Banjarmasin; Revitalisasi Kota, Manusia dan Budaya

terapung

Dalam perspektif dan kaca mata orang-orang kebanyakan di daerah, datang ke Banjarmasin adalah sebuah impian. Sehingga boleh dikatakan Banjarmasin bagai kota surgawi yang diharapkan bisa memanjakan segala kebutuhan akan kehidupan penghuninya.

Akan tetapi, kata impian dan surgawi sudahkah melekat di Ibukota Kalimantan Selatan kini? Seperti kita ketahui, mungkin juga kita baca dalam setiap media cetak lokal selalu memuat berita tentang Banjarmasin terutama dengan berbagai masalahnya.

Kota ibarat tubuh manusia; ada kepala, badan serta kaki. Dari ketiga bagian utama organ tersebut ada jaringan penghubung yang fungsinya sangat vital, yang memberi magnet-magnet kehidupan. Kalau jaringan itu ibarat sebuah sistem transportasi yang memiliki kedudukan sangat strategis dalam hal ini, maka sudah sepatutnya untuk ditelanjangi sehingga kita semakin tahu dimana sakitnya. Karena ibarat luka kronis yang tidak tersembuhkan oleh obat dari tabib sehebat Ratanca dalam Legenda Majapahit sekalipun, selalu akut dan muncul dengan tiba-tiba.

Ibukota seharusnya lebih baik dari kota-kota lainnya, bagaimana tidak, semenjak masa kuda masih mengigit besi sampai kuda naik besi, dari masa kolonialisme hingga masa dekonstruksi, selalu dan selalu tak terselesaikan. Permasalahan-permasalahan yang ada  telah juga dikaji secara ilmiah yang dilihat dari berbagai aspek oleh para akademisi serta ahli yang pakar di bidangnya. Oleh karena itu paparan dibawah ini ibarat catatan-catatan kecil yang tercecer dalam benak hati seorang pejalan di antara deru debu dan panasnya Banjarmasin.

Berdasarkan sketsa lama, membawa pikiran dan kenangan kita ke jaman kolonial, yang pastinya ketika kolonialis Belanda masih berkuasa di Tanah Banjar.

Kehidupan di kota Banjarmasin memang tidak terpisahkan dari Sungai Barito beserta anak-anak sungainya. Terletak dipertemuan antara Sungai Barito dan Sungai Martapura, kota ini strategis sekali untuk perdagangan.

Sungai Barito yang luas dan dalam, Sungai Martapura yang dapat dilayari kapal-kapal besar, memuat kapal-kapal Samudera dapat merapat hingga kota Banjarmasin, yang terletak 22 km dari laut Jawa.

Pada zaman Belanda, Banjarmasin menjadi pelabuhan masuk dan keluar bagi seluruh daerah aliran Sungai Barito dan merupakan pelabuhan transito untuk kapal-kapal yang datang dari Singapura dan Jawa, ke pantai timur Kalimantan.

Dari Kalimantan, dikirim keluar barang-barang hasil hutan seperti rotan, damar, kapur barus, karet, jelutung, tikar purun, telur itik, buah-buahan, barang anyaman rotan, batu-batuan dan berlian. Barang yang masuk terdiri dari beras, ikan asin, barang pecah belah, minyak tanah, garam, besi dan sebagainya.

Industri orang Eropa pada waktu itu terdiri dari pabrik es, galangan kapal yang kecil milik Borneo Industri Mij dan perdagangan yang dikelola oleh Borneo Soematra Handel Mij, Heinneman & Co, dan Kantor Cabang dari Javasche Bank en Factorij.

Pada masa itu, Banjarmasin mempunyai pelayaran yang teratur dan langsung dengan Sampit, Kotabaru, Samarinda, Martapura, Marabahan, negara, Amuntai, Buntok, Muara Teweh dan Kuala Kapuas dan diluar Kalimantan dengan Surabaya dan Singapura.

Begitu juga halnya dengan angkutan sungai di era tahun 70-an dan 80-an, di kala sungai-sungai masih bersih dan tak terlalu tercemar seperti sekarang. Kita bisa mengarungi sungai dengan rakit, menelusuri alur berbatas bangunan, jalan dan alam terbuka disepanjang jalur buritan. Ibarat Gondola di negeri Venesia, bisakah Banjarmasin kini berbedah seperti sedia kala di saat orang-orang masih peduli dengan keberadaannya. Semua bisa dilakukan, sepanjang kita semua ingin dia berubah, asri seperti ketika dia ada dan diciptakan untuk semua penghuni Banjarmasin.

Transportasi air dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif pendukung gerak roda transportasi darat, ibaratkan air yang bergerak bebas memberi kesejukan dan kesuburan buat semua. Di zaman dulu, sungai difungsikan, di samping dapat memperpendek jalur buat orang untuk pergi dari satu tempat ketempat lainnya, paling tidak dapat menciptakan konsekuensi untuk setiap orang berperilaku bijak terhadap lingkungannya. Nilai-nilai kearifan telah ditanamkan pada setiap penghuninya untuk saling menghargai. Sebuah untaian kehidupan surgawi yang pernah tercipta.

Tapi kini, semua telah berubah, kalau kita menengok potret sungai-sungai di Ibukota Banjarmasin tercinta, sedih dan tak berani menatapnya, bagai sebuah coreng serta luka yang tidak sepatutnya hadir dalam gemerlap kota metro dan hedonis kaum urbannya. Gundukan sampah menutupi airnya, deretan rumah gubuk menghias bantarannya, merona kelabu airnya, bau busuk yang tak pernah hilang dari raganya, sungguh tragis nasibmu.

Jalanan di Ibukota Banjarmasin sebelum masa kemerdekaan tampak lengang dan sepi, hanya beberapa buah kendaraan yang terlihat lalu lalang. Mungkin saja para petinggi kompeni dan masyarakat borjuis saja yang bisa memakainya. Kondisi jalan yang lebar, sangat tidak sebanding dengan jumlah kendaraan yang ada. Pepohonan pun masih tumbuh sepanjang jalan, tetapi kondisi jalan tidak semulus sekarang.

Dalam rentang waktu kurang lebih enam dasa warsa sejak kemerdekaan dan  ketika milenium pun telah berubah, laju perubahan sangat cepat terjadi, bahkan lebih cepat dari apa yang kita pikirkan dan bahkan membuat semua rekomendasi ataupun perencanaan yang tertuang dalam kertas-kertas karya ilmiah dan penelitian kita menjadi usang dan tak berguna. Tapi sejatinya, masih ada titik terang ke depan kalau kita bersama menghendaki perubahan. Masalahnya hanya sepele saja, masalah Manusia dan Budaya.

Banyak pakar dan pemerhati tata kota yang mengusulkan sebaiknya Ibukota Propinsi dipindahkan saja dari Banjarmasin, dengan harapan di tempat lain bisa diimplementasikan sebuah grand design Ibukota Propinsi yang lebih representatif, sehingga semua masalah bisa teratasi. Cukup sederhana memang, tetapi dalam catatan perjalanan ini tak pernah terpikirkan untuk lari dari kenyataan, walaupun sangat sakit sekalipun,  dan tak seharusnya kita meninggalkan Ibukota Banjarmasin, berpindah ke tempat  lain yang tentunya bakal lebih baik. Kita harus menghargai sejarah, bahwa Banjarmasin adalah kota tua yang punya nilai historis dan merupakan salah satu kota pelabuhan terbaik yang pernah direncanakan oleh Pemerinta Belanda, dari ketika awal bernama Bandar Masih

Revitalisasi Kota, Manusia dan Budaya.

Dalam konteks pembangunan Ibukota Banjarmasin kini, sudah seharusnya kita bercermin pada masa lalu sehingga kita bisa memprediksikan seperti apa kita ke depannya. Sudahkah Ibukota banua kita lebih baik dari kemarin? Sepertinya tidak perlu dijawab, kita sudah tahu jawabnya, ketika orang belum mengajukan pertanyaan kepada kita. Karena kita malu melihat muha kita saurang, dan berharap orang lain tak menanyakannya. Akan berbeda halnya, ketika kita tanyakan pada orang dari negara-negara maju di daratan Eropa, seperti apa Ibukota negerimu? Dalam raut muka bangga dan senang mereka akan menjawab, karena Ibukota Negara mereka kebanyakan patut untuk dibanggakan.

Tapi tak perlu berkecil hati, sebagai pewaris Tanah Banjar, apapun milik kita seharusnya patut untuk dibanggakan. Konsep Revitalisasi menjadi sebuah pilihan ke depan untuk memajukan dan menempatkan kembali nilai-nilai yang melekat pada Ibukota sejak dilahirkan sampai berusia ratusan tahun seperti sekarang ini. Nilai-nilai berharga itu bisa kita bangkitkan serta hidupkan agar kita kembali mempunyai Ibukota yang dapat  dibanggakan seperti mereka di luar sana.

Sebagai sasaran utama Revitalisasi Ibukota Banjarmasin memang ditujukan kepada elemen-elemen fisik kota, salah satunya adalah sistem transportasi yang humanis dan berbudaya. Akan tetapi yang lebih utama dari perencanaan itu semua adalah keseriusan pemerintahnya untuk menjadi panutan dalam posisi garda terdepan setiap perubahan, di samping dukungan secara aktif dan kritis serta kesanggupan penghuninya untuk mengikuti dan mendukung setiap perubahan. Jadi kesimpulannya adalah bagaimana membudayakan masyarakat agar tercipta masyarakat yang berbudaya serta menghargai setiap perubahan itu sendiri.

Semoga Banjarmasin sembuh dari sakitnya.

3 Comments »

  1. Novianto Puji Raharjo said

    PERTAMAX !!!

    Banjarmasin, terus terang sama wajahnya dengan kota-kota propinsi yanag lain, padat, penuh dengan penduduk yang bermukim disana, semoga saja pemerintah di sana bisa membuat Banjarmasin menjadi kota yang indah dengan seribu sungai sebagai julukannya

  2. Nah … kita tunggu oleh-oleh walikota Banjarmasin dan rombongan yang pergi ke Belanda. Karena Belanda termasuk yang luar biasa dalam pengelolaan sungainya, apa elit Banjarmasin tersebut bisa belajar dan terbuka pikirannya. Seperti rumah lanting, di Belanda juga ada, yang berderet di pinggir sungai yang bersih dan tertata rapi, sementara sisi2 sungai menjadi taman yang bersih dan rindang pohon2an.

  3. ardi gatot said

    BANJARMASIN KOTA YANG NGAK BISA DIBANGGAKAN

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: