Memoar Kebanggaan Urang Banjar

Children should be encouraged to take pride in their ethnic heritage, thereby boosting self-esteem.” (DeHart, Sroufe, & Cooper, Child development: Its nature and course. Boston: McGraw Hill, 2000).

Kita boleh saja mengikuti arus pemikiran global yang paling canggih. Kita harus kompetitif dan memainkan peran penting di tingkat lokal atau nasional. Tapi… kita tidak boleh tercabut dari akar. Kita harus bangga menjadi orang Banjar!”

Tulisan ini bukan bermaksud untuk bernarsis-narsis ria sebagaimana gelora paham Post-Modernisme yang mempengaruhi dunia dewasa ini. Bukan pula hendak menunjukkan kebanggaan terhadap suatu etnis dan menepuk dada bahwa inilah ras unggul yang tak tertandingi dalam sejarah Indonesia.

Sebagai suku bangsa yang memiliki bahasa, wilayah, rakyat, dan memiliki budaya, patutlah saya bangga dilahirkan sebagai orang Banjar. Adat budaya yang ditanamkan sejak saya kecil, membuat saya mengerti akan artinya sebuah kebanggaan.

Kebanggaan saya sebagai orang Banjar tidak hanya cukup sampai disitu. Beberapa karakteristik orang Banjar yang patut dibanggakan, antara lain :

a. Keberagamaan

Manusia Banjar adalah manusia yang religius dan fanatik. Bisa dikatakan, orang Banjar yang sejati pasti taat menjalankan ajaran agamanya. Orang Banjar juga sangat inklusif terhadap perbedaan, baik interen beragama maupun antar umat beragama.

Berbagai macam pemahaman bisa hidup berdampingan tanpa harus saling memusuhi. Mereka bisa mempunyai satu mesjid yang melakukan tarawih dengan dua macam jumlah rakaat dan mereka tetap menghargai satu sama lain. Tokoh agama dari kalangan NU, Muhammadiyyah maupun Persis bisa berjuang bersama-sama dengan tidak mempermasalahkan background pemahamn fiqh mereka yang berbeda.

Kalaupun ada konflik, itu hanya kecil-kecilan dan lebih merupakan konflik wacana yang bisa diselesaikan dengan musyawarah dan dewasa. Kepada masyarakat pendatang yang berbeda agama pun, masyarakat Banjar sangat menghormati. Pendatang dari Timur yang beragama Nasrani, pendatang dari Bali yang beragama Hindu, maupun etnis China dan Tionghoa bisa bebas menjalankan ajaran agamanya di sini.

Kefanatikan orang Banjar bukanlah kefanatikan yang membabi buta; adalah benar jika mereka sangat anti terhadap program-program yang berbau kristenisasi, mereka rela lapar dan tidak gampang menggadaikan ke’miskin’annya terhadap program berkedok bantuan. Tapi mereka juga sangat open untuk diajak berdiskusi secara persuasif. Mereka punya kecerdasan emosional yang tinggi yang mampu menerapkan lakum dinukum waliya din.

Mereka juga sangat open terhadap isu modernisasi. Tingkat adaptabilitynya sangat tinggi. Pada titik tertentu, ini kemudian juga berpotensi negatif bagi pelestarian budaya genuine Banjar yang Islami. Karena sangat open terhadap pengaruh luar yang mengklaim diri modern ini pulalah, anak-anak muda Banjar sekarang banyak yang telah menggunakan suara merdunya untuk berkaroke dangdut ketimbang melatunkan ayat-ayat suci, kelenturan tubuhnya untuk berjoget ala inul ketimbang mempelajari tarian budaya khas Banjar semacam tari Baksa Kambang, Japin Hadrah, Kuda Kepang dan lain-lain.

Anak muda laki-lakinya lebih senang bergerombolan di tepi jalan menggoda cewek-cewek yang lewat dari pada mempunyai kegiatan yang konstruktif semisal menjadi remaja mesjid dan mempelajari seni-seni tradisional Banjar semacam Madihin, Mamanda atau Musik Panting. Mereka bilang “itu kuno.” Sejatinya orang Banjar hendaklah mampu menerima perubahan tetapi tidak sampai meninggalkan identitas budaya dan keagamaan. Fanatik tapi tidak munafik.

b. Gotong Royong

Tradisi gotong-royong adalah ciri khas yang hidup dalam masyarakat Banjar. Ada ungkapan cukup terkenal yang menjadi pegangan hidup masyarakat Banjar; Gawi Sabumi Sampai Manuntung (kerja bersama sampai tuntas) atau Waja Sampai Kaputing (kerja bersama dari awal sampai akhir) atau Kayuh Baimbai (dayung secara serempak). Maksudnya dalam melakukan pekerjaan sampai selesai dengan bergotong-royong secara bersama-sama, rambate rata hayu, singsingkan lengan baju, berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing.

Sebut saja satu contoh, dalam upacara perkawinan dalam masyarakat Banjar, gotong-royong terlihat sangat kental. Beberapa hari menjelang perkawinan para keluarga, tetangga dan kawan-kawan datang membantu segala persiapan yang berkaitan dengan upacara perkawinan seperti mendirikan serobong (tenda) untuk tempat para saruan (undangan) memperluas palatar (teras) serambi depan, mempersiapkan pangawahan (bejana besar) untuk memasak, mendirikan naga penantian (kursi pelaminan), memasang kakambangan (dekorasi), mengatur paguringan (tempat tidur) kedua mempelai, yang diletakkan di tengah rumah dikelilingi oleh dinding air gici (gorden berhias), seperti adanya titian naga, kebun raja, taburan bintang, aneka kembang dan lain-lain.

c. Kebersamaan

Entah memang benar atau tidak, orang Banjar adalah orang yang tidak bisa hidup tanpa berkelompok dan bergerombolan. Kebiasaan ini terbawa-bawa sampai mereka pergi merantau. Konon, perantau dari Banjar pasti membangun rumah besar di daerah perantauannya karena memang sengaja utk disediakan bagi keluarga yang datang. Tidak hanya keluarga yang sedarah dan masih dekat, asal Banjar saja sudah cukup bisa menjadi ticket masuk bertamu pada rumah orang Banjar di perantauan

Ada joke yang berkembang yang menggambarkan perbedaan Budaya masyarakat Lombok, Sumbawa, dan Banjar. Konon kalau suku Sasak ke daerah mana saja, yang pertama kali di cari adalah warung kopi karena begitu attached-nya mereka dengan kopi, suku Sumbawa selalu mencari toilet dan cermin karena mereka sangat memperhatikan penampilan sementara suku Banjar pasti mencari wartel untuk menghubungi saudara-saudara atau orang Banjar lainnya yang bisa jadi tumpangan. Real atau fiksi joke tersebut, tapi sejatinya orang Banjar adalah orang yang ikut menderita di saat saudara menderita dan berbahagia di saat teman bahagia.

d. Kebebasan

Sejak kecil anak Banjar sudah dilatih dan dididik orang tuanya untuk bebas memilih jalan hidupnya masing-masing agar cepat mandiri. Hal ini terkait erat dengan budaya dagang masyarakat Banjar yang sedemikian kuat. Sudah barang tentu kebebasan yang dimaksud lebih pada bidang ekonomi. Ada yang diajak berdagang kecil-kecilan, sekedar membantu orang tuanya berjualan, belajar kerja serabutan dengan memperoleh imbalan seadanya, diwanti-wanti perihal seluk-beluk berdagang atau mau meneruskan sekolah sepuas-puasnya. Bagi orang Banjar yang penting bukan mau berdagang atau mau sekolah, melainkan bagaimana secepat mungkin melepaskan ketergantungan kepada orang tua dan segera bebas, mandiri dan merdeka.

Untuk menuju kebebasan itu, anak Banjar berani menempuh jalan berat sekalipun. Tidak berhasil mencari atau mengembangkan pekerjaan di kampung halaman, mereka akan nekat pergi mengembara ke tanah seberang-negeri orang, menjadi pengembara gigih dan madam (menetap) di sana. Sementara orang tuanyapun dengan lapang dada dan rela hati melepaskan anaknya tanpa tangis dan rasa sedih, bahkan terkadang senyum-senyum saja karena dianggap sebagai kepergian yang biasa.

Tidak heran, jika kemudian banyak dari pengembara-pengembara Banjar ini membangun koloni-koloni di tanah perantauan yang hampir meliputi seluruh Nusantara. Sebut saja beberapa perkampungan Banjar di luar Kalimantan yang cukup terkenal, seperti Bangil (Surabaya), Jayengan (Solo), Kauman (Yogya), Johar (Semarang), Kuala Tungkal (Jambi), Tambilahan (Riau), Sapat, Batu Pahat dan Pulau Pinang (Malaysia)

Tidak kalah pentingnya, tradisi kebebasan yang masih sangat kental di lembaga pendidikan pondok pesantren yang melatih dan mendidik murid-muridnya untuk cepat mandiri, menjadi manusia merdeka. Di sana mereka mendalami berbagai ilmu agama sambil dilatih mandiri tanpa ada keharusan di kelak kemudian hari menjadi Tuan Guru (Kiyai atau Ulama). Meskipun lazimnya, memang kebanyakan dari jebolan pondok ini menjadi TuanGuru. Lingkungan pondok Darussalam di Martapura dan pondok Rakha di Amuntai yang telah melahirkan banyak Tuan Guru berkualitas dan penuh semangat pembebasan.

e. Pengabdian

Lihatlah orang Banjar yang berada di mana-mana! Mereka tidak pernah merasa bahwa pengabdian harus dilakukan di tanah kelahirannya sendiri. Semua bumi ini adalah bumi Allah. Di manapun mereka berada pengabdian mutlak harus dilakuan dengan sepenuh hati. Sebagian orang yang berasal dari daerah tertentu di negeri ini sering kali berkeluh kesah ketika ditugaskan keluar dari daerahnya dan mengupayakan berbagai cara hanya utk bisa kembali bertugas ke daerah sendiri. Orang Banjar tidaklah demikian. Mereka akan menganggap daerah rantauannya sama berartinya dengan daerahnya sendiri. Mereka tidak mau diskriminatif.

Sayangnya sikap ini kemudian menjadi justifikasi bagi keengganan sebagian orang Banjar untuk kembali membangun daerah asalnya. Masih beruntung kalau dari jauh mereka mau memikirkan Banjar, mencari jalan keluar bagi terus terpuruknya banua kesayangan mereka.

Ironisnya, ada juga yang bahkan enggan kembali walaupun untuk sekedar mengunjungi. Mereka tidak ingat lagi bahwa rakyat daerah inilah yang melambaikan tangan ketika mereka merantau. Mulut orang tua di daerah inilah yang tak hentinya memanjatkan do’a bagi keberhasilan mereka. Tanah, air, pepohonan yang ada di daerah inilah yang ikut andil menjadikan mereka seperti itu .

Saya seakan tertampar ketika suatu saat teman dari daerah lain berkomentar: “tidak bisa dipercaya Banjar bisa memiliki tokoh-tokoh hebat bertaraf nasional dan internasional, tetapi lebih tidak bisa dipercaya lagi kondisi Banjarmasin seperti ini sementara tokoh-tokoh yang dilahirkannya telah mampu memimpin dengan sukses di manapun mereka berada.” Sejatinya orang Banjar adalah orang yang tidak pernah tercerabut dari akar kelahirannya.

Yah.. itulah di antara nilai-nilai luhur yang dipunyai atau seharusnya masih dimiliki oleh orang Banjar. Sebagian dari mereka masih mau mempertahankan nilai itu. Sebagian lagi tengah tergoda oleh perubahan dan menganggap nilai-nilai luhur yang dimiliki sebagai sesuatu yang out of date. Bagiku, banggaku menajdi orang Banjar bukan saja dengan menjustifikasi diri sebagai pemilik budaya luhur tetapi juga mampu mempertahankan budaya itu dan mewujudnyatakan dalam kehidupan sehari-hari.

Red Wolf seorang pejuang dan budayawan Indian, Native American dalam beberapa bukunya mengatakan: “The Native Indian passed their culture and tradition down from generation to generation from memory, not from a notepad or book. Therefore, if your Mother, Grandmother, Father or Grandfather told you or your family that you are of Indian blood, you are Indian”.

Saya terpesona dengan tulisannya itu. Katanya: “ Orang Indian mewariskan budaya dan tradisi mereka dari generasi ke generasi lewat ingatan, bukan lewat catatan dan buku, jadi jika ibu, nenek, ayah atau kakekmu mengatakan bahwa engkau berdarah Indian, maka engkau adalah Indian”.

Saya implementasikan dengan bebas kalimat di atas ke dalam tulisan saya ini sebagai: “Jika engkau orang Banjar, katakan pada anak-anakmu bahwa mereka adalah orang Banjar”.

Banggalah menjadi orang Banjar dengan tetap memegang nilai-nilai luhur nenek moyang kita! Ke Banjar kita akan kembali.

8 Comments »

  1. Siti Fatimah Ahmad said

    Assalaamu’alaikum sahabat

    Kembali berkunjung ke ruang maya sahabat-sahabat dari Banjarmasin. Mudahan sihat dan terus berkarya walau sibuk mengulit diri di dunia nyata.

    Satu kebanggaan jika kita berusaha dan berjaya untuk mengangkat martabat bangsa dan jati diri kita. Mudahan berjaya. Salam mesra dari Sarawak, Malaysia.

  2. fadhil said

    hahay

  3. Assalam… Silaturahmi nah, sesama urang Banjar.
    Imbah mambaca artikel pian, Makin bangga ulun jadi urang Banjar.

  4. dayana said

    pengen pergi ke banjar…pasti daerahnya cantik banget..
    Warga Minang

  5. hanyanulis said

    Desingnya keren, simple tapi berkarakter, cocok dengan pesan yang ingin di sampaikan lewat kaos tersebut🙂

  6. Gaptek said

    Kereeenn….

    ulun urang banjar jua n kebetulan BLogger jua kuliah Di IAIN ANTASAR,,,

    lun handak meucapkan salam bekawanan.

    urang banjar,, kebersamaan dan gotong royongnya paling kental,,

    urang banjar katuju menolong….

  7. Lia said

    Menarik nih adat urang banjar🙂

  8. julidar Banjar said

    Asslm,..Ulun jua bangga banar jd urg Banjar walaupun Ulun klahiran Sumatera dan bagana di Sumatera namun kada pacang hilang inguh BANJARnya..

    sahibar info hajalah,,urang kita banyak jua baandak di Sumatera naya,(Medan-Binjai)

    Salam bakawanan salam papadaan Banjar.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: