Quo Vadis Kota Banjarmasin?

opera_house

Apa yang dibanggakan sebuah kota di Eropa mengenai kemodernannya?  Gedung arsip, perpustakaan, dan gedung opera. Bangunan-bangunan tersebut dianggap sebagai representasi dari tingginya peradaban, yakni bangsa yang mengerti sejarah masa lalu, menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, dan menaruh perhatian pada seni-budaya.

Lalu apa yang dilakukan oleh negara tercinta ini-lebih dekat lagi Banjarmasin-agar bisa menyandang label kota metropolitan? Jawabannya adalah membangun mall dan hypermarket di mana-mana, seolah-olah ingin mengatakan bahwa ciri manusia modern yang maju adalah orang-orang yang berorientasi belanja, membuat pasar malam, dan bangunan-bangunan wah lainnya.

Sementara tiga pilar yang dipentingkan orang Eropa tersebut terkesan disepelekan saja. Coba, di mana gedung arsip sejarah kita? Agaknya museum Lambung Mangkurat belum memenuhinya, naskah-naskah dan peninggalan sejarah kita sebagian besar “terserak” entah di mana.

Perpustakaan, sudahkah perpustakaan daerah yang terletak di Jalan Ahmad Yani memberi kontribusi optimal untuk memenuhi kebutuhan bahan referensi ilmu pengetahuan masyarakat banua Banjar?

Lalu taman budaya sebagai pusat seni-budaya Banjar, sudahkah digarap sungguh-sungguh untuk menjadi tempat aktivitas seni-budaya yang mengakomodir kreativitas sekaligus hasrat estetis warga banua?

Ternyata semua itu belum terealisasi disebabkan para sultan di Tanah Banjar lebih suka mendandani wajah kota daripada meningkatkan mutunya. Sepertinya persepsi tentang “kebungasan” sebuah kota pun sudah terkontaminasi ideologi kesemuan melagak, seperti justifikasi stereotip bahwa ‘bungas itu putih’, ‘bahasa intelektual mesti ada selipan English-nya’, ‘orang kota makan ala Amerika’, dan sebagainya.

Maka berlomba-lombalah orang mengikuti tren, kota pun tak mau kalah agar bisa dicap keren, tak peduli masyarakatnya adalah orang-orang berdarah ndeso yang gemar tawar-menawar di pasar tradisional namun tetap ngotot memindahkan transaksi mereka ke mall, misalnya.

Dan untuk mengikatkan kota pada ciri bungas dan modern, maka didirikanlah gerbang batas kota/ selamat datang. Untuk kepentingan ini dikeluarkan dana milyaran rupiah yang galibnya dapat digunakan untuk kebutuhan lain.

Saya kira, definisi ‘bungas’ tak absolut berarti megah, besar, “wah”, tetapi bagaimana ia bermartabat di tengah warga banuanya.

Orientasi fisik dan keduniawian dengan lebih berkonsentrasi pada apa yang tampak oleh mata sementara mengecilkan kepentingan untuk membangun yang tak kalah penting yakni aspek spiritual itulah yang terjadi. Siapa yang dapat menjamin bahwa dengan berdirinya tugu selamat datang yang mempesona, maka semua warga di kota ini akan meningkat kadar kecintaannya pada adat dan budaya banua?

Menurut saya, (mungkin sudah terlambat) lebih baik anggaran untuk membuat proyek prestisius itu digunakan untuk pembangunan di bidang keagamaan yang telah berjalan seperti melakukan renovasi Masjid Sabilal Muhtadin atau Masjid Sultan Suriansyah yang sampai sekarang masih terbengkalai-sementara Duta Mall dan Pusat Perdagangan Modern sudah berdiri megah-atau untuk menyempurnakan sekian banyak masjid dan mushala yang butuh bantuan dana-di antaranya banyak yang dindingnya belum disemen, tak punya langit-langit, mikrofon dan speaker rusak, sajadah kurang, dan WC-nya darurat-sehingga tak perlu lagi jamaah di suatu masjid atau mushalla mesti menyabung nyawa dengan “mengemis” sumbangan di tengah jalan.

Alangkah baiknya bila anggaran untuk membangun monumen tugu selamat datang itu dialihkan untuk membeli agak sejuta Al Quran dan Iqra’ untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat yang sampai hari ini masih ada yang belum memiliki kitab suci di rumahnya dan tidak bisa pula membacanya, disertai program belajar membaca Al Quran gratis (maksudnya honor guru mengaji dibayarkan oleh pemerintah).

Selain itu banyak lagi alternatif lain untuk memanfaatkan dana pembangunan tugu tersebut-sekiranya dana tersebut memang masih ada-di antaranya adalah pertama, membuat sungai dan kanal antibanjir di sejumlah tempat yang merasai dilanda banjir, seperti lokasi-lokasi di kawasan Jl. Veteran, Jl. Pramuka, Jl.Rawasari lengkap dengan tetek bengek tanda bahaya dan titik-titik rawan banjir, misalnya.

Kedua, memperbaiki lampu-lampu merah di sejumlah persimpangan yang semrawut; ketiga,  membenahi ruang terbuka hijau Kamboja dan siring sungai Martapura sebagai central park-nya Kota Banjarmasin sehingga dapat menjadi tempat rekreasi yang nyaman dan memadai bagi warga; dan keempat, membuka lapangan kerja padat karya untuk membantu warga kota yang menganggur dan miskin.

Rasanya itu semua tak kurang mulia dibanding mendirikan tugu selamat datang yang belum tentu akan didatangi warga untuk sekedar mengagumi keindahannya.

Mendirikan tugu selamat datang lebih cenderung merupakan lagak riya yang ingin pamer kemegahan sebuah kota sehingga pada akhirnya tugu tersebut hanya tinggal monumen bisu, yang enak untuk dipandang dari jalan sambil terkagum-kagum. Lantas orang-orang yang singgah ke Banjarmasin berfoto-foto ria sambil berdekap-dekapan di depannya.

Inikah yang ingin kita banggakan? Wallahu a’lam.

6 Comments »

  1. Rizky M.U said

    Bujurkah pak, habarnya lampu merah ada detikannya di banjar?

  2. borneojarjua2008 said

    Ass.

    Membalik peradaban …

  3. Bandingannya —dengan gambar Gedung Opera Sydney — terlalu jauh Ma Fik. Mau meledek apa haha

  4. sandi said

    tugu selamat datang…, tak pernah benar-benar menyapa kita dengan indahnya keserdahanaan dan keramahan.
    tugu selamat datang…, hanya susunan batu bisu, angkuh, dan cita-cita yang absurd tanpa tujuan.

  5. Tugu selamat datang…Malangnya dirimu…

  6. rahman said

    Ass,kawalah ulun umpat bagabung?

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: