Pornografi Di Sekitar Kita: Keterbukaan atau Pemberontakan?

Pro kontra seputar pornografi memang tidak akan pernah selesai, terutama di antara tarik menarik argumentasi agama moralitas via a vis argumentasi kebebasan untuk berekspresi dan berkesenian. Di satu sisi, ada kaum agamawan yang berniat mengontrol ruang publik secara ketat, dan mungkin juga kaku. Di sisi lain, ada sekelompok masyarakat yang hendak menempatkan kebebasan berekspresi dan berkesenian di dalam ruang publik secara total, dan seolah-olah tanpa hambatan.

Pada saat tulisan ini dibuat, Undang-Undang Anti Pornografi (UU AP) baru saja di sahkan setelah sebelumnya menjadi perdebatan hangat di kalangan masyarakat. Rancangan UU ini sebenarnya sudah diajukan pemerintah ke DPR RI sejak tahun 2002. Entah mengapa, anggota dewan pada saat itu belum mau mengesahkannya. RUU ini baru dibahas kembali secara serius dan disahkan oleh anggota Komisi VIII DPR RI, hasil pemilu legislatif tahun 2004.

Sejak awal keputusan DPR yang ingin membahas RUU Anti Pornografi untuk kemudian disahkan menjadi UU, pro dan kontra terhadap keberadaan RUU sudah bermunculan. Mereka yang pro menginginkan adanya UU yang tegas yang melarang segala hal yang berbau pornografi dan pornoaksi. Sementara yang kontra, mengaku bukannya tidak kesal dengan maraknya pornografi di negeri ini, tapi mereka menginginkan pengaturan masalah pornografi tidak merugikan sebagian masyarakat yang lain.

Dua argumen di atas hanya ingin mencontohkan bagaimana dilema epistemologis yang ada di balik gejala pornografi. Bagaimana hal ini dapat dimaknai lebih jauh, sehingga “kebebasan berekspresi” dan “moralitas” di dalam agama dapat dipertahankan tanpa mengorbankan salah satunya? Apakah titik tengah di antara keduanya itu mungkin? Ataukah, semua bentuk pornografi, dan yang dicap sebagai pornografi, sekarang ini adalah suatu bentuk pemberontakan terhadap kemunafikan cara pandang dan cara hidup tertentu, dan tuntutan untuk disebarkannya cara pandang yang berfondasikan keterbukaan multidimensional?

Saya sendiri mempunyai hipotesis bahwa di Indonesia, pornografi tidak hanya merupakan masalah etis semata, yang menjadi tegangan vis a vis antara “kebebasan seni” di satu sisi dan “moralitas agama” di sisi lain, tetapi lebih merupakan suatu bentuk pemberontakan terhadap cara pandang masyarakat terhadap seksualitas yang seringkali dogmatis dan tertutup. Maka, disamping tentunya juga merupakan masalah etis, pornografi juga adalah sebuah pemberontakan menuju keterbukaan cara pandang. Jika tidak disingkapi secara benar, pemberontakan paradigmatis semacam ini justru akan membawa kita pada anarkisme, terutama pornografi, atau totalitarisme agama.

Untuk menjelaskan tesis ini, saya akan menempuh tiga langkah. Pertama, saya akan menjabarkan apa yang dimaksud dengan pornografi. Kedua, saya akan mengajukan argumentasi yang menyatakan bahwa pornografi bukan hanya persoalan moral dan seni belaka, tetapi merupakan suatu pemberontakan paragdimatis menuju keterbukaan cara pandang, terutama cara pandang moralitas dan agama yang masih konservatif, dogmatis, dan tertutup.

Ketiga, saya juga akan berargumentasi bahwa walaupun pornografi dapat dipandang sebagai suatu pemberontakan paragdimatis menuju keterbukaan, ia tidak lepas dari ekses negatif yang mungkin ditimbulkannya, jika tidak diajukan suatu pertimbangan kritis atasnya. Oleh karena itu, supaya argumentasi menjadi seimbang, saya akan menunjukkan bahwa pornografi juga memiliki ekses negatif yang cukup besar, di samping sebagai simbol dari suatu pemberontakan paragdigmatis menuju keterbukaan cara pandang, yang bermuara pada keterbukaan multidimensional.

Arti Pornografi

Pornografi berasal dari bahasa Yunani, pornographia, yang secara etimologis berarti tulisan atau gambar tentang pelacur. Kata ini seringkali juga disingkat sebagai porn, atau pron, atau porno. Pornografi, secara singkat, berarti penggambaran tubuh manusia atau perilaku seksual manusia yang bertujuan untuk membangkitkan rangsangan sosial. Istilah ini seringkali digunakan secara bergantian dengan erotika.

Pornografi juga dapat menggunakan beragam media, baik itu tertulis maupun lisan, foto-foto, ukiran, gambar bergerak, seperti animasi, dan suara. Film porno, atau yang banyak dikenal sebagai blue film, menggabungkan gambar yang bergerak, teks erotik ataupun suara-suara bagaikan napas-napas tersengal-sengal lainnya. Sementara, majalah menggunakan foto serta teks tertulis. Novel dan cerita pendek menyajikan teks tertulis yang digabungkan, terkadang, dengan ilustrasi. Pertunjukan hidup (live show) pun dapat disebut sebagai pornografi.

Seperti sudah disinggung sebelumnya, pengertian literer dari pornografi adalah tulisan tentang pelacur, yang bermula dari sebuah eufemisme, dan menunjuk pada sesuatu yang dijual. Kata ini berasal dari istilah Yunani yang mengacu pada pornoai, atau pelacur-pelacur profesional di jaman Yunani Kuno. Di era modern, istilah ini digunakan oleh para ilmuwan sosial untuk menunjuk pekerjaan orang-orang tertentu, seperti Nicholas Restif dan William Acton, yang pada abad ke-18 dan 19 menerbitkan berbagai tulisan yang mempelajari pelacuran, dan mengajukan saran-saran pengaturannya. Kata ini masih terus digunakan dalam arti ini dalam Oxford Dictionary sampai 1905.

Dewasa ini, kata pornografi digunakan secara luas untuk menggambarkan semua bentuk publikasi yang bersifat seksual, terutama yang dianggap tidak bermoral. Kriteria tidak bermoral disini diartikan sebagai publikasi segala sesuatu yang bersifat seksual, yang dimaksudkan semata-mata untuk membangkitkan rangsangan seksual. Bentuk dari publikasi ini bisa tulisan maupun grafis. Kata ini mengandung makna peyoratif yang langsung mengacu pada seni yang rendahan. Pihak-pihak yang memproduksi materi ini lebih memilih menggunakan kata film dewasa, ataupun video dewasa untuk mendeskripsikan produk mereka. Walaupun begitu, definisi pornografi seringkali masihlah sangat subyektif. Bahkan, beberapa pihak berpendapat bahwa patung Daud karya Michaelangelo merupakan sebentuk pornografi.

Banyak orang juga membedakan antara pornografi ringan dan pornografi berat. Secara umum, pornografi ringan mengacu pada produk-produk yang menampilkan ketelanjangan, adegan-adegan yang secara sugestif bersifat seksual, dan adegan seksual. Sementara itu, pornografi berat mengacu pada gambar-gambar alat kelamin dalam keadaan terangsang, dan kegiatan seksual lainnya, termasuk penetrasi.

Pornografi memiliki sejarah yang panjang. Karya seni yang memiliki sifat sugestif secara seksual telah berusia sama tuanya dengan karya seni lainnya. Foto-foto yang bernuansa sama pun juga telah muncul tak lama setelah fotografi ditemukan. Film-film yang paling awal muncul pun telah menampilkan gambar-gambar telanjang, ataupun gambar lainnya, yang bersifat eksplisit secara seksual. Manusia telanjang dan aktivitas seksual yang dilakukannya, yang juga bisa digolongkan di dalam pornografi, telah ada di dalam beberapa karya seni Paleolitik, seperti Patung Venus. Akan tetapi, apakah tujuannya untuk membangkitkan rangsangan seksual atau tidak masih belum terjelaskan secara eksplisit. Mungkin, gambar-gambar tersebut justru memiliki makna yang bersifat spiritual. Ada beberapa gambar yang bisa dikategorikan porno di tembok-tembok reruntuhan bangunan Romawi di Pompeii.

Pada 50 tahun terakhir abad kedua puluh, pornografi di Amerika Serikat berkembang menjadi majalah pria, seperti Playboy dan Modern Man. Majalah-majalah ini menampilkan perempuan yang telanjang atau setengah telanjang, dan seolah-olah siap sedia untuk melakukan hubungan seks. Akan tetapi, pada akhir 1960-an, majalah-majalah ini, terutama Penthouse, mulai menampilkan gambar-gambar yang lebih eksplisit. Dan, pada akhir 1990-an, mereka mulai secara vulgar menampilkan gambar-gambar penetrasi seksual, lesbianisme, homoseksual, seks dalam kelompok, dan masturbasi.

Film-film porno juga sama usianya dengan media itu sendiri. Film porno yang paling awal dan dapat diketahui tanggal pembuatannya adalah A L’Ecu d’Or ou la bonne auberge, yang dibuat di Perancis pada 1908. Film itu bercerita tentang seorang tentara yang kelelahan setelah berhubungan seks dengan seorang pelayan di sebuah penginapan. Akan tetapi, ada kemungkinan bahwa film El Satario dari Argentina di buat lebih dahulu dari film Perancis tersebut. Kemungkinan besar, film ini dibuat antara 1907 sampai 1912.

Banyak film porno yang dibuat pada dekade-dekade berikutnya. Akan tetapi, produksi dan distribusi film-film tersebut biasanya tersembunyi, sehingga keterangan lengkap tentangnya sangat sulit untuk didapat. Film Mona The Virgin Nymph, sebuah film berdurasi 59 menit, diputar pada 1970. Pada umumnya, film ini diakui sebagai film porno pertama yang vulgar, dan memiliki plot yang jelas, serta diputarkan di bioskop-bioskop Amerika Serikat. Film ini dibintangi oleh Bill Osco dan Howard Ziehm.

Pada 1971, film Boys in the Sand diputarkan. Pada umumnya, film ini dianggap sebagai film pertama yang secara jelas menggambarkan adegan homoseksual. Di samping itu, film tersebut juga mencantumkan nama-nama pemain serta krunya, walaupun masih menggunakan nama samaran. Film ini sebenarnya adalah sebuah parodi dari film yang berjudul The Boys in the Band. New York Times membuat tinjauan atas film ini. Film The Boys in the Sand adalah film porno kelas X pertama yang dibuat sinopsis dan tinjauannya secara umum.

Pornografi, Pemberontakan Seksualitas?

Lalu, apakah pornografi itu melulu suatu lambang pelanggaran etika, atau jangan-jangan, pornografi adalah juga suatu pemberontakan? Saya memiliki tesis bahwa pornografi bukan hanya sekedar masalah etika saja, tetapi juga masalah emansipasi, terutama emansipasi dari cara pandang masyarakat terhadap seksualitas yang cenderung tertutup. Dalam arti ini, pornografi adalah sebuah pemberontakan menuju keterbukaan cara pandang terhadap seksualitas. Represi sosial terhadap seksualitas menemukan luapannya pada pornografi. Bagaimana seks itu direpresi?

Sekarang ini, berita seks bebas, yang merupakan salah satu hubungan yang paling sering diungkapkan di dalam pornografi, sudah ‘hampir’ menjadi hal biasa. Seks tidak lagi merupakan barang langka yang memiliki nilai suci, tetapi telah menjadi aktivitas yang diobral tanpa batas. Berbagai bentuk pelayanan seks komersial menunjukkan hal itu dengan jelas. Seks seolah-olah telah lepas dari spiritualitas, yang justru semestinya menjadi fondasi dari aktivitas seks itu sendiri. Seks pun lalu memusatkan pada kenikmatan daging belaka. Nilai-nilai luhur, seperti cinta dan ketulusan, di baliknya terlindas termakan banalitas peristiwa.

Sudah cukup banyak buku yang menggambarkan bagaimana seks telah berubah menjadi suatu ‘pemberontakan’ kultural terhadap cara pandang lama, dan  tidak lagi hanya sekedar masalah etika. Salah satu yang paling terkenal adalah Jakarta Undercover, tulisan Moammar Emka.Buku ini melukiskan berbagai praktek seks komersial yang terjadi di Jakarta secara jelas. Praktek seks komersial ini dilakukan dengan kreatifitas, sehingga begitu menarik bagi konsumennya. Misalnya, di dalam praktek seks komersial tersebut, ada gaya Arabian Nite Bachelor Party, Chicken Nite Party, Seks Sandwich Sashimi Girls, Nude Ladies Night VIP Casino, dan lain-lain.

Bagaimana praktek seks komersial tersebut dapat kita singkapi? Apakah pornografi merupakan tanda pemberontakan seksualitas, dan terutama sekali pemberontakan atas sikap munafik agama dan moralitas yang cenderung tertutup? Seperti sudah disinggung sebelumnya, pemuasan seks, entah sebagai pornografi ataupun tidak, memiliki varian yang hampir tak terbatas. Perilaku semacam ini disebut Herbert Marcuse sebagai Polymorhphus Perverse, yakni penyimpangan yang beraneka ragam. Latar belakang analisanya adalah revolusi seksual yang terjadi 1960-an di Amerika dan Eropa. Sebelum memahami apa yang disebut dengan pornografi sebagai pemberontakan seksualitas, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud revolusi seksualitas pada dekade 1960-an.

Bagaimanapun privatnya, seksualitas tidak pernah bisa dilepaskan dari kehidupan publik, dari kehidupan masyarakat. Revolusi seksual pada dekade 1960-an menunjukkan ada sesuatu yang berubah di dalam kesadaran masyarakat tentang seks. Di abad pertengahan, seks dipandang sebagai sesuatu yang luhur, yang memiliki nilai spiritualitas. Pandangan tersebut tentunya dipengaruhi ‘semangat jaman’ pada waktu itu, yakni ketika dunia dipandang dengan paradigma kosmologis yang menyeluruh, utuh, dan tentu saja, memiliki kesucian. Segala sesuatu bergerak dalam keharmonisan. Salah satu efek politis dari semangat jaman semacam itu adalah penyatuan agama dan politik. Agama, dengan demikian, tidak bisa dipisahkan dari politik. Agama memberikan pengaruh besar kepada politik. Dan pada akhirnya, politik pun dianggap sesuatu yang ‘suci’, seperti agama. Dalam kosmos yang utuh dan menyeluruh tersebut, seks berperan sebagai salah satu unsur di samping unsur-unsur lainnya, yang menentukan keseluruhan.

Yang memegang otoritas atas seks bukanlah individu, melainkan kosmos sebagai keseluruhan. Seks pun secara eksplisit disetir melulu oleh kekuasaan yang ada di luarnya. Seks dipandang sebagai sesuatu yang fungsional, yakni sebagai aktivitas reproduksi saja.

Situasi semacam itu tidak berlangsung lama. Lahirnya kesadaran borjuasi, dan kaum borjuasi sendiri, telah menggoyang semangat jaman tersebut. Orientasi utama masyarakat borjuis adalah penumpukan modal, efektivitas, efisiensi, dan perluasan investasi.

Kesemua tujuan itu hanya dapat dicapai dengan menggunakan perhitungan rasional yang kaku, cermat, berjarak, dan berkepala dingin. Masyarakat borjuis dicirikan dengan rasionalitas semacam ini. Oleh karena itu, seks pun tunduk di bawah kalkulasi rasionalitas. Seks diinstrumentalisasikan oleh rasio. Ia dibuat menjadi efektif, efisien, dan berguna bagi penumpukan modal. Seks tidak lagi dipandang hanya sebagai fungsi reproduksi, tetapi juga menjadi ‘alat’ yang berguna untuk membuat masyarakat menjadi sejahtera.

Akan tetapi, seks tetap lebih besar dan selalu elusif dari kategori-kategori distingtif yang dirumuskan rasionalitas untuk ‘menjinakkannya’. Dengan kata lain, seks tidak akan pernah dapat dipenjara di dalam kalkulasi rasio yang cenderung berjarak dan efisien, karena seks adalah bagian penting dari emosi serta perasaan manusia. Seks tidak akan pernah diperbudak seluruhnya dalam kategori-kategori rasionaltias, bahkan ketika komando kekuasaan yang represif memaksakannya. Rupanya, yang terakhir inilah yang menjadi pilihan masyarakat borjuis.

Pada abad ke 18 dan 19, seks, dan pornografi secara khususnya, ditekan oleh suatu bentuk struktur kekuasaan yang sangat canggih. Dari sinilah kemudian berkembang suatu moralitas borjuis yang bersikap represif terhadap seks. Moralitas yang bersifat represif terhadap seks tersebut kemudian mendominasi kehidupan individu maupun komunitas. Perkembangan moralitas semacam itu terus berlangsung sampai revolusi industri, dan secara perlahan menyusut.

Pada awal abad ke-20, situasi sudah berubah cukup drastis. Seksualitas, yang selama ini berada dalam represi oleh moralitas borjuis, mulai bangkit, serta secara terang-terangan menyatakan dirinya. Dua pemikir yang banyak menganalisis hal ini adalah Sigmund Freud dan Herbert Marcuse. Secara langsung, Freud memprotes represi seksual yang tengah terjadi pada waktu itu. Di samping itu, ia juga menganalisis dorongan seksual manusia, dan sampai pada kesimpulan bahwa sebagian besar tindakan manusia ditentukan oleh dorongan seksualnya tersebut. Lebih jauh lagi, ia berpendapat bahwa peradaban manusia bisa tetap ada dan berkembang, justru karena manusia mampu mengontrol dorongan naluriahnya, termasuk seks di dalamnya, dengan menggunakan rasionya.

Tesis Freud tersebut cukup tajam dan komprehensif. Akan tetapi, dia masih menggunakan paradigma modernitas, yakni bahwa realitas yang rasional harus bisa menundukkan naluri-naluri manusia. Logos harus tetap melampaui Mitos, yang dalam arti khusus adalah Eros. Ia berpendapat bahwa naluri seks manusia tidaklah perlu ditekan ataupun dihilangkan, tetapi harus diarahkan dan dialihkan. Manusia harus mengatur naluri seksnya, dan bukan menekannya. Dengan kata lain, manajemen libidolah yang penting, dan bukan represi atas libido tersebut.

Marcuse juga memiliki pendapat yang searah dengan Freud. Baginya, perkembangan peradaban manusia modern bisa berlanjut terus, karena represi naluriah manusia dengan menggunakan rasionya. Akan tetapi, lebih dari Freud, Marcuse berpendapat bahwa represi tersebut sudah memasuki tahap yang berlebihan, yang tujuan finalnya adalah mencapai surplus pertumbuhan ekonomi. Tesis ini dapat dipahami, ketika kita melihat bahwa masyarakat industri maju telah menggantikan semua nilai dengan paham untung rugi. Perhitungan uang untuk mencapai keuntungan ditempatkan lebih tinggi daripada perasaan serta ketulusan manusia.

Konsekuensinya, krisis moral dan krisis nilai terjadi. Naluri dan spontanitas manusia ditekan, sehingga keuntungan ekonomi dapat diraup lebih banyak lagi. Akibatnya, manusia modern, terutama yang dekat dengan perputaran modal, memiliki fasilitas ekonomi yang melampaui kebutuhannya. Bersamaan dengan itu, spontanitas dan naluri manusia juga akhirnya ditindas dan ditundukkan secara berlebihan, bahkan lebih daripada yang diperlukan untuk mengembangkan peradaban dan memenuhi kebutuhan. Marcuse berpendapat bahwa penindasan yang berlebihan terhadap naluri dan spontanitas manusia tersebut tidak lagi rasional, tetapi sudah menjadi irasional. Situasi ini sedemikian kuat menekan, sehingga terjadilah revolusi seksual pada awal dekade 1960-an. Inti dari revolusi itu adalah pemberontakan eros atas logos secara terang-terangan.

Para pendukung revolusi seks ini yakin bahwa represi terhadap naluri seksual manusia adalah sebab utama meningkatnya agresi di dalam masyarakat, pemerkosaan terhadap kaum perempuan, serta merebaknya pornografi tersembunyi secara tanpa kontrol. Mereka bahkan berpendapat bahwa represi tersebut juga merupakan penyebab utama perang dan munculnya fasisme. Aktivitas seksual yang dibebaskan dari moralitas yang tertutup dan represif akan membebaskan masyarakat dari kejahatan, penindasan, dan kemunafikan. Implikasinya, banyak orang kemudian melakukan seks bebas tanpa kontrol lagi.

Yang terakhir inilah yang disebut Marcuse sebagai Polymorphus Perverse. Aktivitas seks tanpa kontrol tersebut dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap ragam prakteks seks yang telah dianggap wajar dan mapan di dalam masyarakat. Di sisi lain, praktek seks tanpa kontrol tersebut dapat juga dianggap sebagai realisasi dari dorongan paling dasar manusia itu sendiri, atau yang banyak disebut orang sebagai basic instinct. Berdasarkan dorongan itu, manusia selalu berjuang untuk menjadi otonom. Ia terus berjuang untuk lepas dari segala sesuatu yang didiktekan kepadanya oleh masyarakat. Dorongan manusia untuk menjadi otonom di satu sisi dan status ontologisnya sebagai mahluk sosial merupakan dua antinomi biner yang selalu berhadapan secara dialektis. Artinya, keduanya tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, melainkan saling mengisi secara dialektis.

Buku Jakarta Undercover tulisan Emka telah menunjukkan kepada kita bagaimana ‘liarnya’ prakteks seks bebas di kota Jakarta. Di satu sisi, praktek seks tanpa kontrol, seperti yang terungkap di dalam buku Jakarta Undercover tersebut, bertentangan dengan norma-norma masyarakat, dan dianggap sebagai sesuatu yang tidak pantas. Akan tetapi, di sisi lain, kita bisa lihat bahwa secara diam-diam, sebagian masyarakat kita telah hidup sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh revolusi seksual. Dengan kata lain, kebebasan seksual kini adalah suatu sikap mendua, yakni menolak sekaligus menikmati.

Pornografi, dalam segala bentuknya, adalah salah satu contoh yang paling nyata. Bukan rahasia lagi bahwa di kalangan anak muda kita, seks telah menjadi sedemikian bebas dan terbuka. Akan tidak adil bagi mereka,  jika kita melulu menilai semua gejala sosial tersebut sebagai “menyimpang”. Berbagai gejala sosial tersebut haruslah kita terima sebagai fakta, yakni bahwa masyarakat kita secara perlahan, dan bukan tanpa hambatan, sedang bergerak menuju masyarakat terbuka. Gerak menuju keterbukaan, dan bahkan keterbukaan itu sendiri, menghasilkan konsekuensi dan ekses tertentu, yang menuntut perhatian.

Di dalam masyarakat yang terbuka, seks juga bersifat terbuka. Di dalam keterbukaannya tersebut, seks tidak lagi soal privat, tetapi telah menjadi realitas publik. Di dalam beragam praktek dan sifat keliarannya, seks tidak lagi hanya soal privat, tetapi dilakukan di dalam kebersamaan dan pesta, yang bersifat publik. Contoh yang paling jelas tentang hal ini adalah pemberitaan media massa tentang kehidupan-kehidupan selebriti yang, baik secara langsung ataupun tidak, menampilkan aroma seksualitas yang cukup kental.

Semua gejala ini sebenarnya merupakan suatu tanda bahwa secara diam-diam, ide-ide revolusi seksual telah memasuki kehidupan sosial masyarakat kita. Dengan kata lain, seks tidak lagi merupakan ruang privat, tetapi sudah menjadi urusan yang bersifat publik. Seks bukan lagi sekedar suatu lambang keutuhan intimitas antara dua orang di dalam ruang privat, yang sekaligus juga tabu bagi mata yang mengintip. Pengintip sendiri kini tidak lagi dianggap dosa, atau melanggar hak-hak asasi manusia. Lagi pula, apa gunanya mengintip, jika yang diintip, yang dulu menutup pintunya rapat-rapat, kini justru membukanya lebar-lebar dengan tangan terbuka? Dapat pula dikatakan bahwa dewasa ini, seks telah menjadi musuh dalam selimut bagi intimitas itu sendiri. Intimitas telah kehilangan rumahnya, karena seks telah menjadi urusan publik.

Setelah memasuki ruang publik, seks pun kini juga menjadi komoditi yang potensial untuk diperjualbelikan. Praktek prostitusi adalah gejala yang paling pas untuk mendeskripsikan hal ini. Orang harus membayar jutaan rupiah untuk mendapatkan kenikmatan seks sensasional dengan salah satu pekerja seks komesial yang dipilihnya. Seks, dalam arti tertentu, telah menjadi barang.

Jangan Lupa: Ekses Pornografi!

Jadi, pornografi tidak hanya sekedar masalah moralitas belaka, tetapi juga suatu pemberontakan paragdimatis menuju keterbukaan cara pandang terhadap seksualitas. Pemberontakan paragdimatis itu tidak berhenti di tataran wacana, tetapi berlanjut terus dengan deras di dalam praktek kehidupan sehari-hari masyarakat kita. Jika pornografi dipandang sebagai suatu pemberontakan menuju keterbukaan yang bersifat multidimensional, maka penanganan dengan menggunakan otoritas argumentasi moralitas agama tidak akan lagi memadai, karena masalah sebenarnya memang terletak di dalam logika tertutup dari moralitas dan agama tersebut, yang harus direvisi.

Akan tetapi, saya tidak mau menyatakan bahwa pornografi itu pada dirinya sendiri adalah sesuatu yang tanpa ekses. Sebaliknya, walaupun merupakan satu gejala yang menunjukkan adanya pemberontakan paragdimatis di belakangnya, pornografi tetap harus disingkapi secara kritis, terutama dengan mengetahui efek-efek negatifnya.

Biasanya, alasan-alasan untuk melarang pornografi didapatkan dari argumentasi untuk melindungi anak dan orang muda, serta perempuan, sehingga tidak dijadikan obyek. Pendek kata, pornografi dianggap akan menciptakan rangsangan seksual yang tidak dapat dikontrol, sehingga akan mendorong perilaku yang merugikan orang lain maupun dirinya sendiri.

Lebih dari itu, pornografi tidak hanya dapat dikritik dengan argumentasi yang berbasiskan otoritas moral ataupun agama, tetapi juga dari analisis manipulasi ikon. “Ikon” adalah tanda yang mirip dengan apa yang mau digambarkannya”. Ikon mau menyimbolkan sesuatu seperti aslinya, dan seringkali justru melampaui aslinya. Yang terakhir ini disebut sebagai hiperealitas. Di dalam pornografi, gambar yang ditampilkan haruslah sesederhana mungkin, sehingga orang bisa mengerti tanpa harus berpikir lebih jauh. Gambar harus sesuai langsung dengan yang aslinya, dan jika perlu lebih nyata daripada aslinya, terutama dengan memfokuskan langsung pada bagian-bagian tubuh tertentu.

Di dalam pornografi, simbolisme tidaklah mendapatkan tempat. Pornografi haruslah sangat kelihatan, maka cerita tidak lagi diperlukan. Pornografi sebenarnya juga ditandai dengan ketiadaan sejarah, ketiadaan konteks yang sebenarnya, dan ketiadaan tokoh pelaku yang sebenarnya. Di dalam pornografi, manusia menjadi seolah-olah tanpa roh.

Rangsangan seksual yang datang dalam sekejap mata adalah karakter utama dari pornografi. Ingatan dan analisa harus sedapat mungkin dihilangkan, karena ingatan akan mengganggu. Ingatan akan mengganggu dominasi gambar, sehingga rangsangan pun juga akan terganggu, maka ingatan harus dihilangkan. Di dalam pornografi, semua bentuk wacana yang mengandalkan pikiran, ingatan, dan analisis kehilangan otonominya, dan kemudian melulu ditujukan untuk menciptakan rangsangan seksual bagi penonton atau penikmatnya.

Ada empat efek langsung yang diakibatkan pola “keterbukaan total yang bersifat fisik”  ini, yakni depersonalisasi tubuh, ketiadaan pertanggungjawaban akan kebenaran, penindasan dan pengobyekkan terhadap orang lain, dan kedangkalan diri.

Pertama, pornografi secara jelas menampilkan wajah kekerasan yang gamblang terhadap seksualitas, di mana tubuh dipandang merepresentasikan seluruh kepribadian orang. Perasaan manusiawi dan kesalingan antara manusia direduksi menjadi kontak fisik.

Kedua, imperatif bahwa semua harus langsung kelihatan di dalam pornografi telah menghilangkan tanggungjawab atas kebenaran penayangan tersebut. Tuntutan akan kebenaran berkurang karena pornografi menolak yang tersembunyi dan yang potensial. Masyarakat dibuat bodoh, karena mereka tidak diajak berpikir ataupun berefleksi. Masyarakat juga diperbodoh, karena mereka tidak diajak untuk memikirkan secara kritis penayangan tersebut, dan mereka hanya dituntut untuk mengkonsumsi terus menerus, sehingga mendapatkan rangsangan seksual.

Ketiga, di dalam pornografi, subyektivitas seseorang dihancurkan. Di dalamnya, tubuh menjadi seolah-olah tanpa kehidupan. Wajah seolah-olah menjadi tanpa ekspresi. Di dalam pornografi, “orang lain” direduksi menjadi sesuatu yang dengan mudah dapat diramalkan. Artinya, orang lain dapat digunakan untuk apapun. Perjumpaan antara manusia direduksi menjadi hubungan dominasi, di mana kenikmatan diri adalah satu-satunya yang dicari, dan yang lain hanya merupakan alat belaka untuk mencapai tujuan tersebut.

Keempat, kedangkalan diri sangat tampak di dalam pornografi. Di dalamnya, ketelanjangan seseorang ditampilkan dengan hampir sama sekali melupakan keindahan. Tujuan utama dari ketelanjangan semacam itu bukanlah keindahan, melainkan penciptaan rangsangan seksual dan rasa penasaran sesaat.

Ketelanjangan” memberikan kesan kuat seperti onggokan di dalam kegelisahan sehingga mengingkari misteri tubuh dan cinta. Hilangnya perasaan dan kelembutan merupakan tanda hilangnya kedalaman diri. Pemberontakan menuju keterbukaan cara pandang yang diusung pornografi akan kehilangan nilainya, ketika kita memutlakkan pemberontakan tersebut, dan lupa bahwa ekses pornografi juga harus diuji secara kritis, karena pornografi juga merupakan bukti hilangnya kedalaman diri pada penikmatnya.

Wallaahu a’lam bish shawaab.

3 Comments »

  1. Aping said

    Saya setuju mas…

  2. awym said

    setuja, kakaknya setuju…

  3. rahmat said

    salam kenal.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: