Catatan dari MTQ Nasional XXV di Marabahan

Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXV Tingkat Propinsi Kalimantan Selatan sukses digelar di Kota Marabahan, ibu kota kabupaten Barito Kuala pada tanggal 8 – 15 Mei 2010. Sebuah kehormatan sekaligus berkah yang besar untuk menjadi tuan rumah ajang MTQ Nasional. Segenap warga Marabahan patut berbangga karena daerahnya dipercaya menjadi tuan rumah pelaksanaan kegiatan tersebut.

Meriahnya sambutan masayarakat dan selalu besarnya minat para peserta dalam setiap kali penyelenggaraan MTQ, tentu sangat membesarkan hati, karena merefleksikan betapa cintanya masyarakat Kalsel terhadap kitab suci Alquran.

Bagi umat Islam khususnya, MTQ tidak hanya menjadi cermin kesalehan spiritual, tetapi lebih dari itu amat kental dengan gambaran aktivitas sosial keagamaan. Ini tergambar saat hampir seluruh komponen umat terlibat dalam kegiatan secara tulus dan memfungsikannya sebagai wahana syiar Islam yang diracik dengan aroma kebudayaan lokal yang Islami.

Singkatnya, MTQ menjadi program nasional yang benar-benar dirasakan kehadirannya oleh masyarakat dan pada tataran tertentu menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan di bidang keagamaan. Di sisi lain, penyelenggaraan MTQ, terutama pada level regional telah membangkitkan gairah dan motivasi yang kuat bagi generasi muda untuk senantiasa memelihara kesucian dan meningkatkan kecintaan terhadap kitab suci Alquran lewat pembudayaan membaca, menghafal, memahami, serta berupaya mengamalkan isi dan kandungannya dalam kehidupan yang sesungguhnya, baik sebagai individu maupun sebagai warga negara.

Ekspose seremonial MTQ juga sangat dominan mewarnai altar-altar media massa nasional dan daerah. Walhasil, penghargaan terhadap mereka yang berhasil meraih predikat terbaik adalah sebuah keniscayaan dan menjadi impian setiap generasi muda yang gandrung dengan seni baca Alquran dan studi ilmu-ilmu Alquran pada umumnya.

Dalam potret budaya masyarakat, MTQ telah menjadi perhelatan keagamaan yang populer dan fenomenal. Bahkan, kegiatan yang dilakukan secara berjenjang dan berkala ini berhasil menciptakan suatu pola atau paradigma baru keberagamaan umat Islam Indonesia yang khas.

MTQ tidak sekadar mempertontonkan sebuah eksklusivitas spiritual, tetapi juga membawa nilai-nilai pluralitas yang tercermin dari nuansa tradisi yang mengemuka dalam hiruk-pikuk hajatan tahunan tersebut. Oleh karena itu wajar jika momentum ini pantas untuk terus dipertahankan hingga kini.

Namun, hiruk-pikuk dan kemegahan MTQ, dengan segala manfaat dan kegunaan yang ditimbulkannya, tidak berarti sepi dari kritik dan kecaman. Banyak pihak merasa pesimistis bahkan pada tataran tertentu bersikap apatis terhadap penyelenggaraan MTQ yang dianggap tak ubahnya seperti upacara pesta-pora, menghambur-hamburkan uang negara dengan sia-sia.

Munculnya reaksi negatif pejoratif dari beberapa kalangan tersebut menunjukkan dua hal. Pertama, bahwa tidak semua komponen bangsa memahami secara bijak mengenai substansi dan makna strategis di balik penyelenggaraan MTQ sehingga melupakan arti penting dan mahalnya ongkos untuk sebuah syiar keagamaan. Kedua, perjalanan waktu telah menempatkan perhelatan MTQ tidak sekadar menjadi wahana pembinaan masyarakat dalam bidang keagamaan.

Kini tidak jarang momentum MTQ menjadi ajang mempertaruhkan prestise yang berimplikasi serius secara politis. Akibatnya, politisasi MTQ menjadi fenomena yang tak terelakkan. Tindakan-tindakan membenarkan segala cara untuk sekadar memperoleh kejuaraan menjadi hal yang lumrah dan dianggap sudah menjadi tradisi yang dilakukan secara sadar dan sistematis.

Kondisi semacam inilah yang melahirkan kegamangan dan menurunnya kredibilitas MTQ di mata masyarakat awam. Seperti diketahui, dasar pemikiran utama penyelenggaraan MTQ adalah untuk meningkatkan gairah umat Islam, khususnya generasi muda, agar senantiasa membaca, menelaah, memahami, dan mengamalkan isi kandungan Alquran dalam kehidupan.

Memang penyelenggaraan MTQ tidak pernah disyariatkan dalam Alquran. Tapi, jika menilik manfaat dan syiar yang ditimbulkan maka penyelengaraan MTQ layak diposisikan dalam konteks al-mashlahah al-mursalah. Lebih lanjut, haruskah suatu maksud baik sebagaimana dikemukakan di atas disambut dengan sikap pesimistis, bahkan apriori? Tentu sangat tidak bijaksana.

Jika dicermati secara objektif maka kita akan segera menangkap suatu kenyataan bahwa MTQ sesungguhnya merupakan momentum keagamaan yang identik dengan nuansa spiritualitas yang berkolaborasi dengan ruh kebudayaan lokal (daerah). Oleh karenanya, ia berbeda dengan penyelenggaraan kegiatan serupa di beberapa negeri Muslim lainnya di dunia.

Perbedaan mencolok tampak dari sisi ornamentasi yang sarat dengan riuhnya tampilan kesenian dan kekhasan budaya lokal lainnya. MTQ layaknya pesta budaya rakyat yang bernuansa religius. Penyebutan pesta tidak serta-merta menimbulkan kesan negatif. Ini karena kemeriahan, keceriaan, ketulusan, dan kepasrahan kepada Tuhan menyatu, membaur, dan mengkristal dalam semangat jihad untuk menyiarkan agama Islam melalui tradisi menulis, membaca, menghafal, memahami, dan mengamalkan isi dan kandungan Alquran.

MTQ telah menjadi prosesi yang unik dan seolah menjadi ikon kebudayaan Muslim Nusantara. Namun, saat ini agaknya daya tarik MTQ, harus diakui kian banyak menemukan tantangan. Adanya pergeseran orientasi dan kecenderungan para pelaksana MTQ, yang sebelumnya lebih pada upaya pembinaan prestasi generasi muda beralih pada orientasi “prestise” yang cenderung pragmatis. Itulah beberapa problem empiris MTQ saat ini.

Bagaimana pun kegiatan ini bagian penting dari episode perjalanan sejarah sosial umat yang tidak boleh lekang dan terhapus dari memori kolektif kita. Pekerjaan rumah yang mendesak saat ini adalah bagaimana mendudukkan kembali penyelengaraan MTQ pada jalurnya yang benar.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: