Ada Apa dengan Listrik Kita?

PLN adalah badan usaha milik negara yang berfungsi melayanani rakyat agar terpenuhi kebutuhan dasar energi listrik. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat menggantungkan hidupnya pada perusahaan tersebut. Sebagian besar rumah penduduk di perkotaan bahkan tidak lagi memiliki lampu teplok atau petromak yang lazim digunakan manusia abad pertengahan. Maka pelayanan PLN yang kurang baik akan mengganggu kehidupan masyarakat.

Harapan masyarakat kepada PLN yang dimonopoli negara itu sering berujung kekecewaan. Misal, PLN yang nyala-padam secara dadakan alias tanpa jadwal, apakah siang atau malam hari, tegangan (voltage) listrik yang lemah dan labil, merupakan bagian kecil masalah yang dikeluhkan warga. Sebab bukan cuma gelap tiba-tiba tapi banyak peralatan milik warga yang menggunakan energi listrik yang rusak.

“Memuyaki” itulah istilah yang bisa diberikan untuk menggambarkan jeleknya pelayanan listrik di daerah ini. Capek deh! Lebih aneh lagi di tengah pelayanan yang masih buruk itu, belakangan ini PLN mengumumkan rencana kenaikan tarif. Menyikapi hal ini, seorang warga bercelutuk: “Yang penting kan pemasukan, masa bodoh soal pelayanan!” Pelayanan buruk yang “mentradisi”, begitu istilah seorang warga.

Motto hemat Listrik

Apa yang sebenarnya terjadi di tubuh PLN, kita tak tahu persis. Dikatakan, terkendala pada dukungan teknologi, rasanya tidak logis. Apalagi keadaan buruk ini sudah berlangsung puluhan tahun, dan sudah beberapa kali terjadi penggantian pucuk pimpinan di perusahaan itu. Tidak mungkin pihak manajemen PLN membiarkan hal itu terus berlangsung di tengah kucuran dana dan besarnya angka APBD.

Distribusi listrik yang kedap-kedip itu, pantas diduga memang sengaja dilakukan. Ini dapat dikaitkan dengan sebuah motto yang kerap dikampanyekan pejabat negara; “Hemat Listrik Hemat Energi.” Selama ini banyak pihak yang terkesan cuek dan tidak pernah bekerja demi implementasi motto itu. Barangkali pihak PLN sedang berupaya membumikan motto Hemat Listrik dan Hemat Energi. Semoga saja PLN di daerah lain, mau berguru ke daerah kita dalam hal pengamalan motto indah itu.

“Hemat Listrik, hemat energi”, ternyata motto ini memberikan sejumlah dampak positif. Dampak positif langsung karena dengan pemadaman listrik maka akan meringankan biaya bagi konsumen saat pembayaran tagihan bulanan. Bayangkan jika distribusi listrik lancar dan tidak pernah padam, maka energi listrik akan selalu terpakai dan ujung-ujungnya akan memberatkan warga akibat membengkaknya tagihan bulanan.

Dampak positif

Seperti halnya dampak pemacetan distribusi air, maka pemadaman listrik juga memiliki dampak positif bagi warga. Terutama dampak langsung pada malam hari, maka energi listrik yang terpakai akan berkurang. Pemakaian listrik pada malam hari biasanya sangat tinggi. Lampu-lampu hampir semuanya dinyalakan. Televisi, kulkas, hingga AC semua dalam posisi ON. Bayangkan jika kondisi ini “dibiarkan” oleh pihak PLN, maka berapa banyak tagihan bulanan yang harus dibayar konsumen?

Alangkah indahnya jika warga berterima kasih kepada pihak PLN sekaligus meminta agar frekuensi pemadaman listrik itu lebih ditingkatkan. Pemadaman itu harus dilihat sebagai sebuah kebaikan dalam upaya meringankan beban warga yang saat ini sedang kapayahan menghadapi kenaikan harga barang akibat kenaikan BBM. Jadi, mari berbaik sangka dan merenunginya secara lebih mendalam.

Mengenai tegangan listrik yang rendah juga mempunyai dampak positif. Dengan tegangan yang rendah, maka beberapa peralatan elektronik tidak akan bekerja. AC, kulkas dan mesin cuci tidak akan berfungsi jika tegangan yang masuk terlalu rendah. Jadi, warga tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli peralatan elektronik itu. Dalam hal ini barangkali pihak PLN hendak mengajarkan warga untuk berlaku hidup hemat dan sederhana. Khusus AC yang tidak berfungsi mungkin pihak PLN hendak menyehatkan warga karena saat tidur akan mengeluarkan keringat. Itu pekerjaan sangat mulia.

Ulasan tersebut hanya rekaan dan analisa yang bisa dianggap logis sehingga kita perlu mendorong kepada pimpinan perusahaan PLN, untuk mempertahankan pelayanan seperti yang diberikan selama ini. Namun bila rekaan itu sebaliknya, maka saatnya bagi PLN untuk memperbaiki diri demi memuaskan pelanggan. Semoga!

7 Comments »

  1. unduk said

    Setuju pak, PLN memang payah! Kita musti mulai berpikir untuk swasembada listrik kali ya ? Engga tergantung sama PLN lagi😦

  2. inggih, mati lampu trus, BT
    bang, bang, saya minta alamat buta ngirim artikel selain radar boleh ga?

  3. Ulama zaman dulu, seperti Ibnu Sina, Al Jabar, Ibnu Taimiyah sampai Datuk Kalampayan merupakan sosok yang baru bisa benar-benar disebut ulama. Kenapa? Karena mereka tidak hanya membekali dirinya dengan ilmu tauhid, fiqih dan syariat saja, melainkan hingga ilmu-ilmu yang disebut secara sempit hati oleh orang sebagai ilmu dunia.
    Coba tengok Ibnu Sina, ia juga ahli dalam ilmu kedokteran, psikologi dan lain-lain. Al Jabar, tidak hanya alim dibidang ilmu fiqih, karena ia jago matematika. Begitu juga dengan ibnu Taimiyah yang juga ahli dibidang kemiliteran dan ilmu politik.
    Bahkan, banyak ilmuwan politik komtemporer yang menyadur ilmu dari beliau. Nah, Datuk Kalampayan juga komplit, mulai dari ilmu pertanian, astronomi, ekonomi.
    Jadi, adinda, saya sebenarnya tidak setuju kalau ada dikotomi antara ilmu akhirat dan ilmu dunia seperti yang dikatakan para ulama yang sebenarnya diragukan keulamaannya. Seluruh ilmu jika ia baik dan ditujukan untuk kebaikan maka semuanya dikatakan ilmu agama. Bukankah setiap perbuatan akan berimplikasi kepada pahala dan dosa sebagaimana yang diatur agama. Jangankan ilmu matematika, ilmu politik, ilmu militer, ilmu jurnalistik dan lainnya, bahkan ilmu bagaimana kencing yang benar pun seluruhnya adalah ilmu agama.
    Dikotomi itu tanpa disadari umat Islam sebagai racun yang membuat kita tak bisa maju-maju. Tengoklah orang lain sudah ke bulan ke planet mars, punya teknologi internet seperti yang adinda gunakan sekarang ini, sementara kaum Muslimin masih berkutat pada masalah bacaan qunut, ada tidak ada Imam Mahdi, siapa yang pantas memimpin partai Islam, merangkak dari kesulitan ekonomi dan lain-lainnya yang melelahkan.
    So, semua ilmu selagi ia positif dan digunakan untuk kebaikan adalah ilmu agama. Perhatikanlah firman Allah, “Jika itu baik, maka ia datang dari sisi-Ku.” Jadi, adinda, ilmu agama bukan hanya sebatas ilmu yang diajari di IAIN belaka, atau madrasah ngaji duduk atau ilmu syariat atau ilmu hakikat. Wassalam………

  4. Fuad Ananta said

    kalau menurut aku PLN itu yang paling merepotkan adalah dalam hal management..dimana kita pun lagi krisis keuangan dan energi. energi alternatif itu butuh duit buat bangun pembangkit listrik.wajar lah kalau ada pemadaman listrik agar ada perawatan listrik ataupun pembagian beban listrik.kesalahan tidak murni kesalahan PLN semata. tidak ada yang salah sich sebetulnya. udah lah jalani hidup ini apa adanya….

  5. CECIL LEE said

    Akhir akhir ini listrik sering mati ,tanpa jadwal sungguh sesuatu yang biasa Bagi PLN ,namun ini menjadi kondisi yg luar biasa Bagi Masyarakat ,perlu dipertanyakan kinerja Pemerintah terutama PLN akhir akhir ini,apakah karena dalam rangka pemilu ,semua kondisi bisa dimanfaatkan untuk menarik simpati atau memperbaiki keadaan dimasyarakat? mati listrik kayak minum obat 2 – 3 kali sehari ,air PDAM macet tidak lancar ! PR buat caleg ! tegur PLN cari solusi ! malu sama pendatang seperti saya ,dijawa batu bara beli tapi mati lampu ,jarang dikalimantan batu bara punya sendiri tapi listrik ,mati terus ! katnya pulau yg kaya hasil bumi tapi , mana ,krisis dari A sampai Z ,para pemerintahan kal sel , masyarakat jangan disuguhi yg sulit sulit seperti mati lampu terus terusan , beri yang enak enak masyarakat pasti bisa ingat , nggak usah nampang dibaliho /spanduk kita juga tahu siapa yg pantas jadi wakil & pemimpin benua kalsel , karena memperjuangkan keinginan rakyat , kalau kondisi listrik mati melulu , jangan mau contreng ikutan pemilu aja males ! buat apa milih ? tidak ada bedanya kan ,pemerintah lama atau baru ,sama saja ! (maaf hanya sekedar uneg uneg saja , saya lelah dengan kondisi ini , ujung ujungnya kami masyarakat tak bisa apa apa selain menerima ! padahal para caleg & pemimpin daerah minta dukungan kami masyarakat tapi dimana dukungan para caleg dan pemerintah kalsel buat masyarakat agar kami bisa yakin bahwa dibawah kepemimpinan yg baru masyarakat kalsel bisa sejahtera )

  6. emang menjengkalkan kalo sering mati lampu

  7. mawardi said

    listrik yes..short down no..

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: