Sognando Palestina

sognando

Senja belumlah lengkap. Masih tersisa semburat sore yang berkilau merambahi bangunan-bangunan rapuh dan tinggal menunggu runtuh. Kilau matahari tak nampak garang, keangkuhannya hanya tinggal sisa-sisa endapan pada biru langit yang menghampar luas.

Sesekali mentari redup, menyelinap pada atap-atap kabut kelam. Deras angin musim dingin bersatu-padu merontokkan panas yang menghujam bumi. Menebarkan kebekuan tubuh dan menusuk-nusuk dengan rasa kelu pada setiap gang dari pori-poriku.

Aku merekatkan jelabiyah-ku, menghalangi udara dingin yang datang mengepungku dari berbagai penjuru tubuh. Sesekali menutup mukaku yang tiba-tiba disergap oleh debu yang mengepul, bertebaran di udara, menghantam bangunan yang tak berpenghuni. Hanya tersisa tembok yang bolong-bolong dan himpitan reruntuhan ditimpa sinar mentari, hingga menyisakan bayangan yang absrak dari bangunan itu.

Bangunan itu masih seperti dulu. Sepi tetap merambahi setiap bongkahan cor yang terasingkan. Pandanganku turun. Ada sesuatu yang mengajakku untuk segera menekuri jalan di depanku. Suatu goresan luka dari bangunan itu terkuak lagi dalam benak. Hingga aku tak mampu menapaki bangunan itu. Kenyataan menyelipkan berbagai buncahan bayang-bayang yang saling berebutan tempat dalam otakku. Kemudian dalam hitungan menit, hatiku seperti dihujani kejadian yang telah lama membatu.

Deretan peristiwa yang sangat kelam dalam sejarah hidupku terkuak. Sekelam senja sore itu yang tiba-tiba terdengar jerit histeris dari berbagai orang. “Israel menyerbu! Israel menyerbu!” Pekik suara itu bergaung, menggema ke angkasa dan menggetarkan jiwaku. Gelegar suara itu melenyapkan kehangatan senja yang mulai redup ke pangkuan bumi ujung barat. Diikuti derap langkah yang tak beraturan menuruni tangga apartemen. Kaki-kaki mereka membuat riuh dan keruhnya senja.

Aku melihat Baba menghentikan bacaaan al-Qur’an. Sesegera ia meraih senjata. Wajah Baba mengungkapkan kekhawatiran yang menikam-nikam jiwanya. Baba salah satu opsi militer dari negeriku, Palestina. Sering mengikuti pertempuran antara Palestina dan Israel di jalur Gaza. Aku juga mendengar dari kawan-kawan baba, bahwa ayahku seorang penembak jitu. Dalam beberapa menit bidikan ayah selalu jatuh pada lawan-lawan perangnya.

Tiba-tiba dari arah selatan daun kupingku meregang, memastikan suara itu untuk kedua kalinya. Benar! Gelegar suara itu bukan petasan yang kami mainkan saat buka puasa dengan Mahmud dan Nasrullah, temanku. Namun gelegar suara itu adalah bom. Bom..?! Aku kian tercekat dalam longokanku ke jendela. Terlihat suara-suara orang berlari berhamburan dengan rongrongan ketakutan yang terus mengintai dari belakang mereka.

Ibuku datang, merengkuh kepalaku dan cepat-cepat membenamkannya dari jendela. Tangannya dengan cepat menutup jendela rapat-rapat. Tak ada yang berubah dari wajah bundaku kali itu. Runtutan kejadian sore itu tak dapat merubah wajahnya yang teduh. Matanya yang menyimpan air sedalam telaga kautsar kurasakan sangat jernih. Kejadian itu buatnya hanyalah percikan api bukanlah kobaran yang memberangus jiwanya yang suci. Jauh di dalam wajah bundaku, terdapat ketegaran yang membara, berkilat-kilat seperti petir.

Namun sangat kontras jika aku harus bersitatap dengan pandangan babaku. Sama sekali tak ada api yang menyala dalam matanya kali itu. Aku hanya dapat melihat matanya yang lemah terkapar dan kian redup oleh bayangan-bayangan tentara Israel. Aku seperti sangat kehilangan kobaran api yang terpantul dari matanya. Kemanakah kekuatan yang sering membuat ragaku bangkit? Aku terus menyelami tatapan kosongnya yang mengokang senapan, siap membidikkan dari balik pintu jendela. Peluh menggenang dari pelipisnya, mengucur bagai aliran sungai nil. Menuruni pipinya yang terbalut dengan jambang lebat.

Tiba-tiba dari mata itu, aku dapat memutar kenangan yang lain. “Kematian pasti datang dengan menyergap, Ayyash,” Ujarnya suatu malam usai menjalankan shalat Isya’.

“Namun jika suatu kematian itu sebab kerinduannya pada Allah, maka itu kematian yang suci. Bidadari yang bermata jeli akan datang menjemput di pintu surga nanti.” Waktu itu aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku memaknai cerita ayah.

Namun kata kematian datang bertebaran ke seluruh ruang hatiku. Bercokolan seperti bunga di musim semi. Menekan-nekan gumpalan keberanian yang aku kumpulkan dalam kalbu. Kurasa, hari itu merupakan pertemuan terakhirku dengan ayah. Aku harus siap. Karena kematian bagi kami adalah hal yang biasa terjadi. Setiap penduduk negeri ini telah menyadari bahwa dirinya memiliki kartu kematian. Namun entah kapan kartu itu diserahkan dan ia siap menjalaninya, itulah yang masih tabu. Seperti ada lorong memanjang di mana aku beserta penduduk negeri ini telah mengantri agar malaikat Izrail menjemput nyawa kami.

“Sembunyikan anak kita, Ummu! Mereka datang lagi!” Perintah ayah pada ibuku dengan nada kawatir yang sangat pekat. Namun ibu masih mematung di depannya. Dentum bom menggelegar lagi di ke telingaku. Saat ini letusan itu sangat dekat dengan ‘Imarah yang kami tempati. Dibarengi dengan letusan mesiu yang menghamburkan derap kaki untuk meloloskan diri dari kematian.

“Aku akan bersamamu selamanya, Baba” timpal ibuku dengan nada tersendat tangis. Ayah lalu merengkuh tubuhku ibu. Hangat tetes air mata membasahi kerudung hitamnya.

“Percayalah! aku akan selamat‚ Allah akan selalu bersama kita.” Hanya itu yang terucap oleh ayahku. Kemudian langkahnya menuntun ibu ke kamar dan menyelinapkan tubuh kami di balik kolong tempat tidur. Tangan ibu melepas tangan babaku saat ciuman mendarat di keningnya.

Kulihat ayah dari bawah kolong ranjang. Ia masih berdiri di tepi jendela. Mengarahkan moncong senjatanya ke lubang kecil jendela. Matanya memicing, seperti ingin menerkam sasaran di depannya. Desingan peluru telah menyeruap ke mana-mana. Ditingkahi bom yang menggelegar. Tiba-tiba ayah menghempaskan pelurunya ke depan. Aku dapat meyakini, kali ini tembakan ayahku tak meleset.

Suasana kian mencekam! Suara tank meringsut ke imarahku. Dan ratusan kaki yang dijejakkan ke tanah kian akut dalam ketakutan yang mendera. Hingga tak ada suara lagi pada jalan yang mereka injak dalam ketakutan yang menggedor-gedor dinding hati mereka. Semuanya seperti redam. Hatiku mulai lega dengan tenggelamnya suara itu.

Namun beberapa detik kemudian. Aku mendengar pintu rumahku di dobrak secara paksa. Baba lari menyongsong arah suara dobrakan. Desingan peluru dari baba terlepas lagi. Hingga‚ “Braaaaaaak!!!”…….. Kunci pintu lepas, lantai rumahku telah dinjak dengan kasar oleh sepatu-sepatu bot dengan celana berwarna seperti daun yang luruh ke tanah. Salah satu mereka roboh.

“Serang dia…!!” Teriak salah satunya lagi. Adu senjata terjadi di rumahku. Desigan peluru menggebyar. Kemudian dengan hitungan menit, Babaku dapat ditelikung mereka. Endapan buncahan kengerian menjadi berlipat. Seperti ada ombak yang meluluh-lantakkan kekuatanku saat moncong senjata mereka diacungkan pada kening Babaku. Aku melemas, ibuku meringkuk dan terus menyumpal mulutku dengan tangannya yang gemetar.

“Muslim keparat!!!” Teriaknya bersamaan kakinya diayunkan untuk mendepak kepala baba. Aku ingin berteriak, namun tangan ibu makin kencang menekan mulutku. Walau kurasakan ibu tak kuat melihat perlakuan mereka, anak buah Dajjal.

“Dia pemimpin perang di Gaza”, ujar tubuh gepal.

“Benarkah dia Abdullah penembak ulung Palestin?” tanya satunya.

“Iya dialah orangnya yang dijuluki Malaikat Pembawa Senjata itu”, timpalnya lagi.

“Aha‚ Kita mendapat pemimpin perang di Gaza. Pasti Komandan akan menghadiahi jutaan Shekel untuk kepalanya.”

“Hai Muslim bajingan! Apa dengan tembakanmu dapat membuat lumpuh kami, hah!” Mereka meludah lalu memukul kepala babaku dengan sepatu botnya lagi.

“Bawa dan cincang hidup-hidup. Kepalanya akan dapat menaikkan kita menjadi pejabat tinggi Negara”. Kemudian mereka menyeret ayah dan aku tak tahu kejadian setelah itu. Ibuku limbung di bawah ranjang tempat kami bersembunyi. Selang beberapa menit, bom meletup lagi di depan Imarahku. Hatiku terus menepis persangkaan buruk tentang baba.

Aku berlari menghambur ke luar, ketika keadaan kurasakan aman. Oh, Rabbi! Keji nian Israel musuh-Mu, desisku. Ratusan nyawa tergelepar tanpa daya di depanku. Bibirku bergetar dengan kepalan yang aku pukulkan ke tembok yang telah bolong oleh tembakan babi-buta mereka. Rahangku mengeras, air mataku mulai tumpah ruah dan mengalir seperti sungai dajlah dan nil. Tak henti-henti.

Aku menjerit. Ratusan nyawa meregang di depanku dengan hitungan hanya beberapa menit. Tubuh-tubuh mereka terkapar dengan darah kental yang mengalir dari badannya. Aku menggoyangkan badan mereka, berharap itu ayahku. Satu mayat. Ah bukan‚ dua mayat, sepuluh mayat. Hingga tumpukan mayat yang tergeletak masih tidak menemukan wajah babaku. Aku mulai menyerah di antara ratusan mayat yang menghamburkan aroma wangi dari tubuh mereka.

Jalanku mulai sempoyongan. Desah angin menggetarkan jelabiahku yang kecil. Hingga aku melihat sesuatu di depanku. Aku seperti mengenalinya. Kupelototkan mataku, menajamkan pandangan. Yah, ini cincin ayahku yang beroleh dari musim haji lima tahun yang lalu. Ayah sering membawa cincin itu ke mana-mana. Namun di mana tubuhnya. Berhamburkah..? Bajingan! Aku bersumpah akan membalas kebiadaban mereka! Demi Dzat yang menjadi raja alam semesta.

Aku mendongak. Segerombolan tentara Israel telah berada jauh di depan. Wajah mereka jatuh tenggelam di sinari bulan. Mereka terkekeh melihat kami kalah. Darahku kian berdesir. La’natullah A’laik…… Kulemparkan batu ke arah mereka. Tak peduli diriku akan tertembus ribuan peluru yang menghujam. Mereka tetap terkekeh, karena batu-batu itu hanya mengenai tank-tank mereka. Kadang waktu-waktu terjepit semacam ini, aku sangat merindukan burung Ababil yang menghujani Abrahah dengan batu kerikil dari neraka.

Aku berteriak kepada tentara-tentara Israel itu, apakah mereka bangga atas perbuatan mereka? Apakah ini namanya perdamaian? Apakah ini Israel yang mereka cita-citakan? Seorang tentara meludah ke arahku, jadi aku langsung mendekatinya.

Sebuah tank datang menderu ke hadapanku, moncong raksasanya mengarah ke kepalaku. Aku mengangkat kedua tanganku, berdoa, dan berteriak, “Tembaaak!!… Tembaak!!.”

Terpujilah nama Allah. Tank itu berhenti beberapa inci di hadapanku. Aku lantas berlutut di jalanan, berdoa, dengan tangan terangkat di udara.

Khaibar-khaibar ya Yahuud, jaisyu Muhammad saufa ya’uud!!

Khaibar-khaibar ya Yahuud, jaisyu Muhammad saufa ya’uud!!

Aku merasa sendiri, lemah, tak berdaya. Aku hanya bisa menjerit kepada Tuhan.

Dan saksikan…
Saksikan
Ibu-ibu, Bapak-bapak, Saudara-saudara…

Di Gaza….. Di Palestina…
Tanah para nabi dan rasul
Ada kemanusiaan yang dinistakan
Ada hak asasi yang diinjak-injak

Dan saksikan…
Saksikan
Ibu-ibu, Bapak-bapak, Saudara-saudara…

Ada anak-anak
Ada batu yang dilemparkan

Tidak lagi penting apakah batu mampu
melawan peluru

*ketika mata hati dan perasaan ini sudah tidak bisa diajak kompromi, dan air mata turut mengamini kesedihan mereka.

Ya Allah syahid-kanlah mereka, berikanlah kekuatan lahir batin bagi mereka saudaraku di Palestina, menangkanlah mereka di dunia dan akheratmu kelak. Amin

21 Comments »

  1. abu jihadi said

    Pegang teguhlah kebenaran
    Buang jauh nafsu angkara
    Berkorban dengan jiwa dan raga
    Untuk tegaknya keadilan

    Selama matahari bersinar
    Selama kita terus berjuang
    Selama kita satu berpadu
    Jayalah Palestina!
    Jayalah Indonesia!

  2. galang said

    palestina moga cepet merdeka dari zeonis israel

  3. oRiDo™ said

    amin..
    amin ya Allah…

    ya Allah jangan biarkan kami, umat muslim dunia, hanya melakukan “selemah-lemahnya iman”…

  4. rasid09 said

    Berikan Kekuatan dan kemenangan bagi Pejuang disana Ya Allah …

  5. Ass.

    Mengharukan …

    Tokoh aku … anak (masih dalam bekapan ibunya) … “Sembunyikan anak kita, Ummu! Mereka datang lagi!” … terkesan “hidup” dalam pandangan orang dewasa, atau mungkin gambaran anak-anak Palestin memang seperti itu.

  6. uki21 said

    saya dapat cerita dari teman yang pernah berangkat sampe rafah, katanya mayat2 para mujahid di sana banyak yang tak di ijinkan tentara israel untuk di kubur.. tapi di jadikan makanan anjing herder zionis laknatulloh..
    MAri kita bergerak…
    Lawan….

  7. umar said

    menjadi tinggi adalah sebuah keputusan besar. Kadang menjadi bonsai dan dipandang oleh mata menjadi sangat menyejukkan teramat mengerikan. Tidak aku tidak mengatakan bahwa kita adalah bonsai-bonsai itu. tapi kita adalah benih-benih yang ditaburkan diatas puing-puing kaca. perlu lagu-lagu menarik dan cantik untuk menjadikannya menjadi benih yang tumbuh dalam tarian. menari diatas serpihan kaca mozaik yang menjadikannya luka. luka itulah mata air air mata yang abadi, meneteskan darah demi darah di tanah tercinta. bukan, aku bukan menghujat orang yang melambai=lambaikan semua kata-kata hanya untuk mengatakan bahwa dirinya simpatik. bukan, ornag semacam simpatisan itu hanya akan menjadi sampah dalam taman perjuangan. Ia yang benar-benar menyadari kehidupannya justru bersyukur dengan serangan biadab israel. karena dengannya ada banyak syahid. karenanya bidadari-bidadari surga yang lama merindu dapat segera berjumpa. karenanya langit menjadi ceria menyambut burung biru penghuni sidratul muntaha. Akh, aku sangat menginginkan segera perang melawan mereka. agar segera menyusul burung-burung biru itu. aku mencintai mereka. dan untuk mereka yang telah pergi, AKU TIDAK KHAWATIR, AKU TIDAK MENYESALI, AKU TIDAK SEDIH. JUSTRU AKU BAHAGIA KALIAN TELAH MENYUSUL. DAN AKUPUN MENUNGGU UNTUK BISA MENYUSUL KALIAN. SELAMAT DATANG DI DUNIA NYATA SAUDARAKU TERCINTA…. FILISTHIN, I LOVE YOUR JEEHAD…..

  8. attien said

    wajah bumi telah merasakan sejuk darah-darah para syuhada. ya Rohman… ini sudah hari yang kesekian. bahkan wajah ini telah letih melihat pemandangan yang sama dari negeri itu. sampai kapan? sampai kapan?!

    Hammas pasti akan menang. Hammas pasti menang!! untuk Alloh saja, Hammas pasti menang!!!

  9. alrisblog said

    Semoga Allah swt selalu memberi kekuatan buat rakyat Palestina. Kabulkan ya. Allah.

  10. Pilihannya hanya 2 :
    Menang atau syurga ?
    Demikianlah Allah menjalankan perannya bagi Rakyat palestina.
    Jangan sedih Akhi…

  11. guswan76 said

    Cerpen bagus kawan, sudah dikirim ke media cetak-kah?

  12. joe said

    Salam kenal kawan, tetap berkarya

  13. yaya

  14. Rizal said

    Ya Allah..Berikan lah kekuatan kepada rakat palestina. Amin…

  15. kenuzi50 said

    Israel, pasti dilaknat….

  16. ziezie said

    kalau mendengar berita Palestina selalu menyayat dan mengiris hati..kept pray for them always

  17. lakso said

    beginilah kejadiannya kalo umat muslim tidak bersatu.. amerika telah berhasil mencengkram sebagian negaga muslim.. kapan kita akan terlepas dari itu..?

  18. mancaracat said

    tampulu lalu jadi singgah satumat nah

  19. rocknoida said

    sekedar inpo

    anak- di poto atas meninggal 2 hari setelah poto itu diambil, si snioer sama israel anjing.

    cuma pengen negor n ada post baru di blog ane

  20. fhiedha said

    wah tulisannya bagus

  21. FAHMY said

    Assalamualaikum

    Salam kenal…

    Amin ya Allah

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: