Anak Muda Banjar, Bangkitlah! (Karena Kau adalah Aset Banua)

“Berikan kepadaku 1000 orang tua, aku sanggup mencabut Semeru dari uratnya. Tapi berikan kepadaku 10 anak muda, maka aku sanggup menggoncangkan dunia” (Soekarno)

Berkobar-kobar semangat Bung Karno meneriakkan kalimat tersebut kepada para anak muda agar terus bangkit dan berkarya membangun bangsa Indonesia. Mengapa beliau memilih anak muda? Karena anak muda merupakan poros bagi punah atau tidaknya sebuah negara.

Anak muda adalah pelurus dan pewaris bangsa. Baik buruk nasib bangsa di masa depan tergantung kepada bagaimana generasi mudanya, apakah mereka memiliki kredibilitas yang tinggi, berjiwa kepemimpinan, memiliki semangat nasionalisme, menguasai pengetahuan dan mampu berfikir positif untuk berkreasi yang besar bagi kemajuan bangsanya. Atau malah sebaliknya?

Anak muda adalah “agent of change”, para anak mudalah yang melakukan perubahan. Sehingga “anak muda” dan “perubahan” adalah dua kata yang sarat akan makna. Percaya atau tidak, sebuah peradaban hanya bisa bangkit bila para anak muda terlibat di dalamnya. Apa buktinya ? Pada masa Rasulullah SAW menyebarkan Islam dan sebagian besar sahabat Nabi yang berperan adalah anak-anak muda. Kejayaan Islam dilakukan oleh anak muda. Seperti Usamah bin Zaid, ketika berusia 18 tahun telah menjadi komandan pasukan saat menaklukkan negeri Syam.

Karena pentingnya peran Anak muda Rasulullah bersabda, yang artinya, “Gunakanlah lima kesempatan sebelum datangnya yang lima. Yaitu, masa mudamu sebelum tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa hidupmu sebelum kematianmu, dan waktu luangmu sebelum waktu sempitmu” (HR. Hakim). Itulah luar biasanya menjadi seorang anak muda.

Di Indonesia perubahan yang menghebohkan dan menjadi tonggak sejarah reformasi pada tahun 1998, sewaktu krisis ekonomi para anak muda lah yang berani tampil, maju menyuarakan aspirasi untuk melakukan sebuah perubahan bagi negara ini. Peran Anak muda jualah yang membuat aksi-aksi di jalan apabila ada penyelewengan dan penyalahgunaan kekuasaan.

Dalam konteks banua, peran anak-anak muda juga tak bisa dilepaskan begitu saja. Tokoh muda Hasanuddin HM, mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin, merupakan Pahlawan Ampera di banua yang gugur pertama kali, 10 Februari 1966, sebelum gugurnya Pahlawan Ampera, Arief Rahman Hakim, mahasiswa UI di Jakarta dalam aksi demonstrasi menuntut pembubarkan PKI bersama antek-anteknya. Untuk mengenang almarhum, pemerintah daerah mengabadikan nama Hasanuddin HM, antara lain pada nama jalan, gelanggang olahraga, serta sebuah masjid di ibukota Kalsel.

Jauh sebelumnya, seorang tokoh muda bernama Sjamsudin Noor telah menorehkan tinta emas perjuangan anak banua. Seorang anak  desa  yang lahir di Alabio, Hulu Sungai Utara, Kalsel. Dedikasi dan loyalitasnya sebagai penerbang, membuat TNI Angkatan Udara memanggilnya untuk memperkuat barisan penerbang pesawat tempur. Sjamsudin Noor gugur ketika menjalankan tugas negara. Pesawat yang dikemudikannya jatuh setelah menabrak tebing Gunung Galunggung, Jawa Barat. Sjamsudin Noor wafat di usia muda. Di usia yang baru 26 tahun, anak banua ini dianugerahi gelar Pelopor Indonesia Airways. Guna mengenang jasa perjuangannya, nama Sjamsudin Noor disematkan sebagai nama bandar udara di Kalimantan Selatan.

Dan sederet nama orang-orang muda banua yang turut menghias lembar sejarah perjuangan bangsa, dari dahulu sampai sekarang, baik yang sudah dikenal maupun yang “terlupa” –atau dilupakan dari kacamata sejarah.

Luar biasa dahsyatnya kekuatan anak muda. Karena anak muda adalah sosok yang memiliki potensi kekuatan maksimal. Anak muda diibaratkan sinar mentari yang cahayanya paling terang saat siang hari. Karena kekuatannya-lah para anak muda mampu mendobrak segala “kebekuan” dan kebatilan yang melanda di tengah masyarakat.

Tapi, apa yang terjadi dengan anak muda, khususnya di Tanah Banjar saat ini? Perjuangan generasi muda dahulu seakan sering tereliminasi dari ingatan dan tidak ditindak-lanjuti oleh anak-anak muda sekarang. Tidakkah para anak muda mampu mengambil alih tongkat estafet kepemimpinan?

Di mana letak kelemahannya? Anak muda sekarang ini sering mengharap kepada yang tua, karena pada umumnya sering berpikir, para petua memiliki pengalaman yang banyak, ilmu yang tinggi dan disegani. Karena pola pikir seperti itulah maka kebanyakan anak muda menjadi pemalas, masa mudanya hanya di peruntukkan malas-malasan, berkumpul di pinggiran jalan tanpa mengenal waktu, tidak sedikit yang trend hidupnya mulai kebarat-baratan, mulai dari gaya pakaian, makanan, bahkan sikap dan pandangan hidup.

Anak muda sekarang lebih semangat memacu diri lewat ‘jalan pintas’: Menjadi penyanyi terkenal, artis, lalu banyak penggemar dan kaya lewat profesi yang serba gemerlap. Cuma segelintir anak muda banua ini yang lebih keras berupaya dalam hal prestasi dengan kegemilangan pengetahuan, penelitian, atau memeras otak dan intelegensinya. Mereka lebih memilih duduk di depan komputer; bermain game dan bergelut dengan Hand Phone (HP), ketimbang melakukan kegiatan sosial. Kebanyakan anak muda justru ternina bobo oleh angan-angan kosong yang ditawarkan sistem kapitalisme, tanpa menyadari bahwa ‘perjuangan’ mereka di jalur serba hedonis, hanya bisa dikategorikan dan menjadi sebuah perjudian atau harapan fatamorgana.

Padahal dalam diri anak muda tersimpan ide-ide yang cemerlang, yang mampu merubah negeri dan banua ini menjadi lebih maju. Anak muda merupakan “aset banua” yang berharga bagi sebuah bangsa. Pepatah Melayu lama berkata, sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang.

Maka dari itu, kita sebagai anak muda harus bisa eksis, mandiri demi harga diri bangsa. Semuanya harus dimulai dari diri kita sendiri, seperti halnya kemerdekaan bangsa, sejak kelahiran Boedi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928 dan proklamasi kemerdekaan yang semuanya digerakkan oleh motor utama para anak muda.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya jilid 3 meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas ra bahwa, “Tidak ada seorang Nabi pun yang di utus Allah SWT, melainkan ia (dipilih) dari kalangan anak muda saja . Begitu pula tidak ada seorang alim pun yang di beri ilmu, melainkan ia (hanya)dari kalangan muda saja.” Ini membuktikan bahwa anak muda mampu memimpin suatu bangsa dan melakukan perubahan yang spektakuler. Anak muda yang dapat mencitrakan jati diri sebuah bangsa. Anak muda yang mampu mengajak anak muda lain untuk mencinta budaya dan adat istiadat nya sendiri.

Anak muda yang berkemauan keras agar tujuan yang di inginkan bisa tercapai tidak sekedar mimpi. Tentunya diperlukan anak-anak muda yang tangguh, bukan para anak muda yang cengeng. Maka, ‘cita-cita ideal Bung Karno’ anak muda tangguh Indonesia akan benar-benar mampu mengguncang dunia, bukan hanya sekadar orasi.

Wahai anak muda Banjar ! bangkit, bangkit dan bangkitlah. Kita adalah anak muda. Agent of change. Anak muda yang memiliki semangat perjuangan dan pengorbanan yang tinggi. Anak muda yang mampu menampung segala perubahan baik dan buruk. Anak muda yang peka dan penuh kepedulian.

Semoga kita dikuatkan untuk terus berada di jalan-Nya dan Semoga kita bisa meneruskan perjuangan para pejuang banua terdahulu. Wallahu a’lam. []

1 Comment »

  1. Pada Era Reformasi dan Konseptual seperti sekarang, terutama pasca krisis ekonomi, kita dituntut untuk memutar otak buat memenuhi kebutuhanya. bagaimana caranya? ya dengan membuka usaha. kebanyakan orang membuka usaha sangatlah sulit karena banyak modal yg harus keluar. Bagi anda yang ingin memulai bisnis tanpa modal segeralah bergabung bersama kami. dan kita senyumkan Indonesia

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: