Sisigan Luka Sungai Martapura (1)

Prolog

sungai-martapura

Menapak Banjarmasin adalah menapak kota tua dengan sejuta impian yang tengah sibuk berbenah. Seperti galuh yang baru belajar menggoreskan gincu ke bibir mungil, dan mematut diri dengan roncean sekar melati yang disematkan ke sanggul rambut.

Ah, sejuta impian? Salahkah jika termaktub dalam pilar pikirku ketika itu? Sekian tahun menghirup aroma sejukmu dan bercanda dengan harmoni yang menyentuh ruang asa. Kini kusapa kembali engkau, “Selamat malam.”

Meniti kembali remang di tepian sungai Martapura, aku seperti terpenjara di labirin yang menggemakan suara-suara. Ada deringan syahdu Kitaro, “Koi” yang menancapi gendang telinga. Ada petikan gitar melankolisnya Ebiet. Terngiang “Ballade Pour Adeline”-nya Richard Clayderman. Pun ada mamang kata halus memukau.

Aku seperti merasakan keasingan yang aneh. Perkembangan kota ini begitu pesat. Lapangan bola tempat dulu aku suka bergumul dengan gerimis, kini tak menyisakan satu ruang pun.

Siapapun yang pertama kali menginjakkan kaki di bumi Antasari pada saat ini, sangat mungkin akan kecewa jika ingin menyaksikan nuansa kehidupan unik urang Banjar. Di pesisir kota yang sedang tumbuh, panorama yang dominan adalah jajaran gedung, ruko dan hunian penduduk dengan arsitektur dan bahan bangunan modern. Jangan berharap akan dapat mendengarkan kefasihan menuturkan Hikajat Tanah Bandjar dan legenda Putri Junjung Buih, atau keharuan menyanyikan lagu Pambatangan dari bubuhan anak-anak banua.

Kebaya dan selendang, pakaian tradisional hanya tampil pada upacara-upacara seremonial dan karasmin perkawinan atau, paling sedikit, di kalangan orang-orang tua. Tapi jangankan demikian. Cerita tentang galuh langkar bapupur bangkal yang anggun saja hampir tak kutemukan. Kebaya-kebaya telah hilang berganti dengan T-Shirt pendek ketat, rok mini yang kontras dengan dingin malam.

Bertandanglah pada senja menjelang malam-malam ke Pantai Jodoh, atau sepanjang jalan Sudirman… hampir di seluruh titik-titik keramaian, hingga titik remang yang terus bertahan hingga larut malam. Kau akan melihat lelaki dan perempuan –tanpa ikatan- berdua-duaan. Hmm… kau benar-benar telah serasa berada di Avenue’s Street, Beverly Hills, Malibu…

Tiba-tiba saja aku merasakan tikaman terperih di sela hatiku. Tersayat seperti rejaman sembilu ketika kurasakan ada nilai yang hilang.

Salon-salon bertebaran, pertokoan, pusat rabat, dari yang tradisional hingga internasional, dari konvensional hingga yang digital, semuanya telah menggeser mata karindangan pada sebentuk kenangan lawas yang mengisi ruang jiwaku. Semua menjadi begitu asing. Padahal benarkah semua itu asing?

Aku seperti orang gagap saja. Seperti allien, manusia luar angkasa yang tersesat di peradaban bumi yang demikian mencengangkan.

Bagaimana aku tidak mengenalinya? Kerinduanku adalah pada sebentuk bening yang menyapu menyejukkan kemarau panjang jiwaku. Perjalanan di sebuah kota glamour yang kini memendam kegersangan. Lantas aku ingin pulang pada kedamaian yang dulu kucandai dan menjadi tanah banyu hingga jelang dewasa . Tapi di mana kupulangkan sekeping harapan untuk membaur gersang ini?

Aku bagaikan burung kecil yang terbang meninggalkan sarang, dan mencandai awan gemawan… dan ketika lunglai berhasrat pulang ke sarang.

Di tepian batang banyu sungai Martapura yang meriakkan kecipak gelombang, adalah purnama yang kesekian aku ingin pulang. Tapi ke mana? Tanah banyu yang kurindukan telah hilang. Teman-temanku telah pergi, sampai sekarang tinggal aku sendiri. Duduk di atas sebuah batu besar yang teronggok di tepian sungai.

Luka ini. Karindangan ini. Sisigan ini.

Kawanku, izinkanlah kuceritakan kegalauan ini kepadamu. Agar kamu bisa belajar tentang galaunya kotaku. Tentang gersangnya dunia kami.

Bolehkah aku bercerita, Kawan?

Bersambung…

Kosa kata Banjar :

Galuh = panggilan thd wanita muda atau gadis Banjar

Mamang = mantera

Urang = orang

Bubuhan = 1 warga, kelompok, 2 mereka

Banua = kampung halaman

Karasmin = keramaian

Langkar = cantik

Bapupur = berbedak

Bangkal = sej pohon yg kulitnya harum

Lawas = lama

Tanah banyu = kampung halaman

Karindangan = rindu, jatuh hati

Batang banyu = sungai besar

Sisigan = isak; basisigan= terisak-isak sasigan (K)

16 Comments »

  1. puitis banget mas, bagus untuk bikin feauture… salut

  2. A. Fikri said

    Assaamualaikum bapa,,

    umpat lewat pa lah,,,

  3. Ass.

    Terbayang sungai martapura … dulu … suatu kenangan yang dirindukan.

  4. Btw, Sisigan itu apa Mas Taufik ? Ulun dah lawas handak betakun ini.

    • taufik79 said

      Hehe, agaknya nanti perlu ada (lampiran) daftar istilah bahasa Banjar-nya. Sasigan (dialek kuala, atau sisigan) berarti isak. Menangis basisigan,berarti menangis terisak-isak. Lihat: Kamus Banjar-Indonesia, Abdul Djebar Hapip, atau link ini (http://kamusbahasabanjarkuala.blogspot.com). Makna yang lebih luas bisa dilihat pada puisi karya Syarifuddin MS berjudul “Sisigan Sungai” (http://id.wikibooks.org/wiki/Sisigan_Sungai). Kata sisigan juga dipakai M. Rifani Djamhari dalam sajak Ninabobo:

      […] tidurlah kesedihan// milik kita hanya kaki yang letih/ aspal dan debu jalan/ pojok kota dengan taman yang rimbun/ […]// Tidurlah, sungai sisigan […] sungai nini-datu yang dituba// Tidurlah mata yang perih/ kampung halaman yang berkabut/ hutan leluhur yang diperkosa// tidurlah, tidurlah/ sebab hanya tidur pelipur kita.

  5. Sangat nativisme sekali mas…

    Kaganangan wan Banjar bahari…

  6. ersis said

    Sip. Yang beginian doyan. Dah jadi ya novelnya?

  7. rasid09 said

    terharu banar melihat tulisan dingsanak…ada memorinyakah disungai martapura..??

  8. achoey said

    Mengenang masa kecil itu indah

    Ah kadang ingin kembali lagi seperti masa kecil dulu🙂

  9. Rizal said

    Tulisannya bagus pak. Kalau sekarang baju kebaya memang berganti menjadi T-shirt yang dianggap lebih gaul. Suatu fenomena yang memiriskan hati tatkala kita sadari telah hanyut terseret arus globalisasi.

  10. radesya said

    wah, lagi ingat kenangan masa kecil ya Pak…

    memang indah ya mengenang masa kecil

  11. pa taufik, ini ada lomba blog, infonya di blog saya, silakan dikunjungi,
    lombanya untuk p-elajar dan mahasiswa, mohon diinfomasikan kepada siswa-siswa bapak ya…

  12. uki21 said

    aku kembali mengenang kampungku yang kini berubah menjdai kota yang sangat padat.. aku merasakan kepedihan karna banyak kesejukan yang telah hilang berganti panas yang tak terperi..

  13. Willy Ediyanto said

    Sekali melalui jembatan itu. Kapan lagi, ya?

  14. Qori said

    makanya dikalsel ada sebuah pesantren yg menekan ekses ekses negatif perubahan zaman,yaitu pondok pesantren Al-falah…

  15. syaiful said

    salam kenal dari saya. saya datang dari Pekanbaru Riau. dan jangan lupa kunjung balik ya

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: