Kebudayaan Banjar dan Globalisasi

budaya-banjar

Kegelisahaan utama berbagai kelompok masyarakat di belahan dunia mana pun adalah bagaimana mempertahankan identitas jati dirinya. Bagaimana suatu suku bangsa memelihara dan menjaga kelestarian nilai-nilai adiluhung yang diwariskan sehingga identitas tetap eksis di antara suku bangsa lain.

Persoalan-persoalan seperti itulah yang menantang saya ketika merenungkan kebudayaan Banjar. Satu problem yang menjadi sorotan utama adalah bagaimana merevitalisasi nilai-nilai adiluhung kebudayaan Banjar, di tengah tantangan yang semakin krusial seiring dengan menguatkan arus globalisasi.

Globalisasi merupakan suatu proses mempersatukan manusia sejagat. Kini dunia menjadi semacam global village, desa dunia. Jarak antara satu tempat dengan tempat lain diperpendek dengan teknologi informasi. Dunia terasa semaakin sempit. Hampir tidak ada lagi bagian dunia yang hidup terpencil.

Pesatnya perkembangan teknologi informasi membuat dunia seakan tanpa batas. Pesatnya penggunaan internet memungkinkan kita berkomunikasi dengan siapa saja tanpa batasan tempat dan waktu. Infrastruktur komunikasi yang semakin modern memungkinkan kita berhalo-halo secara leluasa. Aneka kegiatan manusia di berbagai pelosok dunia sudah bisa diketahui terang benderang hanya dengan duduk manis dengan duduk di depan TV, membuka internet, mendengar radio, dan berhalo-halo lewat telepon.

Arus globalisasi mebuat pintu rumah dan jendela hati kita terbuka lebar-lebar bagi orang lain, terlepas dari Anda menghendakinya atau tidak. Proses saling mempengaruhi antar budaya tidak terelakkan lagi. Dalam kondisi ini tidak relevan lagi klain eksklusivitas kultural. Semua kebudayaan dunia menjadi milik bersama. Terjadi proses seleksi alamiah terhadap unsur-unsur kebudayaan yang ada.

Barometer kebudayaan adalah kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi serta kemakmuran sosial dan ekonomi. Yang tidak sepadan dengan tren kebudayaan global akan ditinggalkan masyarakat pendukungnya. Konsekuensinya, banyak nilai tradisional yang tergusur.

Dampak yang paling mengkhawatirkan dari arus globalisasi adalah terhadap agama dan tatanan nilai lainnya dalam masyarakat Banjar. Kehidupan agama pada zaman ini mau tidak mau memang akan terus ditantang. Dunia di luar dia adalah dunia persaingan. Karena itu, orang mencari perlindungan pada agama dan kedamaian pada agama.

Tetapi ironisnya, orang sering menjauhkan diri dari upacara-upacara yang dirasakan membosankan dan terlalu lama. Dalam sikap beragama orang ingin cenderung serba cepat, efisien, dan efektif, tetapi menyentuh pribadi.

Di tengah kencangnya arus globalisasi terdapat juga upaya untuk membentuk kelompok kecil dengan basis identitas primordial. Orang merasa lebih dekat pada rasa kesukuan, keagamaan, atau kebudayaan tertentu. Orang mengelompokkan diri berdasarkan kesamaan darah (kesukuan) dan sejarah. Semangat membesar-besarkan kebudayaan sendiri menguat dalam kelompok ini. Mereka merasa kebudayaannya superior, lebih baik dan lebih unggul, sementara kebudayaan bangsa lain diabaikan dan diremehkan. Tidak ada lagi penghargaan terhadap kelompok lain. Tidak ada solidaritas antar kelompok yang berbeda. Semangat tersebut, gilirannya, menyulut orang-orang melakukan kekerasan, berperang atas nama suku maupun agama.

Beragam Kultur

Negera Kesatuan Republik Indonesia dibangun di atas keserbaragaman kultural. Sebagai suatu negara bangsa, kita sepakat membangun suatu identitas sosial bersama, yang ditetapkan oleh para pendiri bangsa yaitu Pancasila. Namun, Pancasila tidak menegasi eksistensi kebudayaan-kebudayaan lokal. Mereka justru menjadi pilar-pilar utama yang menopang Pancasila. Sebab, Pancasila menjadi tidak lengkap tanpa kebudayaan suku Banjar, Jawa, Sunda, Dayak, Irian, Flores, Ambon, dan sebagainya. Sebaliknya, tanpa Pancasila keberadaan kebudayaan-kebudayaan lokal tidak mempunyai arti apa-apa. Jadi, keduanya saling mendukung dan menyempurnakan.

Semangat yang mesti dibangun adalah Banjar untuk Indonesia. Sebab, tidak mungkin ada Banjar tanpa Indonesia. Tanpa kebudayaan Banjar kebudayaan Indonesia tidak lengkap.

Saya selalu menyebut Banjar sebagai taman sarinya Indonesia. Kalau banyak daerah di Indonesia terkoyak-koyak oleh konflik berbau suku, agama, ras, maupun antar golongan, di tanah Banjar kehidupan warganya aman-aman saja. Padahal, masyarakat yang tinggal di Banjar berasal dari berbagai suku, agama, dan ras.

Tantangan kultural yang mengemuka adalah merevitalisasikan nilai-nilai kebudayaan Banjar yang adiluhung dengan memperbaiki masyarakat Banjar.

Di bawah tekanan kekuatan kebudayaan global yang sudah menjalar ke dalam kehidupan sosial sebagian besar masyarakat Indonesia, kita perlu membangun idealisme baru. Tata kehidupan masyarakat yang terlalu dikuasai oleh ekonomi, yang lebih pragmatis dan mementingkan keuntungan, perlu diimbangi dengan upaya membangun semangat dan rasa solider antar warga masyarakat sebangsa dan setanah air maupun sedunia.

Dalam rasa solider itu, perbedaan kultural itu tetap dipertahankan. Namun kita tidak boleh terikat rasa kesukuan, keagamaan atau kebudayaan tertentu. Marilah kita menyerap kebudayaan global tanpa meninggalkan nilai-nilai adiluhung yang diwariskan leluhur kita. Tugas kita adalah memberikan perspektif baru pada nilai-nilai tradisional agar tetap relevan dengan dinamika hidup manusia masa depan.

5 Comments »

  1. Ass.

    Globalisasi sebenarnya lebih menegaskan “agar kita saling mengenal satu dengan yang lain” dan menantang kita untuk “ingat-mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran”.

    Kehilangan budaya merupakan suatu konsekuensi dari perkembangan ilmu pengetahuan, jadi bagaimana suatu budaya beradaptasi dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang menjadikan suatu budaya tetap ada atau hilang.

    Wass.

  2. Hejis said

    Sekarang kendali utama ada pada masyarakat kita (Banjar) sendiri, apakah pasrah tergerus kultur luar yang dominan ataukah memperkuat kultur Banjar secara cerdas tanpa menafikan globalisasi. Juga tak kalah pentingnya adalah jajaran pemerintah daerah. Kita tak bisa meminta bantuan siapa pun untuk urusan melestarikan kultur Banjar. Orang Banjarlah yang tahu tentang kulturnya sendiri mana yang perlu dilestarikan mana yang dimodifikasi. Kini masalah penting adalah mengidentifikasi butir-butir kultural Banjar untuk kemudian dicarikan cara menanganinya. Salam hangat.🙂

  3. Yap, tanggung jawab ada pada kita, Urang Banjar. Yakni, bagaimana kita memaknai, melestarikan, dan menjadikan mendukung kemajuan dalam kompetesisi ke arah lebih baik dalam arus global. Saya punya illustrasi, bagaimana yang gundah gelana cemas akan kelestarian bahasa Banjar. Apa yang saya lakukan?

    Walaupun kecil, pada buku-buku saya saya selipkan 10-20 kata bahasa Banjar, dan pembaca Nusantara bertanya, dan paham apa itu artinya. Mudahan tidak hanya gambut saja yang menyumbang bahasa Indonesia.

    Itu contoh kecil. Artinya, dengan karya, kita melestarikan kebudayaan kita. Ramdu menulis novel Jazirah Cinta bersetting Banjar, dan menasional. Itu jauh lebih baik, mengokohkan Tanah Banjar.

    Sekadar contoh lho Mas.

    Mari menulis.

  4. Ridhwan said

    Setuju. Nilai-nilai budaya banjar mesti dipertahankan. ambil satu sudut, saya melihat dalam soal bahasa daerah kita bisa jadi ketinggalan dengan jawa. anak-anak kita mestinya ditanamkan agar bisa menghargai dan menggunakan bahasa banjar. pengaruh televisi dan media lainnya sepertinya sangat besar dalam mengikis bahasa banjar di kalangan anak-anak muda.
    salam kenal, dari angkinang kandangan

  5. SIge said

    Hmmm, kekhawatiran terhadap adiluhung budaya lelulur yang termakan karat globalisasi juga membuat saya resah Pak. Kami di Bali sudah hampir-hampir menjadi pendatang di rumah kami sendiri.

    Melalui Blog lah salah satu cara kita kembali mengingatkan semua lapisan masyarakat untuk sesegera mungkin bangun dari kemalasan yang di timbulkan oleh keserba instanan GLobalisasi.

    Tulisan menarik pak, salam kenal
    http://www.nurhadi13.wordpress.com

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: