Mengkaji Kitab Kuning di Zaman Serba Instan (1)

(Catatan untuk Musabaqah Qiraat al-Kutub)

kitab-kuning2

Gaungnya mungkin tak sedahsyat Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), yang diselenggarakan dengan penuh semarak, lengkap berbagai atraksi yang terkadang lebih “wah” dibanding dengan ajang lombanya sendiri.

Musabaqah Qira’atul Kutub (MQK). Ajang lomba membaca kitab kuning yang digelar bertujuan untuk mendorong kecintaan santri terhadap kitab rujukan berbahasa Arab serta kemampuan santri melakukan kajian agama Islam dari sumber kitab tersebut. Selain itu, MQK juga bertujuan menjalin silaturahmi antar pondok pesantren di Indonesia, serta meningkatkan peran lembaga pendidikan tersebut sebagai lembaga pendidikan Islam dalam mencetak kader ulama dan tokoh masyarakat masa depan.

Kegiatan lomba Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) tingkat nasional III tahun 2008 berlangsung di Pondok Pesantren Al Falah, Banjarbaru, Kalimantan Selatan tanggal 1-5 Desember 2008 mendatang. Perhelatan musabaqah dua tahunan ini terbilang masih baru. Bahkan secara nasional, baru dua kali digelar.

Berdasarkan catatan, untuk MQK nasional pertama tahun 2004 berlangsung di pondok pesantren Al Falah Bandung, Jawa Barat. Sedangkan yang kedua berlangsung tahun 2006 lalu diadakan di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.

Tulisan ini sahibar catatan berkait dengan pelaksanaan ajang lomba membaca dan memahami kitab kuning tersebut.

Kitab Kuning dan Tradisi Pesantren

Pesantren dan kitab kuning adalah dua sisi yang tak terpisahkan dalam keping pendidikan Islam di Indonesia. Sejak sejarah awal berdirinya, pesantren tidak dapat dipisahkan dari literatur kitab buah pemikiran para ulama salaf yang dimulai sekitar abad ke-9 itu. Boleh dibilang, tanpa keberadaan dan pengajaran kitab kuning, suatu lembaga pendidikan tak absah disebut pesantren.

Begitulah fakta yang mengemuka di lapangan. Dalam konteks ini, kitab kuning telah menjadi salah satu sistem nilai dalam kehidupan pesantren. Karena itu, pembelajaran dan pengkajian kitab kuning menjadi nomor wahid dan merupakan ciri khas pembelajaran di pesantren. Kitab kuning tidak hanya menjadi pusat orientasi, tetapi telah mendominasi studi keislaman pesantren dan mewarnai praktik keagamaan dalam berbagai dimensi kehidupan umat Islam.

Warga pesantren menempatkan kitab kuning sebagai acuan utama dalam kehidupan sehari-hari. Terutama yang menyangkut masalah hukum ibadah atau ritual, akhlak atau perilaku, dan mu’amalah atau hubungan sosial. Perilaku itu tercermin dari cara mereka bersikap. Ketika warga menemui persoalan, rujukannya adalah bertanya ke kiai. Lalu, kiai menjelaskan berdasarkan keterangan dari kitab kuning. Mayoritas dalam soal fikih, mereka bermahdzab syafi`i, meski mereka juga mengakui keberadaan mazhab fiqh yang empat: Hanafi, Maliki, Syafi`i, Hambali.

Karena itu, kitab kuning yang dikaji di pesantren, kebanyakan kitab-kitab karya para ulama Syafi’iyah. Mulai dari kitab fikih tingkat dasar, seperti Safinatun Naja, Taqrib, Kifayatul Ahyar; menengah seperti Fathul Qarib, Fathul Wahab, Fathul Mu’in, I’anatuth Thalibin, Hasyiyah Bajuri, Muhazzab; hingga tingkat tinggi seperti Nihayatul Muhtaj, Hasyiyah Qalyubi wa Umairah, Al-Muharrar, Majmu Syarh Muhazzab. Semuanya merupakan susunan para ulama mazhab Syafi’i.

Kitab-kitab tersebut, berisi paparan mengenai hukum-hukum hasil ijtihad Imam Syafi’i, yang kemudian diuraikan lagi oleh para ulama pengikutnya dari abad ke abad. Hasil pemikiran ijtihad Imam Syafi’i sendiri, didiktekan (imla) kepada muridnya, Al-Buwaithi, yang menyusunnya lagi menjadi kitab Al-Umm (Induk). Dari Al-Umm inilah lahir kitab-kitab fiqh susunan para ulama mazhab Syafi’i, baik yang ringkas dan tipis, seperti Taqrib karya Abu Suja, maupun yang panjang lebar dan tebal-tebal seperti Nihayatul Muhtaj karya Ar-Ramli, atau Majmu Syarah Muhazzab karya An-Nawawi.

Bahasan hukum-hukum dalam kitab kuning, bersumber dari hasil ijtihad para ulama mazhab, yang menggali langsung dari Alquran dan sunnah Rasulullah saw. Yang mereka gali dan dijadikan bahan ijtihad, adalah hal-hal yang bersifat temporer, aktual, namun belum terdapat nash yang jelas di dalam Alquran dan Hadis. Untuk hal-hal yang sudah dijelaskan di dalam Alquran dan Hadis, tidak lagi dijadikan bahan ijtihad.

‘Rethinking’ Kitab Kuning

Ada banyak nama sebagai sebutan lain dari kitab yang menjadi referensi wajib di pesantren ini. Disebut “kitab kuning” karena memang kertas yang digunakan dalam kitab-kitab tersebut berwarna kuning. Maklum saja, istilah ini bertujuan untuk memudahkan orang dalam menyebut. Sebutan “kitab kuning” ini adalah khas Indonesia.

Ada juga yang menyebutnya, “kitab gundul”. Ini karena disandarkan pada kata per kata dalam kitab yang tidak berharokat, bahkan tidak ada tanda bacanya sama sekali, tak seperti layaknya kitab-kitab belakangan. Istilah “kitab kuno” juga sebutan lain kitab kuning. Sebutan ini mengemuka karena rentangan waktu yang begitu jauh sejak kemunculannya dibanding sekarang. Karena saking kunonya, model kitab dan gaya penulisannya kini tak lagi digunakan. Meski atas dasar rentang waktu yang begitu jauh, ada yang menyebutnya kitab klasik (al-kutub al-qadimah).

Secara umum, kitab kuning dipahami oleh beberapa kalangan sebagai kitab referensi keagamaan yang merupakan produk pemikiran para ulama pada masa lampau (al-salaf) yang ditulis dengan format khas pra-modern, sebelum abad ke-17-an M. Lebih rinci lagi, kitab kuning didefinisikan dengan tiga pengertian. Pertama, kitab yang ditulis oleh ulama-ulama asing, tetapi secara turun-temurun menjadi referensi yang dipedomani oleh para ulama Indonesia. Kedua, ditulis oleh ulama Indonesia sebagai karya tulis yang independen. Dan ketiga, ditulis ulama Indonesia sebagai komentar atau terjemahan atas kitab karya ulama asing.

Dalam tradisi intelektual Islam, khususnya di Timur Tengah, dikenal dua istilah untuk menyebut kategori karya-karya ilmiah berdasarkan kurun atau format penulisannya. Kategori pertama disebut kitab-kitab klasik (al-kutub al-qadimah), sedangkan kategori kedua disebut kitab-kitab Modern (al-kulub al-`ashriyah). Perbedaan yang pertama dari yang kedua dicirikan, antara lain, oleh cara penulisannya yang tidak mengenal pemberhentian, tanda baca (punctuation), dan kesan bahasanya yang berat, klasik,dan tanpa syakl (harakat). Apa yang disebut kitab kuning pada dasarnya mengacu pada kategori yang pertama, yakni kitab-kitab klasik (al-kutub al-qadimah).

Spesifikasi kitab kuning secara umum lerletak dalam formatnya (layout), yang terdiri dari dua bagian: matan (teks asal) dan syarah (komentar, teks penjelas atas matan). Dalam pembagian semacam ini, matan selalu diletakkan di bagian pinggir (margin) sebelah kanan maupun kiri, sementara syarah, karena penuturannya jauh lebih banyak dan panjang dibandingkan matan, diletakkan di bagian tengah setiap halaman kitab kuning.

Ciri khas lainnya terletak dalam penjilidannya yang tidak total, yakni tidak dijilid seperti buku. Ia hanya dilipat berdasarkan kelompok halaman (misalnya, setiap 20 halaman) yang secara teknis dikenal dengan istilah korasan. Jadi, dalam satu kitab kuning terdiri dari beberapa korasan yang memungkinkan salah satu atau beberapa korasan itu dibawa secara lerpisah. Biasanya, ketika berangkat ke majelis pengkajian (pengajian), santri hanya membawa korasan tertentu yang akan dipelajarinya bersama sang kiai.

Selain itu, yang membedakan kitab kuning dari yang lainnya adalah metode mempelajarinya. Sudah dikenal balnva ada dua metode yang berkembang di lingkungan pesantren untuk mempelajari kitab kuning: metode sorogan dan metode bandongan. Pada cara pertama, santri membacakan kitab kuning di hadapan kiai yang langsung menyaksikan keabsahan bacaan santri, baik dalam konteks makna maupun bahasa (nahwu dan sharf). Sementara itu, pada cara kedua, santri secara kolektif mendengarkan bacaan dan penjelasan sang kiai sambil masing-masing memberikan catatan pada kitabnya. Catatan itu bisa berupa syakl (baris) atau makna mufradat atau penjelasan (keterangan tambahan).

Selain kedua metode di atas, sejalan dengan usaha kontekstualisasi kajian kitab kuning, di lingkungan pesantren dewasa ini telah berkembang metode jalsah (diskusi partisipatoris) dan halaqah (seminar). Kedua metode ini lebih sering digunakan di tingkat kiai atau pengasuh pesantren untuk, antara lain, membahas isu-isu kontemporer dengan bahan-bahan pemikiran yang bersumber dari kitab kuning.

(bersambung)

10 Comments »

  1. kitab sebenarnya gak cuma sekedar dibaca, dikaji tapi juga diaplikasikan untuk jadi problemsolver manusia. sayangnya, untuk membaca kitab sendiri cuma terbatas pada para santri, padahal ga cuma santri kan yang pengen pinter ? sebagai khairu ummah udah seharusnya mengkaji kitab🙂

  2. irfanantono said

    kitab kuning, masih relevan semua dengan konteks zaman sekarang tak kang?

  3. liana said

    hidup tanpa makan ibarat napas tanpa udara,islam tanpa para ulama yang menulis kitab seperti berjalan sangat-sangat lamban kita butuh kitab2 yang mengajarkan semua kajian tentang islam ………..teruskan mas menulisnya

  4. andriansyah said

    assalammualikum ana andri dari jakarta,ana mau tanya kapan ada lagi lomba MKQ nya,sukron…

  5. Chipmedia said

    Salam kenal akhil kirom…

  6. bbhek said

    tanpa kitab kuning, msh bsa hdp sukses. toh msh banyak buku yang mengajarkan sama kea apa yang dijelaskan kitab kuning….

  7. Syaripudin said

    Kitab kuning merupakan warisan para u’lama yang harus kita pelajari…

  8. referensi ilmu agama yang akurat memang berdasar kitab-kitab yang klasik (salaf) lebih dekat ke sunnah Rosululloh,sedang referensi ilmu pengetahuan alam yang akurat itu berdasar kitab-kitab yang terbaru (kholaf)

  9. saudara muslim yang budiman jangan bersedih sekarang banyak kitab2 kuning yang sudah di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh para ulama pesantren kita yang masyhur seperti Bpk Kyai Ahmad Sunarto,Kyai Labib Mz dll. silhkan tinggal pilih mau kitab ahlaq tauhid,fiqih dsb

  10. jadi ingat dulu semasa smp-sma pernah belajar kitab kuning dg bapakku dan paman2, yg paling saya ingat #usfuriyah ( burung pipit ), dll. mas minta tolong klo ada kopian safinatun najah yg sudah terjemah. ama referensi ttg ponpes salaf tradisional dan bahasan kitab kuningnya

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: