Menjadi Guru Profesional, Bukan Sekedar Lulus Uji Sertifikasi

1494675

Wacana tentang profesionalisme guru kini menjadi sesuatu yang mengemuka ke ruang publik seiring dengan tuntutan untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Oleh banyak kalangan mutu pendidikan Indonesia dianggap masih rendah karena beberapa indikator antara lain:

Pertama, lulusan dari sekolah dan perguruan tinggi yang belum siap memasuki dunia kerja karena minimnya kompetensi yang dimiliki. Bekal kecakapan yang diperoleh di lembaga pendidikan belum memadai untuk digunakan secara mandiri, karena yang terjadi di lembaga pendidikan hanya transfer of knowledge semata yang mengakibatkan anak didik tidak inovatif, kreatif bahkan tidak pandai dalam menyiasati persoalan-persoalan di seputar lingkungannya.

Kedua, Peringkat indeks pengembangan manusia (Human Development Index) masih sangat rendah. Menurut data tahun 2004, dari 117 negara yang disurvei Indonesia berada pada peringkat 111 dan pada tahun 2005 peringkat 110 dibawah Vietnam yang berada di peringkat 108.

Ketiga, Mutu akademik di bidang IPA, Matematika dan Kemampuan Membaca sesuai hasil penelitian Programme for International Student Assesment (PISA) tahun 2003 menunjukan bahwa dari 41 negara yang disurvei untuk bidang IPA, Indonesia berada pada peringkat 38, untuk Matematika dan kemampuan membaca menempati peringkat 39.

Keempat, sebagai konsekuensi logis dari indikator-indikator diatas adalah penguasaan terhadap IPTEK dimana kita masih tertinggal dari negara-negara seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Guru, akhirnya menjadi salah satu faktor menentukan dalam konteks meningkatkan mutu pendidikan dan menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas karena guru adalah garda terdepan yang berhadapan langsung dan berinteraksi dengan siswa dalam proses belajar mengajar. Mutu pendidikan yang baik dapat dicapai dengan guru yang profesional dengan segala kompetensi yang dimiliki.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen merupakan sebuah perjuangan sekaligus komitmen untuk meningkatkan kualitas guru yaitu kualifikasi akademik dan kompetensi profesi pendidik sebagai agen pembelajaran. Kualifikasi akademik diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana (S1) atau D4. Sedangkan kompetensi profesi pendidik meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial.

Dengan sertifikat profesi, yang diperoleh setelah melalui uji sertifikasi lewat penilaian portofolio (rekaman kinerja) guru, maka seorang guru berhak mendapat tunjangan profesi sebesar 1 bulan gaji pokok. Intinya, Undang-Undang Guru dan Dosen adalah upaya meningkatkan kualitas kompetensi guru seiring dengan peningkatan kesejahteraan mereka.

Persoalannya sekarang , bagaimana persepsi guru terhadap uji sertifikasi?, bagaimana pula kesiapan guru untuk menghadapi pelaksanaan sertifikasi tersebut ? dan adakah suatu garansi bahwa dengan memiliki sertifikasi, guru akan lebih bermutu ?. Analisa terhadap pertanyaan-pertanyaan ini mesti dikritisi sebagai sebuah feed back untuk pencapaian tujuan dan hakekat pelaksanaan uji sertifikasi itu sendiri.

Pengalaman di lapangan, menunjukan bahwa di mata guru, uji sertifikasi adalah sebuah ” revolusi” untuk peningkatan gaji guru. Padahal, ini adalah suatu political will pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas guru yang sangat besar kontribusinya bagi peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Miskonsepsi semacam ini, membuat para guru dapat menghalalkan segala cara dalam membuat portofolionya dengan memalsukan dokumen prestasi atau kinerjanya, seperti yang terjadi di Yogyakarta dan Bali. Dalam konteks ini diperlukan kejelian dari tim penilai portofolio untuk melakukan identifikasi dan justifikasi. Semua penyimpangan harus diungkap atas nama kualitas, dengan melakukan cross check di lapangan.

Uji Sertifikasi bagi guru mesti dipahami sebagai sebuah sarana untuk mencapai tujuan yaitu kualitas guru. Sertifikasi bukan tujuan itu sendiri. Kesadaran dan pemahaman yang benar tentang hakekat sertifikasi akan melahirkan aktivitas yang benar dan elegan, bahwa apapun yang dilakukan adalah untuk mencapai kualitas. Kalau seorang guru kembali masuk kampus untuk kualifikasi, maka proses belajar kembali mesti dimaknai dalam konteks peningkatan kualifikasi akademik yaitu mendapatkan tambahan ilmu dan ketrampilan baru, sehingga mendapatkan ijazah S1 / D4.

Ijazah S1 bukan tujuan yang harus dicapai dengan segala cara, termasuk cara yang tidak benar seperti jual-beli ijazah, melainkan konsekuensi dari telah belajar dan telah mendapat tambahan ilmu dan ketrampilan baru. Demikian pula kalau guru yang mengikuti uji sertifikasi, tujuan utama bukan untuk mendapatkan tunjangan profesi, melainkan untuk dapat menunjukan bahwa yang bersangkutan telah memiliki kompetensi sebagaimana diisyaratkan dalam standar kemampuan guru. Tunjangan profesi adalah konsekuensi logis yang menyertai adanya kemampuan dimaksud.

Dengan menyadari hal ini maka guru tidak akan mencari jalan pintas guna memperoleh sertifikat profesi kecuali dengan mempersiapkan diri dengan belajar yang benar dan tekun berkinerja menyongsong sertifikasi.

Idealisme, semangat dan kinerja tinggi disertai rasa tanggung jawab mesti menjadi ciri guru yang profesional. Dengan kompetensi profesional, guru akan tampil sebagai pembimbing (councelor), pelatih (coach) dan manejer pembelajaran ( learning manager) yang mampu berinteraksi dengan siswa dalam proses transfer pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai yang baik.

Semangat untuk tetap belajar (bukan hanya mengajar) akan membantu guru untuk meng-upgrade pengetahuannya, sehingga dapat menyiasati kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta peluang pemanfaatannya untuk memajukan proses belajar mengajar di kelas. Sertifikasi guru adalah amanat Undang-undang bagi semua guru di Indonesia yang jumlahnya sekitar 2,8 juta baik negeri maupun swasta, jadi bukan sesuatu yang mesti diperebutkan oleh guru. Semua akan kebagian, asalkan telah memenuhi persyaratan.

Marilah kita terus tingkatkan kompetensi dan profesionalisme kita, sehingga dapat meraih prestasi dan prestise di bidang pendidikan, untuk selanjutnya dapat berdiri sejajar dan bersaing dengan negara-negara lain. Semoga.


8 Comments »

  1. imad said

    Salah satu syarat mengikuti uji sertifikasi adalah ijazah sarjana (S1). Guru yang belum S1 kuliah lagi untuk mengejar gelar S1. Tampaknya, banyak di antara mereka yan asal dapat S1, dengan cara-cara yang kurang, atau bahkan tidak adademis. Kuliah, kuliah dan kuliah yang dapet nilai. Cara-cara tak akademis yang saya maksud adalah misalnya, mengolah tugas kuliah, kanya sekedar untuk memenuhi tugas. Banyak yang tak mau mengolah sendiri. Tapi minta orang lain untuk mengerjakannya. Maupahakan. Mereka tak mau uyuh mikir. Yang penting tugas bisa ngumpul dan lulus.

    Lebih ironis lagi, tugas meresume saja, minta orang untuk melakukannya.

    Sangat ironis lagi, menyusun skripsi juga begitu. Bukan sibuk mencari referensi dan lalu membacanya untuk keperluan penyusunan skripsinya. Maupahakan pulang dalam maolah skripsinya.

    Ijazah S1nya untuk mengajukan uji portofolio sertifikasi, bahkan konon kabarnya, skripsi hasil maupahakan itu, dilampirkan sebagai karya ilmiah.

    Banak sinyalemen, guru yang telah lulus sertifikasi, dan sudah dapat tunjungan profesional, kerjanya justru tak profesional. Anak murid, disuruh baca sendiri, ngerjakan LKS sendiri, sementara dia jalan-jalan ke pasar atau jemput anaknya dan sejenisnya. Pokonya, gak profesional.
    Gimana mau maju pendidikan kita?

  2. Sudah saatnya bangsa ini berhenti fokus pada nilai dan gelar, karena ada yang jauh lebih penting yaitu kemampuan nyata yang ditunjukkan atau dipraktekan, sehingga guru profesional bukan hanya guru yang lulus uji sertifikasi tetapi adalah yang dapat mengajar dan menjalankan profesinya secara profesional.

  3. abu nuwaeri said

    Bagi sekelompok guru dewasa ini, Sukses mendapatkan sertifikasi adalah suatu yang teramat diimpikan. Niat awalnya sih memang supaya menjadi guru yang profesional, tapi tidak jarang malah membuat guru semakin terlupa nilai moralitas dan tanggung jawab terhadap masyarakat dan Yang maha kuasa. Buktinya, tidak sedikit mungkin guru berlaku “tidak wajar” hanya sekadar untuk mendapat sertifikasi yang notabene adalah gaji/kesejahteraan yang semakin berlipat..wallahu a’lam

  4. F heri s said

    Banyak yang harus dibenahi pada bangsa kita. Guru termasuk salah satunya. Dengan bangganya guru mengajarkan bahwa kita harus mendahulukan kewajiban baru menuntut hak. namun ketika muncul sertifikasi … semua (sebagian) dibalik menuntut hak dahulu walaupun sebagian besar kuwajibannya belum.

  5. ketuaosis said

    Satu hal yang membanggakan saya dari ‘being teacher’ di madrasah adalah dapat belajar untuk tetap tersenyum dalam kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki… Menjadi guru madrasah yang meskipun tidak terlalu sejahtera dan hampir dekat dengan garis demarkasi kemiskinan harusnya tetap membuat kita (kami dan saya!) percaya diri, selalu meluangkan waktu untuk belajar di sana sini, selalu rendah hati, selalu percaya dan berbaik sangka pada janji-janji penguasa tentang kesejahteraan guru yang katanya akan naik tinggi.
    Demikian lah… menjadi guru idealnya adalah sebuah pilihan sadar. Sadar bahwa tingkat kesejahteraan akan sulit meningkat, sadar bahwa tanggung jawab mendidik bukan sekedar rutinitas menghabiskan hari-hari datar kita yang berat…

    Entah lah, saya hanya ingin mengajak anda meneladani sosok bu muslimah di novel laskar pelangi… Guru yang sederhana dan mampu mengajar dengan hati yg bersih tentu akan memancarkan inspirasi dan gelombang kecerdasan hati yang mempengaruhi hati, nurani dan jiwa anak didik kita. Kata kuncinya adalah keikhlasan, tanpa pamrih dan tetap berdedikasi….

    Saya kira bu mus tdk pernah mengklaim dirinya guru yg profesional atau bernafsu ikut sertifikasi namun semua orang tahu bahwa beliau adalah guru jempolan yg sdh melahirkan siswa sekelas andrea hirata dkk.

    Mari lupakan sertifikasi… benahi kembali niat dlm diri, jadilah murabbi sejati.. yakinilah ‘matematika’ Tuhan jauh lebih hebat dari kalkulasi para assesor yg menangani sertifikasi.

  6. adamirawan berkata said

    seperti apakah akhir dari kesemuanya hanya yang maha… segalanya… yang menentukan….. tp bukankh qtamenentukn aarah qta sendiri apakah harus…. kd jua klo nang pasti aq maikut apa nang dipadahakan guru…. byk….
    bwt my yang seorg ketrnan tak ushlah dengar perkataan org2 ttg ktrn itu baiknya cri yg sapandirian lwan qm aq bukan orang bailmu….
    kalau qm tu kada seiring sejalan baiknya qta jalan sendiri2 z….
    bapikir masa depan z….
    kita bisa bausaha tapi Allah Taala nang manantukan ya lo…. nu3…. ni3…ne3….

  7. Sulis said

    Berhentilah mencaci maki guru karena sertifikasi. Mari kita fokus kpd upaya peningkatan kualitas diri.

  8. […] Menjadi Guru Profesional, Bukan Sekedar Lulus Uji Sertifikasi […]

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: