribuan orang melantunkan shalawat, menangis sesegukan, bertahan berjam-jam sedari subuh, bertarung melawan panas menyengat langit Sekumpul, Martapura.

Saya tak hendak mengulang memori itu, seperti sebelum hari ini. Tapi bayangan-bayangan itu berkelebat dari otak. Duhai… saksikan, dengarkan tahlil dan tahmid mereka, saat tubuh Sang Aulia disongsong beramai-ramai.

Ya, hari itu. Tak bisa persis saya ceritakan siapa saja yang hadir. Di dalam mushala, menunggu beratus kiai sepuh dan habaib, yang akan memimpin shalat jenazah. Doa dan lantunan shalawat melantun di udara seperti dengung lebah. Gelombang jamaah yang hendak menyalati susah dihentikan. Mereka berdiri memadati ruangan dalam mushala sampai pekarangan.

Jenazah beliau bagai magnet. Ribuan mata dan perhatian pelayat tertuju kepadanya. Mereka semua memberikan penghormatan terakhir. Ribuan masyarakat dari seantero penjuru negeri berduyun-duyun menyaksikan pemakaman.

Jenazah yang mulia itu kemudian dihantar ke tempat peristirahatan terakhir, di kompleks pemakaman yang tidak jauh dari mushalla Ar-Raudhah, berkumpul dengan makam almarhum KH Seman Jalil, kemudian paman beliau Alimul fadhil KH Seman Mulia,dan makam ibu beliau yang telah lebih dulu menghadap Sang Pencipta.

Tujuh tahun silam, tepatnya hari Rabu 10 Agustus 2005, bertepatan dengan 5 Rajab 1426 H, seorang ulama besar yang punya kualitas sosok waratsatul anbiya (pewaris Nabi) telah dipanggil Sang Khaliq, beliau Al-Mukarram KH.Muhammad Zaini Abdul Ghani atau yang akrab kita panggil Guru Sekumpul, seorang ulama besar terkenal di Kalimantan.

Martapura berduka pada saat itu, betapa tidak seorang putra terbaiknya yang selama ini menjadi panutan, rujukan bahkan “idola” umat telah berpulang ke rahmatullah, menghadap Ilahi Rabbi. Di tengah krisis dan tanda tanya siapa gerangan “pewaris” Guru Sekumpul, rasa prihatin dan duka tak dapat disembunyikan, bahkan hingga kini.

Demikian juga kira-kira gambaran situasi keresahan umat Islam di Kalimantan Selatan, khususnya di Martapura sekarang ini, dilihat dari kacamata keprihatinan akan semakin langkanya sosok ulama panutan warga banua.

Hari ini kita harus melihat dengan landasan pikiran yang jernih. Kata “ulama” bukan untuk komoditas politik yang dijadikan sebagai alat untuk politisasi agama dalam memenuhi syahwat politik pragmatis yang materialistis.

Ulama adalah simbol kesinambungan dakwah dalam mengemban misi Rabbani yang tidak boleh dikotori dengan kepentingan yang bersifat individual, sektarian dan temporer. Ulama mengemban misi kemaslahatan dan bertanggung jawab terhadap kesinambungan nilai-nilai moralitas demi terwujudnya masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera di bawah naungan Ridha Ilahi.

‘Ulama’ (dalam tanda kutip) yang kita saksikan hari ini, tidak lebih sebagai perpanjangan tangan kekuasaan yang lebih berorientasi kepada dunia materialistis. Parahnya lagi, banyak yang mengaku sebagai ‘ulama’ karena jubah besar yang dikenakannya, bukan karena ilmu yang dimiliki dan ketauladanan moralnya.

Sudah saatnya, bagi mereka yang dijadikan sebagai tauladan masyarakatnya atau yang memposisikan dirinya untuk menjadi tauladan kehidupan agar lebih bersikap dan menjaga kualitas diri baik ilmu, amal dan spiritual. Kerinduan umat hari ini adalah hadirnya ulama-ulama yang benar- benar menjadi tauladan bagi umat dan umat merasakan manfaat ilmu serta merasakan keindahan akhlaknya.

Teringat akan hal inilah, kemudian saya meneteskan air mata ketika melayat ke kubah makam Guru Sekumpul (dengan doa kiranya Allah melapangkan kuburnya). Semasa hidup, beliau ikhlas mengajar umat di komplek mushala Ar Raudhah, Sekumpul. Wejangan agama yang beliau sampaikan mampu menyejukkan kalbu, tak hanya bagi mereka yang tergolong dewasa maupun orang tua, tapi juga bagi kalangan kawula muda.

Sekali kita mendengar petuah dan pesan-pesan agama yang penuh berisi dan disampaikan secara persuasif itu, membuat hati siapa pun jadi rindu untuk datang lagi pada kegiatan pengajian beliau. Kini ulama kharismatik itu telah tiada, tapi sosok dan figur kepribadian beliau tak akan pernah hilang dari ingatan kita.

Saat ini, kita memang sangat sulit menentukan ulama yang komitmen dalam perjuangannya. Namun, dari sosok almarhum Guru Sekumpul kita bisa mengambil berbagai macam pelajaran berharga. Antara lain adalah: Pertama, intelektualitas. Tidak ada yang meragukan kemampuan ilmu beliau. Beliau adalah sosok yang cinta ilmu dan itu dibuktikan dengan aktifnya beliau mengisi pengajian-pengajian, menyahuti persoalan-persoalan keumatan, dan lain-lain.

Kedua, komitmen. Dalam memperjuangkan persoalan keumatan beliau adalah sosok yang tidak kenal lelah selalu mendahulukan kepentingan umat Islam daripada kepentingan pribadi atau golongan. Beliau adalah sosok ulama yang tidak silau karena harta, tidak sombong karena jabatan, tidak pelit terhadap ilmu, selalu memberikan kemudahan dan tidak mempersulit persoalan, menghormati yang tua dan mengayomi yang muda, selalu istiqamah dalam memegang teguh nilai-nilai perjuangan sekalipun berhadapan dengan penguasa.

Ketiga, sabar dan ikhlas. Dalam mengemban amanah beliau selalu bersikap sabar. Kesabarannya dalam memberikan ilmu menjadi pelajaran penting buat kita. Bahkan kita sering menyaksikan kadang-kadang beliau meneteskan air mata ketika menyampaikan sesuatu (ilmu). Seperti, ketika beliau mengkaji ilmu tashawuf.  Ini menunjukkan beliau begitu merasakan dan begitu ikhlasnya meyampaikan ilmunya.

Keempat, mudah tersenyum. Perhatikanlah kenangan kita di saat bertemu dengan siapa saja, beliau selalu tersenyum simetris menandakan beliau sangat dekat dengan kita. Karakter ini menunjukkan beliau adalah figur yang rendah hati (tawadhu’).

Kelima,kharismatik dan bersahaja.Tidak bisa dipungkiri sosok beliau adalah sosok ulama yang didambakan oleh umat Islam. Siapapun kita akan selalu berceritera tentang kebaikan-kebaikan yang telah ditampilkan selama kehidupannya.

Tak pelak lagi sosok Guru Sekumpul adalah ulama idaman umat yang patut dijadikan idola. Otoritas keilmuan dan akhlaknya diakui oleh segenap orang yang pernah bergaul dekat dan bersinggungan dengan pengajian Sekumpul.

Tulisan ini hanyalah sebersit pengalaman yang saya rasakan ketika berinteraksi secara tidak langsung (melalui ceramah dan pengamatan) dengan beliau. Mudah-mudahan kita mampu mengambil pengajaran di balik ketauladanan Guru Sekumpul dan kita do’akan semoga almarhum diampunkan dosanya, dilapangkan kuburnya dan diterima amal shalehnya.

Maka, dari depan kubah peristirahatan terakhir beliau ini, saya ingin mendekat ke makam Sang Aulia. Saya ingin mencium tangan dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya. Saya pun mengirimkan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya. Kemudian saya baca lagi al-fatihah untuk almarhum Guru Sekumpul. Berulang-ulang. Dan, seakan mewakili seluruh jamaah, diam-diam saya larut bersama pusaran Sekumpul, saya pun lirih berzikir, “Allahumma amiddana bi madaadih.” Amien..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: