Banjarmasin, Menuju Kota Necropolis? (Refleksi Akhir Tahun)

kota-mati

Banjarmasin terus berbenah menata diri. Realitas yang dilihat saat ini pesatnya pertumbuhan kota banyak membawa dampak positif bagi kota Banjarmasin, namun ada sisi yang terlupakan dalam pertumbuhan dan kemajuan kota Banjarmasin.

Kalau kita mau jujur, proses pembangunan visualisasi kota, sebenarnya mulai menggiat dan berkembang pesat mulai lima tahun kebelakang, terutama pendirian berbagai pusat-pusat perbelanjaan, mall dan ruko di berbagai sudut Kota Banjarmasin. Pokoknya, secara singkat dapat dikatakan kalau pembangunan visualisasi kota ini identik dengan bentangan bangunan-bangunan “wah” dan prestisius.

Ironisnya, kota yang menyandang predikat sebagai “Kota Seribu Sungai” itu, saat ini seolah telah hilang “nyawa”. Salah satu penyebab ialah tidak konsistennya para pengambil kebijakan di Kota Banjarmasin dengan rencana tata ruang kota yang telah disepakti pada awal perencanaan pembangunan Kota Banjarmasin itu sendiri.

Sehingga tidak heran, adanya efek yang muncul dari pelanggaran tata ruang kota ini. Sebagai contoh adalah keadaan lalu lintas yang semerawut dan kemacetan lalu lintas yang terjadi hampir di semua ruas jalan Kota Banjarmasin, terutama di sudut-sudut kota yang memiliki pusat-pusat keramaian dan perbelanjaan. Kondisi kemacetan itu terjadi, karena tidak seimbangnya antara luas badan jalan dengan jumlah kendaraan dan sistem transportasi umum yang tidak sesuai aturan.

Efek lainnya, adalah terjadinya perubahan kondisi udara Kota Banjarmasin. Berdasarkan hasil pengamatan Badan Metereologi dan Geofisika (BMG), mengatakan bahwa temperatur udara di Kota Banjarmasin telah meningkat 1 derajat celcius sejak tahun 2006. Dan inilah barangkali salah satu penyebab mengapa Kota Banjarmasin saat ini tidak sesejuk dahulu di era tahun 1980-an.

Parahnya lagi, kondisi tersebut lebih diperburuk lagi dengan banyaknya lahan terbuka, sungai dan taman-taman kota yang telah beralih fungsi. Hal ini, menyebabkan suasana kota pun seakan-akan terasa semrawut. Lebih-lebih bila pada musim hujan, maka banjir pun siap menggenang di jalan-jalan Kota Banjarmasin.

Selain dampak seperti itu, sebenarnya masih banyak lagi permasalahan yang timbul di Kota Banjarmasin ini, termasuk masalah persampahan, perparkiran, angka kriminalitas, polusi udara, pencemaran limbah, fasilitas air bersih, terjadinya banjir dan lainnya.

Kalau kita teliti, adanya berbagai permasalahan yang muncul di perkotaan itu, sebenarnya merupakan efek samping dari perkembangan Kota Banjarmasin itu sendiri yang tidak terkendali.

Hal inilah, sebenarnya yang harus kita sadari bersama. Kita tidak mungkin dapat mengelak dari proses perkembangan kota ini. Tapi, di sini yang harus sama-sama kita pikirkan adalah bagaimana caranya kita dapat mengeliminir segala efek negatif dari perkembangan sebuah kota itu, sehingga akhirnya eksistensi dan citra kota Banjarmasin yang bungas dapat dipertahankan keberadaannya.

Memadukan Konsep Pembangunan

Menyikapi adanya pertumbuhan sebuah kota ini, jauh-jauh hari Doxiadis dalam Jayadinata (1992), telah meramalkan bahwa kota-kota yang ada di dunia ini, termasuk di Banjarmasin akan tumbuh dan bengkak semakin besar, semakin kuat dan sulit dikendalikan. Kota (polis) akan menjadi metropolis (kota raya), kemudian megapolis (kota mega), lalu menjadi ecumenopolis (kota dunia), dan bila tidak hati-hati akan berakhir dengan kota mayat (necropolis).

Walaupun apa yang diungkapkan Doxiadis di atas, hanya sekedar ramalan, tapi tidak ada salahnya bila kita hati-hati dan mengantisipasinya secara bersama-sama dalam mengelola kota ini secara bijaksana.

Peringatan itu, kelihatannya sejalan dengan apa yang diinginkan oleh John Ormsbee (1986), bahwa kita agar lebih berhati-hati dalam mengelola kota dan lingkungan binaan manusia. Selain itu, yang terpenting adalah kita berharap jangan sampai terjadi “ecological suicide” (baca: bunuh diri ekologi) oleh pihak-pihak tertentu terhadap pembangunan kota ini. Hal ini bisa terjadi secara sadar maupun tidak sadar.

Oleh karena itu, saya kira semua elemen masyarakat yang ada di Kota Banjarmasin harus bahu-membahu terlibat dalam proses perencanaan pembangunan kota yang dihuninya. Saat ini, bukan jamannya lagi pemerintah “bekerja sendirian“ dalam membangun kota dengan mengabaikan peran serta nyata dari semua elemen masyarakatnya.

Sehingga dalam konteks kekinian, menyikapi apa yang terjadi dalam perkembangan Kota Banjarmasin ini, setidaknya ada satu pertanyaan yang mesti disikapi dan dijawab sebagai solusi terhadap fenomena tersebut. Di sinilah kelihatannya kita perlu menerapkan sistem pembangunan berkelanjutan, sebagai sebuah harapan akan kenyamanan dan kewibawaan sebuah kota atas jati diri dan citra kota itu sendiri.

Pembangunan kota berkelanjutan ini, pada dasarnya adalah pembangunan yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat masa kini tanpa mengabaikan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka, sebagai suatu proses perubahan di mana pemanfaatan sumber daya, arah investasi, orentasi pembangunan dan perubahan kelembagaan selalu dalam keseimbangan dan secara sinergis saling memperkuat potensi masa kini maupun masa mendatang untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi manusia (Brundtland, 1987).

Dalam bahasa lain, kota berkelanjutan itu adalah kota yang merupakan perpaduan antara konsep ecopolis, humanopolis, dan technopolis. Artinya secara ideal, sebuah kota (termasuk Kota Banjarmasin), bila ingin jati diri dan citra kotanya tetap nyaman serta berwibawa, maka tidak berlebihan bila dalam membangun kotanya menggabungkan ketiga konsep itu. Lalu, apa sebenarnya isi dari konsep ecopolis, humanopolis, dan technopolis itu?

Pertama, ecopolis. Konsep ini berarti kalau dalam pembangunan kota itu yang lebih dominan adalah dari kalangan ilmuwan dan pakar ahli lingkungan. Dalam arti lain, konservasi energi dan pelestarian keseimbangan ekologis menjadi pertimbangan utama dalam pembangunan kota.

Kedua, humanopolis. Berarti dalam pengelolaan pembangunan perkotaan ditentukan sendiri sepenuhnya oleh segenap warganya. Konsep humanopolis mungkin dewasa ini masih akan dinilai utopis.

Ketiga, technopolis. Berarti dalam pengelolan pembangunan kota itu yang mendominasi adalah para rekayasawan dan teknolog. Wujudnya bisa berupa kota yang sarat dengan bangunan tinggi (baca: modern). Misalnya kota kompak satu dimensi, bangunan jangkung, kota terapung, kota di dalam laut, kota di udara, dan semacamnya.

Dari keterangan itu, kita bertanya-tanya bagaimana sebenarnya keadaan pembangunan di Kota Banjarmasin yang terjadi saat ini. Apakah telah memadukan antara konsep ecopolis, humanopolis, dan technopolis sebagai jalan pemecahan permasalahan kotanya serta yang sekaligus merupakan alternatif menjadikan Kota Banjarmasin sebagai kota masa depan.

Atau jangan-jangan Kota Banjarmasin ini merupakan kota yang tidak konsisten dengan “konsep” pembangunan kotanya sendiri? Di masa depan, kita semua tentunya mengharapkan kota Banjarmasin tidak terjebak dalam kekalutan, kesengsaraan, dan kemiskinan, akan tetapi merupakan kota impian yang penghuninya dapat hidup aman, nyaman, damai, manusiawi, lestari dan berkelanjutan.

Akhirnya, jelas sudah kalau kita ingin Kota Banjarmasin ini menjaga jati diri dan mempertahankan citra kotanya yang pernah disandangnya selama ini, maka kebersamaan dalam membangun kota ini, kelihatannya menjadi sebuah keharusan yang mesti dilakukan oleh sultan, punggawa dan segenap warga Kota Banjarmasin saat ini. Bila hal itu tidak dilakukan, maka bumi Lambung Mangkurat harus bersiap menjadi “kota mayat”.

Wallahu a’lam.

7 Comments »

  1. Setuju, Akhi. Mbok ya jadi kota yang berkepribadian gitu lho. Masak cuma banjirnya aja yang jago. Gimana sih Pemborong Kota ini…?

  2. Ass.

    Mudahan jangan sampai menjadi “kota mayat”, walaupun hal itu sudah mulai tampak dengan matinya beberapa sungai alami dan sungai buatan, yang dulunya merupakan respon adaptif terhadap kondisi geografis Banjarmasin.

    Saat ini, pemerintah kota telah membangun tugu “kematian” dalam bentuk pintu gerbang.

    Benar, bahwa semua pemangku kepentingan harus bersama dalam menghidupkan kota, terutama kemauan baik pemko untuk membuka diri dalam pembangunan yang lebih ramah lingkungan. Jangan sampai, hanya sebagian yang bertahan, sedangkan pemko memperlebar jalan “kematian” dengan kebijakan yang tak mengenal prioritas dan mendahulakan kepentingan umum, apalagi hanya sekedar hiasan belaka.

    Wass.

  3. suhadinet said

    Bujur banar wal-ai.
    Banjarmasin…asa sumpek banar sudah

  4. Diajeng said

    Pagi akang…diajeng datang cuman ingin mengundang akang ke blog diajeng karena ada PR BERANTAI yang harus akang ambil…hehehe…selamat mengerjakan ya kang…(*diajeng juga dapet dr sahabat blogger yang lain nich kang… mohon maaf….hehehe)🙂

  5. Nah kalau yang ini, saya ngak pas komen. Jauh …

  6. Banjarmasin, mendengar julukan seribu sungainya tentu seperti terbang ke venezia, namun setelah melihat kenyataannya, jauh dari venezia, perlu perbaikan lagi di sana sini terutama tata kota dan saluran airnya.

  7. juliach said

    Sebaiknya pembangunan harus disertai dengan mempertahankan budaya dan sumber-sumber alam yang ada.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: