Tanah Banjar: Never Ending Intelectualism

galuh

Tulisan ini bukan bermaksud untuk bernarsis-narsis ria sebagaimana gelora paham Post-Modernisme yang mempengaruhi dunia dewasa ini. Bukan pula hendak menunjukkan kesuksesan suatu etnis dan menepuk dada bahwa inilah ras unggul yang tak tertandingi dalam sejarah Indonesia.

Goresan ini lahir ketika habis sholat Ashar. Seperti biasanya, mendung seringkali membawa angan mengingat banua kesayangan, Kalimantan Selatan.

Kalimantan Selatan secara geografi terletak di sebelah selatan pulau Kalimantan dengan luas wilayah 37.530,52 Km2 atau 3.753.052 ha. Sampai dengan tahun 2003 membawahi kabupaten/kota sebanyak 11 kabupaten/ kota dan pada tahun 2004 menjadi 13 kabupaten/kota karena adanya pemekaran wilayah kabupaten Hulu Sungai Utara dengan Kabupaten Balangan dan Kabupaten Kotabaru dengan Kabupaten Tanah Bumbu.

Merupakan provinsi terkecil dibandingkan dengan provinsi lainnya di Pulau kalimantan, namun memiliki penduduk terpadat. Daerah ini memiliki kawasan rawa-rawa yang luas, sekitar satu juta hektar, termasuk di dalamnya 200 ribu hektar kawasan rawa-rawa pasang surut (air asin) dan 500.000 kawasan rawa-rawa air tawar.

Dari sisi ekonomi, wilayah Kalimantan Selatan merupakan pusat kegiatan penambangan. Dari sisi budaya, Kalsel merupakan pusat kebudayaan Masyarakat Banjar. Kelompok-kelompok masyarakat Dayak di Kalsel dapat ditemui di kawasan pegunungan di bagian Selatan laut provinsi ini. Mereka disebut-sebut sebagai keturunan asli suku Banjar yang berasal dari sekitar kawasan Sungai Barito namun kemudian pindah ke wilayah pegunungan menyusul masuknya Agama Islam ke wilayah itu pada abad ke 15 dan 16.

Tokoh-tokoh Banjar

Masyarakat Kalimantan Selatan patut berbangga. Daerah ini telah melahirkan banyak tokoh andal dan terkenal dengan kiprah serta karyanya yang membuat orang selalu memperhitungkannya di panggung pentas politik, agama, sosial, ekonomi, seni atau budaya. Tentu juga sangat tidak berlebihan jika dikatakan Kalsel juga banyak melahirkan figur-figur yang dapat mengangkat nama daerah, baik dalam skala regional Kalimantan maupun nasional, dari masa ke masa.

Nama-nama seperti Lambung Mangkurat, Sultan Suriansyah, Sultan Adam, Pangeran Hidayatullah, Pangeran Antasari, Gusti Muhammad Seman, agaknya sudah sangat familiar kita dengar.

Selain itu juga ada nama-nama semisal, Bukhari salah seorang pejuang Perang Banjar yang memimpin perlawanan rakyat yang disebut Amuk Hantarukung. Ada Ratu Zaleha tokoh emansipasi wanita di Kalimantan, Demang Lehman, Tumenggung Jalil, panglima perang dalam Perang Banjar dengan basis pertahanan di Banua Lima, pedalaman Kalsel, Penghulu Rasyid, seorang ulama yang bangkit bergerak berjuang mengangkat senjata melawan penjajah Belanda, Tumenggung Antaludin, panglima perang dalam Perang Banjar dengan pusat perjuangan di kawasan Gunung Madang di kabupaten HSS, Aluh Idut, pejuang perintis kemerdekaan, perempuan perintis organisasi perempuan Kandangan, Kalsel, dan Panglima Batur seorang panglima suku Dayak dalam Perang Banjar yang berlangsung di pedalaman Barito.

Ada lagi P.M. Noor, pencetus pembuatan proyek Sungai Barito yang salah satu gagasannya adalah pembangunan PLTA Riam Kanan. Dr. Murjani, Syamsuddin Noor, Anang Adenansi, Anshari Saleh, Aberani Sulaiman, Budhigawis, H. Damanhuri, atau Hasanudin HM., pahlawan Ampera pertama Kalsel.

Dari sederet nama pahlawan nasional yang tertera ada dua orang pahlawan nasional yang berasal dari Banjarmasin, yaitu Pangeran Antasari dan Brigjen Hasan Basery. Pangeran Antasari dan Brigjen Hassan Basery merupakan dua tokoh emperik dan hero yang hidupnya berbeda masa akan tetapi memiliki kesamaan, yaitu pelawan terhadap penjajah. Semboyan “Waja Sampai Kaputing” terus memberi semangat kepada seluruh generasi muda di banua agar tetap berkarya dalam bidang apapun yang digeluti.

Nama –nama yang telah disebutkan di atas merupakan nama-nama tokoh  yang telah hadir  dalam  cerita dan sejarah tentang kepahlawanan dari masa zaman Banjar kuno (sekitar abad XIV), Abad XIX, sampai zaman kemerdekaan.

Dari deretan para ulama dan tokoh agama Kalsel, nama Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari menempati hati masyarakat Kalimantan dan Indonesia sebagai ulama besar dan pengembang ilmu pengetahuan dan agama.

Setelah Arsyad Al-Banjari, Muhammad Nafis a-Banjari adalah ulama paling berpengaruh di Kalimantan. Muhammad Arsyad lebih masyhur sebagai ulama  fiqh lewat karyanya yang monumental “Sabilal Muhtadin”, sedangkan Muhammad Nafis lebih terkenal sebagai ahli tasawuf,  melalui karyanya “Durr Al-Nafis” yang juga beredar luas di Nusantara.

Sederet nama-nama besar menghias panggung sejarah bumi Kalimantan dari masa ke masa. Nama dan dedikasi mereka tertoreh dengan tinta emas. Sebut saja di antaranya, ada Mufti Jamaluddin al-Banjari, mufti Banjar pertama. Syeikh Sa’duddin, pelopor dakwah di Banua Anam, KH. Muhammad Kasyful Anwar, sang penggagas perubahan Darussalam yang rendah hati, Syeikh Muhammad Afif, pemancang tiang guru mesjid al-Karomah. Qadhi KH. Husein Qadri, Qadhi sekaligus penulis yang murah senyum. KH Badruddin, ulama, pendidik dan politikus ulung, KH. Muhammad Rasyad, ulama yang ulet menyampaikan dakwah Islam, KH. Zainal Ilmi, ulama yang tegas, berwibawa dan selalu merendah. KH. Muhammad Syarwani Abdan, kyai santun nan rendah hati, pencetak kader ulama. Syeikh H. Anang Sya’rani, muhaddits pertama Kalimantan. KH. Saman Jalil, ulama sang astronom. KH. Muhammad Hanafi Gobet, kyai pendidik sekaligus politikus yang berwibawa.

Sebagai gudangnya ulama dan aulia, tradisi keulamaan di Kalsel tetap lestari kendati berpacu dengan maraknya era globasasi. Citra Kalsel khususnya kota Martapura menembus batas regional dengan sosok almarhum KH Muhammad Zaini Abdul Ghani. Ulama yang populer disapa Guru Sekumpul itu bisa diibaratkan sebagai maestro Bumi Serambi Mekkah Martapura.

Dalam kondisi kekinian, deretan tokoh-tokoh ulama Kalsel turut menghias dokumen historis sejarah banua Banjar. KH Asywadie Syukur Lc, KH Husin Nafarin Lc. MA, Ketua BP Masjid Raya Banjarmasin (1999-2004), Ketua Dewan Masjid Kalsel (1999-2004), Ketua MUI Banjarmasin (1992-2002), Dewan Hakim MTQ dan anggota LPTQ Kalsel dan Dewan Pakar ICMI Kalsel. KH Ahmad Bakri, KH Bahran Jamil, dll.

Dalam bidang politik, mantan Ketua Umum PBNU Dr. KH Idham Chalid dianggap sebagai salah satu tokoh utama dari Kalimantan selatan tempo dulu. Idham Cholid dianggap istimewa karena peranannya dalam tingkat nasional, bahkan internasional. Tokoh yang dilahirkan di Satui, Kabupaten Kotabaru (kini masuk Kabupaten Tanah Bumbu), 27 Agustus 1922 itu pernah menjabat orang penting di republik ini yaitu sebagai Wakil Perdana Menteri saat pemerintahan Presiden Soekarno.

Di ranah politik nasional, tak pula ketinggalan, Nurtanio Pringgoadisuryo sebagai perintis industri penerbangan Indonesia. Letnan Jendral (Purn.) ZA Maulani adalah tokoh militer Indonesia dan Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara pada Kabinet Reformasi Pembangunan (September 1998-20 November 1999). Syamsul Mu’arif, Kader Golkar yang menjabat Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Kabinet Gotong-Royong.

Drs. Saadillah Mursyid adalah mantan Menteri Muda/Sekretaris Kabinet Indonesia pada Kabinet Pembangunan V, Menteri Sekretaris Kabinet pada Kabinet Pembangunan VI, dan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) pada Kabinet Pembangunan VII. Djohan Effendi, ia sempat menjabat Menteri Sekretariat Negara pada era pemerintahan Gus Dur. KH. Hasan Basri dan KH Amidhan, mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.

Selanjutnya ada Brigjen Pol. (Purn) Drs. Taufik Effendi, MBA. adalah Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara pada Kabinet Indonesia Bersatu.

H. Ahmad Makkie, BA, seorang budayawan, mantan Bupati KDH Tk.II Tapin yang kini menjadi anggota DPD dari Kalimantan Selatan. Di samping itu ia masih menyandang setumpuk tugas di berbagai organisasi kemasyarakatan, diantaranya Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an, BAZIS, Badan Kerjasama Pondok Pesantren, MUI, ICMI dan Lembaga Budaya Banjar.

Ir. H. Muhammad Said adalah Mantan Gubernur KDH Tingkat I Kalimantan Selatan dari tahun 1984 sampai 1995. Sekarang ini ia adalah anggota Dewan Perwakilan Daerah dari Kalimantan Selatan bersama Drs. H. Mohammad Sofwat Hadi S.H. dan Drs. H. Muhammad Ramli.

Abdul Hafiz Anshari adalah Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia periode 2007-2012. Sebelumnya ia merupakan Ketua KPU Provinsi Kalimantan Selatan periode 2003-2008. Abdurrahman Mohammad Fachir adalah Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia di Republik Arab Mesir. HG Rusdi Effendi AR, Pemimpin Umum Banjarmasin Post.

Arifin Ilham, seorang dai (penceramah agama) yang sangat kondang dengan tausiyah dzikirnya. Sejak namanya mulai dikenal, hampir setiap hari wajahnya muncul di layar TV atau media lain. Arifin Ilham tampil dengan gaya zikirnya yang menyejukkan. Seakan membawa jemaahnya terbang ke langit serta melupakan dunia yang fana.

Di bidang Pendidikan dan Akademisi, tak pula ketinggalan Abdul Djebar Hapip, seorang Guru Besar Madya dalam pengajaran Bahasa Indonesia pada FKIP Unlam Banjarmasin. Boleh dikatakan beliaulah orang pertama yang melakukan penelitian Bahasa Banjar dan merupakan salah seorang pakar pada bidang bahasa Banjar, hingga kini. Drs. Mukhtar Sarman, dosen Fisip Unlam dan Kepala Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Daerah Universitas Lambung Mangkurat (PK2PD-Unlam). Taufik Arbain S.Sos M.Si adalah staf pengajar FISIP UNLAM (sejak tahun 2003). Aktif dalam penelitian dan pemberdayaan masyarakat di Intitute for Regional Development and Politic Studies (IRDPoS) Kalimantan Selatan, Ceric Unlam, PK2PD Unlam serta pegiat pengkajian kebudayaan Banjar pada Forum Kajian Budaya Banjar (FKBB) Kalimantan Selatan.

Dr. Karyono Ibnu Ahmad, ulama, psikolog dan akademisi Unlam. Prof. Dr.H. Kamrani Buseri, Rektor IAIN Antasari Banjarmasin, Prof.Dr.HA Fahmi Arief, MA. Kepala Kanwil Departemen Agama Prop. Kalsel.

Prof.Dr. HM. Zurkani Jahja, Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari, 1997-2000. Pernah aktif dalam pelbagai organisasi massa seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), MUI dan ICMI. Alfani Daud, M.A. adalah Guru Besar Antropologi Budaya pada program PascaSarjana IAIN Antasari Banjarmasin. Karyanya yang telah dipublikasikan, antara lain: Islam dan Masyarakat Banjar; Deskripsi dan Analisa Kebudayaan Banjar.

Siapa sekarang yang tidak mengenal seorang Lihan. Seorang yang sosoknya sangat sederhana. Dulunya ia hanyalah seorang guru honor di sebuah pondok pesantren. Saat ini dia menjadi begitu fenomenal sejak beberapa waktu lalu menghebohkan dengan transaksi pembelian intan Putri Malu seharga Rp. 3 miliar itu.

Namanya langsung melejit dalam jajaran konglomerat papan atas Indonesia. Perusahaannya bertaburan dimana-mana. Mulai dari Balikpapan, Jakarta, Bogor, Bandung, Malang, dan Lampung. Bahkan di luar negeri, ia juga punya kantor cabang, di China. Cakupan perusahaannya pun mulai meluas, dari perdagangan intan, franchise makanan, rental helikopter, bahkan yang terbaru, ia menggandeng perusahaan penerbangan Merpati Airlines untuk kembali membuka kembali jalur penerbangan ke Kalimantan Selatan.

Dari kalangan budayawan, sastrawan, tersebutlah nama para penyair yang mencuat namanya pada periode 1980-1990 antara lain adalah Ahmad Fahrawi, Ali Syamsuddin Arsi, Arifin Noor Hasby, Burhanuddin Soebely, Hermansyah Kawie, Maman S. Tawie, M. Rifani Djamhari, Radius Ardanias, Noor Aini Cahya Khairani, Rustam Effendi, Syamsuni Sarman, Tajuddin Noor Ganie, Tarman Effendi Tarsyad, dan Y.S. Agus Suseno.

Sementara itu, penyair periode 1990-an yang juga menonjol adalah Aan Maulana Bandara, Eddy Wahyuddin S.P., Erhan Effendi, Fajar Gemilang, Jamal T. Suryanata, dan Zulfaisal Putera.

Ada juga penyair dekade 50-an dan 60-an, yaitu Hijaz Yamani, Ardiansyah M., Eza Tabri Husano, Salim Fakhry, Darmansyah Zauhidie, Andi Amrullah, Hamamy Adabi, dan Ajim Ariadi. Sementara dari dekade 70-an ialah Ajamuddin Tifani, Bakhtar Suryani, Rasyidi Umar, Ibramsyah Amandit, dan Syukrani Maswan.

Di bidang Seni ada nama Titiek Puspa, (lahir di Tanjung, 1 November 1937) adalah seorang musikus Indonesia. Iandhika Mulya Ramadhan lebih dikenal sebagai Ian Kasela adalah vokalis grup band radja. Gusti Erhandy Rakhmatullah adalah penabuh drum dari grup musik GIGI. Arul Efansyah vokalis Power Metal.

Terry Putri (lahir di Banjarmasin, 1 Desember 1979) adalah seorang presenter televisi, bintang iklan, aktris dan pembawa acara di tanah air. Ananda adalah runner up 1 Puteri Indonesia 2006. Amini, kontestan di KDI 5.

Ada John Tralala merupakan artis pelawak sekaligus penyanyi daerah Kota Banjarmasin. H. Anang Ardiansyah merupakan pencipta lagu-lagu Banjar yang produktif dan artis penyanyi daerah dari Kota Banjarmasin. H. Syamsiar Seman adalah seorang budayawan dan penulis dari Kalimantan Selatan. Kecintaan dan kegigihannya untuk mengangkat nilai-nilai budaya Banjar yang hampir punah patut dihargai.

Melanjutkan keberhasilan dua nama dai cilik asal Kalsel, Nadia Mahfuzah (Tanjung) menjadi juara Pemilihan Dai Cilik (Pildacil) Lativi 2006 dan Muhammad Zainnur Royyan (Banjarmasin), Juara Pildacil 5 tahun 2007, Fahmi dari Kandangan berhasil menyabet gelar juara II dalam ajang pemilihan keluarga dai cilik (Dacil) Lativi.

Ada Tommy Kaganangan, model iklan Mie Sedap dan bintang sinetron cilik.

Deretan panjang nama-nama yang penulis cantumkan di atas hanya sebagian saja dari putra-putri terbaik Kalsel yang pernah ada dan masih berkiprah sampai hari ini. Dari dulu sampai hari ini Kalsel telah dipenuhi oleh orang-orang jenius yang akan terus menghiasi sejarah bangsa ini. Oleh karena itu, jangan sepelekan orang Kalsel…

**Dirangkum dari berbagai sumber**

9 Comments »

  1. wah banyak juga orang2 hebat dari kalsel

  2. agung said

    betul om kalsel memang yang terbaik

  3. iroelnc said

    Ass. wr. wb.
    Luar biasa pengetahuan anda tentang orang banua sendiri …
    salam kenal dan sukses selalu … Mudah-mudahan kita juga masuk bagian dari orang yang sukses di kalsel. Amin
    Mampir ya ke gubugku …
    Wss. wr. wb.

  4. Aidey said

    Viva “.. south boneo

  5. Taufik said

    tinggal bagaimana kita melanjutkan perjuangan para tetuha, majukan Banjar, junjung tinggi semangat Haram Manyarah Waja Sampai Ka Puting

  6. Asa said

    ehem, salam aja ya moga tambah mesra kan, mat ya

  7. Mad Fahmy said

    Ass. Wr. Wb. Salam Kenal, moga-moga rahmat Allah & Syafaat y Rasulullah, menyertai penulis & kita semua. Artikel “Tanah Banjar: Never Ending Intelectualism” bagus tuh, tapi jgn lupa berbagai kejayaan & keberhasilan semata-mata Karunia dan anugerah, Ulun setuju sama Comment y Mang Taufik Said. Kal-Sel memang terkenal dengan Religinya, tp ttp istiqamah, karena sewaktu-waktu bisa saja ada rongrongan dari pihak luar. Thx & Viva South Borneo…….!!!

  8. warm said

    lengkap betul, bos
    saya suka sekali membaca rangkuman ini, keren !!
    salut buat kau

  9. Hafiez said

    apakah blob ini masih update?. bila ia, ada hal yang cukup penting ingin saya sampaikan. bila berkenan, add saya di alamat fb: Hafiez_gambut@yahoo.co.id

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: