Archive for September, 2008

Semangat Idul Fitri Semangat Pembebasan

Idul Fitri segera datang. Seperti tahun-tahun sebelumnya kita sambut dan meriahkan hari itu dengan penuh kegembiraan, bahkan dalam beberapa kasus kita rayakan hari itu dengan pesta penuh nafsu. Agar Idul Fitri tidak sekedar menjadi rutinitas yang menjebak, maka kita perlu melakukan perenungan-perenungan mendalam untuk mendapatkan makna, semangat, atau ruh asasi Idul Fitri.

Semangat Pembebasan

Ketika masuk pada Idul Fitri, kita diperintahkan untuk mengagung-besarkan Allah. Kita penuhi langit dengan gemuruh takbir. Kalimat-kalimat tayyibah yang berisi puji-pujian untuk Al­lah kita lantunkan. Dalam puji-pujian itu kita kembali mengikrarkan akan keagungan, ketinggian, kesucian, kebesaran, kekuasaan, dan keesaan Allah. Puji-pujian itu sekaligus menjadi cerminan pengakuan akan kekerdlilan, kerendahan, dan kelemahan kita.

Dengan tuntunan melantunkan kalimat-kalimat tayyibah tersebut, Idul Fitri menyadarkan kita untuk kembali ingat kepada Allah. “Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah pun melupakan mereka (pada diri mereka sendiri)” (At-Taubah/9:67). Dengan mengingat Allah, kita menjadi ingat terhadap diri kita sendiri.

Read the rest of this entry »

Comments (5)

Mudik dan Perjalanan Menuju Kematian

Hari Raya Idul Fitri telah menjadi suatu momen mudik nasional bagi sebagian besar masyarakat muslim di Indonesia. Cukup unik memang, karena hal itu tidak terjadi di negara-negara mana pun di dunia, bahkan di negara-negara yang berlabel Islam sekalipun. Bagi mereka yang biasa melaksanakan mudik, rasanya akan ada sesuatu yang hilang atau mengganjal dalam hati dan perasaan apabila tidak melakukan mudik di hari Lebaran.

Mudik, sebagai sebuah tradisi sosial yang beririsan dengan momen ritual keagamaan, ternyata juga menjadi suatu hal yang melibatkan aspek-aspek multidimensional kehidupan kemasyarakatan dan bahkan pemerintahan. Lihat saja, bagaimana pemerintah sibuk dan seriusnya mengurusi masalah transportasi ketika momen ‘hajatan’ nasional itu tiba. Belum lagi, aparat keamanan yang juga turut terlibat dan bertanggung jawab di dalamnya. Para pedagang dan masyarakat umum di sepanjang jalur mudik juga tak kalah ikut berpartisipasi dalam prosesi budaya yang berlangsung secara massal dan alami ini.

Read the rest of this entry »

Comments (6)

Banjarmasin, Yang Bungas Yang Bergegas

Peringatan Hari Jadi Kota Banjarmasin ke-482 tanggal 24 September 2008 menerbitkan kesadaran baru dalam diri saya: Kota Banjarmasin hari-hari ini, seakan membawa warganya masuk dalam lorong waktu yang tersublimasi pada keredupan cahaya aura kota yang asri, indah dan bersahaja. Kota ini seperti kota yang bergegas entah mau pergi ke mana. Bahkan cenderung tergesa-gesa. Di manakah makna sesungguhnya dari Banjarmasin Bungas?

Banjarmasin Bungas, begitulah jika urang Banjar membanggakan kotanya. Bungas artinya cantik. Kota yang keindahannya selalu disamakan dengan kejelitaan seorang gadis. Namun, makin hari sisa-sisa “kebungasan” ini sulit ditemukan meskipun kota terus-menerus berkoar tengah menata diri. Apa yang membuatnya begitu sulit berdandan?

Rasanya slogan “Banjarmasin Bungas” sudah tinggal tulisan di papan-papan besar di pinggir jalan. Ia tidak lagi memiliki makna sebagai slogan yang merefleksikan realitas sesungguhnya. Slogan Banjarmasin Bungas itu, hanya menjadi sekedar kata-kata, sekedar slogan, sekedar tulisan, tanpa makna yang sesungguhnya.

Read the rest of this entry »

Comments (6)

Banjarmasin “Kota Seribu Ruko”?

Banjarmasin agaknya sudah berubah julukan. Bukan lagi “Kota Seribu Sungai”, tetapi sudah menjadi “Kota Seribu Ruko”. Ruko adalah istilah yang muncul 10 tahun belakangan ini, singkatan dari rumah dan toko. Istilah ini muncul di kota besar seperti Jakarta yang menghadapi masalah pelik di bidang transportasi, sehingga pemilik toko tak bisa bolak-balik pulang ke rumahnya setelah menutup toko. Ia langsung saja berdiam di sana.

Model ruko ini kemudian berkembang ke kota-kota lain yang sebenarnya tidak memiliki masalah transportasi. Ruko jadi model pemukiman baru para pedagang kelas menengah ke bawah. Tutup toko langsung naik ke lantai atas, di sana sudah ada tempat tidur, kamar mandi, ruang makan, layaknya sebuah rumah. Banjarmasin menjadi Kota Seribu Ruko, bukan diakibatkan oleh masalah transportasi, tetapi lahan yang minim. Pemerintah kalah mengantisipasi masalah pemukiman ini dan pembangunan ruko tak bisa direm. Sejumlah ruko terus dibangun.

Ruko di Banjarmasin pun menjadi Ruko Plus. Plusnya adalah bangunan ruko merangkap kantor. Banyak yang dibuat dengan ukuran minimal. Pemandangan menjadi unik, sebuah ruko yang langsung tingkat tiga, misalnya, dari atas ke bawah begitu kontras. Paling atas ada balkon yang indah berukir, di lantai tengah muncul jendela-jendela kaca, kadang terselip ruang jemuran, di bagian bawah semrawut dengan material dari pasir sampai kayu yang berseliweran. Maklum, pemiliknya menjual alat-alat bangunan.

Read the rest of this entry »

Comments (5)

Al-Qur’an Sumber Peradaban (Catatan Nuzulul Qur’an 1429 H)

Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan Allah untuk memberikan petunjuk kepada manusia. Oleh karena itu, apa saja yang dibicarakan oleh Al-Qur’an tidak pernah terlepas dari kepentingan manusia itu sendiri. Jika pernyataan ini dapat disahuti, maka akan muncul suatu keyakinan, bahwa isyarat dari ayat-ayat Al-Qur’an untuk membimbing manusia berperadaban modern. Hal ini terbukti ketika terdapat sebagian ayat-ayat yang membicarakan kehidupan masa depan.

Contoh informasi Al-Qur’an ini ialah pernyataan tentang utuhnya jenazah Fir’aun. Kemudian pernyataan fenomena langit dengan segala benda-benda angkasa seperti matahari yang beredar pada porosnya, sinar bulan yang merupakan pantulan dari matahari dan lain-lain, bumi ini bulat dan gunung-gunung berlari kencang seperti awan. Pembuktian ini harus dilakukan oleh generasi ke depan tidak oleh orang-orang yang dahulu.

Ada hal yang membuat kita seharusnya salut kepada orang-orang yang terdahulu dalam memahami isi kandungan Al-Qur’an. Mereka tetap saja berupaya untuk memahami ayat Al-Qur’an yang kemudian dijewantahkan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Mengingat bahwa terbatasnya fasilitas yang mereka miliki, maka ayat-ayat yang berkaitan dengan kehidupan pada masa itu yang mereka geluti, namun yang patut ditiru adalah semangat mereka untuk mendalami pesan Al-Qur’an. Pada awalnya, para sahabat memahami pesan Al-Qur’an hanya melalui kekuatan imani karena keterbatasan ilmu khususnya ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan persoalan teknologi.

Read the rest of this entry »

Comments (1)

Ketika Allah Menggugat

Dalam sejarah, begitu mudah kita temukan sosok-sosok “pemfitnah Allah”, sebut saja umpamanya Fir’aun, Haman, Qorun, Karl Marx, Nietzsche dan yang lainnya. Namun, mereka adalah indikasi orang yang “protes” kepada Allah tanpa ilmu, tanpa petujuk, tanpa kitab (suci) yang menerangi (Qs. Al-Hajj [22]: 30).

Fir’aun, sebagaimana yang direkam oleh Al-Quran menyatakan:“Wahai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya)?” (Qs. Az-Zukhruf [43]: 51).

Ketika Allah memberikan tawaran kepadanya (lewat rasul-Nya Musa) untuk membersihkan dirinya dari kesesatan dan diseru kepada jalan Tuhan: agar ia takut kepada-Nya. Bahkan, Musa memberikan mukjizat yang besar kepadanya. Ia malah mendustakannya dan mengumpulkan “hamba-hamba” paksaaannya dan berkata: “Wa ana rabbukum al-a’laa” (Akulah tuhanmu yang paling tinggi”) (Qs. An-Naazi`aat [79]: 18-24).

Sosok Haman, adalah seorang teknokrat Fir’aun yang tidak tahu kebesaran Tuhannya. Ia dibodohi oleh Fir’aun untuk membuat tangga-tangga ke atas langit: untuk melihat Tuhan Musa. Seharusnya ia lebih tahu akan kemampuannya: tidak bisa melakukan itu. Bukankah Fir’aun, sebagai “tuhannya”, juga tidak bisa membuatnya? Tapi memang maksud mereka (hanya) ingin “memfitnah Allah”, jadi segala hal seolah-olah mungkin untuk dikerjakan.

Read the rest of this entry »

Comments (7)

Anak-anak Yang Memakmurkan Mesjid

SEBUAH hal yang “mehimungi” di minggu-minggu pertama Ramadhan adalah soal ramainya masjid-masjid. Tradisi shalat tarawih berjamaah yang digelar selalu dihadiri kaum muslimin dari berbagai lapisan. Yang miskin, yang biasa dan yang kaya; yang tua, pemuda dan anak belia. Semua hadir.

Meramaikan masjid tentu saja bernilai utama, karena pahala shalat berjamaah selalu berlipat ganda. Mereka yang memakmurkan masjid adalah orang-orang yang beriman dan mendapat petunjuk (QS 9:18). Praktek keseharian umat menunjukkan bahwa ternyata tidak mudah untuk terus memelihara ramainya jamaah di surau dan masjid. Saat-saat Ramadhan biasanya merupakan pengecualian.

Dalam bulan seperti inilah sering terasa bahwa masjid yang sudah demikian besar pun masih saja kekecilan, karena jamaah yang datang sering melimpah ruah. Terasa betul syiar Islam itu. Orang berjejal-jejal dalam shaf, sampai ke pojok-pojok. Ruang-ruang tambahan sering diadakan, entah di balkon, di sayap masjid, di lantai dasar atau lantai atas, kalau perlu di halaman luar, pokoknya di setiap ruang yang mungkin.

Read the rest of this entry »

Comments (2)

Older Posts »