Ini “Republik Selebritis”, Bung!

Embrio “Indonesia baru” pasca tumbangnya orde baru tumbuh demikian pesat dan cepatnya, kalau tidak bisa disebut terlahir secara prematur. Embrio ini lahir bukan karena kedewasaan dan kematangan berpikir rakyat banyak, melainkan karena kekecewaan pada rezim terdahulu yang terkesan menghasilkan dua corak kaum pada waktu yang bersamaan: otoriter, superpower dan eksklusif disatu pihak,(di)lumpuh(kan), (di)pecundang(i), dan inklusif yang termarjinalkan di pihak lain yang ternyata mayoritas audiens negeri ini.

Kalau pun ingin disebut bahwa aksi tumbangnya orde baru sebagai manifestasi kedewasaan dan kematangan berpikir rakyat, fakta di lapangan menunjukkan bahwa motor perubahan masih dari kampus, yang notabene minoritas intelektual dari dua ratusan juta jiwa rakyat awam di negeri ini.

Sehingga, tidak mengherankan jika reformasi hanya jadi “momennya para elit untuk berpesta”. Rakyat hanya diposisikan sebagai “pemberi legitimasi” kepada mereka, sebagaimana amanat demokrasi. Dengan kata lain, rakyat hanya “dibutuhkan” untuk hadir di Tempat Pemungutan Suara (TPS) guna mencoblos si A dan atau partai B di setiap Pemilu dan Pilkada. Kebodohan rakyat “sangat diperlukan” oleh para elit politik untuk menunjang eksistensi mereka.

Jadi, berharap anggaran pendidikan mendapat proporsi yang semestinya hanyalah khayalan utopis di alam demokrasi-sekuler ini berkuasa. Satu bentuk penyesatan opini yang akhir-akhir ini mengemuka, massif dan semakin terpola adalah pemunculan “ahli bersandiwara” alias selebriti ke panggung politik, setelah sebelumnya aktif di panggung hiburan.

Adalah kaum artis dan selebritis yang akhir-akhir ini mendapat tempat terhormat , diperhitungkan dan diutamakan di tubuh partai-partai politik pragmatis. Rakyat “dibodohi” dan “ditipu” oleh figur yang akrab dengan mereka melalui layar kaca. Ahli-ahli acting yang terlihat “jago” dan “berkharisma” di layar kaca sengaja ditampilkan untuk merebut hati rakyat awam yang masih bodoh dan memang sengaja dipelihara nilai-nilai kebodohannya lewat fragmen politik pragmatis. Para “jagoan” panggung inikah nanti yang akan ditempatkan sebagai actor di pentas sandiwara politik? Apakah kehadiran mereka di pentas politik bisa dicerna akal sehat selain kesimpulan pragmatis belaka?

“Ada gula akan ada semut”, demikian ungkapan lama yang telah akrab kita dengar. Kalau ungkapan tersebut kita kiaskan pada fenomena di atas, maka bisalah kita sebut, “Ada selebritis akan ada sirkus media”. Para sirkus media akan berkerumun ke arah selebritis, layaknya semut mengerubuti gula. Dalam hitung-hitungan politik pragmatis, ini tentu saja salah satu “uslub” yang jitu untuk mendapat kampanye gratisan di satu sisi dan “kemenangan” strategi di sisi lain. Nama-nama seperti Sopan Sopian-Widyawati ,Rhoma Irama si raja dangdut, Marissa Haq yang cantik, Rano Karno si Doel Anak Sekolahan, si Oneng Bajaj Bajuri, si Poltak raja minyak dari Medan, Airin Rachmi Diani yang anggun mempesona, Dede Yusuf si jago silat, dan menyusul sederet selebritis di panggung politik pragmatis lainnya yang sudah sangat akrab kita saksikan di panggung sandiwara sinetron, catwalk, infotainment, dan belakangan di panggung panas politik pragmatis.

Kita jadi bertanya-tanya, masih adakah di kepala para politisi negeri ini sedikit komitmen ideologis yang tersisa selain akal-akalan meraih kekuasaan dengan cara-cara pragmatis seperti itu? Mau digiring kemanakah gerangan bangsa ini? Apakah dunia politik kita sudah demikian kronis dan kritisnya sehingga harus mengorbankan nilai-nilai idealisme untuk meraih tahta kekuasaan? Atau, apakah rakyat kita memang masih selalu diposisikan sebagai sekumpulan manusia-manusia bodoh belaka sehingga para elit–tak peduli apa partainya:nasionalis, islamis, liberalis, ataupun sosialis–seolah memiliki pandangan dan kesimpulan yang sama secara berjama’ah tentang hipotesis “popularitas” mengungguli “kualitas”, atau “kulit” mengungguli “isi”?

Kemana nilai-nilai agama, filsafat, atau pun budaya yang mereka dengung-dengungkan selama ini? Kalau demikian halnya, sampai kapan rakyat akan “dibiarkan” tetap bodoh tenggelam dalam pembodohan politik ini? Tidak ada lagikah cara bertindak dan logika berpikir yang lebih jernih dan manusiawi untuk mengangkat taraf berpikir masyarakat ke arah “pencerahan” dalam pembelajaran politik yang bersih di negeri ini? Atau, masih adakah politik yang bersih di negeri ini di luar logika kalah-menang, untung-rugi, dan maslahat-tidak maslahat?

Agaknya, ke depan, perlu dibuatkan semacam kaderisasi selebritis cilik calon politisi pragmatis masa depan untuk menampung nama-nama muda dan segar seperti Gita Gutawa, Alissa Soebandono, Marshanda, Shandy Aulia, Cinta Laura dan yang lainnya, sehingga kelompok-kelompok pragmatis tersebut tidak kehabisan stok “ngetop” di masa mendatang. Grup-grup musik yang mapan dan berpengaruh semacam Dewa 19, Nidji, Padi, Radja, Ungu dan Samson juga, kalau bisa, “perlu” ditarik masuk ke pentas politik pragmatis.

Atau, pada pemilu 2009 nanti, kaum selebritis sudah bisa membuat partai sendiri dengan nama, misalnnya, Partai Dedikasi Idola Pemirsa, Partai Golongan Kaum Artis Respect, Partai Kaum Selebritis, Partai Persatuan Pedangdut, Partai Bintang Beken, Partai Demi Artis, Partai Indonesian Idol, Partai Inul Mania, dan lain-lain. Nanti, kalau partai-partai selebritis ini menang di Pemilu atau Pilkada, kita akan menyaksikan kabinet yang diberi nama Kabinet Artis Bersatu. Dengan begitu, Indonesia benar-benar akan menjadi Negara selebritis pertama dan terbesar di dunia! Suatu pencapaian fenomenal yang tentunya layak dicatatkan dalam The Guinness Book of Record!

Bangsa ini, bisa disebut, adalah prototype sempurna bangsa selebritis. Di seantero dunia, tidak diragukan lagi, Nusantara sudah “ngetop” untuk urusan-urusan yang “nyeleneh”. Ambil contoh kasus korupsi, kolusi, nepotisme, pornografi, pornoaksi, kerawanan pangan dan sembako, kerawanan alat transportasi, illegal logging yang berujung pada kerusakan hutan dan lingkungan hidup, surganya aliran sesat, sparatisme di barat dan di timur, sungguh pencapaian “prestasi” yang telah bangsa ini bukukan.

Ada juga “prestasi” global lainnya, semisal pencapaian di bidang demokrasi yang meraih predikat sangat mengagumkan, sebutan sebagai bangsa pluralistic yang damai, zamrud khatulistiwa yang kaya akan sumber daya alam, dan lain-lain sebutan yang hanya menambah miris di hati dan kerut di kening kita ketika mendengarnya. Sirkus-sirkus media luar negeri sangat gemar mengeksploitasi berita yang menyangkut peristiwa-peristiwa actual di Nusantara ini. Nusantara memang telah menjadi selebritis dunia.

Kekuasaan itu ibarat gula, dan kaum pragmatis memposisikan dirinya sebagai semut-semut nakal yang berebut untuk mencicipi manisnya. Mengutip kata-kata Zaim Saidi, penulis buku Ilusi Demokrasi,” Biarkanlah mereka, kita tempuh jalan kita”. Sementara kaum pragmatis memilih jalannya, kaum ideologis pun memilih jalannya sendiri. Kita pun berjalan-jalan menyusuri rute masing-masing.

6 Comments »

  1. trijokobs said

    semoga saja yg populer juga termasuk berkualitas dan bernurani untuk merubah bangsa ini ke arah lebih baik.. Amin.

    Salam kenal.

  2. realylife said

    bangsa ini akan maju , jika masing2 mau bersatu dan bergerak dengan kebisaan masing2 dan menganggap perbedaan sebagai pemersatu bukan jurang pemisah yang dalam

  3. SQ said

    Udah dengar kasus tentang rumah Soekarno yang bersejarah itu juga bung Taufik? … rasanya makin tragis aja nasib bangsa ini.

    Menurut saya, yang paling bagus ialah melakukan regenerasi yang sehat dan pendidikan memegang peran dominan dalam hal demikian.

    Tapi apakah hal ini disadari?🙂 nggak tahu ya… tanya kenapa?

  4. Anton said

    Salam Buat anda. Mana Halaman buat contact?

  5. ayies said

    ok lah

  6. sebelumnya salam kenal dulu bos.maaf baru sekarang kunjungan kerjanya.he…he.masalah penilaian bangsa indonesia sebagai bangsa yg agung dlm persoalan nyeleneh dpt dimaklumi,karna scara mrntalitas baru hal tsb yg dimiliki bangsa ini jd lumayan lah.ada sdikit kemajuan,daripada kosong sama sekali.piye bos

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: