Beribu Cara Mencintai Banua

love banjar

Setiap kali ditanya seberapa besar kecintaan saya terhadap tanah Banua Banjar, maka jawaban saya: sebesar kecintaan saya kepada kopi yang biasa saya minum. Cara saya mencintai ‘racikan’ kopi itu serupa dengan cara saya mencintai banua, ada pahit dan ada manis di dalamnya.

Mencintai ‘sisi manis’nya banua dalam arti saya sangat bersyukur dilahirkan di daerah yang diberkahi dengan kekayaan alam yang eksotik dan berlimpah, serta memiliki budaya khas yang begitu membanggakan. Saya pun mencintai sisi pahitnya, di mana tak bisa dipungkiri bahwa beragam persoalan masih terus menjadi tantangan bagi usaha memajukan banua di masa mendatang. Kesenjangan sosial, pemerataan pendidikan, kemacetan lalu lintas, angka kriminalitas, degradasi nilai dan macam-macam lainnya.

Tapi bukankah hidup memang tak bisa lepas dari masalah? Jalanan tidak selalu lurus dan datar saja. Sekali waktu harus berkelok, menanjak, dan menurun. Sehingga yang penting adalah bagaimana kita membangun kesiapan diri untuk menghadapi dan mengatasinya. Maka bagi saya mencintai ‘sisi pahit’ banua itu juga penting, dalam arti untuk menjadi pengingat diri dalam membangun kepedulian sosial, melatih kepekaan hati dan membakar semangat untuk berani berbuat hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi tanah banua tercinta.

Perwujudan cinta setiap kita tentu berbeda-beda, tergantung status dan kedudukan masing-masing. Salah satu contoh, bagi seorang mahasiswa misalnya, demonstrasi merupakan salah satu cara untuk menyampaikan aspirasi namun bukanlah satu-satunya cara untuk menunjukkan kecintaan diri terhadap banua. Masih banyak hal konkret lain yang bisa dilakukan seperti bangga menggunakan Bahasa Banjar, melestarikan kebudayaan daerah urang Banjar, serta melakukan tindakan-tindakan kecil lainnya. Tindakan-tindakan kecil tersebut memang bukan sesuatu hal yang besar, namun jika dilakukan secara konsisten tentu memberikan kontribusi yang nyata.

Bangga Berbahasa Banjar

Upaya-upaya pelestarian dan penghargaan terhadap bahasa Banjar tidak dapat dipisahkan dari kondisi pemilik dan pengguna utamanya, yaitu masyarakat banua Banjar sendiri. Hal pertama yang perlu disadari adalah bagaimana kita dapat menghargai bahasa Banjar tersebut. Menghargai erat kaitannya dengan adanya penghormatan, pengakuan, rasa memiliki, dan akhirnya menuju pada usaha-usaha untuk mau menjaga.

Lalu apa manfaat dari pengangkatan dan pelestarian bahasa (daerah) Banjar, bukankah sudah ada bahasa ‘satu untuk semua’ (bahasa Indonesia)?

Di satu sisi menggunakan bahasa persatuan (bahasa Indonesia) memang suatu keharusan, tapi di sisi lain ada warisan tanah leluhur yang tidak boleh ditinggalkan, karena itulah yang menjadikan bentangan banua dan budaya ini disebut sebagai TANAH BANJAR, dan karena itu pula urang Banjar diakui sebagai sebuah entitas suku bangsa yang mempunyai jati diri. Bahasa Banjar tetap perlu dilestarikan dan diangkat agar Tanah Banjar tidak kehilangan ‘roh’ sebagai daerah yang mempunyai local wisdom tinggi.

Media massa banua, baik cetak maupun elektronik (sebagai lembaga transfer ilmu/ kebudayaan) berperan besar untuk selalu memuat/ menyiarkan/ menayangkan program/ acara berbahasa Banjar.  Sasarannya, memotivasi semangat kebanggaan di lapisan dasar pengguna bahasa/ sastra Banjar, yaitu keluarga dan masyarakat.  Media massa banua harus memberi ‘ruang’ rutin kepada para seniman, sastrawan dan figur yang menjadi ikon banua untuk berkarya melalui puisi, cerpen dan tulisan-tulisan guna memacu pertumbuhan bahasa dan sastra di Tanah Banjar.

Upaya-upaya itu akan menjadikan bahasa Banjar bukan sebatas wacana primordial, romantisme sejarah atau pemanis orasi dalam jargon-jargon politik (ingat jargon “asli urang banua”). Sebaliknya, justru idiom-idiom bahasa Banjar ditempatkan sebagai wahana edukasi terhadap sebuah aktivitas sosial atau masalah yang sedang aktual. Idiom-idiom lokal seperti “haram manyarah”,waja sampai kaputing,” “dalas hangit” misalnya, pernah digunakan oleh para pejuang di banua sebagai latar narasi dalam perjuangan mengusir kaum penjajah. Idiom “kayuh baimbai” bisa menjadi inspirasi bagi warga untuk membangun banua secara bersama-sama.

Persoalannya kemudian, kembali kepada sejauh manakah kebijakan-kebijakan pemerintah daerah untuk memberi perhatian besar terhadap pelestarian bahasa Banjar. Dunia pendidikan formal harus menjadi basis kuat untuk itu. Tentu saja dukungan keluarga masing-masing peserta didik itu telah diisi oleh kesadaran kolektif  terhadap pentingnya pelestarian bahasa Banjar. Jangan sampai bahasa Banjar hanya menjadi milik para peneliti dan pemerhati dari luar negeri.

Sekali lagi, pelestarian bahasa Banjar memang sangat perlu. Namun, yang lebih penting lagi adalah muatan nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskannya. Nilai-nilai inilah yang patut menjadi ajaran moral bagi pembentukan jati diri individu untuk menjadi karakter lokal yang membumi Indonesia.

Pelestarian Budaya Banjar

Tanah Banjar memiliki aneka ragam adat serta budaya yang memiliki keunikan, mulai dari pakaian, bentuk rumah, senjata khas, tari daerah, perayaan khas, dan lain sebagainya. Tentunya kebudayaan ini patut untuk dilestarikan dengan didokumentasikan, dipelajari, dan dikuasai oleh setiap generasi Banjar.

Kecintaan diri terhadap Banua dapat dilakukan dengan mendokumentasikan sebuah perayaan khas, misalnya momen pernikahan dengan adat Banjar. Dokumentasi pelaksanaan momen pernikahan tersebut dapat dijabarkan melalui berbagai media seperti tulisan, foto, maupun video. Dokumentasi tersebut dapat disebarluaskan kepada orang banyak agar masyarakat non-Banjar juga mengetahui tata cara pelaksanaan pernikahan dengan adat Banjar.

Selain itu, kecintaan terhadap Banua juga dapat dilakukan dengan mempelajari tarian daerah Banjar. Setiap tahun diselenggarakan kegiatan (even, festival) dengan menggelar tari khas Banjar sebagai pembuka acara atau di sela-sela acara. Dengan adanya hal tersebut, eksistensi tarian daerah banua dapat terus dipertahankan dan disebarluaskan kepada khalayak umum.

Kita juga dapat berkontribusi dalam pelestarian budaya Banua dengan beberapa hal. Di antaranya yakni melalui tulisan, baik melalui buku, media massa atau website/ blog pribadi. Buku-buku berkonten lokal Banjar mesti terus didorong untuk ditulis para penulis, pendidik, akademisi, budayawan, sastrawan, peneliti dan kaum intelektual.

Jika ini sudah menjadi massal, maka serta merta urusan pengenalan daerah, promosi wisata dan sejenisnya secara otomatis akan terjadi begitu saja. Buku-buku berkonten lokal yang dicetak secara massal (dan kalau bisa, di level nasional) akan membuka kesempatan dan referensi bagi orang lain di luar Banjar untuk mengetahui hal-hal istimewa di Tanah Banjar.

Selain itu juga bisa membangun usaha dengan produk utama berupa kain khas banua, sasirangan. Produk tersebut dimodifikasi sedemikian rupa namun tidak meninggalkan nilai aslinya. Inovasi produk ini dilakukan agar sasirangan dapat lebih familiar di mata dunia dan dikenal sebagai kain khas Banua Banjar.

Tindakan Kecil, Kontribusi Nyata

Jika dirasa hal-hal di atas masih sulit dilakukan karena kemampuan yang kurang memadai, masih banyak hal lainnya yang bisa dilakukan. Tak harus sesuatu yang besar, cukup tindakan kecil yang positif dan dilakukan secara konsisten. Niscaya akan memberikan kontribusi nyata bagi Banua.

Misalnya saja meletakkan sampah pada tempatnya. Terlihat remeh, namun dapat dibayangkan akibatnya jika sampah dibuang sembarangan. Lingkungan menjadi kumuh bahkan bisa mengakibatkan musibah banjir yang merugikan masyarakat setempat.

Contoh lainnya yakni menaati peraturan lalu lintas. Terlihat remeh, namun dapat dibayangkan akibatnya jika banyak orang yang melanggarnya. Lalu lintas menjadi kacau dan banyak korban akibat terjadinya kecelakaan.

Akibatnya juga bisa berdampak terhadap kondisi pariwisata Banua. Jika lingkungan kumuh, sering terjadi macet dan kecelakaan, maka minat wisatawan baik domestik maupun mancanegara bisa berkurang. Pendapatan (devisa daerah) maupun penghasilan masyarakat setempat pun menurun.

Yang paling sulit dihindari yakni mengeluh. Banyak sekali orang yang hanya bisa mengeluh atas kinerja pemerintah daerah. Sayangnya keluhan tersebut hanya berisi keluhan, tidak disertai dengan solusi atau tindakan nyata membantu kinerja pemerintah daerah.

Perwujudan cinta terhadap Banua mengalami perubahan dari masa ke masa. Bentuk pewujudan cinta tersebut pun saat ini bermacam-macam tergantung profil dan status yang disandang. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mewujudkan kecintaan diri terhadap Banua, mulai dari hal-hal besar seperti mengabdi sebagai pemimpin daerah, hingga hal-hal kecil seperti meletakkan sampah pada tempatnya.

Apapun bentuk perwujudan cinta tersebut, asalkan bernilai positif, tentu diharapkan dapat memberikan kontribusi yang nyata baik secara langsung maupun tak langsung terhadap Banua. Semua hal itu dilakukan dengan tujuan yang sama yakni membantu Banua, Tanah Banjar tercinta mencapai taraf kehidupan yang lebih baik.

Lalu bagaimana caramu mencintai Banua ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: