Revolusi Moral dari Jalan Raya

Jalan raya adalah salah satu cermin yang baik untuk memantulkan moral kita. Di jalan kita tak punya teman atau tetangga. Pun nyaris tak ada yang mengenal kita. Nyaris tak ada yang tahu apakah kita mengendarai mobil sendiri, mobil pinjaman, atau menyetirkan mobil bos kita. Kaca-kaca mobil kita hampir secara sempurna menyembunyikan wajah kita. Sementara itu sesame pengendara memang tak punya kesempatan banyak untuk saling memperhatikan wajah, karena harus berkonsentrasi pada suasana jalan.

Pada situasi itu kita tak lagi merasa sungkan atau perlu berbasa-basi. Karenanya gerak-gerik kita adalah gerak-gerik alami, tanpa polesan. Perilaku yang merupakan refleksi dari alam bawah sadar kita. Dan itu adalah wakilan dari moral kita yang asli. Karenanya, sekali lagi, jalan raya mencerminkan dengan baik keadaan moral kita.

Semrawut adalah kata kunci yang tepat untuk mendeskripsikan suasana jalan kita. Kesan itu bisa segera kita tangkap hanya dengan pengamatan sekilas sekalipun. Bagi sebagian orang asing yang terbiasa dengan suasana tertib, jalan raya kita tak hanya semrawut, tapi juga menakutkan. Lemahnya manajemen transportasi, kurangnya sarana pendukung jalan raya, dan sebagainya, boleh jadi memberi kontribusi yang cukup besar terhadap terciptanya suasana semrawut itu. Tapi sulit untuk menyangkal bahwa kunci masalahnya terletak pada korupnya moral kita sebagai pengguna jalan.
Perilaku kita di jalan raya adalah perilaku penghuni rimba, di mana yang kuat adalah penguasa. Yang menguasai jalan adalah mereka yang berani ngotot merebut ruang, baik karena kekuatan fisik kendaraan maupun kekuatan psikologis (baca: kenekatan) pengendaranya. Maka pengguna jalan yang paling lemah yaitu pejalan kaki harus tunduk pada para penguasa jalan itu. Di tempat penyebrangan sekalipun pejalan kaki harus ekstra hati-hati karena tak ada jaminan bahwa pengendara akan berhenti begitu melihat ada yang sedang menyebrang jalan.

Tenggang rasa adalah barang yang mahal di jalan raya kita. Bila Anda sedang bergerak dari jalan kecil untuk masuk ke jalan utama yang sedang padat lalu lintas, jangan berharap bisa masuk kalau Anda tak nekat menjulurkan setengah kendaraan untuk memaksa kendaraan lain berhenti. Mental kita ketika di jalan raya adalah mental kiasu, sebuah istilah populer di Singapura, yang artinya “takut kalah”. Mental ini membuat kita sering berusaha merebut sesuatu walau tak jelas benar apa manfaatnya bagi kita. Yang penting ia tak direbut orang lain.

Peraturan dan rambu-rambu lalu lintas bagi kita bukanlah mekanisme untuk melindungi keselamatan sesama pengguna jalan, tapi merupakan sesuatu yang dipatuhi karena kita tak ingin didenda. Kalaupun kita kebetulan tertangkap oleh polisi karena melanggar aturan, kita tak perlu terlalu khawatir. Ini karena polisi kita adalah polisi “cinta damai” yang mau menyelesaikan segala persoalan dengan cara “musyawarah untuk mufakat”.

Jalan raya adalah tempat kita memamerkan ego, seolah kita ini adalah manusia terpenting di muka bumi. Pengguna jalan yang lain harus memberikan prioritas untuk kita. Dan kita adalah pihak yang selalu benar. Karenanya kita dengan gampang membunyikan klakson panjang-panjang kalau ada hal yang tak kena di hati kita. Bahkan tak jarang kita menhardik orang lain, sesama pengguna jalan. Kalau kita kebetulan terlibat pada sebuah kecelakaan lalu lintas, maka hal pertama kita lakukan adalah memasang wajah sangar dan bersiap ngotot, bahwa kita berada di pihak yang benar.

Dengan kondisi moral yang demikian itu, tak heran kalau kehidupan bangsa kita di berbagai sektor juga centang-perenang. Berbagai tindakan yang merupakan cerminan buruknya moral dapat dengan mudah kita saksikan dalam keseharian kita. Yang paling menyolok dan sering disebut adalah korupsi. Tindakan ini dilakukan secara terang-terangan, tanpa rasa malu. Bahkan sebagian dari kita menganggapnya sebagai sebuah keniscayaan, bukan lagi kejahatan.

Beberapa kerusuhan etnik maupun agama yang terjadi terutama beberapa tahun silam, malah membuat kita harus mempertanyakan kemanusiaan kita. Sesama anak bangsa bisa dengan mudah saling bunuh. Termasuk membunuh anak-anak dan bayi-bayi tak berdaya. Hal-hal biadab itu tak hanya terjadi di daerah konflik, tapi juga di daerah damai. Ini misalnya terjadi atas pencuri yang tertangkap basah lalu dikeroyok secara massal hingga tewas. Beberapa kejadian serupa malah dipicu oleh isu, yang tidak jelas kebenarannya.

Krisis yang kita hadapi sekarang ini sering disebut krisis multidimensional. Dan krisis itu belum berakhir. Seperti sering disebut, kita butuh reformasi untuk keluar dari krisis itu.

Mengingat kompleksnya krisis yang sedang kita hadapi, reformasi kita semestinya tidak hanya berhenti pada reformasi politik yang menyangkut lembaga-lembaga negara serta aturan mainnya, seperti yang selama ini kita pahami. Reformasi kita seharunya mampu menyentuh aspek yang lebih fundamental, yaitu reformasi moral. Artinya harus ada usaha bersama untuk memperbaiki moral bangsa kita, terutama dengan memperbaiki moral kita sendiri.

Menarik untuk diperhatikan bahwa sebenarnya kita bisa memulai reformasi moral kita dengan memperbaiki perilaku kita di jalan raya. Sedikit dari kita yang menyadari bahwa jalan raya adalah salah satu tempat yang secara unik bisa digunakan untuk melakukan refleksi spiritual guna memperbaiki moral kita.

Kita bisa memulainya dengan menahan diri untuk tidak melanggar perarturan lalu lintas, antara lain dengan tidak menerobos lampu merah. Kita juga bisa melatih sikap tenggang rasa dengan memberi jalan kepada orang lain yang hendak masuk ke jalur kita, atau hendak berganti arah. Kita bisa melatih kesabaran dengan tidak berzig-zag ganti-ganti jalur pada saat jalan padat dengan lalu lintas. Dan seterusnya. Ada banyak sikap tertib yang sebetulnya bisa kita temukan dengan menggunakan sedikit akal sehat kita. Karenanya kita tak membutuhkan hal-hal khusus untuk mengetahuinya.

Boleh jadi ide ini akan ditanggapi dengan sikap skeptis. Bagi sebagian orang, hanya orang tolol yang mau mengalah di jalan raya kita. Ini justru adalah suatu kesalahan fundamental kita yang lain. Kita menginginkan perbaikan, tapi tidak mau berkorban dengan memulainya. Makanya kita tidak pernah melihat perbaikan, karena masing-masing kita hanya menunggu dan menuntut orang lain untuk berubah, sementara kita tidak mengubah diri kita sendiri.

Idealnya, berkendaraan di jalan raya mengajarkan pada kita bahwa jalan raya adalah sarana yang tepat untuk menyebarkan sifat-sifat baik. Sikap tenggang rasa sebagai sesama pengguna jalan yang kita terima dari orang lain menimbulkan rasa nyaman, yang membuat kita ingin melakukan hal yang sama pula terhadap orang lain. Pada kesempatan lain, sikap yang sama yang kita praktikkan terhadap yang lain sangat boleh jadi menimbulkan perasaan yang sama pula pada orang tersebut. Kalaupun tidak, kita tidak rugi sedikitpun. Yang jelas, melakukan hal itu berulang-ulang akan memperbesar peluang munculnya perilaku baik dalam berlalu-lintas.

Sebagaimana diungkap di muka, perilaku kita di jalan adalah perilaku yang mencerminkan situasi bawah sadar kita. Karenanya perubahan perilaku kita di jalan, sangat potensial untuk mengubah perilaku kita di tempat lain. Oleh karena itu kita perlu mulai mengubahnya. Sekarang!

Penulis: Pengguna jalan raya di Banjarmasin

3 Comments »

  1. tambal BAN said

    benar sekali…setuju-setuju

  2. Sebagaimana diungkap di muka, perilaku kita di jalan adalah perilaku yang mencerminkan situasi bawah sadar kita. Karenanya perubahan perilaku kita di jalan, sangat potensial untuk mengubah perilaku kita di tempat lain. Oleh karena itu kita perlu mulai mengubahnya. Sekarang!

    Jadi perilaku orang yang nampaknya santri tapi berlaku barbar dijalanan mencerminkan bahwasanya mereka adalah barbar yang kecanduan agama dan merasa dirinya ahli surga? Begitu ya?

  3. suhadinet said

    Betul itu Pak Taufik. Ugal-ugalan di jalan, huh bikin susah orang. Perilaku sehari-harinya pasti juga demikian. Paling gak yah gak jauh gitu.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: