Menyikapi ”Everybody Draw Mohammed Day”


Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.(QS. Fusshilat: 34)

Pelecehan terhadap Islam dan Nabi Muhammad SAW rupanya tak berhenti. Munculnya film dokumenter ”Fitna” karya seorang anggota parlemen sayap kanan Belanda, Greet Wilders pada tanggal 13 Februari 2008 lalu di harian Jylliands-Posten Denmark, telah menambah catatan hitam kasus penghinaan terhadap Islam yang dilakukan pihak non-Muslim ke hadapan publik.

Penghinaan yang menyita perhatian publik juga pernah terjadi pada tahun 1988 oleh Salman Rushdie dengan novelnya yang berjudul “The Satanic Verses” (Ayat-ayat Setan). Dalam novel ini ia menggambarkan Muhammad sebagaimana mitos yang berkembang di Barat.

Muhammad diceritakan sebagai seorang penipu ulung, hanya berambisi politik, seorang bernafsu yang menggunakan wahyu-sahyu sebagai lisensi untuk mendapatkan sebanyak mungkin perempuan yang diinginkannya. Sehabat-sahabat awal juga dilukiskan sebagai orang-orang yang tidak berguna. Judul “Ayat-ayat Setan” juga merupakan pencemaran terhadap integritas al-Qur’an yang dianggap tidak mampu membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Lagi-lagi kasus ini tidak jelas ujungnya, meski Imam Ayatullah Khomeini telah memfatwakan untuk menghukum mati Rushdie. Bahkan, saat ini novel tersebut sedang dipersiapkan untuk menjadi drama di Jerman. Jelas hal ini memicu kemarahan umat Islam dan mengingatkan kembali pelecehan yang dilakukan kolumnis Inggris asal India itu.

Umat Islam di seluruh penjuru dunia kembali terperangah, ketika sebuah lomba menggambar sketsa nabi Muhammad SAW digelar di Facebook. Meski menuai protes dari jutaan kaum muslim di seluruh dunia, tapi event tersebut tetap dibiarkan berlangsung di dalam situs jejaring sosial itu.

Bahkan, berdasarkan pantauan terakhir, jumlah pesertanya telah menembus angka 15 ribu. Seperti diketahui, sebuah grup bertajuk Everybody Draw Mohammed Day muncul di Facebook sejak 25 April 2010 yang menggelar kompetisi menggambar sketsa Nabi Muhammad SAW pada tanggal 20 Mei 2010 dan diperpanjang hingga 31 Mei 2010.

Menyikapi persoalan ini, akankah umat Islam melawan atau malah memilih diam?

Jika kita belajar pada masa Rasulullah dan sahabat, umat Islam tidak akan membiarkan umat lain melakukan penghinaan. Dalam catatan sejarah ditemukan bahwa konflik antar Islam dengan ”Barat”—sebagai pelaku penghinaan yang kerap mengemuka di hadapan publik—mulai terjadi ketika peristiwa perang Mu’tah (629 M) dan berlanjut dengan perang Tabuk (630 M) antara pasukan Muslim dengan tentara Romawi Timur.

Peristiwa ini berawal dari diutusnya al-Harits bin Umair oleh Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan surat (dakwah) kepada penguasan Ghassan. Namun utusan itu dibunuh oleh Surahbil bin Umar al-Ghassan seraya mencaci maki nabi. Lalu nabi melakukan pembalasan dengan mengutus pasukan di bawah pimpinan Zaid bin Harisah. Oleh karena itu, bani Ghassan meminta bantuan dari kaisar Heraklius dari kerajaan Romawi Timur.

Dengan demikian, beberapa fakta menunjukkan bahwa umat Islam pada periode awal berperang melawan orang-orang kafir yang telah menghina dan menyerang umat Islam. Akan tetapi, kita mesti menilainya secara arif dan objektif atas peperangan tersebut. Peperangan yang dilakukan bukan mengindikasikan Islam sebagai agama teroris. Sebaliknya, peperangan itu menunjukkan bahwa Islam sebagai agama penebar rahmat yang cinta perdamaian dan benci terhadap kebatilan. Mereka berperang bukan memperkosa hak-hak asasi orang lain, akan tetapi semata-mata membela kehormatan dirinya sebagai hamba Allah.

Agaknya inilah yang ditegaskan Allah dalam Alquran (Qs. Al-Fath : 29) bahwa salah satu karakter umat Muhammad SAW itu adalah amat tegas—bukan keras—terhadap orang-orang kafir (asyddau alalkuffar). Namun term kafir dalam Islam bukanlah setiap orang yang di luar agama Islam. Tetapi, kafir tersebut bisa dikelompokkan ke dalam dua bentuk, yaitu kafir harby dan kafir zimmy. Kafir harby adalah orang-orang yang memusuhi Islam dan melanggar perjanjian damai dengan umat Islam. Sikap mereka tidak hanya meresahkan umat Islam, tetapi juga meresahkan orang lain secara umum yang masih berpikir sehat dan logis. Kelompok inilah yang ditentang dan diperangi oleh umat Islam.

Adapun kafir zimmy adalah orang-orang yang tidak memusuhi dan mengganggu umat Islam. Oleh karenanya umat Islam melindungi dan memenuhi hak-hak mereka. Kelompok ini sangat dihargai dan dihormati oleh umat Islam. Bahkan Rasulullah SAW ketika memimpin Yatsrib merumuskan ”piagam madinah” yang pada dasarnya untuk melindungi dan memenuhi kepentingan orang-orang non-muslim yang ketika itu di bawah kekuasaan umat Islam. Dengan keteladanan dan kepemimpinan yang adil, Rasulullah berhasil membentuk masyarakat yang berperadaban.

Masyarakat yang ia pimpin termasuk masyarakat yang pluralistik sebab berasal dari suku dan kepercayaan yang beragam, akan tetapi mereka dapat berinteraksi secara harmonis. Dalam konteks keduniawian, sesama mereka saling bekerja sama. Namun dalam soal aqidah, umat Islam berprinsip lakum di nukum wa liyadin, (untuk kamu agamamu dan bagiku agamaku). Dewasa ini, kafir harby masih ditemukan dan bernyali menghina Islam. Termasuk penghinaan yang dilakukan di hadapan publik, apakah melalaui dunia maya, karya tulis, pernyataan, hingga kepada karya seni yang dianggap sebagai karya yang bernilai. Lalu, jika kita komitmen meneladani Nabi Muhammad SAW, akankah kita angkat senjata lalu berperang ke medan laga melawan penghinaan mereka?

Melawan kemungkaran memang menjadi salah satu doktrin dalam ajaran Islam. Akan tetapi perlawanan itu bukan malah menambah citra negatif dan mengotori kesucian Islam itu sendiri. Perlu dipahami bahwa kondisi yang dialami umat Islam saat ini berbeda dengan kondisi umat pada periode awal. Pada periode awal, penghinaan dan serangan yang dilakukan musuh-musuh Islam memang menantang umat Islam untuk berperang secara fisik.

Tetapi saat ini, setidaknya ada tiga indikasi dilakukannya penghinaan tersebut, pertama, memang direkayasa sedemikian rupa untuk memancing emosi umat Islam agar terprovokasi lalu melakukan anarkisme dan jika umat berbuat anarkis maka dengan sendirinya citra Islam akan semakin buruk; kedua, sebagai upaya membentuk opini publik bahwa Islam identik dengan kekerasan/teroris sehingga publik terpengaruh dan membenci, paling tidak menjauhi umat Islam; ketiga, untuk melemahkan pengaruh umat Islam di tingkat global, sebab umat Islam menjadi salah satu tantangan dan saingan bagi negara-negara yang telah mapan.

Hal ini beralasan, sebab umat Islam adalah umat yang mayoritas di dunia, dengan catatan agama Kristen dipisah dua agama, yaitu Katolik dan Protestan. Selain itu, negara-negara Islam, khususnya di Timur Tengah, sangat kaya di bidang SDA. Dengan demikian umat Islam memiliki peranan yang sangat penting dan berpeluang besar dalam memimpin peradaban dunia, jika umat Islam tersebut bersatu. Akhirnya umat Islam menjadi momok yang sangat menakutkan dan diperkirakan bisa merongrong kekuasaan mereka yang sedang berjaya hingga sekarang. Kekhawatiran ini tampak dalam salah satu karya orang penting Amerika, Sammuel P. Huntingtin dalam tesisnya “Clash Civilization” yang memprediksikan terjadinya benturan peradaban antara Barat dengan dunia Islam. Lagi-lagi tesis ini turut menimbulkan citra negatif agama Islam.

Oleh karena itu, dalam konteks kekinian, melawan hinaan tersebut tidak efektif dilakukan dengan cara berperang secara fisik. Akan tetapi bentuk perlawanan itu bisa dilakukan dengan tiga bentuk, yaitu: pertama, menampilkan Islam secara kaffah (utuh) dalam kehidupan sehari-hari. Masing-masing pribadi umat Islam mesti menunjukkan ke orang lain bahwa Islam adalah agama yang terbaik dan penebar rahmat dan kasih sayang ke segenap alam. Berbagai persoalan yang muncul mesti disikapi secara arif dan cerdas dengan tetap mengedepankan nilai-nilai Islam. Dengan karakter yang Islami, dengan sendirinya umat akan menjadi teladan bagi pihak lain dalam banyak hal. Ketika posisi ini dapat diraih, maka penghinaan dalam bentuk apapun niscaya tidak akan mempengaruhi simpati orang lain terhadap umat Islam.

Kedua, menguasai IPTEK. Pada hakikatnya, kemungkaran akan mudah dilawan melalui kekuasaan. Namun kekuasaan sulit diraih tanpa ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebab, kekuasaan yang dimaksud bukan hanya secara politik, akan tetapi berbagai aspek kehidupan mesti dikuasai. Oleh karena itu, berbagai disiplin keilmuan mesti dikuasai oleh umat Islam. Jika tidak, maka umat Islam hanya menjadi ”konsumen” dan penonton di lapangan sendiri. Akhirnya, posisi umat Islam akan semakin lemah, kehilangan jati diri, dan mudah dilecehkan orang lain. Sebaliknya, jika umat Islam sebagai kelompok penentu, maka posisi umat akan kuat dan musuh-musuh Islam tidak akan bernyali melakukan perlawanan. Namun perlu ditekankan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut mesti dimotivasi oleh rasa keimanan yang tinggi, sebab tanpa iman, ilmu yang diperoleh justru menjadi persoalan baru bagi kehidupan umat.

Ketiga, mempererat persaudaraan umat Islam. Hingga saat ini, umat Islam masih belum mampu menyatukan visinya untuk membangun kualitas umat ke depan secara global. Kepentingan golongan dan daerah masing-masing lebih menonjol dari pada kepentingan umat Islam. Akibatnya, ketika sekelompok umat Islam dihina dan dirampas hak-haknya, keberadaan mereka semakin menyedihkan tanpa adanya pertolongan dari kelompok muslim yang lain. Padahal, jika umat Islam bersatu, niscaya penderitaan saudara yang lain akan terobati dan musuh-musuh Islam pun akan takut melakukan penghinaan. Ahli hikmah mengatakan: ”srigala tidak akan memakan kambing kecuali yang terpisah dari kelompoknya”.

Semoga saja umat tetap berbuat dan bergerak secara dinamis dengan tetap melakukan perubahan untuk meningkatkan kualitas kehidupan umat. Umat pantang berdiam diri dari berbagai serangan yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam. Hanya saja, perlawanan yang dilakukan mesti didasari oleh ajaran Islam itu sendiri dengan pendekatan spiritual, logis, dan religius sehingga perlawanan itu menguntungkan pihak Islam, bukan malah merugikan.

Kecintaan umat Islam di seluruh dunia terhadap agama ini dan kepada junjungannya Muhammad SAW, tak akan runtuh dengan cara apapun. Sebaliknya, cara-cara yang tidak elegan, termasuk dengan pelecehan dan penghinaan seperti itu, justru menjadi bumerang baru sebagai bukti pembelaan bagi kaumnya.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: