Menggugah Penerbitan (Buku) Lokal Banjar

bukudeposit2

Judul dalam tulisan ini sebenarnya hanyalah sebuah curahan ‘harapan’ menyikapi realitas banua dalam dunia penulisan dan penerbitan. Seperti halnya daerah lain di Indonesia, Kalimantan Selatan mempunyai bentangan sejarah dan problematika sosial, budaya dan keagamaan, dari zaman dahulu sampai periode kontemporer. Meski demikian, hanya sedikit yang berhasil didokumentasikan dan diterbitkan dalam bentuk karya tulisan (baca: buku).

Memang, beberapa pihak dengan latar belakang berbeda telah mulai berinisiatif dan bergiat dalam usaha penerbitan buku, khususnya yang berhubungan dengan tema-tema lokal, Tanah Banjar.

Namun, kita juga tidak bisa menutup mata. Banyak keluhanyang disampaikan oleh sejumlah kalangan, bahwa dunia penerbitan buku di Tanah Banjar ibarat kerakap tumbuh di batu. Hidup segan matipun tak mau. Seyogianya itu adalah keluhan kita bersama juga, terutama kaum intelektual banua ini.

Seperti diungkap oleh Tajuddin Noor Ganie dalam blog beliau, orang dari luar Banjar justru mencari buku-buku yang murni bermuatan lokal Banjar atau Kalsel. Bahkan, konon Perpustakaan KITLV Leiden, khusus mempunyai koleksi buku yang berkaitan dengan daerah Kalsel dan seni budaya Banjar, dan jumlahnya sangat banyak. Saking banyaknya, maka tempat untuk menyimpannya memerlukan beberapa buah ruangan besar.

Karena itu, jika kalangan perguruan tinggi ada yang ‘mengklaim’ bahwa mereka sudah menerbitkan banyak buku ilmiah, untuk perbukuan nasional atau internasional, hal itu tidak terlalu diambil ‘hati’ oleh orang luar. Masalahnya kalau untuk konten-konten ilmiah, buku-buku asing yang terbit dengan berbagai bahasa tentu lebih banyak dan bisa jadi lebih laku dibanding yang diterbitkan oleh orang banua (atau Indonesia).

Meskipun alasannya adalah soal laku atau tidak dan sangat berorientasi komersial, namun setidaknya upaya penulisan (penerbitan) buku akan berdampak positif juga untuk Tanah banjar. Lebih kongkretnya, jika buku-buku bermuatan lokal, tentang adat dan budaya, kesenian, sejarah lokal, biografi tokoh lokal, pendidikan lokal dan segala sesuatu yang berbau Banjar diterbitkan oleh anak banua sendiri, tentu akan lebih menjual (marketable).

Dari sisi penerbit lokal sebagai sebuah industri yang jarang-jarang diperhatikan, tentu ini akan menjadi sesuatu yang menggairahkan. Sebab selama ini justru konten-konten lokal itu banyak diterbitkan oleh penerbit-penerbit dari luar (Yogyakarta, Jakarta atau Bandung). Apakah penerbit lokal perlu diproteksi?

Proteksi mungkin tidaklah masanya di zaman sekarang ini. Selain berlawanan dengan prinsip-prinsip pasar bebas yang sedang dianut Indonesia dalam konstelasi perdagangan internasional, maka hal itu juga tidak membuat industri jadi tangguh. Dengan proteksi, mereka (industri) termasuk industri penerbit hanya akan menjadi industri-industri manja.

Maka yang terpenting dilakukan Pemerintah Daerah adalah menumbuh-suburkan iklim yang kondusif untuk dunia perbukuan di banua ini. Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota hendaknya merangsang tumbuhnya penulis-penulis buku di Tanah Banjar dan membukakan kesempatan kepada penerbit-penerbit lokal untuk menerbitkannya.

Di samping itu, pemerintah melalui Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (Bapustarda) maupun lewat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mesti benar-benar memberi perhatian pada program-program penumbuhan minat baca (melek literasi). Kecenderungan sebagian generasi banua yang mulai jauh dari budaya baca dan beralih kepada dunia pandang dengar (audio visual) bisa amat berbahaya bagi kelangsungan masa depan. Bisa-bisa sepuluh tahun lagi, anak-anak tidak doyan baca buku lagi dan lebih banyak terlibat mencari pengetahuan-pengetahuan baru lewat audio visual. Mungkin tidak seluruhnya benar bahwa dunia padang dengar itu semata hanya hiburan, sebab di dalamnya juga ada konten ilmu dan pengetahuan. Bukankah di internet juga ada apa yang disebut e-book?

Jadi jangan salah kaprah bahwa dalam media pandang dengar masalah perbukuan akan jadi masa lalu. Tidak. Justru makin berkembang. Bedanya, buku yang tadinya kertas, sekarang menjadi paperless alias tidak menggunakan kertas melainkan layar-layar LCD di laptop, PC, tablet-PC, Ponsel dan sebagainya.

Tapi apakah dengan demikian dunia buku akan mengalami kesuraman masa depan? Tidak juga. Seperti telah disebutkan di atas, dunia perbukuan sangat tergantung kepada penulis buku. Jika penulis-penulis buku terus produktif, penerbit dapat memutar mesin cetaknya. Dan kalaupun mesti mengikuti tren dunia pandang dengar, industri buku bisa memodifikasi bisnisnya dari kertas ke e-paper. Toh sama-sama bisa dijual juga.

Maka kembali ke persoalan buku di Tanah Banjar sebagaimana yang dikeluhkan di awal tulisan tadi. Buku-buku berkonten lokal Banjar mesti terus didorong untuk ditulis para penulis, pendidik, akademisi, budayawan, sastrawan, peneliti dan kaum intelektual. Jika ini sudah menjadi massal, maka serta merta urusan pengenalan daerah, promosi wisata dan sejenisnya secara otomatis akan terjadi begitu saja. Buku-buku berkonten lokal yang dicetak secara massal (dan kalau bisa, di level nasional) akan membuka kesempatan dan referensi bagi orang lain di luar Banjar untuk mengetahui hal-hal istimewa di Tanah Banjar.

Merangsang agar masyarakat menerbitkan dan menulis buku memang (semestinya) dilakukan oleh Pemerintah Daerah, pengusaha maupun donatur yang peduli dengan Tanah banjar . Siapa saja yang menulis buku bisa mengajukan bantuan ke Pemda/ Pemprov. Dalam APBD yang dititipkan di Biro Binsos disediakan dana motivasi bagi tiap penulis buku. Meskipun tidak besar tetapi itu adalah bentuk rangsangan yang baik bagi terbitnya buku-buku bernuansa lokal Banjar.

Kita tidak tahu apakah ‘dana perangsang’ seperti itu masih ada disediakan di Pemprov atau tidak? Mudah-mudahan tidak tercoret karena dananya diperlukan untuk program lain yang tidak jelas juntrungannya.

Semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: