Banjarmasin, Yang Bungas Yang Bergegas

Peringatan Hari Jadi Kota Banjarmasin ke-482 tanggal 24 September 2008 menerbitkan kesadaran baru dalam diri saya: Kota Banjarmasin hari-hari ini, seakan membawa warganya masuk dalam lorong waktu yang tersublimasi pada keredupan cahaya aura kota yang asri, indah dan bersahaja. Kota ini seperti kota yang bergegas entah mau pergi ke mana. Bahkan cenderung tergesa-gesa. Di manakah makna sesungguhnya dari Banjarmasin Bungas?

Banjarmasin Bungas, begitulah jika urang Banjar membanggakan kotanya. Bungas artinya cantik. Kota yang keindahannya selalu disamakan dengan kejelitaan seorang gadis. Namun, makin hari sisa-sisa “kebungasan” ini sulit ditemukan meskipun kota terus-menerus berkoar tengah menata diri. Apa yang membuatnya begitu sulit berdandan?

Rasanya slogan “Banjarmasin Bungas” sudah tinggal tulisan di papan-papan besar di pinggir jalan. Ia tidak lagi memiliki makna sebagai slogan yang merefleksikan realitas sesungguhnya. Slogan Banjarmasin Bungas itu, hanya menjadi sekedar kata-kata, sekedar slogan, sekedar tulisan, tanpa makna yang sesungguhnya.

Banjarmasin hari ini dihadapkan pada kompleksitas masalah perkotaan yang semakin menjadi-jadi. Kota seakan berada dalam ruang hampa, jauh dari riak keharmonisan. Kultur budaya tersingkirkan, malah cenderung disingkirkan. Infrastruktur kota terjamah syarat kepentingan. Ruang publik berisi barisan ornamen kota yang berdiri tegak pada glamornya materialistik sebuah kota metropolis, yang jauh dari jangkauan kadar edukatif dan penghargaan nilai budaya. Sebuah kota tanpa makna yang kehilangan karakter akan jatidiri.

Banjarmasin Bungas semestinya mampu menundukkan laju kapitalisme yang selalu menuntut percepatan. Dalam era kuasa akselerasi, kecepatan adalah segala-galanya. “Yang cepat yang lebih baik” seolah menjadi lawan biner dari “yang lambat berarti buruk”. Sebab dalam logika modern yang dikuasai kapitalisme, kuasa akselerasi masih menjadi logika utama yang dianggap paling mapan dan relevan untuk dijalani. Sementara segala sesuatu yang lambat hanyalah hal-hal konvensional yang menghambat perguliran modal.

David Harvey, seorang antropolog sekaligus georafer asal Amerika bahkan menyatakan bahwa, dalam kuasa kapitalisme kehidupan modern selalu mengalami kompresi waktu –di mana setiap orang yang hidup di dalamnya selalu merasa tak memiliki waktu, dan hari-hari berjalan-berlalu seperti sebuah kelebat yang begitu cepat.

Banjarmasin rasanya sudah masuk dalam pusara kuasa akselerasi tersebut, di mana waktu selalu mengalami kompresi dan percepatan. Kecepatan menjadi di atas segala-galanya: orang-orang yang selalu terlihat bergegas, kendaraan yang dipacu dengan kecepatan terlalu tinggi yang tidak semestinya, klakson-klakson menyalak di setiap ruas jalan, reklame-reklame yang terpasang mengabaikan estetika, restoran fast food menjamur di mana-mana, mall yang menawarkan gaya hidup instan, dan seterusnya. Seolah menjadi penanda yang jelas bahwa Banjarmasin seolah kehilangan praise of slow-nya (meminjam istilah Carl Honore) yang membuatnya “bungas”.

Banjarmasin Bungas?

Di tengah situasi kota yang tidak lagi tenang, Banjarmasin sesungguhnya sudah kehilangan daya tariknya sebagai kota yang “bungas”.

Jika dilihat dari perspektif mikro antropologi, perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan memang (mau tidak mau) selalu melahirkan konsekuensi percepatan dalam seluruh aspek kehidupan. Hal ini diamini Thomas H.Eriksen dalam bukunya Tyrany of the Moment, mengingat teknologi pada dasarnya dilahirkan demi efisiensi dan efektifitas, yang tidak bisa dilepaskan dari persinggungannya dengan kuasa akselerasi.

Banjarmasin yang bertekad menjadi salah satu kota terdepan (avant-garde) tentu saja terkena imbas yang cukup serius. Di tengah upaya percepatan pemerintah kota untuk penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat Banjarmasin seolah menjadi masyarakat yang dipaksa bergegas untuk pergi ke suatu tempat bernama modernitas.

Imbasnya, masyarakat yang kaget menyaksikan percepatan yang di luar kontrol “terpaksa” harus mengikuti laju akselerasi itu sembari menanggalkan identitasnya sebagai masyarakat Banjar yang “bungas”, tenang, dan tidak tergesa-gesa.

Alih-alih meredefinisi identitas “Banjarmasin Bungas” tersebut, masyarakat Banjar justru ditohok dengan pemaknaan naif bahwa lambat berarti kemalasan, kebodohan dan ketidakmenarikan.

Padahal, sebelumnya, masyarakat Banjar yang bungas itu dengan seluruh ke-eksotikan dan ketenangannya sesungguhnya menunjukkan sebuah sikap penuh sahaja, reflektif dan penuh pertimbangan. Masyarakat Banjar memilih praise of slow sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kualitas hidup, bukan kecepatan dan percepatan yang selalu abai dengan semua itu.

Fakta yang cukup menarik bahwa Banjar sudah berubah menjadi kota yang bergegas adalah tidak ditemukannya kembali masyarakat atau komunitas seperti komunitas sepeda onthel yang dulu ramai. Atau jika tak ingin dikatakan tak ada sama sekali, masyarakat atau komunitas ini kini hanya menjadi komunitas yang minor di tengah gegap gempita komunitas-komunitas motor atau mobil.

Kampanye bersepeda yang diprakarsai oleh pemko adalah bukti bahwa masyarakat yang “bersepeda” sudah sulit ditemukan di Banjarmasin, tergantikan oleh gaya hidup tergesa-gesa di atas sepeda motor atau mobil dengan klakson yang menyalak tak sabar. Kita sebenarnya rindu untuk menemukan kembali Banjarmasin yang bungas tadi, Banjar yang tenang dalam kesahajaannya, Banjar yang tidak tergesa-gesa.

Namun, kerinduan itu ternyata hanya menjadi sebatas gairah. Logika percepatan di tengah akselerasi globalisasi sudah tak terelakkan lagi. Masyarakat Banjar, di tengah tradisi modernitas yang dikoordinasi oleh kuasa kapitalisme, sudah tidak lagi memegang teguh praise of slow-nya yang membuat ia “bungas”.

Penutup

Banjarmasin selalu menjadi kota yang dikunjungi banyak orang karena ia “bungas”, dengan masyarakatnya yang ramah dan kota yang indah menawarkan ketenangan. Ketika Banjarmasin kian meninggalkan identitas itu, ketika masyarakatnya sendiri menanggalkan identitas itu, Banjarmasin hanya akan menjadi kota yang tak elok dan tergesa-gesa: hiruk pikuk, asap knalpot, klakson yang menyalak, mall-mall tanpa tata kota dan perencanaan yang baik, udara panas, ekologi kota yang tak terpelihara, dan seterusnya.

Dan siapakah yang akan mau meluangkan waktu mengunjungi kota semacam itu?

Dirgahayu Kota Banjarmasin!

6 Comments »

  1. guswan76 said

    Semoga Banjarmasin Bungas bukan hanya menjadi semboyan tetapi sebuah realitas.

  2. Hejis said

    ya ya ya Banjarmasin memang bungas (cantik) dan berbunga-bunga (dari bhs Inggris “bunga” lalu dijamakkan “bungas”, he.. he.. Salam dari Malang.

  3. JASA PEMBUATAN IJAZAH said

    JASA PEMBUATAN IJAZAH

    ANDA BUTUH IJAZAH UNTUK MENCARI KERJA / MELANJUTKAN KULIAH / KENAIKAN JABATAN ?!?!
    KAMI JASA PEMBUATAN IJAZAH SIAP MEMBANTU ANDA UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN IJAZAH UNTUK BEKERJA ATAU MELANJUTKAN SEKOLAH / KULIAH.
    BERIKUT INI MERUPAKAN JASA YANG KAMI SEDIAKAN.

    -SMU:3.000.000
    -D3:6.000.000
    -S1:8.000.000

    * AMAN, LEGAL, TERDAFTAR DI UNIVERSITAS / KOPERTIS / DIKTI, BISA UNTUK MASUK(PNS, TNI, POLRI).

    JUGA MELAYANI PEMBUATAN SURAT SURAT PENTING SEPERTI:SIM, STNK, KTP, REKENING BANK, SURAT TANAH, AKTE KELAHIRAN.BPKB, N1, SURAT NIKAH, DLL.

    SYARAT:KTP/SIM,FOTO BERWARNA DAN HITAM PUTIH,UNIVERSITAS YANG DITUJU,IPK YANG DIMINTA(MAX 3,50),TAHUN KELULUSAN YANG DIMINTA,ALAMAT PENGIRIMAN YANG DIMINTA.KIRIM KE:arief_gagah@yahoo.com

    BERMINAT?

    HUB: 085736927001.

    (HANYA UNTUK YANG SERIUS SAJA)

    Nb:Semua manusia berhak meiliki pekerjaan dan pendidikan yang layak,entah dari kalangan atas,menengah dan bawah.Maka dari itu kami ada untuk anda yang mebutuhkan ijazah atau surat-surat penting lainnya.

    TERIMAKASIH

  4. yoyon said

    salam kenal,,saya mau bagi2 ilmu gratis buat sahabat blogger semua ,,kunjungi yach blogku

  5. yoyon said

    mau tukeran link juga bagaimana,,setuju nggak,,

    • arie said

      bwtin surat nkah,ktp ma kk bsa???punya saya ilang 1 mnggu yg lalu.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: