Momentum Haul : Refleksi Wasiat Guru Sekumpul

Tradisi memperingati meninggalnya seorang ulama atau lebih dikenal dengan istilah ”haul” dilakukan bertujuan meneladani ketokohan ulama bersangkutan. Namun, tradisi itu belakangan hanya bersifat ritual, sedikit orang yang hadir dapat merefleksikannya.

Kata haul diambil dari bahasa Arab hala-yahulu-haul yang berarti setahun, atau masa yang sudah mencapai satu tahun. Seiring berkembangnya waktu, kata haul biasa digunakan sebagai istilah ritual kegiatan yang berskala tahunan, ataupun memperingati hari wafat atau meninggalnya seseorang yang kita sayangi dan juga orang yang kita hormati (guru, orang tua, ulama, para shalihin, atau waliyullah ).

Tak terasa kini, genap lima tahun sudah ulama kharismatik Martapura, Al Mukarram Syekh M Zaini Abdul Ghani wafat. Tepatnya, 5 Rajab 1426 H atau 10 Agustus 2005 silam. Pada momentum haul ke-5 inilah diharapkan masyarakat Banjar dapat merefleksikan kembali jasa dan kiprah ulama yang akrab disapa Guru Sekumpul ini.

Ulama kelahiran Martapura 11 Februari 1942, merupakan tokoh kharismatik dalam berdakwah dan menyebarkan syiar Islam di Kalsel. Guru Sekumpul juga masih zuriat atau keturunan dari ulama besar Banjar, Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari yang disebut Datu Kelampayan.

Kegiatan pengajian atau majelis taklim yang dilakukan Guru Sekumpul selalu dibanjiri ribuan jemaah dari berbagai kota. Namanya dikenal di kalangan luas, baik pejabat pemerintahan, politisi, militer, dan seniman. Beberapa tokoh yang pernah mengunjungi kediamannya, antara lain KH Abdurahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Amien Rais, hingga Aa Gym.

Banyak kenangan tentang sosok beliau yang tentunya membekas di hati umat Muslim. Sudah sepatutnya kita yang merasakan kedekatan bathiniah terhadap Guru Sekumpul senantiasa merenung. Sudah sejauh mana usaha kita dalam meneladani sikap maupun perbuatan beliau saat ini?

Sudah selayaknya, momentum haul Guru Sekumpul dimaknai dengan kegiatan akbar dengan spirit menumbuhkan jiwa-jiwa ulama yang menjadi tuntunan dan tauladan bagi masyarakat. Bukan sosok yang terlena oleh arus dominasi politik praktis, hingga lupa, bahwa sisi keulamaannya perlahan terkikis oleh nuansa kehidupan duniawi.

Sesungguhnya negeri ini membutuhkan sosok ulama seperti Guru Sekumpul yang kedekatannya dengan masyarakat nyaris tanpa “tabir birokrasi” yang terlalu berbelit-belit, layaknya psikolog dengan pasiennya yang membutuhkan sekedar spirit dan sugesti untuk merubah kondisi jiwa yang sakit.

Kita pun menantikan sosok ulama yang revolusioner, yang bukan hanya sekedar mengajarkan kita isi kandungan kitab kuning, atau pesan-pesan suci agama, melainkan bagaimana menunjukkan jalan ke arah perbaikan umat.

Meminjam ungkapan Ali Syariati, seorang tokoh revolusioner Iran yang acapkali mengkritik peran ulama yang hipokrit, oportunis, dan kaku. Bahwa ulama bukanlah berperan dalam melembagakan Islam jadi kekuatan penenang bagi massa yang tertindas, dogma yang kaku dan teks spiritual. Kita menanti sosok ulama yang mampu mendorong masyarakat untuk bangkit dan berubah dari keterpurukan kondisi yang sebenarnya telah terjadi secara sistemik.

Di tengah krisis multi dimensi bangsa dewasa ini, tak ada salahnya kita khususnya warga Kalsel berupaya mengaktualisasikan kembali 13 wasiat yang ditinggalkan Guru Sekumpul sebelum beliau wafat, yakni: Menghormati ulama; Baik sangka terhadap muslimin; Murah diri; Murah harta;  Manis muka; Jangan menyakiti orang; Memaafkan kesalahan orang; Jangan bermusuh-musuhan; Jangan tamak; Berpegang kepada Allah pada qabul segala hajat; Yakin keselamatan itu ada pada kebenaran; Jangan merasa baik daripada orang lain; Tiap-tiap orang iri dengki atau adu-asah, jangan dilayani serahkan saja pada Allah taala.

Sebuah untaian wasiat yang tepat untuk bangsa yang tengah diselimuti kekosongan jiwa, di mana kekerasan seolah menjadi keterampilan. Lagu kita adalah kebohongan dan penindasan, sehingga kemesraan dan kebahagiaan hidup menjadi benda mahal yang sulit didapatkan.

Dunia kita telah berubah menjadi hutan belantara, dimana bahasa global kita adalah kekuatan besi dan baja, bahasa bisnis kita adalah persaingan, bahasa politik kita adalah penipuan, bahasa sosial kita adalah pembunuhan, dan bahasa jiwa kita adalah kesepian dan keterasingan.

Jika kita hubungkan, maka tidak perlu heran krisis yang berkepanjangan ini bermula dari krisis akhlak yang melanda hampir sebagaian besar kita, yang telah lupa akan nilai-nilai moral dan ajaran Islam yang bersumber dari Ilahi.

Betapa indahnya senyum tulus, murah hati dan kasih sayang. Betapa bahagianya jika sikap ramah, saling memaafkan, tidak iri dengki dan tolong menolong menjadi kebiasaan. Hidup penuh makna dan berarti hanya akan kita temui jika kita dapat mensinergikan kekuatan kebaikan yang ada pada diri, bukan justru mengembangkan potensi buruk yang senantiasa dipelihara oleh nafsu setan yang mempunyai singasana dalam diri kita.

Kini, wasiat yang ditulis Guru Sekumpul puluhan tahun lalu, tepatnya 11 Jumadil Akhir 1413 Hijriah, terasa sangat aktual dan dalam maknanya. Meski ditulis dalam bahasa yang sangat sederhana.

Seluruh masyarakat Kalimantan merasa kehilangan seorang Tuan Guru yang menjadi panutan, penerang, dan penyuluh kehidupan umat. Kini umat Islam di Martapura dan Kalimantan Selatan umumnya, menantikan kembali, hadirnya generasi baru –ulama panutan– yang akan menggantikan atau paling tidak memiliki kharisma dan ilmu sebagaimana yang dimiliki oleh Guru Sekumpul, untuk memimpin dan membimbing umat menuju kedamaian di bawah ridha Allah SWT.

Tokoh pengayom itu telah meninggalkan kita. Akan tetapi, sebenarnya ia tidak benar-benar meninggalkan kita. Nama besar dan wasiatnya yang ”abadi”, akan selalu menemani kita. Itulah sebabnya, tidaklah berlebihan kalau Guru Sekumpul disebut sebagai anugerah dari Tuhan untuk kita, warga Tanah Banjar. Pada momentum haul ini, mari kita bersama-sama berdoa, Semoga Allah SWT memberi tempat yang mulia kepadanya. Amin.

5 Comments »

  1. Aldy said

    Alhamdulillah, kita baisi sidin….

  2. Adjie said

    Alhamdulillah …………
    ada sidin yang membimbing kita ………

  3. urang banjar juwa said

    Mudahan lakas ada nang kaya sidin…

  4. Ahmad Bin Hasjim said

    MUDAH-MUDAHAN ADA PENGGANTI SETELAH BELIAU TIADA, YANG SANGAT DIRINDUKAN UMAT KHUSUSNYA KALIMANTAN SELATAN….KHARISMATIK BELIAU MENCAKUP SELURUH UMAT RASULULLAH YANG BERADA DISELURUH DUNIA DAN SELURUH ALAM, KARENA BELIU MENANAMKAN AKAN TAKUT DAN CINTA KEPADA ALLAH DAN MENANAMKAN CINTA YANG YANG BERLEBIHAN KEPADA RASULULLAH

  5. subhanallah

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: