Seminar Motivasi (Antara Seremoni dan Perubahan)

seminar-motivasi

Benarkah guru tidak mampu menulis atau tidak terbiasa menulis? Cobalah amati buku-buku di perpustakaan atau di toko-toko buku. Hitunglah, berapa banyak buku yang ditulis oleh para guru. Anda membaca surat kabar? Hitunglah berapa banyak artikel yang ditulis oleh para guru. Pasti jarang sekali, bukan?

Menulis memang gampang-gampang susah. Selain butuh niat dan motivasi, keberanian untuk mulai menulis ternyata tak mudah bagi sebagian orang, termasuk guru.

Hal tersebut yang menjadi pembicaraan hangat dalam Seminar Motivasi Penulisan, yang digelar di aula MAN 2 Model Banjarmasin, Sabtu 14 Pebruari 2009. Diikuti oleh lebih dari 150-an peserta, terdiri dari guru-guru SD, SMP, SMA dan sederajat. Seminar tersebut mencoba membuka wawasan tentang dunia tulis-menulis.

Tidak saja nara sumbernya yang sudah akrab dengan dunia penulisan, tapi juga tema yang diangkat juga menarik, yakni “Dengan Menulis, Kita Tingkatkan Kompetensi dan Kreativitas Guru”.

Penanggung jawab kegiatan dari MAN 2 Model Banjarmasin sengaja menghadirkan nama-nama yang beken di dunia penulisan di banua. Antara lain: Ersis Warmansyah Abbas (ada yang gak kenal? angkat tangan ya!), Bapak H. Syamsiar Seman (tokoh budayawan Banjar), Aliansyah Jumbawuya (Jurnalis Banjarmasin Post dan Serambi Ummah) dan juga Sandi Firly (Redaktur Radar Banjarmasin).

Suasana terasa lebih menyegarkan dengan kolaborasi para penulis muda, Farah Hidayati (Cerpenis Banua menetap di Jakarta, penulis novel “Rumah Tumbuh”), Syamsuwal Qomar (Penulis buku “Geliat Pemikiran Kampus”) dan Rahayu Suciati (Penulis buku “Aku Bangga Jadi Urang Banjar”).

Selain itu, seminar kemarin juga terasa greget karena meng-agendakan Bedah Buku “Jazirah Cinta” bersama sang penulis Randu Alamsyah. Bapak Zulfaisal Putera (sastrawan yang juga seorang guru) secara khusus memberikan testimoni untuk novel ini.

Sementara itu, pada pembukaan seminar, Kepala Kanwil Departemen Agama Prop. Kalsel yang diwakili Kabag Humas menyambut positif kegiatan ini khususnya prakarsa yang ditempuh MAN 2 Model Banjarmasin dalam rangka pelaksanaan program peningkatan kompetensi dan kreativitas guru melalui dunia tulis menulis.

Diakui, budaya membaca di kalangan guru dinilai kurang. Padahal, membaca menjadi salah satu syarat penting dalam mengasah keterampilan menulis. “Hal ini berakibat karya tulis kebanyakan guru belum dapat dinilai bermutu. Keterampilan menulis belum memenuhi standar mutu yang baik ” katanya.

Selain itu, tingkat membaca guru yang kurang juga dapat dilihat dari hasil karya mereka belum mampu menghasilkan tulisan yang baik. Padahal lanjut beliau, menulis adalah salah satu syarat untuk kenaikan pangkat maupun sertifikasi.

”Saat sertifikasi mulai digalakkan pemerintah, setiap guru dituntut untuk menulis, baik itu menulis karya ilmiah, buku pelajaran, makalah atau diktat.” Program sertifikasi dianggap bernilai positif untuk merangsang minat guru belajar menulis.

Sesuai agenda, pembicara pertama, Ersis Warmansyah Abbas (EWA), seperti biasa dengan gaya “santai”-nya, memaparkan bagaimana pentingnya tulis-menulis bagi kalangan guru, kalangan yang “mengaku” diri sebagai intelektual.

Bahwa guru dan dosen mempunyai peluang besar untuk menjadi penulis. “Menulis itu hal kecil saja” kompornya. Apalagi sejak awal sekolah telah terbiasa menulis. Ketika menjadi mahasiswa akrab dengan makalah sampai akhirnya membuat skripsi. Ketika menjadi guru, urusan tulis-menulis hal keseharian saja.

Selain itu, beliau juga memberikan motivasi untuk menekuni dunia tulis-menulis, ”Mantapkan mindset, menulis itu mudah. Setidaknya bisa. Untuk itu lakukan. Jangan diskusikan. Lakukan saja. Tulis saja.”

“Tidak usah berteori canggih-canggih. Lakukan saja. Langsung menulis. Pasti jadi tulisan.” Paparnya panjang lebar.

Sip, itu dia wejangan dari EWA yang selalu ditunggu-tunggu. Hidup EWA!

Pembicara kedua yaitu Drs. H. Syamsiar Seman. Beliau memaparkan secara singkat tentang semakin langkanya orang-orang yang mau menulis budaya Banjar, jumlah mereka bisa dihitung dengan jari tangan.. “Karena itulah saya terpanggil untuk menekuninya demi kemajuan daerah ini,” ujar Syamsiar.

Menurutnya, sebetulnya banyak budaya Banjar yang bisa digali, hanya saja pengetahuan tersebut masih berbentuk lisan. Sedangkan yang berupa literatur masih sangat minim.

Maka itu, untuk mengangkat budaya Banjar perlu digalakkan terus penelitian, penulisan dan publikasi melalui berbagai sarana dan media.

Pada sessi kedua, para guru dibekali materi tentang “Kiat dan Teknik Menulis di Media Massa” yang disampaikan oleh dua orang jurnalis, Aliansyah Jumbawuya dan Sandi Firly.

Secara umum, Aliansyah memaparkan tentang tips dan kiat untuk mulai menulis di media massa. Kiat sederhana untuk mulai mencari topik, mengolah naskah hingga pengiriman ke meja redaksi dipaparkan secara gamblang oleh Aliansyah. “Seorang penulis perlu mempelajari media cetak bersangkutan, sebab masing-masing koran, tabloid, majalah itu berbeda-beda segmentasi pembacanya.,” ujar Aliansyah. Boleh jadi tulisan kita sudah bagus, tapi karena tidak sesuai dengan visi dan misi media terkait, akhirnya ditolak.

Adapun Sandi Firly menceritakan tentang tips dan kiat untuk menulis dan media yang dapat digunakan. Salah satu media yang dianjurkan oleh Sandi adalah menggunakan blog. “Blog adalah salah satu media untuk membantu agar pengetahuan yang hanya tersimpan di otak seseorang, akhirnya dapat disebarluaskan dengan mudah dan murah bagi masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya menegaskan.

Dalam setiap pemaparan materi, para peserta antusias mengikuti dan aktif bertanya. Bahkan karena sangat menariknya, waktu seminarpun melewati batas yang sebelumnya ditetapkan oleh panitia.

Sessi ketiga diisi dengan kolaborasi empat penulis muda, menghadirkan Farah Hidayati, Syamsuwal Qomar, Rahayu Suciati dan Randu Alamsyah. Mereka memberikan informasi, trik dan tip, serta proses kreatif mereka dalam dunia penulisan.

Pada sesi tanya jawab, ada peserta bertanya tentang seluk beluk kepenulisan dan pengalaman mereka dalam menghasilkan karya-karyanya, kiat-kiat mengembangkan potensi diri, bagaimana memulai kegiatan menulis dan beberapa pertanyaan lain yang semuanya dijawab dengan baik dan memuaskan oleh para pembicara.

Acara marathon dilanjutkan dengan Bedah Buku penulis yang saat ini sedang naik daun dengan karya perdananya “Jazirah Cinta” yakni Randu Alamsyah. Penampilan Randu didampingi oleh tokoh yang memberikan testimoni, Zulfaisal Putera (guru SMAN 2 Banjarmasin).

Diakui, novel perdana Randu Alamsyah ini telah berhasil mencuri perhatian pembaca novel di Kalimantan Selatan. Pelukisan latar pesantren dan suasana kota Banjarmasin, walaupun serba sepintas telah menimbulkan kesadaran bahwa banua ini sangat indah dalam bahasa tulis. Menurut Zulfaisal, “novel JC seperti membayar kehausan pembaca banua akan novel-novel dengan nuansa Banjar.”

Terlepas dari beberapa “kekurangan” yang ada, Randu telah memulai kembali kejayaan penulis-penulis novel banua yang lama tenggelam. Kita menunggu karya Randu selanjutnya dan lahirnya Randu-Randu lainnya, pungkas Zulfaisal.

Acara yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 14.30 Wita tersebut ditutup oleh Kepala Sekolah MAN 2 Model Banjarmasin, Drs. H. Abdurrachman, M.Pd. Dalam kata penutupnya, Kepala madrasah meyakini bahwa hanya dengan menulislah maka kompetensi dan kreativitas guru akan dapat diberdayakan.

“Bahkan bagi mereka yang secara khusus bergerak di dunia pendidikan, maka dengan menulis akan dapat terus diasah kemampuan dan pengetahuan yang mereka miliki,” tegas beliau.

Secara keseluruhan, seminar berjalan dengan lancar, walaupun ada beberapa kendala teknis yang tidak dapat dihindari, seperti alokasi waktu yang tersedia sangat terbatas sehingga pembicara terkesan “dikejar hantu”, sound system yang “kurang beres”, byar pret aliran listrik yang tiba-tiba, dan lain-lain (ini menjadi pelajaran berharga bagi kami).

Alhamdulillah, berkat kerja keras dari para panitia serta doa dan bantuan baik moril maupun finansial dari berbagai pihak, akhirnya kegiatan Seminar Motivasi Penulisan yang kami adakan terlaksana dengan baik.

Terwujudnya seminar motivasi penulisan kali ini adalah salah satu bentuk kepedulian berbagai pihak yang turut mendukung acara tersebut. Beberapa sponsor yang turut bergabung antara lain PT. Telkomsel, PT. Delta Abadisentosa, Telkom Speedy dan CV. Banjar Print.

Turut mendukung pula PT. Penerbit Erlangga, PT. Intan Pariwara, TB. Al-Bayan Agency, TB. Al-Azhar dan TB. Senyum Muslim.

Ke depan, diharapkan kegiatan serupa semakin sering diadakan di Kalimantan Selatan dengan variasi materi dari berbagai bidang. Ha ini akan sangat berguna untuk menambah wawasan dan kemampuan para guru dan civitas akademika pendidikan di Tanah Banjar.

Memang, meningkatkan kompetensi dan kreativitas guru dalam menulis tidak mungkin dicipta dalam sekejap mata. Diperlukan langkah progresif setahap demi setahap.

Ruang sudah disediakan, kesempatan sudah diberikan. Mulai dari diri sendiri.

Ayo menulis sekarang.

17 Comments »

  1. pakde said

    Betul juga ya….masak muridnya sudah cerdas menulis dan mengarang, gurunya masih belum mampu menulis dan mengarang..Salut nih untuk penggagas ide.

  2. HE. Benyamine said

    Ass.

    Selamat dan syukur atas terselenggaranya kegiatan seminar dengan sukses. Ya … kegiatan serupa perlu untuk terus digagas secara berkala, agar terus memberikan penyegaran dan motivasi untuk berbagi kebaikan.

  3. Yoi … lanjuuuuuuut. Tiggal memperbaiki disana-sini agar hasilnya maksimal. Bravo MAN 2 Model Banjarmasin.

  4. Sarah Luna said

    Skul yang kereeen…

  5. Yah.. saya juga menyesal tdk bisa ikut acara seminar tsb. Ini lah resiko guru madrasah yg tinggal jauh di ujung propinsi kalsel. Dipisahkan laut lagi… tapi kami di Kotabaru lagi siap-siap mengadakan acara serupa (5 tahun lagi lah… hehehehehehe…)

  6. rasid09 said

    mantap ….!!!

  7. LEbih enak menyuruh anak menulis daripada nulis sendiri. Ternyata mencari ide dan menuangkannya adalah sebuah perkara yang rumit bin sulit , buktinya hayoo kita baelajar menulis. Bapak dan Ibu guru yth.

  8. Rizky M.U said

    sip.. sip.. sip… pak. kalo boleh tau FLP di Banjarmasin ky apa perkembangannya?

    masih ada atau kada tedangar lagi wayahini?

  9. SELAMAT ATAS SUKSESNYA ACARA INI!

  10. Zainal Fauzi said

    Halo teman mengapa nda memberi kabar sama saya tentang seminarnya.
    Sukses dengan acaranya selamat oce…

  11. wah..itu akyu Lho..he..he..

  12. Jau said

    Salut!

  13. sandi said

    iya, iya.., itu kamu randu…

  14. cozyrira89 said

    nice your wrotes..lanjut teruss

  15. n1n1ng said

    smoga lebih banyak guru senang menulis,…dan ngeblog!

  16. budisan68 said

    iya, saya sependapat bahwa sedikit sekali guru yang menjadi penulis, walaupun sebenarnya pekerjaan guru adalah menulis. contohnya saya, punya blog tai masih bingung apa yang mau ditulis, terus sering kehabisan kata ditengah jalan. seandainya syarat utama sertifikasi adalah guru punya blog dan rajin menulis…wah pasti ramai dunia perblogan

  17. pakhanung said

    silaturrahmi …

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: