(Lagi) Membangun Tradisi Menulis di Tanah Banjar, Mungkinkah?

banjar_menulis

Membaca riwayat hidup para penulis besar sering mendatangkan rasa iri hati. Ada pertanyaan yang datang mengganggu, mengapa mereka bisa menjadi terkenal, karya-karyanya dibaca di berbagai belahan bumi. Padahal, kemampuan yang sama juga dimiliki oleh putra-putri banua Banjar, namun sayang, mungkin belum ‘nasib’ mereka menjadi sepopuler para penulis yang melegenda.

Sebutlah Muhammad Quraish Shihab yang ahli tafsir al-Qur’an. Selain ahli tafsir, beliau juga bak mesin yang menelurkan ratusan tulisan-tulisan penting yang menjadi bahan kajian para pemikir. Sebut juga Nurcholis Madjid yang sudah almarhum tapi meninggalkan ‘warisan’ pemikiran yang tertuang dalam ratusan karyanya. Belum lagi para penulis lain seperti Pramoedya Ananta Toer yang melegenda sebagai sastrawan sepanjang jaman, buah pikirnya begitu fenomenal bahkan diburu banyak penikmat sastra sejarah.

Adakah akademisi atau para pemikir Banjar produktif dalam menulis karya-karya penting? Terus terang, saya langsung teringat kepada sosok dan figur cendekiawan dan intelektual Banjar. Ada Prof. Dr. H. Kamrani Buseri, MA, Prof.Dr. HA. Fahmi Arief, MA, Dr. H. Karyono Ibnu Ahmad, Dr. H. Abdurrahman, SH.MH, Dr. H. Muhammad Hasyim, Dr. H. Mukhyar Sani, Dra. Hj. Masyitah Umar, M.Hum, (untuk menyebut sekedar nama) dan lain-lain.

Mengapa beliau-beliau tidak menulis “seproduktif” Pak Qurais Shihab?, padahal mereka memiliki kemampuan yang sulit dicari tandingan. Dengan banyak menulis, Pak Quraish telah dikenal secara nasional bahkan internasional.

Apa yang membelenggu kita dan tokoh cendekiawan Banjar yang notabene lulusan perguruan tinggi (IAIN, Unlam, dan lain-lain) tapi tidak produktif menulis?. Apakah karena faktor lingkungan, kesibukan rutinitas, tugas profesi, tugas pemerintahan di daerah atau faktor dalam diri yang tidak ada keinginan untuk menulis.

Sulit mencari penyebab kemiskinan kreativitas intelektual Banjar dalam menulis buku. Apakah keterbatasan waktu karena pelbagai kesibukan, tapi orang lain yang lebih sibuk pun masih sempat menulis buku. Orang-orang super sibuk tetapi masih sempat menulis banyak kita temukan di luar Kalsel, misalnya sederet nama populer dalam kajian agama seperti Azyumardi Azra, Komaruddin Hidayat, Abdurrahman Wahid, Jalaluddin Rakhmat, Nurcholish Madjid dan masih banyak lainnya.

Patut disyukuti, saat ini para guru besar kita di Banjar terutama dalam kajian Islam seperti KH. Asywadie Syukur, KH. Husein Nafarin, MA, Prof. Alfani Daud, Prof. Dr. Zurkani Yahya, Ahmadi Hasan, M.Hum (sekali lagi, untuk menyebut sekedar nama) dan sederet nama besar lainnya sudah mulai unjuk menulis dan menerbitkan buku ke level nasional.
Di Tanah Banjar tradisi lisan lebih hidup ketimbang tradisi tulisan. Orang-orang berbicara panjang lebar dalam masalah apa saja dengan mudah dijumpai di mana saja. Konon lagi dengan budaya “mawarung”, suatu tempat paling istimewa bagi warga Banjar untuk duduk dan bicara panjang tentang kisruh politik, ekonomi, keamanan, kriminal dan lain-lain. Dengan kondisi ini, jangan heran kalau tradisi menulis bisa tenggelam begitu saja.

Tekad menulis buku di warung jelas tidak mungkin, meskipun gagasan, ide dan pemikiran yang tumbuh di warung tidak dapat dikatakan sedikit. Tetapi kemudian membawa pulang ke rumah atau ke kantor kesimpulan “diskusi” warung untuk ditulis belum juga terbiasa. Karena kebanyakan hasil panderan di warung ini–disamping tidak diniatkan untuk ditulis– juga belum terbiasa untuk dituturkan dalam bentuk karya tulisan.

Beberapa orang Banjar yang produktif menulis justru ketika mereka ada di luar Banjar. Bapak HA. Makkie, BA, (alm) ZA. Maulani, dan ustadz Arifin Ilham, sekedar contoh. Tetapi sejumlah orang hebat lainnya yang sekarang hidup di Banjar belum menampakkan isyarat untuk “aktif” menulis. Tantangan yang mungkin dihadapi adalah disebabkan tidak adanya kompetisi antar para penulis, pasaran buku yang kurang bergairah,  harga buku serta biaya dan resiko lainnya yang harus ditanggung para penulis sendiri.

Harus dicatat bahwa dalih ini bukan general, karena itu tidak dapat dijadikan acuan final, artinya inisiatif menulis buku lebih banyak dipengaruhi oleh variabel si penulis sendiri. Walaupun tidak tertutup kemungkinan keadaan di luar dirinya turut mempengaruhi minatnya menulis. Lagi pula tujuan menulis bukan saja untuk kepentingan komersil, melainkan untuk tujuan yang lebih luhur dan mulia.

Kepergian dan wafatnya tokoh, cerdik-pandai, intelektual pemikir yang buah karyanya belum sempat ditulis secara lengkap ke dalam sebuah buku, hendaklah memberikan pelajaran kepada kita bahwa betapa pentingnya menulis.

Pemikiran para tokoh ini sangatlah penting untuk diwarisan kepada generasi muda Banjar sekarang ini. Kepergian fisik mereka bersamaan dengan lenyapnya ilmu pengetahuan yang mereka kuasai tanpa bisa di wariskan dalam bentuk karya, merupakan kehilangan yang patut kita ratapi.

Jadi, mulai sekarang, siapapun kita, menulislah.

11 Comments »

  1. Ma nansakh min Aayatin Aw Nunsiha Na’ti Bikhoiri Minha aw Mitsliha….

  2. guswan76 said

    Ayo kita tingkatkan budaya tulis!

  3. Ass.

    Mungkin … sangat mungkin, buktinya tulisan di atas (dan lainnya) sudah mulai membangunkan tradisi menulis … ujungnya masih jauh, teruslah menulis Pak Taufik.

  4. ersis said

    Yap. Lebih penting kita siapkan anak-anak muda (pelajar) dengan motivasi dan keterampilam menulis. !0-15 tahun ke depan hasilnya nyata, tak sekadar pandai berdisku

  5. basuki said

    Bravo….mari majukan banua dengan tulisan2 yang menggugah, membangun inspirasi dan jiwa!

  6. Ya, andai para ulama sekarang rajin menulis… tentu perubahan dahsyat akan terjadi pada umat ini

  7. rasid09 said

    ayo kita tetap menulis

  8. elmuttaqie said

    Selain aktif mensosialisasikan budaya menulis (yg insya Allah akan menjelma menjadi tradisi intelektual), saya kira perlu ada sokongan yg konkret dari penerbit atau pengusaha yg kbetulan memiliki kelebihan duit utk mendanai penulisan buku dari tokoh-tokoh tsb atau menghibahkan kelebihan dananya utk bikin usaha penerbitan lokal. Kota Jogjakarta saya kira patut ditiru dlm hal semangat dan usaha konkret menerbitkan buku-buku alternatif. Banyak penerbit kecil yg muncul dan tumbuh meski keuntungan materi mrk sangat tdk memadai, mereka dengan penuh percaya diri berani menerbitkan buku dan menjajakannya ke toko-toko buku besar dengan harapan buku-buku tsb dapat dilirik atau sekedar dibuka-buka (jika memang tdk tertarik utk membelinya). Sehingga menurut saya yg terpenting adalah tradisi menulis sebanjarnya (bukan seyogyanya) hrs diiringi dgn tradisi penerbitan buku yg konsisten. Artinya pola investasi dan motivasi bisnis pragmatis yg mengakar kuat di budaya kita hrs dirubah ke arah investasi akademik dan motivasi amal jariyah, demi masa depan tradisi intelektual tanah banjar di masa mendatang.

  9. SERINGLAH MENGADAKAN PERLOMBAAN MENULIS

  10. hary said

    artikel yang menarik gan

  11. tarima kasih sudah mambarikan motivasi gasan samua urang, tulisan ngini bamanfaat banar, dan kada dipungkiri, ulun saurang samakin tomutivasi jua wan tulisan pian, tarima kasih banyaklah

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: