June 26, 2009 at 7:30 am
· Filed under Islami

Sosok ulama waratsatul ‘anbiya satu persatu meninggalkan dunia fana ini, sementara generasi penerusnya (dalam kualitas sama) sulit didapat sekarang, bahkan hampir terbilang langka. Kepergian ulama meninggalkan dunia ini adalah salah satu tanda-tanda akhir zaman. Maka semakin “gelaplah dunia” ini karena ketiadaan ulama yang selama ini sebagai ‘pelita’ dunia.
Empat tahun lalu, Rabu 10 Agustus 2005, bertepatan 5 Rajab 1424 H, seorang ulama besar yang punya kualitas sosok warasatul ‘ambiya (pewaris nabi) telah dipanggil Sang Khaliq, dia Al-Mukarram KH.Muhammad Zaini Abdul Ghani atau yang akrab kita panggil Guru Sekumpul, seorang ulama besar terkenal di Kalimantan.
Martapura berduka pada saat itu, betapa tidak seorang putra terbaiknya yang selama ini menjadi panutan, rujukan bahkan “idola” umat telah berpulang ke rahmatullah, menghadap Ilahi Rabbi. Di tengah krisis dan tanda tanya siapa gerangan “pewaris” Guru Sekumpul, rasa prihatin dan duka tak dapat disembunyikan, bahkan hingga kini.
Demikian juga kira-kira gambaran situasi keresahan umat Islam di Kalsel khususnya di Martapura sekarang ini, dilihat dari kacamata keprihatinan akan semakin langkanya sosok ulama panutan warga banua.
Persoalan mendasar yang mungkin inheren dengan krisis ulama dewasa ini, karena beban dan tugas mereka yang begitu berat dalam mengayomi umat untuk tidak terpecah-belah. Pada dasarnya ulama memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam pembangunan bangsa, hal ini karena ketokohannya di bidang ilmu agama dan merupakan panutan masyarakat.
Read the rest of this entry »
Permalink
June 26, 2009 at 7:19 am
· Filed under Islami

Satu lagi film Indonesia bernafaskan Islam yang baru tayang di layar lebar, berjudul Ketika Cinta Bertasbih (KCB). Film ini mendapat sambutan yang baik dari masyarakat muslim Indonesia, karena sarat akan dakwah Islam. KCB merupakan film yang diangkat dari salah satu novel laris karya Habiburahman El-Shirazy dengan judul yang sama.
Film KCB menceritakan perjuangan seorang pemuda muslim yang sedang kuliah di Kairo, Mesir, dimana ia lebih memilih untuk giat bekerja sampingan sebagai pembuat tempe demi membiayai kehidupan ibu dan adik-adiknya di kampung, serta biaya kuliahnya sendiri, sehingga pendidikannya terlantar. Pemuda tersebut bernama Khairul Azzam, seorang yang alim, cerdas, dan taat beribadah. Selain itu, dikupas pula sisi romantisme Islami dalam film ini.
Pesan moral yang terpenting dalam film KCB adalah dakwah untuk pergaulan pemuda dan pemudi. Selain etos kerja dan kerja keras, diceritakan pula perjuangan Khairul Azzam dalam menemukan jodohnya dengan tetap selalu teguh berpedoman kepada ajaran agama.
Setting film ini benar-benar disesuaikan dengan gambaran yang ada di novel. Penonton benar-benar akan dimanjakan dengan pemandangan kota Kairo, Sungai Nil, Pyramid, Sphinx, kota Alexandria dengan pemandangan laut Mediterania yang indah, Benteng Qait Bay, dan tempat-tempat di Mesir lainnya yang sangat menarik dalam film ini.
Read the rest of this entry »
Permalink
June 15, 2009 at 7:29 pm
· Filed under Islami

Ada sebuah fenomena yang terus menggelitik benak saya. Betapa produktifnya para penyanyi menciptakan syair-syair lagu cinta. Dari yang lembut seperti gayanya Ebiet G.Ade atau Katon Bagaskara, hingga yang kocak dan kadang kelewatan seperti Iwan Fals dan Doel Sumbang. Kalau mendengar lirik-lirik lagu dangdut, bukan main, benar-benar diaduk-aduk emosi cinta itu sedemikian rupa. Dan, sungguh, banyak orang menjadi penggemar dan hanyut dalam lirik-lirik lagu itu.
Saya juga melihat fenomena larisnya film-film tema cinta. Zaman saya remaja, dunia layar lebar dihiasi Gita Cinta dari SMA, Kabut Sutra Ungu, dan judul-judul lain yang saya sudah lupa. Beberapa diantara film itu diangkat dari cerbung-cerbung Eddy D. Iskandar dan di-sound track-i lagu-lagu Chrisye. Televisi pun kebanjiran sinetron-sinetron bertema cinta yang menyibak suasana kejiwaan orang yang kasmaran plus intrik perebutan harta, tahta dan wanita.
Beberapa tahun lalu di antara film yang dianggap menjadi momentum kebangkitan kembali perfilman nasional adalah “Ada Apa dengan Cinta” dan dilanjutkan film lain seperti Eiffel, I’m in Love. Di tambah film yang ngetop saat ini, “Ayat-ayat Cinta” dan “Ketika Cinta Bertasbih”. Sukses film Ayat-Ayat Cinta yang ditonton jutaan orang di Indonesia, membuat penulis novel Habiburrahman El Shirazy optimistis film Ketika Cinta Bertasbih –yang juga ditulis olehnya––akan meraih kesuksesan yang sama,dan bahkan lebih baik.
Ya, saya bertanya-tanya kenapa tema cinta tak pernah ada habis- habisnya ditulis, disusun liriknya dan kemudian dinyanyikan atau difilmkan. Sampai kemudian saya menemukan tulisan-tulisan Anis Matta dalam Thumuhat (Gelora) Cinta pada majalah Tarbawi. Dia cukup sering mengangkat kisah dari tulisan Ibnul Qayyim. Sampai kemudian seorang sahabat saya memperlihatkan “Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu” yang ditulis Ibnul Qayyim.
Read the rest of this entry »
Permalink
June 15, 2009 at 7:27 pm
· Filed under Umum

Genderang kampanye Pilpres 2009 telah ditabuh, masing-masing calon presiden/wakil presiden bersama dengan tim suksesnya masing-masing sibuk mengumbar janji untuk meraih simpati masyarakat. Berbagai model kampanye dilakukan, seperti: memasang spanduk, gambar, ataupun menghadirkan massa untuk mendengar orasi para jurkam (juru kampanye) tingkat daerah bahkan sampai nasional.
Bahkan untuk menarik massa yang besar diundang artis ibukota sebagai bumbu penyedap kampanye atau sengaja diundang ulama atau ustadz kondang. Alhasil, akhir kampanye hanya sebagai show a force (menunjukkan kekuatan massa)yang lebih bersifat hura-hura, rentan memicu konflik horizontal, dan hanya sedikit mengandung makna. Tapi kadang ada juga yang melakukan kampanye simpatik dengan membuka posko pengobatan gratis, mengadakan sunnatan massal, menyantuni anak-anak yatim dan lain sebagainya.
Beragam model kampanye dalam menyongsong Pilpres pasti sudah kita ketahui. Namun, perlu diingatkan kepada para calon bersama Tim Suksesnya dan para simpatisannya untuk senantiasa memperhatikan rambu-rambu (etika) dalam berkampanye. Hal ini perlu ditekankan dalam rangka mewujudkan kampanye damai, kampanye yang sesuai dengan aturan yang benar. Sebab, masa kampanye ini adalah masa yang rentan untuk terjadinya konflik antar pendukung atau simpatisan masing-masing calon.
Pilpres ini dinyatakan berhasil apabila prosesnya berjalan dengan aman, damai dan tentram. Proses yang baik akan menghasilkan presiden dan wakil presiden yang diharapkan mampu membangkitkan Indonesia ke depan menjadi lebih baik.
Read the rest of this entry »
Permalink
June 1, 2009 at 12:58 pm
· Filed under Umum

Mari memimpikan Kota Banjarmasin yang berbeda dibandingkan yang ada saat ini. Kota yang bukan saja berkembang di bidang ekonomi, wisata, industri dan perdagangan, namun juga berkembang sebagai kota sehat (healthy city).
Kota sehat adalah kota yang segenap warganya menjalankan kehidupan keagamaan yang sempurna, kota yang warganya bisa hidup layak, terpenuhi kebutuhan dasarnya: pangan, sandang, papan (pemukiman), pekerjaan, pendidikan, dan kesehatan dasar.
Kota yang pertumbuhan ekonominya mampu menyerap tenaga kerja yang ada, menyediakan ruang publik yang memadai bagi warga banuanya.
Kota yang lalu lintasnya teratur, sarana perhubungan air dan darat tersedia. Angka kriminalitasnya bisa ditekan serendah mungkin. Kota yang listriknya tersedia 24 jam dalam sehari, tidak tergenang air di musim hujan, yang tidak kekurangan air di musim kemarau. Kota yang pemukimannya tidak sehat berganti menjadi pemukiman yang sehat, pemukiman yang higiene dan sanitasinya memadai. Kota yang tidak setiap tahun dilanda wabah penyakit.
Read the rest of this entry »
Permalink
May 27, 2009 at 12:17 pm
· Filed under Umum

Bagi masyarakat Kalimantan Selatan, peringatan hari Proklamasi 17 Mei 1949 Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan mempunyai nilai yang sangat penting untuk mencerahkan kembali rasa kebangsaan dan perjuangan para pahlawan pendahulu bangsa. Apalagi, pada bulan yang sama secara kebangsaan juga diperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang jatuh pada tanggal 20 Mei.
Proklamasi Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan pada 17 Mei 1949 di Desa Mandapai, Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, ternyata merupakan sebuah pernyataan eksistensi Pulau Kalimantan sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Proklamasi 17 Mei 1949 merupakan bagian dari proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, dengan tujuan yang sama mau merdeka, bebas dari penjajahan. Pernyataan Proklamasi 17 Mei 1949 tidak terlepas dari adanya perjanjian Linggar Jati pada 4 Mei 1947 yang menyatakan bahwa Belada secara de facto hanya mengakui NKRI atas Jawa, Madura dan Sumatera, sedangkan Kalimantan ingin dipisah.
Pembentukan ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan oleh Hasan Basry cs di atas keyakinan untuk ikut mengawal dan mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945 yang berada dalam bahaya, serta memastikan Kalimantan tetap menjadi bagian integral NKRI.
Read the rest of this entry »
Permalink
May 27, 2009 at 9:39 am
· Filed under Umum

Saya hanya berandai-andai, bukan sungguh-sungguh ingin menjadi Calon Presiden apalagi menjadi Presiden terpilih di tahun 2009 nanti. Saya tak punya nyali, tak ingin bermimpi apalagi mempersiapkan diri, karena saat ini jangan harap anda akan jadi “kepala negara” kecuali anda punya percaya diri yang tinggi, tampil dengan gagah berani, punya duit bergoni-goni, punya stamina yang tak pernah mati, sibuk beranjang sana anjang sini, dan tebar pesona ke sana ke mari.
Saya juga tak mau jadi Presiden karena saya tidak sampai hati kalau kampanye harus berani tebar janji yang tak perlu ditepati, rajin memberi agar rakyat terbuai dalam mimpi, tampilkan diri seolah orang yang tulus dan baik hati, dengan harapan rakyat akan memilihnya saat Pilpres nanti.
Saya tidak pandai berbuat untuk meyakinkan diri, agar dipilih nanti, melakukan cara dengan memunculkan image diri seolah sangat islami, bisa menunjukkan kesan seolah keluarga yang harmoni, dan menghiasi media massa dengan aktivitas dan foto diri.
Saya hanya bisa berandai-andai karena saya tak punya nyali untuk mencalonkan diri, karena saya merasa tidak sanggup melakukan cara-cara tidak etis dan cara tak terpuji, apalagi sampai berdusta dan mengelabui.
Read the rest of this entry »
Permalink
May 12, 2009 at 4:31 pm
· Filed under Islami

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik (syurga).” (QS. Ali Imran[3] : 14).
Akhir-akhir ini ada dua peristiwa menonjol yang jadi bahan pembicaraan banyak orang. Pertama adalah peristiwa hiruk pikuk tentang calon presiden yang mencari calon wakil presiden dan peristiwa kedua, media massa disibukkan dengan nama Antasari Azhar, Ketua Komisi Pemberantaan Korupsi (KPK) yang saat ini sudah non-aktif.
Nama Antasari Azhar dikait-kaitkan dengan kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, salah satu direktur BUMN. Hampir semua orang di Indonesia yang pernah melihat televisi mengikuti kasus yang sangat kontroversial ini. Meski belum jelas benar, sudah terjadi pengadilan di ranah publik tentang Antasari Azhar, sosok yang dikenal bersih dan berani.
Penyebabnya karena satu ta, wanita. Penegak hukum itu diduga terlibat aroma cinta segitiga antara dirinya, Nasrudin Zulkarnaen dan seorang wanita bernama Rani Juliani, yang berprofesi sebagai caddy di lapangan golf.
Wanita, harta dan kekuasaan adalah satu paket fitnah yang akan dihadapi siapa saja yang bermain di lingkaran penguasa. Tak hanya penguasa-penguasa kecil kelas teri, penguasa-penguasa besar dunia “kelas kakap” banyak sudah yang jatuh karena wanita.
Read the rest of this entry »
Permalink
May 8, 2009 at 12:24 pm
· Filed under Sastra

“Kakak, kenapa pian? Tingkahmu aneh sekali! Ratna sampai kaget setengah mati!”
Malam harinya, Salwa duduk di pinggir ranjang dan bertanya dengan penuh perhatian. Sejak sore aku berbaring di tempat tidur.
”Betulkah?” tanyaku datar, jiwaku entah melayang ke mana. ”Betulkah ia kaget setengah mati?”
”Tentu saja! Dia terus bertanya pada ulun, apakah pian biasanya bersikap aneh begitu. Ulun katakan padanya selama ini pian baik- baik saja. Justru ulun tak tahu kenapa setelah bertemu dengannya pian jadi bingung seperti itu,” Salwa menjawab sambil memperhatikanku .
”Kakak, apa yang terjadi pada pian sebenarnya? Pian salah menyangka dia sebagai siapa? Dia mirip siapa?”
Read the rest of this entry »
Permalink
May 5, 2009 at 7:51 am
· Filed under Islami

Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) Nasional kembali digelar. Disiarkan langsung oleh TVRI Regional Kalimantan Selatan, STQ ke XVII Nasional tingkat Provinsi Kalimantan Selatan dibuka secara resmi oleh Gubernur Kalimantan Selatan H Rudy Arifin (2/5).
Sesuai dengan rencana yang telah dijadualkan, STQ ke XVII yang digelar di Asrama Haji Embarkasi Banjarmasin mampu menyedot perhatian ribuan masyarakat disekitar Landasan Ulin, Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru dan Martapura.
Untuk kesekian kalinya event ini kita adakan. Ajang STQ maupun MTQ senantiasa disambut hangat oleh masyarakat dari seluruh penjuru banua. Format acaranya memang sebuah perlombaan dalam Tilawah dan Tahfidz Qur’an, Tafsir Quran, Festival Rebana, dan Puitisasi Terjemahan Al Quran. STQ berlangsung sampai dengan 6 Mei mendatang.
Read the rest of this entry »
Permalink
April 23, 2009 at 10:26 am
· Filed under Umum

Sahabatku, aku memohon maaf karena telah lalai dan lama tak berkabar padamu. Bukan apa-apa, sebab aku sendiripun bingung dengan keadaanku sendiri. Tak cuma soal anak, keluarga maupun pekerjaan yang tempo hari pernah kuceritakan. Tapi ada persoalan baru yang entah mengapa serasa menguras isi pikiranku. Sepertinya masalah itu selalu saja dekat dengan sisi hidupku.
Dan kembali aku mengingatmu malam ini. Entah sedang apa kau di seberang sana. Mungkin kau telah mengalami hari-hari menyenangkan atau sebaliknya. Ataukah kau telah menemukan keajaiban-keajaiban hidup yang baru?
*****
Sahabatku, apa yang terbayang setelah kau membaca seluruh atau sebagian tulisan-tulisanku? Perlu aku tekankan di sini bahwa, yang ingin benar-benar aku tunjukkan bukanlah tulisanku sebagai sekumpulan tulisan yang “bagus”, “luar biasa”, “layak baca”, “prestisius” atau apapun istilahnya.
Di sini, aku hanya ingin memperlihatkan sebuah tradisi menulis. Sebuah tradisi yang cukup lama “mati suri” di dunia mahasiswa dan kampus kita.
Read the rest of this entry »
Permalink
March 28, 2009 at 10:49 am
· Filed under Sastra

Dalam sekejap mata, bulan April sudah tiba. Cuaca di bulan ini adalah yang terbaik di Banjarmasin. Musim hujan telah berakhir, namun musim panas menyengat belum tiba. Sepanjang hari angin bertiup lembut dan matahari bersinar cerah. Langit tampak menjulang tinggi dan udara terasa begitu nyaman.
Siang ini, aku baru saja mengunjungi pengadilan untuk mendatangi beberapa hakim dan jaksa. Aku sedang menulis laporan terperinci mengenai misteri kematian sepasang mayat yang terbakar beberapa tahun silam.
Ketika sampai di rumah, otakku masih dipenuhi dengan kasus yang rumit dan penuh teka-teki itu. Aku menghentikan motor di depan pintu pagar rumah. Sebelum membuka pintu, aku mendengar tawa nyaring dari halaman. Itu suara Salwa.
Gadis itu akhir-akhir ini juga sibuk, sepanjang hari jarang terlihat ambayangnya. Kata uma, “delapan puluh persen bias dipastikan dia sedang menjalin cinta!” tetapi teman pria yang kadang-kadang diajaknya ke rumah tidak pernah ada yang tetap.
Aku membuka pintu gerbang dan mendorong motorku masuk. Tiba-tiba di hadapanku melayang-layang sebuah benda. Aku segera mengulurkan tangan untuk menangkap benda itu, ternyata sebuah kok. Kemudian terdengar tawa Salwa yang riang gembira.
“Aiya, kakak! Hebat sekali!”
Aku menoleh, kulihat Salwa sedang memegang raket dan menatapku sambil tertawa cekikikan menggemaskan. Di belakangnya ada gadis lain, mengenakan blus wol putih yang dipadu dengan bawahan putih, juga sedang membawa raket. Rupa-rupanya Salwa sedang bermain bulu tangkis dengan teman kuliahnya di halaman. Aku melemparkan kok di tanganku dan berkata sambil tertawa,
Read the rest of this entry »
Permalink
March 28, 2009 at 10:34 am
· Filed under Umum

Dalam perspektif dan kaca mata orang-orang kebanyakan di daerah, datang ke Banjarmasin adalah sebuah impian. Sehingga boleh dikatakan Banjarmasin bagai kota surgawi yang diharapkan bisa memanjakan segala kebutuhan akan kehidupan penghuninya.
Akan tetapi, kata impian dan surgawi sudahkah melekat di Ibukota Kalimantan Selatan kini? Seperti kita ketahui, mungkin juga kita baca dalam setiap media cetak lokal selalu memuat berita tentang Banjarmasin terutama dengan berbagai masalahnya.
Kota ibarat tubuh manusia; ada kepala, badan serta kaki. Dari ketiga bagian utama organ tersebut ada jaringan penghubung yang fungsinya sangat vital, yang memberi magnet-magnet kehidupan. Kalau jaringan itu ibarat sebuah sistem transportasi yang memiliki kedudukan sangat strategis dalam hal ini, maka sudah sepatutnya untuk ditelanjangi sehingga kita semakin tahu dimana sakitnya. Karena ibarat luka kronis yang tidak tersembuhkan oleh obat dari tabib sehebat Ratanca dalam Legenda Majapahit sekalipun, selalu akut dan muncul dengan tiba-tiba.
Ibukota seharusnya lebih baik dari kota-kota lainnya, bagaimana tidak, semenjak masa kuda masih mengigit besi sampai kuda naik besi, dari masa kolonialisme hingga masa dekonstruksi, selalu dan selalu tak terselesaikan. Permasalahan-permasalahan yang ada telah juga dikaji secara ilmiah yang dilihat dari berbagai aspek oleh para akademisi serta ahli yang pakar di bidangnya. Oleh karena itu paparan dibawah ini ibarat catatan-catatan kecil yang tercecer dalam benak hati seorang pejalan di antara deru debu dan panasnya Banjarmasin.
Read the rest of this entry »
Permalink
March 24, 2009 at 2:56 pm
· Filed under Sastra

Akhirnya aku menyadari bahwa aku telah kehilangan jejak Marina. Walau berapa lama aku berharap, sedikit pun tak ada kabar dari dia. Pertemuan di tepian sungai Martapura yang singkat itu dan ”kisah cinta”ku yang gagal akhirnya berakhir begitu saja.
Di malam yang sunyi dan di pagi yang lengang, aku kerap kali teringat kepada Marina. Aku merasa memiliki ratusan keraguan, ratusan tanda tanya. Marina meninggalkan alamat palsu, gadis itu menghilang dengan misterius. Hanya Tuhan yang tahu. Perjalanan hidup sungguh penuh teka-teki.
Aku tidak bisa terus menerus mencari Marina. Apalagi kehidupanku sangat sibuk. Siang hari aku mencari berita, malam hari menuliskannya di kantor. Pada hari-hari lain aku masih harus menyiapkan naskah, sehingga tidak punya waktu lagi untuk menyelidiki Marina. Seiring dengan berjalannya waktu, aku perlahan-lahan melupakan gadis itu.
Salwa mulai bersemangat lagi mencarikanku teman wanita. Ulah adikku ini membuatku geli. Pada suatu hari Salwa berkata,
”Kakak, pian kan suka penyanyi. Ulun punya teman yang sangat pandai menyanyi. Mau tidak pian bertemu dia? Tapi ulun khawatir pian takkan berhasil mendapatkannya. Dia terlalu lincah, laki-laki yang mengejarnya banyak. Ulun dengar kabarnya malah ada laki-laki yang mau bunuh diri karena cintanya ditolak. Ulun pikir pian mungkin tak punya keberanian untuk mengusik gadis ini!”
Read the rest of this entry »
Permalink
March 12, 2009 at 2:12 pm
· Filed under Umum

Apa kabar, Kawan? Semoga sehat.
Mungkin kau bertanya tentang siapakah aku? Tetapi sungguh itu bukan soal penting yang harus kau ketahui. Bayangkan saja aku adalah seorang teman, yang tiba-tiba saja berkirim surat kepadamu.
Aku menulis surat ini di suatu tempat yang jauh. Dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Mungkin karena terlampau gairah. Bahagia. Untuk sesuatu yang nanti akan kau ketahui sendiri, bahwa ini semua bermula dari dirimu sendiri.
Surat ini aku tulis, ketika aku meniti kembali remang malam. Terjebak di labirin keasingan yang aneh. Perkembangan zaman begitu pesat. Hingga tak menyisakan satu ruang pun untuk lari.
*****
Baiklah, Kawan. Aku akan memulainya dengan sebuah fenomena di dunia tulis menulis. Bahwa kebanyakan penulis besar memulai karir kepenulisannya dengan catatan-catatan kecil dari apa yang mereka saksikan dan mereka rasakan dalam realitas kesehariannya.
Read the rest of this entry »
Permalink
March 6, 2009 at 7:39 am
· Filed under Islami

Maulid nabi yang setiap tahun diperingati adalah momen untuk mengingat pentingnya keteladanan dalam kepemimpinan. Misinya adalah merubah komunitas yang menjadikan patung-patung sebagai sesembahan (syirik) dan meremehkan harkat kemanusiaan (baca: masa jahiliyah).
Tidak ada takaran etnis, keturunan, kekuasaan, dan perbudakan yang menjadikan orang mulia atau tidak. Tapi ditentukan oleh kesalehan individual dan sosial bagi Tuhan, diri, dan masyarakatnya.
Nabi Muhammad adalah anak muda mekkah yang sangat dihormati karena kecakapan moralitasnya. Gelar yang diberikan oleh masyarakat makkah adalah al-amin, yang berarti ‘orang yang dipercaya’. Pesona nabi tidak berhenti di situ.
Setelah menjadi rasul, titah-titah yang ditahbiskan, meski awalnya banyak penentang tapi pada proses selanjutnya berhasil menciptakan masyarakat manusiawi. Ini disebabkan oleh pola kepemimpinan yang ditopang oleh keteladanan yang beliau perankan.
Read the rest of this entry »
Permalink
March 4, 2009 at 2:17 pm
· Filed under Sastra

Aku kembali dilanda kegelisahan, memikirkan betapa aneh pertemuan itu. Di atas siring sungai Martapura. Begitu banyak pertanyaan yang ingin aku ajukan kepada gadis itu. Begitu banyak teka-teki yang harus dijelaskan. Marina. Kepada gadis bernama Marina.
Kulipat lagi kenanganku. Mendongak ke atas. Senja telah berganti kelam menyelimuti langit kota Banjarmasin. Kulirik jam, jam enam. Sebentar lagi maghrib menjelang.
Dari sudut jendela rumah, aku menyaksikan awan-awan mulai beranjak pergi diusir senja. Burung-burung beranjak pulang sembari menyajikan nyanyian penidur matahari punah.
“Kakak…! kakak….! Sesuara panggilan memecahkan hening. Membuyarkan pikiranku. Padahal aku masih merindukan satu pucuk bulan hinggap di antara kejora penuh kedip. Aku sangat merindukan itu.
Adikku, Salwa, berteriak-teriak seperti orang yang baru melihat matahari terbit dari barat. “Kakak, pian terlalu memilih-milih teman wanita, yang ini jelek, yang itu tidak baik.”
“Jangan bicara ngawur, ah.” Kataku berang. ”Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak.”
Read the rest of this entry »
Permalink
February 24, 2009 at 3:37 pm
· Filed under Sastra

Kandangan kotaku.
Tak lagi ku dengar ketipak gerobak sapi mengawal pagi .
Kandangan kotaku.
Tak lagi ku dengar cericit pipit di sela hamparan padi.
Kandangan kotaku.
Tak lagi ku dengar derak-derik, leguh-legah pedati dan genta.
Gedebur riak Amandit yang menghiba,
Kuningnya air muara dan kapal-kapal kecil di waktu senja.
Dan aku tak melupakanmu, Kandanganku, Sungai Amandit, Kampung Taniran, Bumi Antaluddin.
Panasmu lusuhkan kemeja,
Derap langkahmu,
angin lengkisaumu
dan masa lampaumu.
Read the rest of this entry »
Permalink
February 18, 2009 at 7:33 am
· Filed under Pendidikan

Benarkah guru tidak mampu menulis atau tidak terbiasa menulis? Cobalah amati buku-buku di perpustakaan atau di toko-toko buku. Hitunglah, berapa banyak buku yang ditulis oleh para guru. Anda membaca surat kabar? Hitunglah berapa banyak artikel yang ditulis oleh para guru. Pasti jarang sekali, bukan?
Menulis memang gampang-gampang susah. Selain butuh niat dan motivasi, keberanian untuk mulai menulis ternyata tak mudah bagi sebagian orang, termasuk guru.
Hal tersebut yang menjadi pembicaraan hangat dalam Seminar Motivasi Penulisan, yang digelar di aula MAN 2 Model Banjarmasin, Sabtu 14 Pebruari 2009. Diikuti oleh lebih dari 150-an peserta, terdiri dari guru-guru SD, SMP, SMA dan sederajat. Seminar tersebut mencoba membuka wawasan tentang dunia tulis-menulis.
Tidak saja nara sumbernya yang sudah akrab dengan dunia penulisan, tapi juga tema yang diangkat juga menarik, yakni “Dengan Menulis, Kita Tingkatkan Kompetensi dan Kreativitas Guru”.
Penanggung jawab kegiatan dari MAN 2 Model Banjarmasin sengaja menghadirkan nama-nama yang beken di dunia penulisan di banua. Antara lain: Ersis Warmansyah Abbas (ada yang gak kenal? angkat tangan ya!), Bapak H. Syamsiar Seman (tokoh budayawan Banjar), Aliansyah Jumbawuya (Jurnalis Banjarmasin Post dan Serambi Ummah) dan juga Sandi Firly (Redaktur Radar Banjarmasin).
Suasana terasa lebih menyegarkan dengan kolaborasi para penulis muda, Farah Hidayati (Cerpenis Banua menetap di Jakarta, penulis novel “Rumah Tumbuh”), Syamsuwal Qomar (Penulis buku “Geliat Pemikiran Kampus”) dan Rahayu Suciati (Penulis buku “Aku Bangga Jadi Urang Banjar”).
Selain itu, seminar kemarin juga terasa greget karena meng-agendakan Bedah Buku “Jazirah Cinta” bersama sang penulis Randu Alamsyah. Bapak Zulfaisal Putera (sastrawan yang juga seorang guru) secara khusus memberikan testimoni untuk novel ini.
Read the rest of this entry »
Permalink
February 13, 2009 at 8:35 pm
· Filed under Sastra

Sebenarnya aku makhluk yang memiliki perasaan. Justru karena menghargai perasaan, aku tidak menganggap wanita sebagai barang. Dengan cara inilah aku menghargai perasaanku sendiri. Bagaimana mungkin manusia dapat dengan begitu mudah menghambur-hamburkan perasaannya? Bagaimana mungkin dapat menebarkan cinta ke mana-mana? Kada tahu di basa namanya!
Memang benar, ini pertanyaan yang berat. Pada dasarnya, umat manusia adalah makhluk yang memiliki pikiran rumit. Ataukah aku memang telah terlatih menjadi apatis, sehingga tidak mudah tergerak hatinya?
Bagaimana mungkin aku dapat menelaah orang lain, memahami diriku sendiri saja aku tidak mampu. Apakah aku orang yang selalu mengagungkan perasaan, atau orang yang paling apatis dan beku hatinya?
Apatis? Tidak, walau bagaimanapun aku mengetahui bahwa jauh di lubuk hatiku terdapat semacam gejolak perasaan. Orang yang apatis dan beku hatinya tidak akan merasa kesepian. Sedangkan aku? Aku sering kali merasakan kesepian yang sangat mendalam. Di luar aku tampak begitu penuh vitalitas, minatku sangat luas, semangatku begitu menggebu. Tetapi, setelah semua kesibukanku berakhir, atau bahkan saat aku sedang terbenam dalam kesibukan, aku selalu terbelenggu oleh rasa sepi. Ya, kesepian.
Aku sering bertanya pada diri sendiri: kesibukanku yang seperti ini, yang begitu menjauhkan diri dari hiburan dan kesenangan, apakah bukan sekedar pelarian belaka? Aku sedang melarikan diri dari apa?
Read the rest of this entry »
Permalink
February 11, 2009 at 7:48 am
· Filed under Sastra

Kecurigaan, kegundahan, dan perasaan terpukul yang timbul karena peristiwa di batang banyu sungai Martapura malam itu, akhirnya berlalu. Aku tidak punya waktu lagi untuk menyelidiki dan mengusut masalah tersebut, karena kesibukanku melakukan peliputan berita.
Kali ini aku harus meliput kehidupan masyarakat “Seribu Sungai” kota Banjarmasin yang eksotik. Kehidupan warga tepian sungai dengan rumah-rumah lantingnya segera menarik minatku. Rumah-rumah tersebut berdiri di tepi sungai dengan penduduknya yang memanfaatkan air sungai tersebut untuk keperluan sehari-hari.
Di tengah-tengah kepungan mall dan pertokoan modern yang semakin membuat carut marut wajah kota Banjarmasin, warga tepian sungai tetap dengan natural dan alami serta santai menjalankan aktifitasnya seperti biasa mulai dari mencuci, mengobrol hingga mandi di batang sungai.
Di kejauhan terdapat sebuah kelotok yang berisi beberapa orang di mana penumpang paling belakang terus menerus membuang air ke luar perahu, mungkinkah perahunya bocor? Di sisi lain, terdapat jejeran bambu yang diparkir di tepi sebuah rumah lanting. Jejeran Eusideroxylon Zwageri (kayu ulin) membuka jalan dari pintu rumah menuju jalan raya beraspal, tampak seorang kakek sedang melintasinya dengan santai. Sungguh, kehidupan yang sangat menarik dan menyegarkan jiwa.
Perjalanan melewati sungai bagi orang-orang bahari adalah merupakan hal yang biasa. Bagaimana tidak, keseharian mereka memang lekat dengan budaya banyu balarut. Namun ketika infrastruktur jalan semakin memadai, sedikit demi sedikit budaya sungai terpinggirkan. Kini orang-orang Banjar lebih memilih sepeda, motor, mobil dan alat transportasi darat lainnya ketimbang jukung, kelotok atau bus air.
Angkutan sungai hanya dianggap “anak tiri” seiring dengan pertumbuhan permukiman kumuh dan tak teratur di pinggiran sungai. Berbagai dermaga di Banjarmasin, seperti Dermaga Telawang, Ponton Antasari, Dermaga Ponton Kuin, Dermaga Bandarmasih, dan Dermaga Ponton Pasar Gelora yang berada di sekitar Sungai Barito dan Martapura, juga kurang mendapat perhatian serius.
Read the rest of this entry »
Permalink
February 9, 2009 at 9:26 am
· Filed under Sastra

Aku menyadari bahwa bagian terlemah diriku adalah perasaan. Waktu aku masih duduk di bangku kuliah, dosen yang mengajar mata kuliah Jurnalistik Peliputan Berita selalu mengatakan bahwa hal yang paling tabu dalam meliput berita adalah sikap subjektif dan tindakan berdasarkan perasaan.
Tak terasa sudah delapan tahun berlalu sejak aku lulus. Kini aku – Yudi Pramana- telah menjadi wartawan terkenal di Kota Banjarmasin. Aku dijuluki “wartawan liar”, pengganti kata freelance, karena memang aku berwatak proletar dan bergaya Hizbullah, meski tidak pandai berorasi dalam demo apalagi ikutan “aksi mogok makan”.
Beberapa kali aku menolak tawaran untuk menjadi “wartawan jinak” di bawah perusahaan media karena aku menentang rezim jurnalisme yang despotik dan kapitalistik.
Aku bukan hanya ‘wartawan luar biasa’, tapi aku adalah ‘wartawan detektif’ (kata lain dari ‘wartawan investigasi’). Penggemar “All The President Man” dan “Pelican Breif” ini punya keahlian memata-matai dan mencuri-curi kasus yang terlewat dari bidikan para ‘wartawan reguler’ (kata lain dari ‘wartawan plus karyawan’) yang menjadi hamba kitab suci media bernama ‘deadline’.
Karena itu, tidaklah mengherankan sosok berwajah lembut namun menyimpan DNA Banjar ini pernah ditahbiskan sebagai ‘wartawan terbaik dalam investigasi’ saat menulis laporan investigatif tentang kasus korupsi pengerukan alur sungai Barito yang melibatkan pejabat tinggi daerah, lalu diterbitkan dalam artikel kontroversial.
Aku bukan hanya wartawan detektif, tapi juga seorang ‘pesulap kata’. Dengan imajinasi dan improfisasi yang ‘ngalor ngidul’ aku bisa mengubah tulisan ‘amit-amit’ menjadi ‘imut-imut’. Kemampuanku ‘mendadar’ naskah mentah menjadi sebuah tulisan yang ‘wajib dibaca’, benar-benar mengagumkan.
Read the rest of this entry »
Permalink
February 7, 2009 at 9:47 am
· Filed under Sastra

Matanya masih menatap ke atas meja, sambil tetap memainkan jemari tangannya. Aku tidak tertawa, aku tidak dapat tertawa lagi. Kupandangi wajah halus dan muda yang ada di depanku itu.
Beberapa lama kemudian barulah aku bertanya lirih,
“Benarkah semua yang kau katakan tadi?”
Si gadis terpana sejenak, lalu mengangkat kepala, langsung menatapku. Sorot matanya sangat polos.
“Aku harus menghabisinya,” katanya dengan sungguh-sungguh. “Tak semestinya dia mengatakan tak mencintai aku.”
Aku menggigit bibir. Naluri profesionalku mengatakan bahwa ini adalah masalah besar. Hatiku seperti dibenamkan ke dalam, hawa dingin merambati punggungku, menebar ke kaki dan tanganku. Meskipun di dalam warung ini hangat, aku menggigil. Aku baru menyadari bahwa kesukaran yang aku cari ini terlalu besar, terlalu besar.
Wajah belia di hadapanku tampak begitu dingin, kosong dan kaku. Aku sudah pernah meneliti beberapa kasus pembunuhan. Baru kali ini aku merasa tergerak oleh wajah seorang pembunuh. Benarkah dia seorang pembunuh? Aku dapat membaca di balik wajah yang begitu tenang ini, tersembunyi sekeping hati yang telah lama didera penderitaan.
“Katakan padaku,” kataku dengan suara tercekat, “apakah kau langsung keluar dari rumah?”
“Ya.”
“Kau… kau yakin dia sudah mati?”
Read the rest of this entry »
Permalink
February 6, 2009 at 7:56 am
· Filed under Sastra

“Suamimu?” Seruku tertahan. “Ceritamu aneh.”
“Aku sudah tak tahan lagi, lalu aku membunuhnya.” Katanya dengan mantap, sama sekali tidak ada nada bagaya.
“Tak seharusnya dia memperlakukan aku seperti itu. Demi dia, aku telah meninggalkan segalanya, abah, uma, kula warga, masa depan… semuanya telah aku tinggalkan. Semua orang mengatakan dia bajingan, hanya aku yang menganggap dia pahlawan.”
“Uma abah memutuskan hubungan denganku karena dirinya, aku tak peduli. Teman-temanku tak memedulikan aku lagi, aku juga tak ambil pusing. Aku telah memilih mengikutinya, menjadi istrinya.”
“Meskipun dia tak punya duit, aku tidak peduli. Demi dia aku bisa menjadi sapi, kuda atau badak sekalipun, dan nyatanya aku memang demikian. Sebelum menikah, aku adalah anak manis, orang-orang mengatakan aku bisa menjadi artis atau penyanyi.”
Ia berhenti sejenak, matanya memancarkan kepedihan. Ia menggeleng-geleng, lalu berkata lirih, “Tidak ada gunanya aku lanjutkan, kamu tidak akan mengerti.”
Read the rest of this entry »
Permalink
February 5, 2009 at 3:15 pm
· Filed under Sastra

Aku orang baik-baik? Aku kembali memaki dalam hati. Kalau yang ia temui malam ini laki-laki lain, apa yang akan terjadi? Aku orang baik-baik? Kalau aku menceritakan pertemuan di siring sungai Martapura pada tengah malam ini kepada teman-temanku, mereka pasti akan menertawakan dan mengataiku bodoh.
Apakah aku benar-benar orang baik-baik?
Memangnya aku Nabi Yusuf? Hasan al-Basri? Atau Abu Yazid al-Busthami?
Tuhanpun tahu, laki-laki tetap laki-laki. Jangan pernah kau sepenuhnya mempercayai laki-laki. Tetapi aku tidak bisa, juga tidak mungkin, memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, dan mengambil keuntungan dari seorang gadis muda. Karena kalau aku melakukan perbuatan tak senonoh itu, aku bukan laki-laki, melainkan orang bodoh nan hina.
“Baiklah, Rin,” aku melanjutkan, “Kurasa kau baru mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan. Kau punya beban pikiran dan kesulitan. Karena kau tak punya tempat untuk menginap, kita akan mencari warung yang buka 24 jam, minum teh hangat, makan sedikit. Lalu ceritakanlah masalahmu padaku. Kita bapandiran. Di dunia ini tidak ada masalah yang tak dapat diselesaikan. Tunggu sampai matahari terbit, aku akan mengantarkanmu ke rumah kamu. Bagaimana?”
“Terserah,” jawab si gadis. “Hanya saja aku tidak akan pulang.”
“Tentang ini… kita bicarakan sampai matahari terbit nanti, ya.”
Taksi berhenti di daerah sekitar Pasar Lama. Aku mengajak gadis itu turun dari taksi. Gerimis mulai turun, udara dingin makin terasa di jalanan.
Di Banjarmasin sekarang banyak terdapat warung makan yang buka sampai 24 jam. Menjamurnya warung-warung makan di kota ini, apakah itu membuktikan kalau urang Banjar memiliki budaya mawarung atawa katuju makan? Sejauh ini memang belum ada penelitian ilmiah tentang itu.
Read the rest of this entry »
Permalink
February 4, 2009 at 4:51 pm
· Filed under Sastra

“Siapa nama kamu?” aku langsung bertanya.
“Marina,” jawab si gadis singkat.
“Marina?” suaraku meninggi.
“Iya, Marina.” Gadis itu memandangiku, seolah tidak memahami mengapa aku begitu terkejut. Pandang matanya sangat polos dan tulus. “Nama hanyalah simbol seseorang. Kalau suka, kamu boleh memanggil aku Rina”.Dia berhenti sejenak, mengedipkan bulu matanya, lalu menambahkan, “Tentu saja tidak setiap saat aku dipanggil Rina.”
Jiwa gadis ini pasti terganggu, batinku. Aku berniat menghentikan kebiasaanku suka mengurusi hal-hal remeh. Lupakan saja dia, tak ada gunanya mengurusi gadis itu. Tapi… tapi… bukankah kata-katanya sangat masuk akal? Apalagi penampilannya begitu polos dan lugu. Apa yang terjadi dengan dirinya? Apakah ia baru saja dimarahi abah umanya? Kulitnya putih bercahaya, alisnya begitu indah… ia masih begitu belia. Usianya pasti belum lebih dari dua puluh tahun.
Read the rest of this entry »
Permalink
February 3, 2009 at 3:31 pm
· Filed under Sastra

“Kenapa?” akhirnya aku bertanya.
Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala, tidak menjawab. Ia kembali menatap permukaan sungai Martapura dengan serius. Gerak-geriknya penuh kebimbangan, membuatku cemas.
Kugeser langkahku agak maju ke arah gadis itu sambil berkata, “Pamali seorang perempuan keluar malam-malam.. Ku kira baiknya kamu pulang ke rumah, berlindung dari angin dingin. Apakah kamu tidak takut kedinginan?”
“Orang yang mau terjun ke sungai tidak akan takut udara dingin,” jawab gadis itu datar.
Aku menggerak-gerakkan alis, tak tahu apakah aku harus tertawa atau menangis mendengar perkataan ini. Sungguh aku tak tahu bagaimana sebaiknya menanggapinya. Seberkas angin berhembus, bulir-bulir air sungai yang tak terhitung jumlahnya kembali merembesi pakaiannya. Membuat ia menggigil kedinginan.
Aku menatap gadis yang masih saja memakukan pandangannya ke sungai itu. Entah karena kedinginan atau karena alasan lain, wajah gadis itu pucat pasi, sedangkan matanya berkilau.
Read the rest of this entry »
Permalink
January 24, 2009 at 10:26 am
· Filed under Umum
Dengan nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang”

Pendahuluan
Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) MAN 2 Model Banjarmasin ke-11 tanggal 20 Pebruari 2009, MAN 2 Model Banjarmasin mencoba menggali kreatifitas guru yang masih terpendam. Banyak potensi yang belum tersalurkan khususnya bidang tulis menulis dan jurnalistik.
Kegiatan tulis menulis dan mempublikasikannya pada suatu media masa merupakan bagian pengembangan profesionalisme dan kompetensi yang perlu senantiasa dikembangkan. Sebab keterampilan menulis dan menuangkan suatu gagasan dapat dipelajari dan dilatih agar menjadi lebih terampil. Penuangan hasil karya guru dapat dimuat pada majalah dinding (mading), buletin guru dan surat kabar, bahkan bisa diterbitkan dalam bentuk buku.
Disadari atau tidak keterampilan menulis di kalangan guru saat ini terkesan kurang diminati. Hal ini setidaknya dapat kita lihat dari kurangnya perkembangan mading atau buletin sekolah. Di sisi lain, ada anggapan dari kalangan guru, menulis merupakan “momok” yang menakutkan. Indikatornya dapat dilihat dari adanya stagnasi kepangkatan di kalangan pegawai fungsional yang bergolongan IV.a.
Menggugah semangat para guru untuk menulis memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Walaupun sebenarnya profesi guru tidak lepas dari aktivitas tulis menulis. Mulai dari menyiapkan Silabus, Program Tahunan, Program Semester atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), sampai evaluasi belajar siswa, semuanya tak lepas dari tulis menulis.
Salah satu faktor yang membuat gairah guru untuk menulis susah berkembang, adanya anggapan yang keliru di kalangan guru tentang aktivitas tulis menulis ini.
Pertama, anggapan bahwa menulis itu sulit dan membutuhkan bakat dan keterampilan khusus.
Kedua, guru tidak punya banyak waktu untuk menulis. Sebagai pendidik dan pengajar, tentunya cukup sulit bagi guru meluangkan waktunya untuk menulis. Namun kalau mau jujur di sinilah sebenarnya guru menemukan banyak ide, tantangan dan peluang.
Ketiga, tidak adanya wadah yang representatif. Salah satu faktor penghambat/ penyebab kurang bergairahnya guru menulis adalah tidak adanya wadah yang representatif dari sekolah atau pihak-pihak terkait, walaupun hanya berbentuk sebuah mading/ buletin sekolah.
Selain itu juga karena kurang adanya sentuhan spirit/ rangsangan atau penghargaan misal, berupa kredit poin untuk menunjang karir guru. Atau ada forum tertentu dari lembaga yang kompeten yang bisa menampung dan mewadahi ide-ide guru dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Kalimantan Selatan.
Menyadari akan permasalahan di atas, maka MAN 2 Model Banjarmasin terpanggil untuk melaksanakan seminar motivasi menulis bagi para guru se-Kalimantan Selatan.
Read the rest of this entry »
Permalink
January 21, 2009 at 1:35 pm
· Filed under Sastra

Desember… Malam menyergap dalam sepi.
Bungas sekali, mancarunung. Nun di atas sana, bulan sabuku malam empat belas, memberikan cahaya terang yang menyenangkan pemandangan.
Aku begitu terpesona dengan purnama, mungkin juga karena cerita nini datu puluhan tahun lalu yang banyak menceritakan keindahan sang putri malam.
Pun tentang hikayat raja-raja perwira di tanah Banjar. Tentang bidadari-bidadari cantik yang mandi di telaga di waktu malam. Tapi keindahan purnama, kadang teracuni juga oleh cerita-cerita seram, tahayul atau mistik yang sering kulihat di layar kaca.
Walaupun dalam suasana liburan, pada pukul sebelas malam seperti ini, ditambah dengan udara malam yang dingin dan diselingi tiupan angin yang kencang, mana mungkin ada orang masih mau berkeliaran di luar?
Aku membalik kerah jaket kulitku, lalu mengunjurkan kaki dengan iseng di atas siring tepi sungai Martapura. Kios penjual rokok di seberang jalan sudah sejak tadi tutup. Suasana hinip. Senyap. Hanya ada papan reklame sebuah produk kecantikan di atas pilar trotoar.
Aku mengubah posisi duduk, melihat ke arah pagar yang tertutup, terus menembus koridor panjang. Aku dapat melihat sebuah kelotok sedang berlayar dari arah jembatan Antasari. Permukaan sungai yang hitam pekat memantulkan secercah cahaya.
Read the rest of this entry »
Permalink
January 17, 2009 at 8:49 am
· Filed under Cerpen

Senja belumlah lengkap. Masih tersisa semburat sore yang berkilau merambahi bangunan-bangunan rapuh dan tinggal menunggu runtuh. Kilau matahari tak nampak garang, keangkuhannya hanya tinggal sisa-sisa endapan pada biru langit yang menghampar luas.
Sesekali mentari redup, menyelinap pada atap-atap kabut kelam. Deras angin musim dingin bersatu-padu merontokkan panas yang menghujam bumi. Menebarkan kebekuan tubuh dan menusuk-nusuk dengan rasa kelu pada setiap gang dari pori-poriku.
Aku merekatkan jelabiyah-ku, menghalangi udara dingin yang datang mengepungku dari berbagai penjuru tubuh. Sesekali menutup mukaku yang tiba-tiba disergap oleh debu yang mengepul, bertebaran di udara, menghantam bangunan yang tak berpenghuni. Hanya tersisa tembok yang bolong-bolong dan himpitan reruntuhan ditimpa sinar mentari, hingga menyisakan bayangan yang absrak dari bangunan itu.
Bangunan itu masih seperti dulu. Sepi tetap merambahi setiap bongkahan cor yang terasingkan. Pandanganku turun. Ada sesuatu yang mengajakku untuk segera menekuri jalan di depanku. Suatu goresan luka dari bangunan itu terkuak lagi dalam benak. Hingga aku tak mampu menapaki bangunan itu. Kenyataan menyelipkan berbagai buncahan bayang-bayang yang saling berebutan tempat dalam otakku. Kemudian dalam hitungan menit, hatiku seperti dihujani kejadian yang telah lama membatu.
Deretan peristiwa yang sangat kelam dalam sejarah hidupku terkuak. Sekelam senja sore itu yang tiba-tiba terdengar jerit histeris dari berbagai orang. “Israel menyerbu! Israel menyerbu!” Pekik suara itu bergaung, menggema ke angkasa dan menggetarkan jiwaku. Gelegar suara itu melenyapkan kehangatan senja yang mulai redup ke pangkuan bumi ujung barat. Diikuti derap langkah yang tak beraturan menuruni tangga apartemen. Kaki-kaki mereka membuat riuh dan keruhnya senja.
Read the rest of this entry »
Permalink
January 15, 2009 at 2:20 pm
· Filed under Sastra

Menikmati bulan sabuku di tepian sungai Martapura, seperti naik “mesin waktu” yang melemparku tujuh belas tahun ke belakang. Dulu sungai Martapura sejuk sekali, air yang mengalirinya selalu bening dan segar. Tak pernah surut meski kemarau panjang, tak pernah banjir meski musim hujan datang. Suara airnya gemericik, bernyanyi bersama burung-burung yang bertengger di dahan-dahan sengon dan akasia.
Kami bertiga biasa menghabiskan waktu seharian di sana. Burhan dan Abidin selalu berenang ke bagian sungai yang paling dalam. Sedangkan aku hanya mengumpulkan kepiting yang biasa bersembunyi di lelumpuran di pinggiran. Aku tidak bisa berenang.
“Hei, cobalah kemari. Belajar berenang bersama kami!” ajak Abidin sekali waktu. Aku hanya menggeleng dan tersenyum.
“Ayolah!” Burhan teriak sambil membuat corong di depan mulut dengan kedua tangan.
“Tidak, ah. Aku tidak berencana untuk bisa berenang.”
Aku memang tidak pernah berpikiran untuk belajar berenang. Dengan bisa berenang, berarti aku akan selalu berurusan dengan air. Dan bukan air yang dangkal. Dalam. Kedalaman air selalu membuat bulu romaku bergidik. Kubayangkan sebuah ruang yang ada di dalamnya. Sekali masuk kita akan terhimpit dari segala arah: atas, bawah, kanan, kiri, kepala, dada, perut, kaki, bahkan untuk menggerakkan jari kita perlu menyingkirkan air-air yang menekan seluruh tubuh.
Dan semakin dalam semakin gelap. Seperti di kedalaman lautan. Yang bahkan matahari pun takkan berhasil meloloskan sinarnya meski cuma satu garis. Kita berdiam, diremas-remas dari segala penjuru, tak mampu melihat satu apa pun. Tapi apa pun yang menghuni tempat itu, dapat mengetahui setiap gerakan rambut kita. Mengintai dan siap menerkam. Tak ada yang lebih mengerikan daripada menjadi santapan tanpa sadar. Ketika kita diterkam dan ditelan, tanpa sempat untuk melawan atau sekadar bilang pada diri sendiri, bahwa kita telah jadi santapan.
Lalu kuputuskan satu hal: aku takkan pernah berenang.
Read the rest of this entry »
Permalink
January 14, 2009 at 8:46 am
· Filed under Sastra
Prolog

Menapak Banjarmasin adalah menapak kota tua dengan sejuta impian yang tengah sibuk berbenah. Seperti galuh yang baru belajar menggoreskan gincu ke bibir mungil, dan mematut diri dengan roncean sekar melati yang disematkan ke sanggul rambut.
Ah, sejuta impian? Salahkah jika termaktub dalam pilar pikirku ketika itu? Sekian tahun menghirup aroma sejukmu dan bercanda dengan harmoni yang menyentuh ruang asa. Kini kusapa kembali engkau, “Selamat malam.”
Meniti kembali remang di tepian sungai Martapura, aku seperti terpenjara di labirin yang menggemakan suara-suara. Ada deringan syahdu Kitaro, “Koi” yang menancapi gendang telinga. Ada petikan gitar melankolisnya Ebiet. Terngiang “Ballade Pour Adeline”-nya Richard Clayderman. Pun ada mamang kata halus memukau.
Aku seperti merasakan keasingan yang aneh. Perkembangan kota ini begitu pesat. Lapangan bola tempat dulu aku suka bergumul dengan gerimis, kini tak menyisakan satu ruang pun.
Siapapun yang pertama kali menginjakkan kaki di bumi Antasari pada saat ini, sangat mungkin akan kecewa jika ingin menyaksikan nuansa kehidupan unik urang Banjar. Di pesisir kota yang sedang tumbuh, panorama yang dominan adalah jajaran gedung, ruko dan hunian penduduk dengan arsitektur dan bahan bangunan modern. Jangan berharap akan dapat mendengarkan kefasihan menuturkan Hikajat Tanah Bandjar dan legenda Putri Junjung Buih, atau keharuan menyanyikan lagu Pambatangan dari bubuhan anak-anak banua.
Read the rest of this entry »
Permalink
January 14, 2009 at 8:34 am
· Filed under Umum

Membaca riwayat hidup para penulis besar sering mendatangkan rasa iri hati. Ada pertanyaan yang datang mengganggu, mengapa mereka bisa menjadi terkenal, karya-karyanya dibaca di berbagai belahan bumi. Padahal, kemampuan yang sama juga dimiliki oleh putra-putri banua Banjar, namun sayang, mungkin belum ‘nasib’ mereka menjadi sepopuler para penulis yang melegenda.
Sebutlah Muhammad Quraish Shihab yang ahli tafsir al-Qur’an. Selain ahli tafsir, beliau juga bak mesin yang menelurkan ratusan tulisan-tulisan penting yang menjadi bahan kajian para pemikir. Sebut juga Nurcholis Madjid yang sudah almarhum tapi meninggalkan ‘warisan’ pemikiran yang tertuang dalam ratusan karyanya. Belum lagi para penulis lain seperti Pramoedya Ananta Toer yang melegenda sebagai sastrawan sepanjang jaman, buah pikirnya begitu fenomenal bahkan diburu banyak penikmat sastra sejarah.
Adakah akademisi atau para pemikir Banjar produktif dalam menulis karya-karya penting? Terus terang, saya langsung teringat kepada sosok dan figur cendekiawan dan intelektual Banjar. Ada Prof. Dr. H. Kamrani Buseri, MA, Prof.Dr. HA. Fahmi Arief, MA, Dr. H. Karyono Ibnu Ahmad, Dr. H. Abdurrahman, SH.MH, Dr. H. Muhammad Hasyim, Dr. H. Mukhyar Sani, Dra. Hj. Masyitah Umar, M.Hum, (untuk menyebut sekedar nama) dan lain-lain.
Mengapa beliau-beliau tidak menulis “seproduktif” Pak Qurais Shihab?, padahal mereka memiliki kemampuan yang sulit dicari tandingan. Dengan banyak menulis, Pak Quraish telah dikenal secara nasional bahkan internasional.
Read the rest of this entry »
Permalink
January 12, 2009 at 10:14 am
· Filed under Islami

“Kurihing“. Satu kata ini sederhana dalam segala hal, namun memberikan kekuatan yang tak terkira.
Dalam hal pelaksanaan, kurihing adalah aktifitas sederhana untuk dilakukan. Hayo, siapa sih orang hidup di dunia ini yang tak bisa takurihing? Orang miskin maupun kaya pun bisa takurihing, karena kurihing tak membutuhkan modal, kecuali niat dan ketulusan hati.
Manusia pintar dan tidak pintar sama-sama bisa takurihing karena untuk bisa takurihing tak perlu sekolah. Sejak kita lahir, orang-orang di sekeliling kita telah menyambut kita dengan kurihing lebar, sekaligus mengajarkannya pada kita. Sakit atau sehat, cacat ataupun normal, semua orang masih bisa takurihing, karena ia tak membutuhkan usaha luar biasa. Cukup menarik kedua ujung bibir ke atas sedikit. Kecuali jika sakit dan cacatnya seputar mulut.
Secara fisik, takurihing dapat membuat kita selalu dalam kondisi riang. Bobby De Porter dalam bukunya Quantum Learning mengatakan bahwa sikap tubuh seseorang dapat mempengaruhi perasaan atau mood seseorang sebagaimana perasaan juga mempengaruhi sikap tubuh seseorang. Ayo kita coba. Anda sedang sedih atau marah. Kemudian usahakan menarik ujung kedua bibir anda keatas, membentuk sebuah kurihingan. Dan tanyakan pada hati anda dengan jujur: Apakah anda masih tetap merasa sedih seperti semula?
Read the rest of this entry »
Permalink
January 12, 2009 at 10:09 am
· Filed under Umum

Apa yang dibanggakan sebuah kota di Eropa mengenai kemodernannya? Gedung arsip, perpustakaan, dan gedung opera. Bangunan-bangunan tersebut dianggap sebagai representasi dari tingginya peradaban, yakni bangsa yang mengerti sejarah masa lalu, menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, dan menaruh perhatian pada seni-budaya.
Lalu apa yang dilakukan oleh negara tercinta ini-lebih dekat lagi Banjarmasin-agar bisa menyandang label kota metropolitan? Jawabannya adalah membangun mall dan hypermarket di mana-mana, seolah-olah ingin mengatakan bahwa ciri manusia modern yang maju adalah orang-orang yang berorientasi belanja, membuat pasar malam, dan bangunan-bangunan wah lainnya.
Sementara tiga pilar yang dipentingkan orang Eropa tersebut terkesan disepelekan saja. Coba, di mana gedung arsip sejarah kita? Agaknya museum Lambung Mangkurat belum memenuhinya, naskah-naskah dan peninggalan sejarah kita sebagian besar “terserak” entah di mana.
Perpustakaan, sudahkah perpustakaan daerah yang terletak di Jalan Ahmad Yani memberi kontribusi optimal untuk memenuhi kebutuhan bahan referensi ilmu pengetahuan masyarakat banua Banjar?
Lalu taman budaya sebagai pusat seni-budaya Banjar, sudahkah digarap sungguh-sungguh untuk menjadi tempat aktivitas seni-budaya yang mengakomodir kreativitas sekaligus hasrat estetis warga banua?
Read the rest of this entry »
Permalink
January 6, 2009 at 3:25 pm
· Filed under Pendidikan

Pada tanggal 21 Desember 2008, ketika saya bersama Suhadi dan Aliansyah bertamu (lebih tepatnya diundang) ke kediaman Ersis Warmansyah Abbas, saya berjumpa pertama kali dengan Randu Alamsyah, sang penulis novel “Jazirah Cinta”. Tak tanggung-tanggung, novelnya yang berlatarbelakang Kalsel mendapat pujian dari artis cantik Zaskia Adya Mecca.
Kesan pertama, ustadz Pondok Pesantren Darul Ilmi, Banjarbaru ini ternyata masih cukup belia. Lelaki kelahiran Manado 25 Juni 1983 dengan rambut sedikit gondrong. Pemilik nama asli Muhammad Nur Alam Machmud ini, konon menulis novel ketika dalam kondisi serba terbatas di tengah hutan. Diskusi dan perbincangan yang digelar membersitkan makna dalam hatiku, bahwa Randu adalah “anugerah” bagi Tanah Banjar.
Dengan bahasanya yang polos, cerdas dan apa adanya, ia menceritakan proses kreatifnya. Sebelum masuk dalam dunia tulis menulis, rupanya ia termasuk anak “pengembara” dan inilah yang diakuinya sebagai awal di mana ia mengenal dunia tulisan. Hampir seluruh kota besar di Indonesia sudah pernah disinggahinya. Woow…
Sehabis diskusi tersebut, pikiran saya kembali ke banua Banjar. Mungkinkah ada sosok Randu-Randu lain di propinsi yang terkenal dengan budaya mawarung? Yang lebih mementingkan “mulut” dibandingkan dengan otak sebagai wadah pikiran? (Mohon maaf kalau ada yang tersinggung,hehe).
Menonjolkan sosok Randu bukan berarti yang lain tak bernilai, namun lebih karena saat ini saya ingin membahasnya. Penasaran dengan novelnya, saya sempatkan waktu mengunjungi Toko Buku Gramedia Duta Mall Banjarmasin. Tak ingin pulang hampa, saya terpesona buku bersampul mempesona anak banua “Jazirah Cinta”, di antara jejeran ratusan buku novel cinta, dengan embel-embel pembangun jiwa.
Read the rest of this entry »
Permalink
January 3, 2009 at 8:01 am
· Filed under Umum

Apa pendapat Anda tentang “menulis”? Saya kira akan ada jawaban yang beragam ketika kita menemui pertanyaan semacam ini. Kalau saya sendiri akan menjawab, ”Menulis adalah sebuah investasi pikiran”. Ya, investasi.
Menulis adalah investasi pikiran, sekaligus pergulatan pengalaman, akumulasi kepercayaan diri, keinginan terus berada dalam “pesta” pemikiran, media ekspresi jiwa, dan pada ujungnya menggunakan tulisan sebagai refleksi kecintaan terhadap banua.
Teringat saya ketika dulu keranjingan menulis karena karya best seller bang Hernowo, sang penulis buku Mengikat Makna. Mulai saat itulah konsentrasi belajar lebih optimal terutama dalam hal tulis-menulis.
Kebanyakan saya menulis artikel seputar refleksi masalah sosial dan momentum keagamaan yang terjadi di banua Banjar. Berbagai tulisan, alhamdulillah mulai diterbitkan di beberapa media cetak. Tulisan pertama dimuat pada harian Radar Banjarmasin, tanggal 4 Pebruari 2008. Sebuah awal yang memberi semangat untuk terus berproses, menulis dan menulis.
Tulisan saya berikutnya mulai bermunculan di media massa lokal Kalsel, seperti Kalimantan Post, Barito Post, Mata Banua dan Sinar Kalimantan. Proses itu terus berlanjut hingga kini dan tidak tahu kapan dianggap berhasil atawa lulus. Dalam kurun waktu ini, naskah tulisan saya yang ditolak tentu lebih banyak dari yang dimuat, yang menggambarkan proses kreatif itu tidak selamanya berhasil seperti yang diharapkan.
Read the rest of this entry »
Permalink
January 3, 2009 at 7:46 am
· Filed under Islami

Nanar mataku membaca semua berita tentang penyerangan berdarah di wilayah Gaza. Bukan saja tak berkesudahan, tapi ini adalah genocide luar biasa kejam!
Kezaliman yang vulgar telah dipertontonkan Zionis Israel kepada masyarakat dunia. Bocah-bocah Gaza berderai air mata lantaran kehilangan orang tuanya, remaja-remaja Palestina bertumbangan di depan tank-tank serdadu Yahudi, dan kulit-kulit mungil itu bercucuran mengalirkan darah.
Lantas bagaimana dengan kita? Bukankah setiap mukmin itu bersaudara, lantas kenapa kita membiarkan mereka tak berhenti menyeka air mata darah?
Ketika anak-anak Palestina meregang nyawa ditembus peluru Israel, sedang apakah kita? Main basket? Tidur nyenyak? Atau, malah sedang tawuran dengan sesama saudara? Ironis bukan?
Juga, ketika anak-anak Palestina menderita di pengungsian akibat diusir dari negeri mereka sendiri, kita sedang berbuat apa? Main game, pacaran, nonton konser musik, atau malah sedang asyik melahap makanan “bule” di resto kelas wahid dengan harga selangit? Lalu, di mana rasa peduli kita terhadap saudara sendiri?
Read the rest of this entry »
Permalink
December 31, 2008 at 10:36 am
· Filed under Umum

Waktu terus berputar seperti jarum jam. Selamat datang tahun 2009: tahun (yang) baru. Ramai-ramai kita merayakannya dengan gembira, masing-masing dengan tingkah-polahnya: pawai, plesiran, mencari peruntungan lewat ramalan, bikin resolusi akhir tahun, atau adapula yang menyampaikan doa dengan khidmat. Orang-orang berucap: semoga setahun ke depan hidup lebih baik, rejeki bertambah, tercukupi sandang pangan, kemiskinan berkurang, dan tak ada lagi bencana.
Suatu kewajaran bila kita berharap sesuatu yang lebih baik di tahun depan. Hanya saja kita juga mesti tabah, karena harapan-harapan kita itu lebih sering terbang begitu saja entah kemana. Hilang diterpa angin puting beliung, dihanyutkan banjir, dan tertimbun tanah longsor. Betapa seringnya apa yang kita angankan dan kita pikirkan jauh di atas kenyataan apa yang kita dapatkan.
Bukankah tahun baru setahun yang lalu, kita juga pernah berucap hal sama seperti kali ini. Bahkan di tahun baru setahun sebelumnya lagi juga begitu. Tahun baru 10 tahun yang lalu sepertinya begitu juga. Harapan-harapan yang kita ucapkan tak beranjak dari yang itu-itu saja. Kalau begitu mungkin tahun depan kita juga akan mengucapkan harapan yang sama seperti tahun ini.
Kita masih berada di “Ruang” yang sama namun dalam perentangan waktu yang berbeda. Ruang itu bernama Indonesia. Sebuah wilayah geografis yang terbatas dan punya batas. Yang masih banyak kemiskinan di dalamnya, yang masih penuh dengan ketimpangan, yang penuh dengan kondisi keterbelakangan. Karena setiap tahun masalah yang kita hadapi tak beranjak dari persoalan yang itu-itu saja, maka harapan dan doa yang diucapkan hanya pengulangan tiap tahun saja.
Read the rest of this entry »
Permalink
December 26, 2008 at 11:07 am
· Filed under Islami

Departemen Agama (Depag) merupakan salah satu dari departemen pemerintah setingkat menteri yang mempunyai simbol atau slogan “Ikhlas Beramal”. Slogan ini mengisyaratkan bahwa Depag hendak menjadikan dirinya sebagai departemen yang berbakti kepada bangsa, negara dan Tuhan secara maksimal dengan tanpa memikirkan imbalan dan pujian dalam menjalankan tugasnya. Harapan ini seiring dengan istilah dalam slogan ideal yang bernuansa agamis, yakni Ikhlas Beramal.
Disamping itu Depag juga menggunakan istilah dalam setiap hari ulang tahunnya dengan nama HAB (Hari Amal Bakti). Istilah ini mengindikasikan amal adalah perbuatan yang bernuansa positif, sedangkan bakti merupakan bentuk pengabdian pelayanan seseorang pada orang lain dalam komunitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara secara ikhlas.
Ikhlas dalam etimologis bermakna murni, tidak tercampur, bersih, jernih, bebas, terhindar, selamat dari keburukan (Kamus al-Munawwir: 388). Dalam terminologi ikhlas adalah suatu perbuatan hati yang dapat mendekatkan diri pada Allah Swt dengan menjauhkan diri dari perasaan pamer.
Menurut Sahal, ikhlas adalah adanya konsistensi perbuatan seseorang hanya pada Allah semata (Ihya Ulumiddin: 369). Ibrahim bin Adham mendefinisikan ikhlas adalah kebenaran niat (dalam hati) karena Allah Swt (Ihya Ulumiddin: 369).
Imam Ghazali menegaskan lagi, ikhlas dalarn dimensi tauhid adalah antonim dengan kata syirik (Ihya Ulumiddin: 367). Ini dapat diartikan apabila seseorang dalam menjalankan sesuatu tidak ikhlas maka dapat dikategorikan orang yang rnenyekutukan Allah Swt (musyrik).
Read the rest of this entry »
Permalink
Older Posts »