Perlukah Transformasi Sejarah Lokal Banua Banjar?

SUDAH milyaran rupiah dana yang dihamburkan agar penataran dan pelatihan untuk memantapkan rasa kebangsaan dapat terwujud. Disamping itu media massa, lewat media cetak dan media elektronik, juga diserutkan agar segenap generasi muda dapat memahami arti semangat kepahlawanan dan etos perjuangan bangsa.

Semangat kepahlawanan adalah semangat yang tidak mengenal istilah pantang mundur demi meraih kemerdekaan. Malah nyawa, harta dan keluarga adalah taruhannya. Bagaimanakah semangat generasi muda bangsa kita saat ini? Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, kita dapat mengatakan bahwa rata-rata generasi muda sekarang banyak yang tidak memiliki semangat kepahlawanan.

Andaikata kita pajangkan sederet nama mulai dari nama artis sinetron, olahragawan sampai kepada nama tokoh pahlawan yang telah berjasa banyak bagi bangsa ini. Maka artis dan olahragawan kerapkali sebagai tokoh Idola mereka yang utama, dan para pahlawan sering sekedar idola pelengkap saja. Sebetulnya tidak salah kalau generasi muda termasuk anak didik kita menjadikan para artis dan olahragawan sebagai idola mereka, tidak mengapa bila tokoh-tokoh idola mereka baik luar-dalam. Maksudnya penampilan luarnya sama baik dengan karakter mereka yang sesungguhnya.

Sekarang yang kita pertanyakan adalah bagaimana kontak batin antara anak didik kita dengan para pahlawan bangsa? Rata-rata, kecuali sebagian kecil, cuma sebatas mengenal nama mereka saja. Oh, kalau Sisingamaraja itu berasal dari tanah Batak, Imam Bonjol dari daerah Minang dan Pangeran Diponegoro berasal dari daerah anu …! Atau anak didik kita cuma dapat mengenal tahun-tahun saja. Bahwa Sukarno, Presiden RI pertama dan tokoh Proklamator, lahir tahun sekian dan Kihajar Dewantara mendirikan sekolah itu tahun sekian.

Dan bisa jadi generasi muda sekarang hanya mengenal pahlawan hanya sebatas nama, karena nama-nama jalan juga mencantumkan nama-nama para pahlawan. Oh, itu jalan Ahmad Yani dan ini jalan Pangeran Antasari, dan yang itu adalah jalan Hasan Basri, Jalan Gatot Subroto, Jalan D.I Panjaitan, atau jalan Sudirman, dan lain-lain. Tetapi mereka kemungkinan tidak pernah tahu bahwa Hasan Basri itu adalah pejuang heroik dari tanah Banjar yang menjadi tokoh sentral Proklamasi 17 Mei 1949 sebagai bagian dari proklamasi kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, dengan tujuan yang sama mau merdeka, bebas dari penjajahan .

Atau mereka kurang mengetahui bagaimana sejarah Perang Banjar. Sejarah ini diwarnai dengan peperangan besar menentang penjajah Belanda. Banyak Bangsawan kerajaan Banjar, Ulama dan rakyat yang ikut serta dalam peperangan itu. Demikian pula rakyat di daerah ‘Banua Lima’ serentak mengangkat senjata dibawah pimpinan Pangeran Hidayatullah dan Pangeran Antasari.

Atau kenalkah generasi Banjar dengan Aluh Idut? Nama ini mungkin tidak dikenal seperti Cut Nyak Dien dari Tanah Rencong atau RA Kartini dari tanah Jawa. Seorang srikandi Banjar. Pejuang perintis kemerdekaan, sekaligus perintis organisasi perempuan Kandangan Kalsel selama 27 tahun berjuang tanpa pamrih demi kemerdekaan bangsa dan negara yang dicintainya.

Pokoknya cukup sederhana pengetahuan anak didik kita tentang para pahlawan yakni sebatas nama, tahun-tahun kejadian dan daerah asal mereka. Mereka memperoleh itu lewat hafalan dan kemudian secara pelan-pelan melupakan apa yang dihafal sebelum sempat dijiwai sampai pada akhirnya para pahlawan itu terlupakan dan terputus dalam kontak batin. Kalau begitu siapakah yang bertanggung jawab atas masalah ini?

Sebetulnya selain lewat proses belajar mengajar di sekolah anak didik masih dapat mengenal para pahlawan lewat media masa seperti televisi, majalah dan koran-koran. Tetapi acara-acara kepahlawanan sering kalah menarik dibandingkan dengan acara hiburan dan film-film. Sehingga anak-anak didik kita di rumah memperhatikannya tidak dengan sepenuhnya hati dan malah meninggalkan acara tersebut. Begitu pula kerapkali anak didik lebih tertarik dengan membaca gosip para bintang film dan mengabaikan biografi para pahlawan.

Transformasi Sejarah Lokal

Sejarah tidaklah sekadar peristiwa-peristiwa yang terjadi yang terjadi di masa lalu tapi juga merupakan bagian dari masa kini. Sebab, dari sejarah kita bisa memetik banyak pelajaran berharga guna menapak kehidupan di masa kekinian dengan lebih baik.

Mengungkap segi-segi kepahlawanan dapat dianggap sebagai modal pembangunan di bidang mental spiritual dan kebudayaan. Semangat perjuangan yang dikobarkan para generasi pendahulu diharapkan dapat memberi inspirasi generasi sekarang dalam menghadapi tugas membangun banua, bangsa dan negara Indonesia.

Senada dengan itu juga perlu digelorakannya upaya transformasi sejarah kepahlawanan melalui bangku sekolah. Dengan begitu, generasi muda Banjar sejak usia dini bisa mengenal peristiwa-peristiwa sejarah yang pernah terjadi di tanah kelahirannya secara detail. Setelah mengenal peristiwa sejarah itu, mereka selanjutnya diharapkan bisa memaknainya dalam konteks bangunan sejarah perjuangan bangsa.

Proses transformasi sejarah itu perlu diintensifkan di bangku-bangku sekolah. Mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Jika upaya itu tidak secepatnya dilaksanakan, suatu saat nanti generasi muda Banjar boleh jadi tidak akan kenal lagi dengan figur pahlawan Banjar. Padahal, banyak sekali nilai positif yang bisa digali dan diteladani dari rangkaian peristiwa bersejarah tersebut.

Pelajaran sejarah yang digelar di bangku sekolah selama ini memang belum terlalu dalam menjamah peristiwa-peristiwa sejarah lokal Banjar. Bila pun ada buku teks pelajaran yang menyinggungnya, sejarah-sejarah lokal Banjar itu hanya disajikan secara sepintas. Karena disajikan secara sepintas, generasi muda Banjar pun praktis mengenal sejarah lokal Banjar itu secara sepintas pula alias tidak utuh.

Hingga satu setengah abad berlalunya peristiwa Perang Banjar, misalnya, banyak pelajar dan mahasiswa yang tidak mengenal peristiwa heroik tersebut. Hal serupa juga terjadi untuk peristiwa sejarah penting lainnya yang terjadi di Banjar. Harus diakui, generasi muda Banjar lebih mengenal kiprah perjuangan Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar dan pahlawan lainnya dibandingkan pahlawan-pahlawan besar yang lahir di tanah Banjar.

Peringatan sejarah kepahlawanan dari tanah Banjar harus kita jadikan momentum berharga untuk menata kembali pola pembelajaran sejarah itu. Generasi muda Banjar tidak boleh diasingkan dari sejarah lokalnya. Mereka wajib tahu, banyak sekali pahlawan besar yang lahir di tanah Banjar dan terbukti memberikan kontribusi yang signifikan bagi tegaknya harga diri dan kedaulatan bangsa dan negara ini.

Banyak celah yang bisa dimasuki untuk memperkenalkan tokoh-tokoh besar Banjar itu kepada generasi muda Banjar melalui bangku sekolah. Dalam konsteks penerapan kurikulum yang memberikan keleluasaan masuknya muatan lokal, pengenalan tokoh-tokoh pelaku sejarah lokal itu bisa disisipkan dalam mata pelajaran muatan lokal seperti bahasa Banjar dan pendidikan budi pekerti.

Mata pelajaran itu bisa dimanfaatkan sebagai media yang efektif untuk kepentingan itu. Termasuk, mentransformasikan nilai-nilai positif yang terkandung di balik peristiwa sejarah tersebut. Perhatian kepada aspek sejarah lokal bukanlah sebagai bentuk euforia otonomi atau pun kebangkitan kesadaran tentang lokalitas. Namun, lebih sebagai usaha mendekatkan generasi muda dengan sejarah lokalnya sendiri sehingga mereka bisa lebih mudah memaknai arti perjuangan bangsanya di masa lalu.

Memperkenalkan para tokoh pahlawan Banjar lewat proses belajar mengajar adalah sangat ampuh untuk menangkal agar anak didik tidak tercabut dari akar budaya dalam arti mereka tidak melupakan pahlawan banua. Tetapi pelaksanaan proses belajar mengajar tidaklah sesederhana metode yang di atas tadi. Idealnya setiap guru, terutama guru Sejarah dari sekolah dasar dan bagi pelajaran yang terkait di tingkat SLTP dan SLTA harus menguasai topik-topik pelajaran yang bukan sekedar hafalan belaka untuk mengajar murid menjadi beo.

Melowongkan waktu bagi guru dan murid untuk dapat membaca setiap buku biografi pahlawan Banjar sangat besar manfaatnya. Selain untuk menambah wawasan juga sebagai sarana untuk “cermin diri” untuk memacu prestasi dan untuk mencari idola sebagai jati diri kita dalam rangka mengembangkan kwalitas diri. Semoga.

6 Comments »

  1. elmuttaqie said

    Saya pengen tau situs-situs yg menyediakan layanan informasi akurat mengenai biografi pahlawan lokal, mungkin bung taufiq bisa menampilkan daftar situs yg bagus utk dikunjungi (karena mo nyari via google kadang bingung nyari keyword yg cocok, kalo toh ada biasanya list nya klewat panjang, kurang efektif, saya mau yg praktis aja…).
    Mo beli buku nya…. nunggu tunjangan profesi cair dulu…. jadi cari yg gratisan dulu aja.. Nanti anak didik di MAN Kotabaru disuruh berkunjung dan menelaah bahan sejarah lokal tsb.
    Ngomong-ngomong, transformasi itu pengertian konkretnya apa sih? Saya susah mengkaitkan dengan isi artikel sampeyan secara keseluruhan.. (setiap baca kata tranformasi selalu ingat film the transformers sih, itu lo robot-robot yg bisa berubah bentuk jadi mobil, pesawat dll) Bagaimana kalo diganti aja dgn istilah lain yg lebih membumi semacam “pembacaan ulang” atau rethinking atau reaktualisasi atau judul lain semacam “Urgensi Penghayatan Sejarah Lokal Bagi Generasi Muda Banjar” (kayak judul makalah seminar atau skripsi aja jadinya ya….hihihihihihi…)

  2. Qori said

    mang,ngaliham bacarian kakanakan nang tahu lawan pahlawan lokal,tahunya buhannya naruto wan one piece….

    ada saran?

    Salam kenal ja manglah,,,ulun blogger banjar jua neh,hehehe….

  3. sejarah penuh rekayasa, itulah sejarah dunia… hingga sejarah nasional dan daerah kena imbasnya… tapi pahlawan saya tetep adalah orang yang memperjuangkan akidah dan syariah tanpa kenal takut, bukannya memperjuangkan jargon nasionalis bersekat yang diinfiltrasi oleh kepentingan golongan tertentu

  4. Nizar said

    Tidak ada sejarah yg final, sejarah kalsel tal tertulis dalam sejarah nasional karena tidak ada yg menulis secara nasional, siapa Aluh idut, Demang lehman, 17 mei, Hasan basry dll… banyak orang tidak tahu (org banjar terutama)…
    Lulusan PSP sejarah kah nih angkatan berapa ?

  5. BEKKA PLOND said

    gampang haja , siaran TV masalah berita wan pelajaran sakulah haja , ps2 dilarang, film film barat kada bulih masuk / disiarkan , kakanakan saban hari bila kada belajar , main saman saman atawa main laduman, inya nang maulah kada ingat belajar tu TV FILM wan MUSIK dari luar negeri nang kada karuan tampuh , maulah dusa haja , maulah kakanakan kada ingat sumbahyang , wani wan kuitan , internet di sensor bila baisian gambar batilanjang atau felem ungga ungga apung, bila luar negeri protes , jangan diherani

  6. warm said

    kenalkah generasi Banjar dengan Aluh Idut?..

    pertanyaan dari saya adalah, anda sendiri tau nggak siapa beliau, kalau tau ya dibagi informasinya gitu, alangkah bagusnya jika begitu, tak hanya mengkritik sahaja.

    demikianlah

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: