Banjarmasin “Kota Seribu Ruko”?

Banjarmasin agaknya sudah berubah julukan. Bukan lagi “Kota Seribu Sungai”, tetapi sudah menjadi “Kota Seribu Ruko”. Ruko adalah istilah yang muncul 10 tahun belakangan ini, singkatan dari rumah dan toko. Istilah ini muncul di kota besar seperti Jakarta yang menghadapi masalah pelik di bidang transportasi, sehingga pemilik toko tak bisa bolak-balik pulang ke rumahnya setelah menutup toko. Ia langsung saja berdiam di sana.

Model ruko ini kemudian berkembang ke kota-kota lain yang sebenarnya tidak memiliki masalah transportasi. Ruko jadi model pemukiman baru para pedagang kelas menengah ke bawah. Tutup toko langsung naik ke lantai atas, di sana sudah ada tempat tidur, kamar mandi, ruang makan, layaknya sebuah rumah. Banjarmasin menjadi Kota Seribu Ruko, bukan diakibatkan oleh masalah transportasi, tetapi lahan yang minim. Pemerintah kalah mengantisipasi masalah pemukiman ini dan pembangunan ruko tak bisa direm. Sejumlah ruko terus dibangun.

Ruko di Banjarmasin pun menjadi Ruko Plus. Plusnya adalah bangunan ruko merangkap kantor. Banyak yang dibuat dengan ukuran minimal. Pemandangan menjadi unik, sebuah ruko yang langsung tingkat tiga, misalnya, dari atas ke bawah begitu kontras. Paling atas ada balkon yang indah berukir, di lantai tengah muncul jendela-jendela kaca, kadang terselip ruang jemuran, di bagian bawah semrawut dengan material dari pasir sampai kayu yang berseliweran. Maklum, pemiliknya menjual alat-alat bangunan.

Yang kemudian menjadi lebih semrawut lagi pemandangan itu ketika ruko yang dibangun tidaklah sama tinggi. Mungkin awalnya sama, tetapi “toko sebelah” lebih kaya, lalu meninggikan bangunan atau justru untuk menambah kamar-kamar. Maka terlihatlah ada bangunan ruko yang tingginya tidak sama, yang satu melejit di atas, yang satunya sejajar dengan jemuran ruko tetangga. Kalau musim kampanye Pilkada, pemandangan lebih asyik lagi, ada umbul-umbul indah dari ruko yang satu, sementara di ruko sebelahnya ada seprei dan celana dalam berkibar di jemuran.

Apakah sampeyan di Banjarmasin sudah begitu toleran dengan situasi seperti ini? Saya kira begitu, karena saya belum pernah mewawancarai sampeyan. Pertanyaannya kemudian, apakah para arsitek Banjarmasin sudah menyerah total dengan keadaan seperti ini? Tidak adakah lahan yang cukup untuk menerapkan praktik arsitektur yang sebenarnya, apalagi kalau mengikuti pola arsitektur Banjarmasin dalam konsep estetika rumah Banjar, misalnya.

Ke mana para arsitek Banjarmasin? Mereka tidak ke mana-mana, mereka tetap bekerja dan dapat order lumayan. Masih ada yang membangun hotel, rumah pribadi, merancang bangunan, mal bahkan hypermarket. Bahwa urusan ruko dan rumah-rumah kaum urban yang semrawut di pinggiran kota ini, memang jarang dilirik para arsitek kita. Lagi pula, untuk membangun ruko atau rumah di lahan yang hanya seluas dua are, jarang yang menggunakan jasa arsitek. Namun, kita bisa menggugat para arsitek Banjarmasin jika mereka tak peduli pada kesemrawutan pola bangunan di Banjarmasin, apalagi di jalur jalan-jalan utama.

Citra Banjarmasin yang dulu punya arsitektur indah, kini sudah berangsur lenyap. Lahan tidak memungkinkan lagi. Tetapi, apakah karena itu kita harus diam dan tidak memperlakukan kelangkaan lahan ini sebagai sebuah tantangan? Ilmu arsitektur adalah paduan dari kejelimetan teori dan kepekaan rasa seni. Jika para arsitek Banjarmasin bicara dan kemudian memberi masukan kepada wali kota atau bupati atau gubernur bagaimana mengembalikan citra Banjarmasin yang hilang itu, saya rasa ini akan bermanfaat untuk peradaban Banjarmasin di masa depan.

Di Yogyakarta pernah hidup seorang arsitek lulusan Jerman tetapi berhati Jawa, mendiang Romo Mangunwijaya. Ketika kaum urban dan gelandangan sudah memprihatinkan di Yogya karena mereka tinggal di bantaran Kali Code dengan rumah-rumah gubuknya yang semrawut, wali kota begitu cemas. Mau menggaruk “kaum papa” itu tidak menyelesaikan masalah. Kalau tidak digaruk, kota jadi tidak sedap dilihat, kalau banjir akan ada korban. Di situ tampil Romo Mangun dengan konsep arsitektur Kali Code. Dia membangun rumah model untuk kaum tak berpunya ini di pinggir Kali Code. Bahannya sederhana, bambu dan kayu. Rumah dibangun sedemikian rupa dengan memperhitungkan segala kemungkinannya, termasuk banjir, dan tentu estetika seni yang disesuaikan dengan lingkungan sekitarnya. Kalau dekat jembatan modelnya lain dengan yang di depan perkantoran, misalnya.

Kesemrawutan Kali Code menjadi terpecahkan. Orang tidak lagi membuang muka jika melintas di jembatan Kali Code, tetapi orang justru tertarik untuk turun melihat pemukiman para pengamen, penyemir sepatu, dan pemulung ini. Yogya sebagai kota budaya, makin terangkat lagi karena “membudayakan” kaum tak berpunya.

Kenapa para arsitek di Banjarmasin tidak meniru langkah Romo Mangun? Sumbangkanlah ilmu kita untuk masa depan Banjarmasin, misalnya, mulai merancang arsitektur model apa yang cocok untuk pemukiman warga banua tanpa meninggalkan ke-Banjarmasinan-nya. Bagian mana dari arsitektur itu yang masih menyisakan ke-Banjarmasinan-nya. Model itu oleh pemerintah dijadikan pola untuk penertiban pemukiman. Bukankah dalam peraturan semua yang membangun rumah harus punya IMB? Sebelum semuanya semrawut, orang seenaknya membangun rumah tanpa kontrol, para arsitek harus bicara, agar anak-anak banua masih tenang tinggal di Kota Seribu Sungai ini.

Bagaimana menurut Anda?

5 Comments »

  1. Seribu sungai dan seribu ruko, kan lebih asyik tu.

  2. guswan76 said

    Banjarmasinku gelar apa lagi yang kau punya?

  3. Rina said

    asal seribu sungainya jgn hilang ajah…
    Banjarmasin tanpa sungai?!
    yg pasti kd bakal bungas lg!!

  4. dito said

    simple saja,
    budaya penurutan (ikut-ikutan) memang menjadi tren di Banjarmasin, mungkin awal dari ruko karena kebutuhan akan rumah dan tempat usaha tetapi yg terjadi skr justru bukan hal tersebut. Bisa jadi seperti ini:

    – eh urang sabarang maulah ruko, kayapa amun tanah ku ni nang disitu diulah ruko jua?
    – uma ai…tanah tatangga sabalah dihabisakan gasan maulah ruko, pokoknya aku harus maulah ruko nang labih ganal lawan labih tinggi.

    jadi para arsitek (kalau dapet job ruko), bilang aja…. ruko dah ketinggalan jaman, mending diolah sebagai bangunan satu fungsi ajah….

  5. faris said

    yg disalahkan bisa saja bkan arsitek.
    toh anak lulusan STM aja ud tau gambar Ruko.
    arsitek. entu. bkan drafter.
    yg pertama di beri sorotan adalah Pemda yg mengeluarkan perizinan u/ pembangunan Rukonya.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: