IAIN Antasari: Sebuah Refleksi Kecintaan

logo-iain

Adalah IAIN Antasari Banjarmasin yang pada tanggal 20 November 2008 menapaki usia yang ke 44 tahun. Sesuai dengan proses perjalanan waktu, IAIN Antasari sudah menjadi “makhluk” institusi pendidikan yang secara psikologis “terkesan” lebih dewasa dan “matang”.Perjalanan panjang yang sudah ditempuh IAIN selama ini, sudah lebih dari cukup untuk dijadikan proses pembelajaran (learning process) dalam rangka menyongsong masa depan yang lebih baik. Semua “batu sandung” yang selama ini menjadi kendala, patut dijadikan pelajaran yang berharga untuak selalu dicarikan alternatif pemecahannya.

Lazimnya, usia 44 tahun merupakan tahapan final pematangan sikap mental bagi manusia pada umumnya. Sebagian pakar psikologi mengkatagorikan usia 40 tahunan adalah starting-point perubahan identitas, baik yang berorientasi progress (maju) maupun regress (mundur). Arti kata, di usia 40 tahunan, seseorang akan diverifikasi tingkat kedewasaannya dalam menentukan arah perjalanan hidupnya di masa depan. Sekedar ilustrasi, Nabi Muhammad SAW. pun dilantik menjadi Rasul oleh Allah SWT di saat usia 40 tahun, meskipun pada gilirannya hanya Allah sendiri yang mengetahui rahasia dibalik kematangan usia tersebut.

Sebagai bahan evaluasi, IAIN Antasari secara proporsional perlu mendapat perhatian khusus dari segenap stake holders. Tulisan ini hanyalah sebentuk sumbangsih dan tanda cinta terhadap almamater kesayangan, agar IAIN senantiasa berbenah menyongsong masa depan.

Aspek Akedemik

Secara ideal, sebuah Perguruan Tinggi (PT) tidak terkecuali IAIN Antasari akan menjadi institusi pendidikan yang dianggap centre of excellence, bila secara terus-menerus meng-update piranti-piranti akademiknya. Maksudnya, akan menjadi lebih progress apabila secara periodik IAIN senantiasa melakukan monitoring dan evaluasi (monev) tentang perkembangan akademik yang selama ini telah dan sudah diselenggarakan. Hal ini dilakukan untuk melihat sejauh mana efektifitas dan efisiensi (tepat sasaran) kurikulum yang sudah diberlakukan oleh institusi terhadap mahasiswanya. Termasuk di dalamnya metode dan proses belajar mengajar (PBM) yang digunakan oleh para dosennya, sekaligus dengan berbagai fasilitasnya.

Setuju atau tidak, selama ini peningkatan kualitas akademik IAIN Antasari masih dirasakan kurang maksimal. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal demikian, antara lain; pertama, tradisi akademik kurang mendapat porsi yang selayaknya. Artinya, minimnya minat sebagian civitas akademik (mahasiswa dan dosen) untuk terlibat dalam kelompok-kelompok studi atau klub diskusi ilmiah, termasuk di dalamnya penelitian. Hal ini secara tidak langsung berdampak pada melemahnya spirit sensitifitas dan kritisisme terhadap isu-isu kontemporer baik internal maupun eksternal. Bahkan pada gilirannya, secara kualitatif output atau “jebolan” IAIN Antasari – ekstrimnya—terkesan menjadi second class di masyarakat, kendatipun pernyataan ini tidak sepenuhnya benar.

Kedua, masih ada beberapa staf pengajar (dosen) yang belum mendapatkan fasilitas (subsidi) memadai untuk melanjutkan studinya. Akibat dari hal ini, tidak sedikit dosen mencari tambahan income dari luar kampus untuk pendidikan lanjutan yang mereka tempuh. Realitas demikian ini – untuk tidak menyebut apologetik — berakibat pada terganggunya profesionalisme dosen yang berkewajiban maksimal untuk mengabdi di kampus.

Ketiga, masih langkanya figur – baik kaliber lokal maupun nasional — yang dapat memberikan teladan atau pengaruh positif terhadap keberadaan seluruh civitas akademika maupun alumni berikutnya.

Aspek Kemahasiswaan

Adalah mahasiswa, yang secara substansif mempunyai peran dominan dalam proses dinamika institusi perguruan tinggi (IAIN). Secara kuantitatif kegiatan kemahasiswaan di IAIN Antasari menunjukkan progresifitas yang berarti. Dalam konteks historis, kegiatan kemahasiswaan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan sesuai dengan tuntutan keberadaan unit-unit lembaga/organisasi mahasiswa yang secara legal-formal diakui oleh lembaga PT.

Tetapi secara kualitatif, kegiatan kemahasiswaan masih perlu peningkatan yang signifikan dalam rangka mengikuti tuntutan perkembangan dunia perguruan tinggi. Artinya, setiap kegiatan lembaga-lembaga kemahasiswaan – intra maupun ekstra – selalu up-to-date dan sesuai dengan jati diri dunia mahasiswa yang selalu berperan sebagai moral-force dan lebih mengedepankan kepeduliannya terhadap masyarakat pada umumnya.

Kongkritnya, dunia kemahasiswaan di IAIN Antasari ke depan, semestinya semakin banyak memberikan kontribusi nyata akan kepentingan umat dan rakyat. Dengan begitu, rakyat dapat merasakan langsung eksistensi mahasiswa yang nota-bene sebagai agent of social changes atau agen perubahan sosial. Untuk menciptakan sikap mental seperti itu, diperlukan pembinaan yang intensif atau up-grading terhadap para calon aktifis mahasiswa agar lebih sensitif dan merasa including dengan seluruh problem sosial.

Aspek Pengabdian Masyarakat

Sudah menjadi image umum, bahwa keberadaan Perguruan Tinggi (PT) adalah refleksi dari sebuah masyarakat di mana PT itu berada. Demikian halnya IAIN Antasari yang berada di wilayah Kalimantan Selatan, seyogyanya mempunyai peran yang strategis bagi keberlangsungan umat Islam dari aspek pendidikan tinggi-plus (agama). Citra demikian ini sulit terbantahkan, bila eksistensi IAIN Antasari selama ini terasakan langsung oleh umat Islam khususnya dan masyarakat pada umumnya.
Oleh karenanya, dengan semakin kompleksnya problem keumatan paling tidak di wilayah Kalimantan, — seperti konflik bernuansa SARA, isu anarkisme yang mengatasnamakan agama, munculnya aliran-aliran “sesat” dan isu-isu yang sejenisnya — maka idealnya IAIN Antasari dengan kecerdasan emosionalnya dapat memberikan solusi yang genuine sesuai dengan kontekstualisasi ajaran Islam dan semangat rahmatan lil alamin.

Sehingga pada gilirannya, kehadiran IAIN Antasari sangat dirasakan oleh seluruh masyarakat banua dan akan selalu didambakan untuk menjadi problem solver yang kaitanya dengan keislaman dan keumatan. Bahkan boleh jadi dalam konteks makro, IAIN Antasari akan dilibatkan secara resmi oleh lembaga-lembaga terkait untuk merumuskan persoalan-persoalan kebangsaan dan sekaligus menjadi grand setter-nya.

IAIN Antasari Masa Depan

Untuk merespon hal di atas, ada beberapa langkah strategis yang harus ditempuh oleh IAIN Antasari sebagai perguruan tinggi plus (Islam), antara lain: Pertama, diperlukan motivasi dan kesungguhan dari seluruh civitas akademika IAIN Antasari untuk selalu siap merubah diri dan lebih-lebih siap untuk membuka diri dari segala koreksi oleh berbagai pihak.

Mungkin agak terlalu sederhana untuk dikatakan — ketertinggalan IAIN Antasari dari perguruan tinggi yang lain di masa lalu – salah satunya disebabkan kurang memaksimalkan “alat kontrol” (Senat dan sejenisnya) yang memberikan masukan tentang langkah-langkah strategis dalam memajukan intitusi pendidikan yang ideal. Lebih jelasnya, dalam membenahi IAIN Antasari di berbagai aspek diperlukan keterlibatan semua pihak yang berkompeten untuk memberikan kontribusi sesuai dengan bidang keahliannya. Tanpa hal ini, sulit mewujudkan sebuah lembaga pendidikan tinggi yang sesuai dengan harapan umat dan masyarakat Kalsel pada umumnya.

Kedua, pembenahan dan penguatan pada aspek kelembagaan. Artinya, IAIN Antasari sebagai institusi pendidikan tinggi, semaksimal mungkin membenahi dirinya terutama pada aspek manajemen, baik administrasi, keuangan, dan delegation of authority atau pembagian kerja yang proporsional dan profesional. Hal ini sesuai dengan prinsip manajemen modern yang selalu mengedepankan efektifitas dan efisiensi, selain kompetensi. Tidak kalah pentingnya, dalam penguatan kelembagaan juga ada semangat transparansi yang mesti dijunjung tinggi, apalagi dalam rangka pencitraan dan keteladanan yang positif terhadap masyarakat pada umumnya.

Ketiga, lebih mengedepankan dunia akademik dan memelihara tradisi intelektual. Sudah menjadi keharusan universal bagi lembaga perguruan tinggi termasuk IAIN Antasari untuk senantiasa menciptakan semangat intelektualitas yang tinggi dan terus-menerus, termasuk persyaratan utama dalam konteks kepemimpinan institusi. Sebab pada gilirannya “seleksi alam” atau sunnatullah yang akan memberikan pelajaran berharga bagi mereka yang konsisten maupun yang inkonsistensi, sebagai sebuah konsekuensi logis.

Wallahu’alam

4 Comments »

  1. abu nuwaeri said

    Sudah banyak banar alumnus IAIN nang manyabar di palosok-palosok. Tapi masih banyak banar jua nang kasian masih mancari-cari kasampatan gawian nang labih pasti, handak jadi PNS misalnya. Mudahan bubuhan abah-abah kita nang di IAIN masih tarus wan kawa mamparjuangkan nasib gawian alumnusnya barataan. Contohnya, mudahan kawa mamandirakan lawan pemda-pemda tentang kasampatan bagawi jadi Guru di Lingkungan PEMDA, bagi alumnus IAIN nang kabulujuran tumatan jurusan MTK,B.INGGRIS, dll. Kasian banar buhannya to!!

  2. suhadinet said

    Walaupun saya bukan alumnusnya, tapi turut berharap iain antasari semakin maju dan menghasilkan cendekia berkualitas.

  3. robby said

    sukses selalu IAIN ku………….

  4. AYEAD said

    pa…
    lun ijin copy tulisan fian di blog ulun

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: