Menyongsong Ramadhan Penuh Keampunan
August 19, 2008 at 12:30 pm | In Islami | 1 CommentTak terasa waktu begitu cepat berlalu, tak terasa kita akan segera memasuki bulan Ramadhan. Ada yang menyambutnya dengan gembira karena merasa ini adalah momentum terbaik bagi gugurnya dosa, meningkatnya harga pahala dan tersambungnya kembali jalinan silaturahim. Bulan penuh berkah, bulan penuh rahmah, bulan kembali kepada alquran dan ibadah. Seandainya setiap bulan adalah Ramadhan.
Di sisi lain ada juga sebagian dari kita yang biasa-biasa saja menyambut Ramadhan, tidak ada yang istimewa. Padahal Rasulullah SAW, mengajarkan kita untuk berdoa agar bisa disampaikannya pada bulan ramadhan. Ya Allah berkatilah kami di bulan Rajab, berkatilah kami di bulan Sya’ban dan ijinkanlah kami untuk bertemu dengan bulan Ramadhan. Subhanallah, itulah keistimewaan Ramadhan sampai-sampai Rasulullah meminta seperti itu. Karena kita tidak tahu, apakah masih ada umur kita sampai ke bulan penuh berkah itu?
Terkait dengan itu, adakah kita sudah mempersiapkan diri menyambutnya? Setidaknya ada beberapa persiapan yang harus kita lakukan, diantaranya: persiapan fisik (jasadiyah), mental (aqliyah), spiritual (ruhiyah), dan silaturahim.
Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
August 19, 2008 at 12:18 pm | In Umum | No CommentsPernah dimuat pada harian Radar Banjarmasin dan Mata Banua/ Selasa, 19 Agustus 2008
KEMERDEKAAN adalah suatu anugerah dari Allah swt. Begitu dilahirkan di dunia, telah melekat pada diri setiap manusia hak untuk hidup bebas. Manusia bebas untuk menentukan jalan hidupnya, untuk memilih cara dan gaya menjalani kehidupan lengkap dengan ketentuan dan konsekuensinya. Manusia dipersilakan untuk mengembangkan diri dan potensinya dengan landasan kemerdekaan itu.
Tetapi dalam sejarah yang dipopulerkan selama ini, ummat Islam Indonesia sempat mengenyam pengalaman pahit selama tiga setengah abad. Masa itu disebut sebagai masa kolonial lantaran bumi ummat Islam di nusantara diaku sebagai milik para pendatang –yang non-muslim. Pengakuan itu jelas tidak sah, tetapi mereka menegakkannya dengan segala daya dan kekuatan, yang ternyata tidak bisa diatasi oleh kaum muslimin.
Betapa pedihnya kehidupan pada saat itu. Kita tidak mempunyai kesempatan untuk membangun dan mendayagunakan kemampuan. Gerak dan kreativitas dibatasi. Kita hidup di bawah bayang-bayang dan ancaman. Kaum penjajah itu telah menindas bukan saja secara fisik dan harta benda, tapi juga secara moral dan spiritual.
Kalselku Sayang Kalselku Malang…. (Kado Hari Jadi Propinsi Kalimantan Selatan)
August 16, 2008 at 8:05 am | In Umum | 4 CommentsMemperingati Hari Jadi Ke-58 tanggal 14 Agustus 2008 Provinsi Kalimantan Selatan, diharapkan dapat menjadi refleksi hadirnya idealisme, harapan, kesuksesan, dan kesejahteraan bagi warga banua.
Peringatan hari jadi suatu daerah jika dianalogikan dengan perayaan hari kelahiran seseorang, maka iringan doa dan harapan demi kebahagiaan yang pantas untuk dilakukan. Memperingati “hari bersejarah” itu sesungguhnya merupakan upaya memahami diri sendiri dan fakta-fakta yang ada. Melihat fakta dan fenomena sejarah tersebut niscaya kita dapat menemukan dan mewujudkan kebaikan demi kemaslahatan bersama.
Peringatan hari jadi seyogyanya dijadikan momentum strategis bagi pembangunan Kalimantan Selatan. Bagi pemerintah daerah, hari jadi dapat menumbuhkan kewibawaan yang tinggi bagi aparatur pemerintahnya, wahana meningkatkan potensi sumber daya daerah, sarana menumbuhkembangkan dan memperkuat rasa keterikatan batin rakyat dengan banuanya.
Hari ini, Kalimantan Selatan genap berusia 58 tahun. Tapi masih banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan untuk menata banua ini.
Continue reading Kalselku Sayang Kalselku Malang…. (Kado Hari Jadi Propinsi Kalimantan Selatan)…
63 Tahun Indonesia Merdeka, Sebuah Otokritik
August 14, 2008 at 12:19 pm | In Umum | 3 CommentsHampir dapat dipastikan, setiap jatuh tanggal 17 Agustus, masyarakat kita senantiasa masuk dalam euforia-euforia kemerdekaan. Hampir dapat dipastikan pula, masyarakat menggelar hajatan, baik dalam lingkup RT, RW, kampung, atau bahkan nasional. Berbagai event digelar, mulai dari olahraga, pentas seni, pengajian, dan bahkan (maaf) larung sesaji pun dilakukan. Tradisi tahunan itu sepertinya mengisyaratkan bahwa masyarakat kita benar-benar merasakan adanya kebebasan dan kemerdekaan. Ya, kebebasan untuk melakukan segalanya.
Kembali menyoroti tentang peringatan kemerdekaan, ada sederet pertanyaan yang kemudian terejawantah kedalam sebuah perenungan mendalam. Ditengah euforia masyarakat dengan berbagai macam perayaan tersebut, sepertinya masyarakat kita benar-benar melupakan setumpuk permasalahan bangsa yang sekarang benar-benar ada di depan mata. Krisis multidimensi yang apabila kita tarik benang merahnya merupakan imbas dari krisis moral, ternyata mampu terlupakan dengan dilaksanakannya panjat pinang, atau bahkan yang lebih sering identik dengan dunia anak muda, pentas band atau dangdut yang marak disebut tontonan kawula muda. Lantas dimanakah permasalahan itu semua pada setiap tanggal 17 Agustus?
Continue reading 63 Tahun Indonesia Merdeka, Sebuah Otokritik…
Menimbang Ulang Calon Presiden “Daur Ulang”
August 14, 2008 at 12:17 pm | In Umum | No CommentsPernah dimuat pada harian Radar Banjarmasin/ Sabtu, 16 Agustus 2008
Setelah Megawati Soekarnoputri menyatakan kesediaan menjadi calon presiden untuk Pemilu 2009, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur mengemukakan pernyataan serupa. Dua mantan presiden ingin kembali menjadi calon presiden.
Selain Megawati dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), diduga “daur ulang” atas calon presiden (capres) juga akan dilakukan beberapa partai lain menjelang pemilu mendatang. Tokoh-tokoh politik lama amat mungkin akan beredar kembali untuk menebar pesona dan menawarkan harapan serta janji-janji politik baru. Mengapa demikian? Bagaimana kita harus membaca dan memahaminya?
Continue reading Menimbang Ulang Calon Presiden “Daur Ulang”…
Merdeka di Ladang yang Gersang
August 14, 2008 at 12:12 pm | In Umum | No CommentsPernah dimuat pada harian Barito Post/ Jum’at, 15 Agustus 2008
Hmm…Kemerdekaan. Kata yang satu ini kembali akrab di telinga kita yang bangsa Indonesia. Bagaimana tidak, dalam pekan-pekan ini bangsa Indonesia ada yang tengah bersuka cita merayakan kemerdekaanya yang ke-63, tepatnya 17 Agustus 2008.
Sepanjang jalan bendera merah putih berjejer seakan tengah berbaris. Umbul-umbul beraneka warna menyelingi merah putih itu. Warga ramai-ramai menghelat lomba. Acara-acara media elektronik dan cetak dengan serta merta mencoba menjadi nasionalis tulen. Berbagai jenis kendaraan dipasangi bendera cilik. Bangunan milik pemerintah dan swasta didekor semeriah dan seindah mungkin. Rumah-rumah warga dari yang mewah sampai yang butut pun tak luput ikut memasang bendera merah putih itu. Intinya satu yaitu, mereka mencoba mengaktualisasikan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-63 itu.
Pertanyaan yang kemudian menyeruak adalah: begitukah cara kita memperlakukan kemerdekaan itu? Adakah cara-cara lebih cerdas dan berperadaban dalam memaknai kemerdekaan itu?
Continue reading Merdeka di Ladang yang Gersang…
PKS, Selamat Datang Kekuasaan
August 14, 2008 at 12:05 pm | In Umum | 1 CommentPernah dimuat pada harian Mata Banua/ Kamis, 14 Agustus 2008
Sejak bergulirnya reformasi dan berdirinya PKS, termasuk ketika masih bernama PK, PKS telah tampil beda dengan partai lainnya. Sejak awal PKS tidak terlihat sebagai partai yang ingin berkuasa, partai ini terlihat hanya ingin sebagai penyeimbang, sebagai penjaga moral, dan sekadar ingin mengoreksi kesalahan dan penyimpangan yang ada. Sejak berdirinya, kehadiran PKS terlihat lebih memosisikan diri sebagai partai dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, dan ingin menunjukkan citra sebagai partai yang berbuat nyata untuk rakyat.
PKS merupakan satu dari sedikit partai yang setidak-tidaknya terlihat selalu beraktivitas sepanjang tahun dan bukan hanya menjelang pemilihan umum saja. PKS berbuat secara konkrit dalam aktivitas yang terkait langsung dengan kebutuhan rakyat banyak, termasuk saat bencana datang menimpa rakyat, bahkan untuk yang terakhir ini partai lain seakan meniru apa yang telah dilakukan oleh PKS.
Continue reading PKS, Selamat Datang Kekuasaan…
Masihkah Asa Itu Ada? (Renungan Kemerdekaan)
August 12, 2008 at 8:11 am | In Umum | 2 CommentsPernah dimuat pada harian Mata Banua/ Rabu, 13 Agustus 2008 dan harian Kalimantan Post/ Selasa, 19 Agustus 2008
REZIM bernama ‘sang waktu’ selalu bergerak pasti dan tidak tertahankan. Agustus 2008. Kini, kita bersua lagi dengan momentum bulan keramat: HUT Kemerdekaan! Kendati negeri kita masih terus terbalut multikrisis, dan di tengah reruntuhan bangunan kehidupan bersama kita sebagai bangsa, tetap saja ada asa (harapan) yang dapat direngkuh kembali.
Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Peringatan akan peristiwa sejarah paling monumental tersebut bakal terhenti sebagai rutinitas belaka, apabila kita tak mampu menyelami makna dan tujuan hakikinya. Kebosanan serta-merta muncul apabila peringatan HUT kemerdekaan dikemas tak lebih sebagai seremoni para pembesar negeri. Rasa mual bisa tiba-tiba menyerang rongga perut dan rongga dada sekaligus, saat kita menyaksikan para pembesar negeri bertingkah polah aneh-aneh, bertolak belakang dengan niatan para pendiri bangsa (the founding fathers), 63 tahun silam!
Continue reading Masihkah Asa Itu Ada? (Renungan Kemerdekaan)…
Mengagumi Mesjid Raya “Urang Banjar” Sabilal Muhtadin
August 5, 2008 at 12:10 pm | In Islami | 3 CommentsPernah dimuat pada harian Mata Banua/ Senin - Selasa, 11-12 Agustus 2008
Masjid Raya Sabilal Muhtadin kita kenal sebagai masjid kebanggaan landmark masyarakat kota Banjarmasin khususnya dan Kalimantan Selatan pada umumnya.
Masjid Raya ini memberikan warna keagamaan yang sangat khas dan kental di kalangan masyarakat Banjarmasin khususnya di dalam penyiaran Agama Islam. Masjid ini dalam setiap minggunya tidak kosong dari pengajian-penajian agama atau Majelis Ta’lim. Majelis Ta’lim disampaikan oleh ulama-ulama besar yang ada di Kalimantan Selatan, para ulama yang memberikan ceramah di sini memang sangat dipercaya masyarakat untuk memberikan suatu pengajaran tentang syariat Islam yang dibawakan oleh Rasulullah.
Dalam sejarahnya, pembangunan masjid yang dimulai sejak Gubernur Subardjo ini, baru diresmikan pada masa kepemimpinan Gubernur Mistar Tjokrokoesoemo. Sedangkan motor pembangunan adalah HM Said yang saat itu menjabat sebagai kepala Biro Pembangunan. HM Said di kemudian hari terpilih sebagai Gubernur Kalsel dua periode. Menjadi suatu kebanggaan, Presiden Soeharto pada waktu itu, berkenan hadir meresmikan buah karya mereka
Continue reading Mengagumi Mesjid Raya “Urang Banjar” Sabilal Muhtadin…
Pendidikan dan Gerakan Anti Korupsi
August 5, 2008 at 11:40 am | In Pendidikan | No CommentsPernah dimuat pada harian Radar Banjarmasin/ Senin, 4 Agustus 2008, pada harian Mata Banua dan Barito Post/ Selasa, 5 Agustus 2008
Masalah korupsi kini mencuat lagi. Belum lama ini berita-berita di media massa, baik cetak maupun elektronik, kembali dan mungkin terus mempertontonkan geliat praktik korupsi elite politik, pejabat dan mantan pejabat yang belum tuntas diusut di negeri “korup” ini.
Seolah hilang satu tumbuh seribu.Itulah peribahasa yang mungkin tepat menggambarkan fenomena praktik korupsi di Indonesia yang sudah menjangkit di mana-mana bak jamur di musim hujan. Modus praktik korupsi hampir terjadi di seluruh aspek kehidupan. Mungkin bisa dikatakan, tidak ada bidang kehidupan yang tidak tercemar virus korupsi, termasuk dalam pendidikan nasional kita.
Lord Acton dalam salah satu karyanya mengkritik kekuasaan yang bertalian erat dengan ragam aspek kehidupan yang rentan terjadi korupsi. “Power tends to corrupt, and absolute power tends to corrupt absolutely”, ungkap Acton. Baginya, kekuasaan cenderung untuk berbuat korupsi. Tesis Acton tersebut selaras dengan apa yang dikemukakan Montesquieu dalam Le Esprit Des Lois (The Spirit of Law), bahwa terhadap orang yang berkuasa ada tiga kecenderungan. Pertama, kecenderungan untuk mempertahankan kekuasaan. Kedua, kecenderungan untuk memperbesar kekuasaan. Ketiga, kecenderungan untuk memanfaatkan kekuasaan.
Generasi Fast Food dan Jati Diri Bangsa
August 2, 2008 at 8:25 am | In Umum | 4 CommentsPernah dimuat pada harian Radar Banjarmasin dan Barito Post/ Selasa, 5 Agustus 2008
Satu hal yang sedang di alami bangsa ini ialah perilaku mengadopsi tayangan luar (impor), sebagaimana acara di televisi saat ini. Dari Indonesian Idol, Deal or No Deal, Mama Mia, Who Wants to be Milionaire, Fear Factor Indonesia, belum lagi acara yang kini telah hilang yang setali tiga uang dalam korelasinya dengan mainstream tayangan impor seperti Penghuni Terakhir, AFI, Uang Kaget dan sebagainya.
Sudahkah berhenti di selebrasi reality show? Tidak juga. Kalau dilihat secara seksama beberapa sinetron kita juga bernafsu untk mengimitasi tayangan bangsa asing, seperti sinema F4 yang dijiplak.
Bagi peminat psikologi, pasti terbayang tesis Gabriel Tarde dalam teori imitasinya yang mengatakan “perdaban dunia lahir dari proses imitasi”. Karena lahirnya kreativitas seseorang juga lahir dari rahim imitasi. Namun tampaknya ini gejala yang lumrah pada negara berkembang yang dijadikan pangsa pasar negara maju. Seperti Indonesia yang dijadikan pangsa pasar produk Jepang
Isra Mi’raj dan Perjalanan Menuju Kesempurnaan
July 30, 2008 at 9:03 am | In Islami | 3 CommentsPernah dimuat pada harian Mata Banua/ Jum’at, 1 Agustus 2008
“Peringatan Isra’ Mi’raj menguji keteguhan umat Islam, apakah wahyu masih membimbing akal kita, apakah justru kita telah menafikan wahyu lantas keterlaluan asyik dengan logika dalam kehidupan beragama.”
Kuasa Allah nyata tak terbatas. Tinggal mengucap “kun” saja, maka terjadilah apa yang menjadi ketentuan-Nya. Apapun yang tak mungkin dalam pandangan manusia, mungkin dan mudah dalam pandangan Allah SWT. Sebagaimana begitu mudahnya Dia memperjalankan Rasulullah SAW dari Makkah ke Baitul Maqdis, dari bumi yang fana ini menuju hadirat-Nya : Sidratul Muntaha. Singkat saja waktu perjalanan yang ditempuh oleh Baginda Nabi. Cuma satu malam. Sampai-sampai hanya Abu Bakar As-Siddiq saja yang betul-betul penuh mempercayai tuturan pengalaman beliau.
Penduduk kota Mekkah yang rata-rata belum menganut Islam malah menertawakan kabar di-mi’raj-kannya Rasulullah SAW. Sebelum Rasulullah SAW di-mi’raj-kan Jibril a.s. “membedah” dada beliau, untuk membersihkan jiwa Baginda Nabi dari ‘debu-debu’ dunia. Kedalam hatinya kemudian didedahkan “iman” dan “hikmah”.
Continue reading Isra Mi’raj dan Perjalanan Menuju Kesempurnaan…
Isra Mi’raj dan Pemberantasan Korupsi
July 26, 2008 at 3:21 pm | In Islami | 2 CommentsPernah dimuat pada harian Barito Post/ Selasa, 29 Juli 2008
Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad merupakan tonggak lahirnya peradaban Islam berbasis keimanan yang kukuh. Perintah shalat adalah asas peradaban Nabi yang akan menegakkan keadilan sesuai nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Spirit lahirnya keadilan berbasis ketuhanan dan kemanusiaan menjadi tonggak keteladanan yang harus diserap dalam kesadaran umat Islam.
Itulah yang oleh Sheikh Muhammad al-Ghazali dalam Fiqh al-Sirah dikatakan, Isra Mi’raj menjadi tonggak lahirnya Islam sebagai agama fitrah. Semua ajaran ibadah yang diwajibkan kepada umat Islam merupakan fondasi yang wajib dilaksanakan untuk menemukan sari pati dan esensi agama.
Muhammad Nafis Al-Banjari (Ulama Sufi Penyebar Islam dari Banjar)
July 26, 2008 at 3:09 pm | In Islami | No CommentsPernah dimuat pada harian Mata Banua/ Selasa, 29 Juli 2008
Dalam deretan ulama Banjar, nama Muhammad Nafis al-Banjari tak kalah masyhur dibanding Muhammad Arsyad al-Banjari. Kalau Muhammad Arsyad dikenal sebagai ahli syariat, maka Muhammad Nafis dikenal sebagai pakar ilmu kalam dan tasawuf. Dengan keilmuannya, ia berhasil menorehkan prestasi sebagai salah seorang ulama terkemuka Nusantara.
Dialah pengarang “Durr Al-Nafis”, kitab berbahasa Jawi yang dicetak berulang-ulang di Timur Tengah dan Nusantara, yang masih dibaca sampai sekarang. Dia berada dalam urutan kedua setelah Muhammad Arsyad Al-Banjari dari segi pengaruhnya atas kaum muslimin di Kalimantan. Apa yang yang harus dilakukan kaum muslimin agar memperoleh kemajuan dalam hidup? Mengapa Belanda melarang kitabnya beredar di Indonesia?
Syeikh Muhammad Nafis Al-Banjari bin Idris bin Husien, lahir sekitar tahun 1148 H./1735 M.,di Kota Martapura Kalimantan Selatan, dari keluarga bangsawan atau kesultanan Banjar, silsilah dan keturunanya bersambung hingga Sultan Suriansyah (1527-1545 M.) Raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam sebelumnya bernama Pangeran Samudera.
Continue reading Muhammad Nafis Al-Banjari (Ulama Sufi Penyebar Islam dari Banjar)…
Menggali Khazanah Kuliner Tradisional Kalsel (Katupat Kandangan, Gangan Humbut Sampai Garih Batanak)
July 24, 2008 at 8:03 pm | In Umum | 3 CommentsPernah dimuat pada harian Radar Banjarmasin/ Kamis, 31 Juli 2008 dan harian Mata Banua/ Kamis-Jum’at, 31 Juli - 1 Agustus 2008
Wisata kuliner akhir-akhir ini semakin populer. Bukan hanya karena dipopulerkan oleh berbagai acara yang diproduksi oleh hampir semua stasiun televisi swasta. Kisah-kisah dan liputan cerita seputar kudapan dan santap menyantap, juga semarak mewarnai konten layar kaca. Beragam menu makanan, terutama menu khas daerah, menjadi primadona. Bahkan menu yang sebelumnya jarang atau bahkan tak pernah dikenal, mendadak menjadi menu makanan yang dicari banyak orang.
Sebenarnya, soal berburu makanan khas daerah bukan baru-baru ini saja. Jauh sebelum bung Bondan Winarno berkeliling Nusantara mengucapkan “mak nyuus!”, masyarakat kita pada umumnya memang paling senang berburu santapan menu khas daerah, terutama bila sedang berkunjung ke suatu tempat.
Coba lihat, bagaimana orang berebut mengacungkan uang untuk mendapatkan beberapa bungkus nasi goreng atau mie ayam di Jalan Kuripan. Atau sabar berdiri menunggu meja kosong di Soto Bang Amat dan Soto Bawah Jembatan, atau berdesakan menunggu pesanan di warung ketupat Parincahan. Atau bahkan sikut-sikutan berebut memadati meja pesanan bakso Batuah, Martapura. Hal itu sudah menjadi pemandangan lumrah, terutama pada saat hari libur, sejak bertahun-tahun lamanya.
Kini, dengan penyebaran informasi yang begitu dahsyat, perburuan kuliner memang menjadi semakin seru. Semakin piawai ekspresi raut muka bung Bondan kala menyeruput sendok berisi kuah sedap, semakin sulit rasanya menahan air liur ini untuk –maaf- tidak menetes. Dan, kitapun menjadi semakin bernafsu untuk benar-benar mencicipinya tatkala kita berada dalam radius jangkauan jejak langkah kita dengan menu idaman tersebut.
Asa di Tengah Nestapa Hari Anak Nasional
July 23, 2008 at 8:45 am | In Umum | 1 CommentPernah dimuat pada harian Mata Banua dan Barito Post/ Kamis, 24 Juli 2008, serta pada harian Kalimantan Post/ Rabu, 13 Agustus 2008 dengan judul “Tanggung Jawab terhadap Anak”
Tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional sebumi Indonesia Raya. Terus besoknya yaitu pada tanggal 24 Juli adalah peringatan diratifikasinya Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women) menjadi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984.
Konon, istilah hak asasi anak maupun hak asasi perempuan lahir untuk menjawab bahwa pada kenyataannya cara pandang yang menyama-ratakan laki-laki-perempuan, dewasa-anak, adalah kurang tepat.
Sejatinya fakta menunjukkan bagaimana anak-anak di bumi Indonesia Raya ini mengalami kelaparan, kekerasan, ditelantarkan, putus sekolah tidak punya biaya, anak jalanan berserakan di stasiun dan pelosok kota, dan lain-lain dan seterusnya. Demikian pula perempuan mengalami diskriminasi, baik dalam keluarga, komunitas, maupun kehidupan bernegara.
Negara punya tanggung jawab dan kewajiban untuk mengayomi itu semua, justeru penyelenggara negara yang diberi kepercayaan oleh rakyatnya, sibuk mengurusi urusan golongannya masing-masing, sampai skandal (selingkuh) pun menjadi kesibukan khusus bagi mereka.
Kekerasan (Politik) dan Agenda Pendidikan Kita
July 23, 2008 at 8:33 am | In Pendidikan | 1 CommentPendidikan adalah sahutan paling ujung yang masih sempat dipercaya, ketika kecemasan terbit dan kita nyaris kehilangan kepercayaan kepada semua hal. Kita tercemas oleh sejumlah anomali dan kontradiksi yang sesehari datang menerpa layar kesadaran kita. Ketika frekuensi terpaan itu semakin meningkat, dan di lain pihak institusi-institusi sosial-politik dan pranata-pranata lainnya terasa “lembek” maka kecemasan itu pun kian menjadi. Dalam cemas itulah kita menengok, dan sekaligus mendamba, akan peranan pendidikan.
Celakanya, tindakan kekerasan sedang menghinggapi kehidupan perpolitikan nasional. Masih hangat dalam ingatan kita, betapa aspek kekerasan begitu mengemuka ketika menjelang Pemilu 2004 lalu, beberapa anggota dan simpatisan partai politik tertentu melakukan cap jempol darah, sebagai perlambang kesetiaan dan kesiapan untuk “berjuang” agar calon presiden mereka dikukuhkan oleh MPR. Pemilu 2004 juga diwarnai bentrok antarmassa pendukung partai politik. Di Buleleng, Bali, bentrok antara massa PDI Perjuangan dengan Partai Golkar bahkan menewaskan dua kader Beringin. Kekerasan politik tersebut praktis menaikkan tensi politik menjelang Pemilu 2004.
Suasana makin panas, karena elite kedua partai politik mengeluarkan komentar yang saling menegasikan. Ketua Umum DPP Partai Golkar Akbar Tandjung mengatakan bahwa terbunuhnya dua kader Golkar di Buleleng tidak bisa ditoleransi. Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Soetjipto membela diri bahwa banteng-banteng PDIP tidak akan mengamuk kalau tidak diganggu.
Continue reading Kekerasan (Politik) dan Agenda Pendidikan Kita…
Anak Jalanan Juga Manusia (Sub-Kultur Masyarakat Kota Banjarmasin Yang Terlupakan)
July 23, 2008 at 8:22 am | In Umum | No CommentsPernah dimuat pada harian Mata Banua/ Jum’at, 25 Juli 2008 pada Radar Banjarmasin/ Sabtu, 26 Juli 2008 dan pada Kalimantan Post/ Selasa, 5 Agustus 2008
Pola kehidupan masyarakat Kota Banjarmasin dewasa ini agaknya tidak dapat dilepaskan dengan pola kehidupan anak jalanan. Artinya kehidupan anak jalanan sudah menjadi bagian dari keseluruhan kehidupan masyarakat Kota Banjarmasin. Kultur masyarakat secara keseluruhan merupakan perilaku mapan yang didasarkan pada rasa, cipta, dan karsa masyarakat dalam menyikapi kehidupan itu sendiri. Di dalam kultur ada bagian-bagian yang disebut subkultur.
Sub-kultur dari sebuah kehidupan masyarakat dapat hadir kapan dan di mana saja. Walaupun demikian subkultur itu bukanlah satu gejala yang lahir begitu saja, tetapi berkaitan erat dengan berbagai peristiwa lain yang menjadi konteksnya. Bila diperhatikan secara seksama, maka kehidupan anak jalanan di Kota Banjarmasin merupakan subkultur masyarakat Banjarmasin itu sendiri, karena kehidupan anak jalanan tersebut sudah menjadi bagian dari kultur masyarakat Kota Banjarmasin. Sebagai sebuah subkultur, kehidupan anak jalanan ini bukanlah sebuah hal yang kebetulan, tetapi memiliki cerita yang panjang dari sisi budaya, sosial, politik, bahkan reliji.
Anak jalanan pada umumnya adalah kaum muda yang sebenarnya adalah aset negara yang berharga. Sebagai modal kekuatan bangsa kaum muda ini harus disiapkan sedini mungkin dan ini menjadi tugas orang dewasa. Penyiapan-penyiapan yang terpenting adalah usaha agar mereka bisa melalui masa transisinya menuju dewasa. Di sinilah terlihat adanya perbedaan yang jelas antara penyiapan masa muda dengan masa dewasa. Pada hakikatnya masyarakat telah menempatkan anak-anak sepenuhnya di bawah kontrol orang tua. Para orang tuapun memiliki kekhawatiran jika masa transisi anak-anak mereka menjadi masa yang kritis sehingga berakibat kurang baik. Kekhawatiran itulah yang kini tidak hanya sebagai sebuah ketakutan tetapi sudah menjadi bukti dalam kehidupan masyarakat ketika ini dan di antaranya adalah kehidupan anak jalanan.
Continue reading Anak Jalanan Juga Manusia (Sub-Kultur Masyarakat Kota Banjarmasin Yang Terlupakan)…
Revolusi Moral dari Jalan Raya
July 10, 2008 at 8:16 pm | In Umum | 3 CommentsPernah dimuat pada harian Mata Banua/ Senin, 14 Juli 2008 dan harian Kalimantan Post/ Jum’at, 18 Juli 2008
Jalan raya adalah salah satu cermin yang baik untuk memantulkan moral kita. Di jalan kita tak punya teman atau tetangga. Pun nyaris tak ada yang mengenal kita. Nyaris tak ada yang tahu apakah kita mengendarai mobil sendiri, mobil pinjaman, atau menyetirkan mobil bos kita. Kaca-kaca mobil kita hampir secara sempurna menyembunyikan wajah kita. Sementara itu sesame pengendara memang tak punya kesempatan banyak untuk saling memperhatikan wajah, karena harus berkonsentrasi pada suasana jalan.
Pada situasi itu kita tak lagi merasa sungkan atau perlu berbasa-basi. Karenanya gerak-gerik kita adalah gerak-gerik alami, tanpa polesan. Perilaku yang merupakan refleksi dari alam bawah sadar kita. Dan itu adalah wakilan dari moral kita yang asli. Karenanya, sekali lagi, jalan raya mencerminkan dengan baik keadaan moral kita.
Semrawut adalah kata kunci yang tepat untuk mendeskripsikan suasana jalan kita. Kesan itu bisa segera kita tangkap hanya dengan pengamatan sekilas sekalipun. Bagi sebagian orang asing yang terbiasa dengan suasana tertib, jalan raya kita tak hanya semrawut, tapi juga menakutkan. Lemahnya manajemen transportasi, kurangnya sarana pendukung jalan raya, dan sebagainya, boleh jadi memberi kontribusi yang cukup besar terhadap terciptanya suasana semrawut itu. Tapi sulit untuk menyangkal bahwa kunci masalahnya terletak pada korupnya moral kita sebagai pengguna jalan.
Continue reading Revolusi Moral dari Jalan Raya…
Ada Apa dengan Listrik Kita?
July 10, 2008 at 8:11 pm | In Umum | 3 CommentsPernah dimuat pada harian Mata Banua dan Barito Post/ Kamis, 3 Juli 2008
PLN adalah badan usaha milik negara yang berfungsi melayanani rakyat agar terpenuhi kebutuhan dasar energi listrik. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat menggantungkan hidupnya pada perusahaan tersebut. Sebagian besar rumah penduduk di perkotaan bahkan tidak lagi memiliki lampu teplok atau petromak yang lazim digunakan manusia abad pertengahan. Maka pelayanan PLN yang kurang baik akan mengganggu kehidupan masyarakat.
Harapan masyarakat kepada PLN yang dimonopoli negara itu sering berujung kekecewaan. Misal, PLN yang nyala-padam secara dadakan alias tanpa jadwal, apakah siang atau malam hari, tegangan (voltage) listrik yang lemah dan labil, merupakan bagian kecil masalah yang dikeluhkan warga. Sebab bukan cuma gelap tiba-tiba tapi banyak peralatan milik warga yang menggunakan energi listrik yang rusak.
“Memuyaki” itulah istilah yang bisa diberikan untuk menggambarkan jeleknya pelayanan listrik di daerah ini. Capek deh! Lebih aneh lagi di tengah pelayanan yang masih buruk itu, belakangan ini PLN mengumumkan rencana kenaikan tarif. Menyikapi hal ini, seorang warga bercelutuk: “Yang penting kan pemasukan, masa bodoh soal pelayanan!” Pelayanan buruk yang “mentradisi”, begitu istilah seorang warga.
Media Massa dan Proses Demokratisasi Lokal
July 10, 2008 at 8:08 pm | In Umum | No CommentsPernah dimuat pada harian Mata Banua/ Sabtu, 12 Juli 2008 dan Radar Banjarmasin/ Sabtu, 19 Juli 2008
Pemilihan Bupati/ Wakil Bupati telah berlangsung di beberapa kabupaten di Kalimantan Selatan. Fenomena yang bisa kita lihat di berbagai sudut kota, beberapa calon yang secara terang-terangan melakukan kampanye untuk menarik simpati dari pendukungnya. Fisik kota berubah cerah oleh baliho, spanduk, poster, stiker, billboard yang ditempel dan terpasang di segala sudut kota yang dianggap strategis, layaknya iklan produk komersial. Satu hal yang terpampang sangat menonjol adalah : gambar wajah sang Cabup - Cawabup.
Keadaan ini merupakan refleksi dari proses demokratisasi yang salah satu perwujudannya adalah semakin terbukanya ruang-ruang publik untuk mengekspresikan harapan, keinginan, dan tuntutannya melalui sarana publikasi (non media massa ) seperti spanduk, poster, brosur maupun melalui media massa cetak dan elektronik.
Politik wacana pasca-Orde Baru tentang ruang publik sebenarnya bukanlah hal baru dalam konteks hubungan negara dengan rakyat. Wacana ini mulai berkembang sejalan dengan meluasnya gagasan tentang demokratisasi dan civil society yang menekankan pentingnya peran serta masyarakat dalam pembuatan kebijakan.
Continue reading Media Massa dan Proses Demokratisasi Lokal…
Ulama Makin Langka, Umat Islam Nelangsa
June 30, 2008 at 10:57 am | In Islami | 21 Comments(Refleksi Jelang Haul Ke-3 Guru Sekumpul)
Pernah dimuat pada harian Radar Banjarmasin dan Barito Post/ Kamis, 3 Juli 2008, harian Mata Banua/ Jum’at, 4 Juli 2008 dan Kalimantan Post/ Selasa, 8 Juli 2008
Dan sesunggunya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub dan jadikanlah ia, ya Tuhan… hamba yang Engkau ridhai..( Q.S.16. Maryam : 4-5)
Setiap kali terdengar berita tentang wafatnya seorang ulama, betapa setiap dada mukmin pasti bergetar, khawatir kalau-kalau yang patah takkan tumbuh dan yang hilang takkan terganti. Dalam suasana berkabung seperti itu biasanya doa senada Nabi Zakaria di atas rasanya relevan dan seharusnya terdengar lebih nyaring.
Demikian kira-kira gambaran situasi keresahan umat Islam di Kalsel khususnya di Martapura sekarang ini, dilihat dari kacamata keprihatinan akan semakin langkanya ulama.
Kelangkaan ulama selalu diperbincangkan masyarakat banua Banjar, semenjak ulama-ulama di daerah ini satu persatu dipanggil Allah SWT dan yang serasa baru saja dipanggil adalah Al-Mukarram KH.Muhammad Zaini Abdul Ghani atau yang akrab kita panggil Guru Sekumpul, pada hari Rabu 5 Rajab 1424 Hijriyah atau 10 Agustus 2005, tiga tahun lalu. Martapura berduka pada saat itu, betapa tidak seorang putra terbaiknya yang selama ini menjadi panutan, rujukan bahkan “idola” umat telah berpulang ke rahmatullah, menghadap Ilahi Rabbi. Di tengah kelangkaan dan tanda tanya siapa gerangan “pewaris” Sekumpul, hati yang pilu penuh duka cita tak dapat disembunyikan, bahkan hingga kini.
Cinta Sebagai Mata Air Peradaban
June 30, 2008 at 10:53 am | In Islami | 2 CommentsPernah dimuat pada harian Mata Banua/ Selasa, 1 Juli 2008
“Jika cinta pudar, semesta akan ganas”. Kalimat tersebut ditorehkan sufi kenamaan Jalaluddin Rumi (1207-1393) dalam magnum opus-nya Matsnawi. Cinta bagi Rumi merupakan ruh peradaban, sumbu kebudayaan yang akan menyulut terkobarnya pesan abadi Tuhan, terjelmanya persaudaraan universal di kalangan umat manusia (Q.S. 49:13) yang humanis, damai, ramah dan santun (Q.S. 21:107).
Cinta ala Rumi pada hakikatnya merupakan ajaran inti setiap nabi, substansi dari agama, esensi dari iman. Tidak ada satu dogma pun yang mengajarkan umatnya untuk saling membenci, melegalkan kekerasan, mengabsahkan tindakan keji dan munkar.
Dalam ajaran Islam, misalnya, ditanamkan bahwa cinta sesama makhluk merupakan manifestasi cinta kepada Allah, seperti tersirat dalam hadis, “Cintailah semua yang ada di bumi, engkau akan dicintai oleh yang ada di langit” atau “Tidaklah beriman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Ketika pemuka sufi Ibn Arabi ditanya ihwal agama yang dianutnya, ia menjawab, “Cinta adalah agamaku; kemana pun binatang penunggangnya menuju, di sanalah agama ditambatkan.”
Dalam riwayat lain tatkala al-Fadhil ibn Yasar bertanya kepada Imam Shadiq a.s. tentang dari mana iman datang, beliau menjawab, “Keimanan itu tak lain adalah cinta,” atau dalam redaksi Imam Baqir a.s., “Agama adalah cinta dan cinta ialah agama.”
Continue reading Cinta Sebagai Mata Air Peradaban…
Andaikan Saya Jadi Presiden RI 2009
June 26, 2008 at 3:44 pm | In Umum | 2 CommentsPernah dimuat pada harian Barito Post/ Sabtu, 28 Juni 2008 dan Radar Banjarmasin/ Rabu, 9 Juli 2008
Saya hanya berandai-andai, bukan sungguh-sungguh ingin menjadi Calon Presiden apalagi menjadi Presiden terpilih di tahun 2009 nanti. Saya tak punya nyali, tak ingin bermimpi apalagi mempersiapkan diri, karena saat ini jangan harap anda akan jadi “kepala negara” kecuali anda punya percaya diri yang tinggi, tampil dengan gagah berani, punya duit bergoni-goni, punya stamina yang tak pernah mati, sibuk beranjang sana anjang sini, dan tebar pesona ke sana ke mari.
Saya juga tak mau jadi Presiden karena saya tidak sampai hati kalau kampanye harus berani tebar janji yang tak perlu ditepati, rajin memberi agar rakyat terbuai dalam mimpi, tampilkan diri seolah orang yang tulus dan baik hati, dengan harapan rakyat akan memilihnya saat Pilpres nanti.
Saya tidak pandai berbuat untuk meyakinkan diri, agar dipilih nanti, melakukan cara dengan memunculkan image diri seolah sangat islami, bisa menunjukkan kesan seolah keluarga yang harmoni, dan menghiasi media massa dengan aktivitas dan foto diri. Saya hanya bisa berandai-andai karena saya tak punya nyali untuk mencalonkan diri, karena saya merasa tidak sanggup melakukan cara-cara tidak etis dan cara tak terpuji, apalagi sampai berdusta dan mengelabui.
Kita, Sang Arsitek Peradaban Itu
June 25, 2008 at 10:22 am | In Islami | No CommentsPernah dimuat pada harian Barito Post/ Rabu, 25 Juni 2008 dan harian Radar Banjarmasin/ Jumat-Sabtu, 27-28 Juni 2008
Hanya akal-akal raksasa yang tercerahkan wahyu yang siap menjadi pimpinan proyek peradaban kehendah Allah. Di mana mereka sekarang?
Umat Islam sedang menghadapi sebuah tuduhan yang tidak mengenakkan. Tuduhan itu adalah tuduhan sebagai biang teroris dan kekerasan. Berbagai counter wacana digulirkan untuk mengatasi tuduhan miring tersebut. Wajah Islam yang damai terus disorot dalam berbagai kajian untuk melawan tuduhan selama ini sebagai biang terorisme.
Perlawanan terhadap tuduhan yang tidak mengenakan atas umat Islam tersebut tentulah menghabiskan banyak energi dan perhatian dari intelektual dan aktivis Islam. Umat Islam terjebak dalam wacana-wacana Barat dan terpaksa harus mencounternya dengan penuh konsentrasi.
Ironisnya, pergulatan itu juga terjadi secara internal dalam tubuh umat Islam sendiri. Kelompok muslim “garis lunak” sibuk berdebat dengan kelompok muslim “garis keras” tentang haluan gerakan masing-masing.
Akhirnya yang terjadi adalah saling menyalahkan antar umat Islam sendiri. Yang sedang mencounter anggapan Islam sarang kekerasan harus berhadapan pula dengan sebagian kelompok umat Islam yang menampilkan wajah keras. Sementara kelompok Islam yang berwajah keras memusuhi pula kelompok Islam yang sedang berusaha menampilkan wajah damai.
Waspada Narkotika di Sekolah
June 24, 2008 at 2:04 pm | In Pendidikan | 5 CommentsPernah dimuat pada harian Mata Banua/ Kamis, 26 Juni 2008 dan harian Radar Banjarmasin/ Selasa, 1 Juli 2008
DALAM beberapa tahun belakangan ini, berita tentang narkotika tidak pernah ada habisnya. Penggerebekan, penangkapan, mereka yang harus mendekam di balik jeruji besi akibat penyalahgunaan narkotika dan seterusnya. Peredarannya semakin marak dan meluas dari kota besar ke daerah sekitarnya, dari kalangan menengah ke kelompok paling bawah, dan dari kelompok remaja ke anak-anak.
Penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif lainnya itu tentu membawa dampak yang luas dan kompleks. Dari sekian banyak permasalahan yang ditimbulkan sebagai dampak penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif antara lain adalah perubahan perilaku menjadi perilaku antisosial, gangguan kesehatan, menurunkan produktivitas kerja secara drastis, mempertinggi jumlah kecelakaan lalu lintas, kriminalitas, dan tindak kekerasan lainnya.
Hal ini lebih diperburuk lagi dengan mudahnya terjadi komplikasi medik berupa kelainan paru, gangguan fungsi liver, hepatetis, dan penularan HIV/AIDS karena pemakaian jarum suntik secara bergantian (Dadang Hawari; 2002).
Jumlah korban yang tewas setiap harinya akibat mengonsumsi narkoba mencapai 41 orang atau setahun sekitar 15.000 orang (mayoritas remaja) Indonesia tewas karena penyalahgunaan narkotika Dalam kata lain, penyalahgunaan narkotika membawa pada kematian yang mengenaskan dan sia-sia.
Membangun Daya Kritis Warga Banua
June 23, 2008 at 9:40 am | In Umum | 2 CommentsPernah dimuat pada harian Barito Post/ Rabu, 25 Juni 2008
Secara teoritis, sistem nilai dan budaya masyarakat akan ikut berpengaruh terhadap sikap dan perilaku politik yang ditampilkan masyarakat itu sendiri. Dari hal seperti inilah kemudian dikenal istilah budaya politik (politic culture) yang dianut oleh suatu bangsa dan komunitas masyarakat tertentu. Budaya politik inilah yang membentuk sikap dan perilaku politik masyarakat, baik dalam menentukan pilihan maupun mengambil keputusan. Cita-cita, harapan, dan keinginan dalam percaturan politik di negeri ini mencerminkan hal tersebut.
Perilaku politik yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita hari ini tidak terlepas dari peran partai politik yang ada dan juga para politisi kita yang merupakan tokoh yang menjadi contoh bagi masyarakat. Peran partai politik yang berlangsung saat ini memang dirasakan kurang berjalan secara maksimal. Partai politik tidak mampu melakukan transformasi nilai-nilai pendidikan politik bagi masyarakat. Masyarakat hanya dijadikan objek kepentingan yang ada di dalam partai politik tersebut. Tidak beda halnya dengan tokoh-tokoh politisi yang ada.
Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Bupati dan Wakil Bupati di beberapa kabupaten di Kalsel diharapkan mampu melakukan perubahan ke arah yang lebih baik bagi masyarakat banua. Bukan hanya perubahan pada fisik daerah saja akan tetapi mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik akan pola tingkah laku masyarakat dalam menentukan pilihannya.
Upaya Meningkatkan Sektor Pariwisata Kalsel
June 21, 2008 at 11:07 am | In Umum | 5 CommentsCatatan dari Festival Budaya Pasar Terapung 2008 [21-22 Juni 2008]
Pernah dimuat pada harian Mata Banua/ Senin, 23 Juni 2008
Industri pariwisata merupakan sektor yang memberi harapan besar bagi pengembangan ekonomi di banyak negara sehingga sektor pariwisata memegang peranan penting dalam produk domestic bruto (PDB). Selain itu, sektor pariwisata juga dianggap memiliki efek ganda dan dapat menggerakan ekonomi di seluruh lapisan masyarakat. Namun demikian, negara kita termasuk Kalimantan Selatan tidak mampu menjadikan sektor pariwisata sebagai sumber pendapatan yang dominan, padahal potensi kita sangat besar.
Pariwisata kita sangat jauh tertinggal dengan negara tetangga, peningkatan kunjungan wisata pada beberapa negara tetangga jauh lebih tinggi dari pada apa yang kita peroleh. Pada tahun 1991, jumlah wisatawan yang mengunjungi Malaysia, Singapura, dan Thailand adalah sekitar 5 sampai 5,5 juta pengunjung, dua kali lebih besar dari pada Indonesia. Sementara pada tahun 2005, Malaysia mendatangkan 15 juta wisatawan, sedangkan Indonesia hanya bisa mendatangkan 5 juta wisatawan.
Mengingat potensi sektor pariwisata yang begitu besar terhadap perekonomian, mestinya pariwisata dijadikan sebagai salah satu prioritas untuk dikembangkan di Kalimantan Selatan, apalagi potensi pariwisata Kalsel tidak kalah, khususnya jika dibandingkan dengan daerah lain. Kalsel memiliki beragam potensi wisata, mulai dari pantai, hutan, pegunungan, sampai wisata religi dengan situs-situs sejarah yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat tujuan wisata yang menarik. Di samping itu, dengan beragam budaya daerah, Kalsel juga sangat potensial dikembangkan sebagai tujuan wisata budaya, wisata religius, maupun wisata kuliner.
Continue reading Upaya Meningkatkan Sektor Pariwisata Kalsel…
Urang Banjar dan Tirani “Kebebasan”
June 20, 2008 at 2:41 pm | In Umum | 2 CommentsPernah dimuat pada harian Radar Banjarmasin/ Sabtu, 21 Juni 2008
Seorang kawan pernah bercerita tentang seorang kenalannya yang berkewarganegaraan asing. Kabarnya ia lebih senangnya memilih tinggal di Banjarmasin ketimbang di negaranya. Apa pasal? Bukankah di negara asalnya segala sesuatu serba tersedia. Masyarakatnya jauh lebih terpelajar dan modern. Kemudahan hidup dengan berbagai penunjang teknologi tingkat tinggi bisa ditemui di mana-mana. Pelayanan terhadap masyarakat pun jauh lebih berkualitas.
Sang bule hanya menjawab, karena di Banjarmasin dia bisa bebas “melakukan apa saja”. Tanpa adanya berbagai macam larangan yang berkaitan dengan disiplin hidup, dan tentunya tanpa semua denda berlipat yang mengikutinya.
Mendengar cerita ini muncul sebuah kegelian sekaligus keprihatinan. Bagaimanapun juga menjadi sebuah hal yang ironis, ada seseorang yang lebih “cinta” banua kita dengan alasan yang justru membuat daerah kita memiliki kelebihan dibanding negaranya sendiri. Berbeda dengan alasan pemungutan pajak yang lebih rendah misalnya, yang mungkin relatif bisa diterima.
Keprihatinan yang muncul tentunya apabila kita mencoba merefleksikan alasan “kebebasan hidup” yang ia kemukakan dengan kondisi faktual di banua kita. Tanpa berusaha mengaitkannya dengan era reformasi, memang harus kita akui di daerah ini kita benar-benar bisa hidup dengan “bebas” dalam arti yang sebebas-bebasnya.
MTQ, Upaya Membumikan Al-Qur’an
June 20, 2008 at 2:38 pm | In Islami | No CommentsPernah dimuat pada harian Kalimantan Post/ Senin, 23 Juni 2008
Al-Qur’an dipahami secara umum sebagai verbum dei (kalam Allah) merupakan petunjuk yang harus diterjemahkan dalam kehidupan manusia. Jaminan keselamatan dan kebahagian adalah garansi mutlak bagi siapa pun yang mengikuti dan mengamalkannya. Tentu doktrin ini akan selalu dilestarikan oleh umat Islam dengan berbagai cara yang tujuannya untuk mengeksiskan al-Qur’an sepanjang zaman. Dari berbagai cara yang dilakukan setidaknya Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) baik mulai tingkat kecamatan sampai internasional adalah salah satu altenatif memasyarakatkan al-Qur’an.
Dalam kaitan ini, merupakan suatu kebanggaan bagi masyarakat Propinsi Banten yang menjadi tuan rumah MTQ Nasional ke-XXII yang dilaksanakan 17-24 Juni 2008. Acara MTQ tersebut diharapkan adalah untuk kembali “melangitkan” kesadaran “membumikan” al-Qur’an kepada seluruh lapisan masyarakat yang sudah banyak tidak perduli dengan pedoman hidupnya sendiri.
Bahkan, di era modern dewasa ini terjadi pergeseran nilai-nilai yang dianut umat Islam. Semangat untuk menjadikan al-Qur’an acuan hidupnya mulai redup untuk tidak mengatakan hilang dengan hantaman peradaban global yang menyeret umat Islam hampir pada seluruh lapisan tidak simpati terhadap al-Qur’an. Hal ini diindikasikan dengan banyaknya umat islam tidak pandai membaca al-Qur’an padahal tempat untuk belajar atau media dan fasilitas serba lengkap untuk bisa mengetahui al-Qur’an.
Belajar Dari Umar Bin Abdul Aziz
June 20, 2008 at 2:35 pm | In Umum | No Comments(Dari Putra Daerah Untuk Bupati HSS Terpilih)
Pernah dimuat pada harian Barito Post/ Sabtu, 21 Juni 2008
Sejarah Islam mencatat bahwa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz merupakan masa keemasan kepemimpinan Islam pasca kepemimpinan sahabat - sahabat Nabi. Selama kepemimpinannya yang hanya beberapa tahun mampu membawa perubahan total pada masyarakat.
Selama kepemimpinan Umar, tidak ada lagi masyarakat yang miskin , melarat, kumuh, bodoh , dan tidak punya masa depan. Saking makmurnya, sampai - sampai ketika para amil zakat berkeliling di perkampungan-perkampungan Afrika, mereka tidak menemukan seseorang pun yang mau menerima zakat. Negara benar-benar mengalami surplus, bahkan sampai ke tingkat di mana utang-utang pribadi dan biaya pernikahan warga pun ditanggung oleh negara.
Kita teringat dengan janji Dr. HM. Safi’i MSi dan Ardiansyah, SHut ketika kampanye Pilbup yang lalu. Mereka berjanji kalau terpilih memimpin HSS akan membuat rakyat HSS tidak ada lagi yang lapar, bodoh, dan sakit. Mereka juga berjanji akan memberi masa depan yang baik bagi seluruh rakyat HSS. Janji mereka itu tidak ubahnya dengan apa yang telah dicapai oleh Umar bin Abdul Aziz beberapa abad yang lalu. Maka tidak salah dalam mewujudkan janji itu keduanya belajar dari Umar bin Abdul Aziz.
Al-Qur’an, Di Manakah Kau Berada Kini?
June 20, 2008 at 2:32 pm | In Islami | No Comments
Pernah dimuat pada harian Radar Banjarmasin, Mata Banua dan Barito Post/ Sabtu, 21 Juni 2008
Hari ini, sebagian besar umat Islam masih belum memfungsikan Al-Qur’an sebagaimana mestinya. Hampir setiap tahun dilombakan keindahan suara dalam membaca Al-Qur’an pada setiap acara perlombaan MTQ. Dan setiap kali acara pelantikan pegawai negeri, selalu diletakkan Al-Qur’an di atas kepala mereka untuk diambil sumpahnya. Hanya sampai sebatas itu sajakah fungsi Al-Qur’an sebagai kitab yang menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya?
Al-Qur’an merupakan kitab terakhir yang diturunkan kepada Rasulullah SAW sebagai rasul terakhir, sebagai petunjuk yang akan membawa manusia kepada keselamatan dunia akhirat sampai akhir zaman. Namun demikian, masih banyak juga yang mempertanyakan bahkan menolak ketika aturan Allah hendak dijadikan hukum positif di Negara ini. Tidak sedikit yang mengatakan bahwa hukum Islam sudah sangat ketinggalan zaman, dan tidak mungkin mampu menyelesaikan masalah yang teramat sangat kompleks di zaman yang sudah terlampau modern ini, yang sangat jauh berbeda keadaannya dengan keadaan pada saat Al-Qur’an diturunkan. Kurang lebih seperti itulah opini yang sekarang berkembang di masyarakat.
Continue reading Al-Qur’an, Di Manakah Kau Berada Kini?…
MTQ, Ajaran Islam, dan Akhlaqul Karimah
June 20, 2008 at 2:31 pm | In Islami | No Comments
Pernah dimuat pada harian Mata Banua/ Selasa, 24 Juni 2008
“Marilah jadikan MTQ tingkat nasional ini sebagai salah satu media untuk menyebarkan syiar Islam. Untuk mempelajari dan mengamalkan ajaran Al-Quran di tengah derasnya arus perubahan sosial dan budaya dewasa ini. Umat Islam, insya Allah, akan meraih puncak kejayaan dan kemajuan dalam berbagai bidang jika tetap berpegang teguh pada Al-Quran dan sunnah Rasul” (Pidato Presiden SBY pada Pembukaan MTQ Nasional XXII di Propinsi Banten)
Perhelatan akbar MTQ Nasional XXII berlangsung di Serang, Banten digelar mulai 17-24 Juni 2008. Sebuah acara rutin tahunan yang digelar dan dilaksanakan oleh Panitia dari Pemerintah Daerah. Berbagai cabang lomba pun diselenggarakan, ada Tilawah, Cerdas Cermat, Kaligrafi, Hafalan beberapa Juz, dan lain sebagainya. Sebagaimana lomba lainnya, para kontestan atau peserta mewakili dari daerah masing-masing, setiap perwakilan menghendaki menjadi yang terbaik dan mendapatkan sejumlah gelar penghargaan. Meskipun ada diantara peserta yang memang hanya “uji nyali” keahlian yang selama ini dimilikinya.
Tidak lah mengapa sebuah aktivitas mulia ini terus diintensifkan guna menjaring orang-orang yang berbakat dibidang pendalaman ajaran Islam. Tetapi ada hal lain yang semestinya juga perlu mendapat perhatian yang cukup serius. Keberhasilan mereka para kontestan tidaklah berhenti sampai hanya “menyabet gelar penghargaan”, tetapi benar-benar sebagai wujud kecintaan akan ajaran agama Islam dan ikhlas mendalaminya serta alangkah positifnya jika ditindak lanjuti dengan hal lain, semisal agenda dakwah yang jelas setelah mendalami, menghayati, bahkan menghafalkan ayat-ayat suci al Qur’an ini. Terlebih menjadi sebuah pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Melirik Serambi Mekkah Penuh Berkah
June 14, 2008 at 8:03 am | In Islami | 8 Comments(Catatan Ringan Untuk Kota Martapura)
Pernah dimuat pada harian Radar Banjarmasin/ Rabu, 18 Juni 2008 dan harian Mata Banua/ Jum’at, 20 Juni 2008
Hampir semua daerah di Indonesia memiliki ciri khas dan karakteristik masing-masing. Demikian pula halnya dengan Kota Martapura, ibu kota kabupaten Banjar. Salah satu identitasnya adalah kentalnya nuansa keagamaan dan maraknya syiar dakwah keislaman yang ditunjukkan dengan kehadiran para alim ulama dan aulia.
Kota ini menjadi ikon pusat pendidikan Islam di wilayah Kalimantan. Murid-murid lembaga pendidikan di kota ini, menyebar ke berbagai kawasan di Kalimantan Selatan, Tengah dan Timur, bahkan di pulau Jawa. Mereka inilah yang melaksanakan dakwah dan pembinaan umat. Pusat pendidikan yang amat dikenal dari sisi pendidikan Islam ini adalah Pondok Pesantren Darussalam. Lembaga inilah yang telah mematok pancang dan berkiprah dalam sejarahnya, hingga sebutan Serambi Mekah untuk kota ini jadi pantas dilekatkan. Kalau tidaklah karena itu, mungkin akan panjang perdebatan yang dapat dilakukan menyangkut sebutan yang demikian indah.
Sebagai kota berjuluk Serambi Mekkah, peran ulama sangat menentukan dalam sendi-sendi kehidupan sosial kemasyarakatan. Ia merupakan sosok pembimbing dan pencerah bagi umatnya. Saat ini terdapat tiga peraturan daerah yang menggambarkan hubungan baik antara pemerintah dan ulama dalam mewujudkan masyarakat yang agamis, yaitu Perda Ramadhan, Perda Jum’at Khusyuk dan Perda Khatam Al-Qur’an.
Antara FPI, Gus Dur Vs Media
June 14, 2008 at 7:58 am | In Islami | 3 CommentsPernah dimuat pada harian Mata Banua/ Senin, 16 Juni 2008
Saling “mengkafirkan” dan saling menghalalkan darah, itulah akibat kalau kita beragama dengan nafsu, bukan dengan ilmu dan akal. Pemandangan seperti inilah yang selama ini telah mengharu-biru wajah umat Islam, terutama di negeri kita.
Ada Front Pembela Islam (FPI) yang diberitakan dan diisukan berisi orang-orang yang kasar dan anarkis. Tentu teman-teman di FPI tidak bisa terima kalau dibilang kasar dan anarkis. Namun setidaknya, tuduhan itulah yang kerap mereka terima. Ada juga model Gusdur yang punya pandangan selalu menyalahi mainstream umat Islam. Sehingga seringkali terdengar celetukan dan lontaran yang kadang nyeleneh dan membuat panas telinga lawan politiknya, terutama mayoritas umat Islam.
Padahal kedua belah pihak sama-sama mengaku muslim, sama-sama shalat lima waktu sehari semalam, dan sama-sama berjuang demi tegaknya agama Islam.
Pancasila dan Nasionalisme yang Dipertanyakan
June 14, 2008 at 7:56 am | In Umum | No CommentsPernah dimuat pada harian Barito Post/ Senin, 16 Juni 2008
Di tengah hiruk-pikuk situasi nasional dewasa ini kita perlu mengingat lagi bahwa bangsa Indonesia baru saja memperingati Hari Lahirnya Pancasila.
Namun, sebagaimana biasa, momen-momen bersejarah seperti itu lekas pula berlalu. Setelah 1 Juni 2008, jarum jam sejarah terasa berputar cepat. Suasana ”titik balik” terasa, bukan karena tak ada lagi kemeriahan seremonial, melainkan karena mencermati perkembangan kondisi Indonesia yang kini masih jauh dari cita-cita dan idealisme perjuangan para pendiri bangsa. Etos kepahlawanan dan nasionalisme yang diwariskan para pejuang terasa kian sirna dari hadapan kita.
Sejarah, termasuk sejarah kepahlawanan, belum lagi menjadi bahan refleksi bagi seluruh anak bangsa dalam menyikapi krisis kontemporer dan menghadapi tantangan masa depan. Dewasa ini Indonesia tetap terpuruk di pelbagai bidang seperti ekonomi, politik, sosial, pendidikan, budaya, dan integrasi bangsa. Nilai-nilai kebangsaan yang diperjuangkan oleh para pendiri bangsa sepanjang hayatnya malah kini menghadapi krisis yang makin hebat. Krisis itu bukan saja karena banjir globalisasi (yang notabene ”mengaburkan” batas-batas negara itu), tetapi juga karena masalah dari dalam negeri sendiri yakni melunturnya kohesi sosial berbangsa akibat maraknya separatisme dan konflik sosial pasca-Orde Baru.
Continue reading Pancasila dan Nasionalisme yang Dipertanyakan…
Menuju Keluarga Sakinah, Bismillah!
June 11, 2008 at 12:25 pm | In Islami | No Comments
Pernah dimuat pada harian Radar Banjarmasin dan harian Mata Banua/ Jum’at, 13 Juni 2008 serta harian Barito Post/ Senin, 16 Juni 2008
Harta yang paling berharga adalah keluarga, mutiara yang paling indah adalah keluarga
Penggalan syair di atas saya kutip dari theme song “Keluarga Cemara”. Serial sinetron keluarga yang ditayangkan RCTI beberapa tahun silam. Buat saya dan juga mungkin Anda, syair lagu itu terasa menyejukkan hati. Betapa tidak, syair itu menyeruak di tengah pengapnya atmosfer kehidupan kita oleh serbuan lagu-lagu yang melulu menjajakan syahwat. Terus terang, saya menilai lagu itu sarat dengan pesan moral. Plus tentunya, serial sinetron Keluarga Cemara memang menjadi konsumsi tontonan yang relatif aman dan insya Allah ada manfaatnya bagi anak-anak kita.
Saya tidak ingin menyoroti lebih jauh substansi cerita dan siapa tokoh di balik sinetron Keluarga Cemara. Hanya saja ketika menyimak alunan syair “harta yang paling berharga adalah keluarga”, saya jadi bertanya-tanya dalam hati: Masih adakah masyarakat di zaman kiwari -di tengah gonjang-ganjing perlombaan manusia memburu materi– peduli dengan ‘harta yang paling berharga’ itu? Masih adakah masyarakat kiwari yang mau mengapresiasi ‘mutiara yang paling indah itu’? Mereka betul-betul menekuni dan berjuang keras membangun keluarga sakinah? Keluarga bahagia?
Entah kita juga kian sangsi akan kepahaman masyarakat kita, tentang makna keluarga sakinah. Keluarga di mana seluruh anggotanya memiliki visi dan cita-cita yang sama tentang makna hidup. Keluarga yang berwawasan ketuhanan. Keluarga yang berwawasan etika dan moral tauhid. Yang sama-sama memahami bahwa keluarga adalah sebuah perjalanan panjang merekayasa peradaban masa depan (future engineering).
Ketika Ibnul Qayyim Bicara Tentang Cinta
June 10, 2008 at 12:40 pm | In Islami | 2 CommentsPernah dimuat pada harian Barito Post/ Rabu, 18 Juni 2008
Ada sebuah fenomena yang terus menggelitik benak saya. Betapa produktifnya para penyanyi menciptakan syair-syair lagu cinta. Dari yang lembut seperti gayanya Ebiet G.Ade atau Katon Bagaskara, hingga yang kocak dan kadang kelewatan seperti Iwan Fals dan Doel Sumbang. Kalau mendengar lirik-lirik lagu dangdut, bukan main, benar-benar diaduk-aduk emosi cinta itu sedemikian rupa. Dan, sungguh, banyak orang menjadi penggemar dan hanyut dalam lirik-lirik lagu itu.
Saya juga melihat fenomena larisnya film-film tema cinta remaja. Zaman saya remaja, dunia layar lebar dihiasi Gita Cinta dari SMA, Kabut Sutra Ungu, dan judul-judul lain yang saya sudah lupa. Beberapa diantara film itu diangkat dari cerbung-cerbung Eddy D. Iskandar dan di-sound track-i lagu-lagu Chrisye. Beberapa tahun lalu diantara film yang dianggap menjadi momentum kebangkitan kembali perfilman nasional adalah “Ada Apa dengan Cinta” dan dilanjutkan film lain seperti Eiffel, I’m in Love. Di tambah film yang ngetop saat ini, “Ayat-ayat Cinta”. Televisi pun kebanjiran sinetron-sinetron bertema cinta yang menyibak suasana kejiwaan orang yang kasmaran plus intrik perebetun harta, tahta dan wanita.
Ya, saya bertanya-tanya kenapa tema cinta tak pernah ada habis- habisnya ditulis, disusun liriknya dan kemudian dinyanyikan atau difilemkan. Sampai kemudian saya menemukan tulisan-tulisan Anis Matta dalam Thumuhat (Gelora) Cinta pada majalah Tarbawi. Dia cukup sering mengangkat kisah dari tulisan Ibnul Qayyim. Sampai kemudian seorang sahabat saya memperlihatkan “Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu” yang ditulis Ibnul Qayyim.
Continue reading Ketika Ibnul Qayyim Bicara Tentang Cinta…
Euro 2008, Agama, dan Kita
June 10, 2008 at 12:36 pm | In Umum | 2 CommentsPernah dimuat pada harian Mata Banua/ Kamis, 12 Juni 2008, harian Radar Banjarmasin/ Sabtu, 14 Juni 2008 dan harian Kalimantan Post/ Senin, 16 Juni 2008
Sepak bola telah menjadi “agama” baru. Tak hanya di Eropa dan Amerika Latin sepakbola dipuja dan menjadi bagian dari lifestyle, tapi juga di kawasan Timur Tengah dan semenanjung Korea serta Cina. Ketika tim Arab Saudi dibantai tanpa ampun oleh Jerman 0-8 di Grup E Piala Dunia tahun 2002 lalu, sontak para sheikh kebakaran jenggot. “Kekalahan itu sebuah Skandal”, tulis koran Asharqul Awsath. “Arab Saudi bermain tanpa penyerang, tanpa gelandang, tanpa pertahanan, bahkan tanpa penjaga gawang”, demikian koran-koran di negara petrodolar sehari pasca-”tragedi nasional” itu.
Mungkinkah sepak bola menjadi agama? Bila memakai perspektif Robert N. Bellah tentang civil religion, maka sepak bola juga sebuah “agama”. Civil religion, menurut Bellah, tidak dalam arti agama konvensional. Tapi suatu bentuk kepercayaan dan gugusan nilai dan praktik yang memiliki semacam “teologi” dan ritual tertentu yang di dalam realisasinya menunjukkan kemiripan dengan agama. Boleh jadi ia adalah sebuah sistem atau praktik-praktik yang tidak ada hubungannya dengan agama. “Ritualisasi” Pancasila pada masa Orba, misalnya, yang diikuti dengan keharusan melakukan upacara bendera setiap hari Senin atau tanggal 17 Agustus, penataran P4 bagi siswa SLTP, SMU, mahasiswa dan pegawai negeri bisa disebut civil religion.
Antara Roma dan Paris, Di Mana HSS?
June 9, 2008 at 12:55 pm | In Umum | 3 CommentsPernah dimuat pada harian Radar Banjarmasin/ Selasa, 10 Juni 2008 dan harian Barito Post/ Rabu, 18 Juni 2008
Alangkah beruntung sebuah kota yang disebut dalam sebuah puisi. Kota itu menjadi dikenal, bahkan terkenal, selain selalu dikenang oleh orang yang menyenangi puisi itu. Ingat larik ’’Tanjung Perak tepi laut,’’ syair ’’Selamat tinggal Teluk Bayur permai,’’ atau lagu “Kotabaru gunungnya bamega”, yang membuat ketiga tempat itu bukan hanya berada di ujung lidah, tetapi juga berada pada salah satu sudut jantung.
Sebuah kota atau tempat yang disebut dalam bait lagu atau puisi seperti menjadi sangat layak untuk dikunjungi, bahkan mengundang keinginan untuk datang ke sana.
“Roma atau Paris. Indah Kandangan Kotaku Manis”. Demikian sebagian dari bait syair tokoh sastra Kandangan di era tahun 1960-an, almarhum Darmansyah Zauhidi. Jika saja tidak berlebihan, berani saya katakan, untuk lingkup Kalsel siapakah yang tidak mengenal Kandangan. Sebuah kota yang usianya mungkin tertua di wilayah hulu sungai.
Selain itu, Kandangan dikenal sebagai ibu dari cikal bakal berdirinya kabupaten di kawasan banua enam, sampai ada istilah Kandangan “Boston”nya Kalsel. Karena itu gerakannya tidak segesit zaman perjuangan. Sehingga terkesan kalah gesit dengan adik-adiknya seperti kota Tanjung, Barabai, Amuntai, Balangan atau Tanah Bumbu (maaf bukan membanding-bandingkan).







































